I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Pasrah



Tiada lagi sepenggal kata yang terlontar dari bibir Reno. Ia memilih bungkam, merasakan sentuhan rasa yang menjalar menyapa setiap rongga tubuhnya. Ia tidak pernah merasakan kepedihan yang menggila dan menduduki tahta tertinggi di barisan hatinya. Sebuah kejutan dari buah cinta yang tidak pernah ia pikirkan kemungkinannya yang terjadi. Sebuah pesan, yang melukai tanpa menyimpan rasa belas kasihan walau sebesar biji sawi. Reno masih saja tercengang dengan senyuman miris yang terlukis bersama dengan air mata yang menyapa dunia. Tangis yang terjadi tiga puluh tiga tahun yang lalu, ketika ia dilahirkan dan menatap dunia, kini terulang lantaran kejutan dari rasa yang mendesak dada.


Mungkin, kaki yang melangkah terlihat yakin ketika meninggalkan Reno beserta luka yang bersarang. Namun, tidak bisa di pungkiri, dokter Alexa tetaplah perempuan yang memiliki perasaan. Ketika pintu telah menjadi penghalang dari raga yang sangat ia rindukan, air matanya mulai bercucuran membasahi pipi. Terurai menjadi lebih isakan tangis yang sangat menyesakkan dada. Tangannya berulang kali menyentuh wajah untuk menyekanya, tapi tidak bisa menghentikan tangis yang telah menguasai.


Sandy segera bangkit dari sofa panjang yang membuatnya jenuh karena harus berdiam menunggu. Ia menoleh, lalu menatap dokter Alexa yang menangis sesenggukan dengan tatapan heran. Tidak mengerti apa lagi yang mereka debatkan di dalam. Sandy melangkah, mendekatkan tubuh dengan gadis yang kian terkulai dengan beban hati yang memberatkan, tapi kalah cepat dengan Dokter Alexa yang semakin cepat berlari meninggalkan Sandy dengan rasa penasaran yang meninggi.


"Alexa ..." Keysha membuka pintu tiba-tiba. Berteriak keras memanggil nama perempuan yang sudah menghilang di bawah anak tangga. Berlari semakin jauh meninggalkan butik Keysha beserta para penghuninya.


"Ada apa sih ?" Sandy menggaruk-garuk tengkuk lehernya dengan wajah kebingungan. Semakin tidak paham dengan situasi yang tampak memanas.


"Sial ! "


tarrr (Suara barang yang dilempar mengenai kaca )


Reno tampak frustasi, ia menarik kuat-kuat rambutnya. Mencengkram erat merasakan kecamuk jiwa yang semakin kuat membunuh rasanya.


"Reno...."


"Sudah Key cukup, " ucap Reno dengan lirih. Ia merunduk, lalu berjalan mundur menghampiri pintu keluar.


"Maaf telah merepotkan mu, aku tidak akan lagi menganggu Alexa, tolong katakan padanya, " imbuh Reno sebelum berlari meninggalkan Sandy dan Keysha. Mengikuti jejak langkah dokter Alexa yang sudah menjauh dan hilang dari pandangan mata.


---------


"Vino, aku akan memberikan tubuhku untukmu kapanpun kamu mau, tapi aku mohon izinkan aku memberi kabar untuk mama, " Shinta menangis sesenggukan di dalam setiap hentakan yang Davino berikan. Setiap sentuhan kasar yang menguasai raga, menjalar mengirimkan kehangatan ke seluruh tubuh. Jiwa nya mulai terbiasa, apa lagi dengan raga yang tampak mata. Ia telah terbiasa bahkan menjadi makanan keseharian tanpa pemaksaan kasar lagi setiap saat . Tanpa obat-obatan yang menambah gairah jiwa, tanpa suntikan yang meringankan penolakan.


Vino tidak peduli dengan suara yang sudah melunak, bahkan meronta dalam tangis lirih. Ia tetap acuh, bahkan menganggapnya seperti angin yang berlalu, tanpa pesan. Ia tetap fokus dengan titik-titik yang menyenangkan nafsunya, memanjakan hasrat dengan raga yang mempersilakan tanpa penolakan ataupun perlawanan.


"Layani aku tanpa mengeluh baby, aku akan menuruti setiap kemauan mu," Vino membelai wajah Shinta penuh nafsu. Meninggalkan kecupan mesra di ujung kepalanya tanpa menghentikan tangan yang berkelana memenuhi hasrat.


"Aku sudah melakukan itu bukan ? Kenapa kau tidak menuruti mau ku ?" ucap Shinta.


"Sudah melakukan itu ?" Vino mengkerutkan dahinya, " benarkah ? Aku tidak pernah merasakan kau menggodaku terlebih dulu, dan kau lihat sekarang, kau masih melayaniku dengan air mata yang menyebalkan bagiku."


"Apa kau sebenarnya sedang melatihku menjadi seorang p e l a c u r ? Kenapa kau sangat merendahkan ku seperti wanita murahan yang menjajakan tubuhnya dengan bebas ?" Shinta menggeser tubuhnya yang telah bebas dari pergulatan gila yang selalu Vino inginkan.


"Hahaha, " suara tawa Vino menggelegar, melayang keras dan bergema hina di setiap sudut ruangan. Memantul dengan bayang-bayang merendahkan seolah mengatakan memang Shinta telah berhasil menjadi apa yang ia takutkan, sebuah wanita pemuas nafsu yang akan di kuras keringatnya tatkala di atas ranjang. Tanpa upah yang tertera, dan hanya akan menerima kepuasan dari setiap hasrat yang terpendam.


"Tampaknya kau mulai pintar, baby ..." Vino menangkap tubuh Shinta lagi, menariknya dengan keras agar kembali siap melanjutkan ronde selanjutnya.


"Jangan melawanku sayang, kau juga akan merasakan enak yang tidak terhingga bukan ? " Ucap Vino dengan sinis. Tangannya sudah kuat m e r e m a s bagian-bagian tertentu tubuh Shinta.


Shinta hanya memejamkan mata, berusaha kuat melawan segala kenikmatan yang mulai menyatu dengan jiwanya. Menepis setiap rasa ketagihan yang tidak akan ia akui. Hatinya masih hidup, tidak peduli dengan raga yang mempersilakan tanpa penolakan.


"Balas sayang, kenapa kau diam saja ? Bukankah kau ingin segera bertemu dengan mamamu ?" protes Vino geram.


Pria itu tetap melakukan hal yang menyenangkan jiwanya. Memuaskan hati yang tengah di gelapkan dengan nafsu yang menguasai. Ia tidak peduli walau gadis itu tidak bisa mengimbangi, hanya terkapar pasrah tanpa pergerakan yang membumbui. Setidaknya, ia tidak lagi kelelahan dan membuang tenaga dengan sia-sia karena harus mengendalikan Shinta yang meraung dan terus meronta melawan keinginannya yang sudah berkobar kuat.


Tiada aktivitas lain yang lebih membuat Shinta tenang selain terus-menerus menjadi budak nafsu Vino. Entah, kemana pria itu akan membawanya, apakah akan tetap menjadi seorang perempuan yang bergulat dengan kamar dan lelaki yang sama, atau justru akan mengeluarkan ia setelah ia bisa melakukan segala yang Vino ajarkan. Menggoda, m e r a n g s a n g, bermurah dan menjajakan tubuh pada setiap lelaki yang menghampiri. Tersenyum puas bahkan tertawa lepas tanpa beban walau tubuhnya sedang di anggap sampah. Entahlah, Shinta sudah tidak bisa berpikir jernih perihal itu, tentang hidupnya, masa depannya apalagi dengan waktu selanjutnya. Yang selalu ia semogakan hanya sebuah kesempatan yang Tuhan berikan untuknya untuk berjumpa dengan sang ibunda, walau hanya dalam hitungan jam, menit bahkan detik.


"Aku telah membelikan baju baru untukmu, karena aku sudah bosan melihat mu dengan baju yang ku robek tadi, " Vino melemparkan sebuah lingerie berwarna hitam yang sama seksinya dengan yang sebelumnya Shinta kenakan. Gadis itu hanya menoleh, membuang pandangan dan acuh kepada Vino. Sudah bosan dengan kalimat manis yang hanya Vino janjikan di depan. Apalagi tentang baju-baju seksi yang selalu ia berikan.