
Ketika bahagia datang, tetaplah menjadi insan yang wajar. Jangan berlebih ! Nanti ketika patah, kecewa yang melanda tidaklah terlalu rumit.
🍃🍃
Biarkan bintang menjadi saksi dari cinta yang terjalin. Bulan tetap menjadi sebuah tanda, tentang rasa tidak akan sia-sia. Berlari di bawah terangnya rembulan, saling mengejar dengan suara tawa yang menggema. Bernyanyi indah, menyatu dengan suara-suara merdu binatang malam. Gemerlap lampu menjadi pelengkap, pendukung dari segala suka yang mengalir penuh kasih. Alunan musik romance menambah hangatnya malam.
Reno dan dokter Alexa merebahkan tubuh di atas rumput liar. Berbaring di atas bumi tanpa alas yang melandasi. Reno sengaja, memilih tempat yang bersudut dengan dokter Alexa. Menjatuhkan tubuh dengan arah yang tak searah. Membuat kepala mereka saling bertemu ketika keduanya sama-sama menoleh.
"Cantik, " gumam Reno pelan. Ia tersenyum, larut dalam indahnya rembulan yang kebetulan sedang mencapai purnama. Bulat sempurna dengan sinar yang sempurna. Dokter Alexa menoleh, melirik lelaki pemilik mata bulat yang menarik. Memperhatikan setiap lekuk wajah, yang menggambarkan keindahan ciptaan Tuhan.
"Bukan kamu, tapi bulannya. " Imbuh Reno dengan cengengesan. Membalas tatapan dokter Alexa dengan terkekeh geli. Rona wajah yang tengah bermanja dengan gayanya merajuk. Memperlihatkan raut cemberut dengan di buat-buat.
"Kalau kamu lebih cantik dari apapun, " ucap Reno serius, ia terus saja memfokuskan mata pada wajah anggun dokter Alexa. Tersenyum manis, tanpa sebuah kata yang memaksa.
"Lexa ..." ucap Reno dengan suara parau. Gadis itu bangkit, beranjak dari atas tanah yang menjadi tempat bertumpu nya semenjak tadi.
"Iya? " sahut dokter Alexa cepat, ia mengernyit heran.
"hmm, aku ingin ..." Reno menundukkan kepala.
"Ingin ? Maksud kamu ?" dokter Alexa membulatkan mata. Menatap arogan dengan sorot tajam dan penuh tidak suka.
"Galak banget sih, " gerutu Reno. "Aku cuma mau bilang , aku ingin kita pulang sekarang."
Hening kembali mewarnai suasana di antara mereka. Reno beranjak, lalu membersihkan tanah dam rerumputan kering ya menempel di celana. Ia mengibaskan dengan bebas.
"Sudah malam, kau mau tetap tinggal di sini ?"
Reno mengurungkan langkah, kembali berbalik badan karena dokter Alexa tidak kunjung mengikuti langkahnya.
"Tidaklah ! Mau jadi mangsa nyamuk apa, " sahut dokter Alexa sinis. Ia mengayun kakinya cepat. Berlalu meninggalkan danau bersama kenangan yang mereka siratkan.
"Ha ha ha kali saja kamu mau," sahut Reno dengan suara tawa lepas.
Mereka sudah berada di dalam mobil. Melesat cepat melewati sunyi di sepanjang malam. Petang memang telah beranjak semenjak tadi. Malam semakin larut, meredakan aktivitas manusia yang mulai tidak lagi terlihat oleh pandangan mata.
"Kamu masih ingat rumahku ?" Senyuman menawan kembali hadir. Membuyarkan hening, yang membuat mata mengantuk. Ia tersenyum tipis, saat mobil melintas tepat ke arah ke rumah dokter Alexa. Berhenti tepat di atas pagar besi yang menutup rumah bagian depan.
"Aku sering datang ke sini tanpa sepengetahuan mu, " seru Reno bangga. Merasa menjadi malaikat penjaga meskipun waktu sedang berusaha menjatuhkan keduanya. Memisahkan dengan segala drama yang membumbui.
"Jangan senyum-senyum, aku tidak memperhatikan mu setiap ke sini, " Reno membuang wajah. Memandang keluar kaca mobil yang benar-benar sudah sepi.
"Lalu ?" Dokter Alexa mengkerutkan dahi.
"Itu ngintip perempuan sebelah rumah kamu, " Reno menunjuk pada jajaran rumah-rumah mewah yang berbaris. Jemarinya menuntun mata dokter Alexa untuk melihat pada satu titik rumah yang sesuai.
"Oh, rumah oma Murti ? Janda tua yang sudah lama hidup sendiri ? Hatimu mulia sekali Ren, " Dokter Alexa terkekeh geli. Tak kuasa menahan tawa atas kegagalan Reno untuk menggodanya. Ia tahu, Reno berniat untuk memancing rasa cemburunya. Ingin menguji ketulusan cinta yang ada. Menggali lebih dalam seberapa dalam dokter Alexa yakin dengan pilihan yang ia tentukan.
"Kamu tahu gak ? Oma Murti itu..."
"Ah sudahlah. Kau mau ikut aku pulang ? " Wajah Reno memerah. Rona yang tidak bisa ia sembunyikan dengan rapat. Dokter Alexa semakin girang dengan suara tawa yang meledek. Puas membalas rasa malu dan jengkel yang dengan sengaja selalu Reno paksakan darinya.
"Hati-hati di jalan. " dokter Alexa melambai di sisi mobil. Memasukkan tangan kirinya pada saku celana yang melekat pas di kakinya.
Reno tersenyum tulus seraya menutup kaca mobil. Lambat laun mulai menginjak pedal gas dengan yakin. Melesat cepat menguasai jalanan yang sepi tanpa lalu lalang kendaraan.
Tidak butuh waktu yang lama, hanya sekitar lima belas menit perjalanan, Reno telah tiba di depan apartemen. Membuka pintu dengan kode digit yang telah di atur olehnya. Reno melangkah masuk, melempar kunci mobil di atas meja semaunya.
Nyanyian merdu mengalun indah di bibirnya. Bernyanyi, menyuarakan indahnya hari yang ia lewati tanpa sia-sia. Reno melepas jas hitam yang melekat di butuhnya semenjak tadi. Melemparnya asal tanpa memperhatikan kemana larinya. Reno membanting keras tubuhnya di atas sofa. Mendongak, menatap langit-langit rumah dengan senyuman yang tiada usai mewarnai bibirnya.
"Alexa..." Gumam Reno bangga. Mulai yakin dengan kisah baru yang mulai ia duga.
"Jadi, selama ini kau benar-benar cemburu ? " Reno tertawa seorang diri. Tingkah konyol gadis idaman hatinya, menghadirkan diri dan mendorong keras ingatan meminta di kenang.
"Bodoh sekali aku. Kenapa aku tidak menyadari itu, " Reno terus asyik dengan angannya. Wajah cantik dengan macam-macam ekspresi selalu menampakkan diri di setiap kedipan mata. Reno terus bergumam dengan senyuman menawan. Duduk bersandar dengan kaki menyilang. Jemarinya memegangi dagu, dan berulang mengusap ujung bibir dengan jari jempolnya.
*_*
Kring..kring...kring (Ponsel dokter Alexa berbunyi. Mengalunkan nyanyian merdu lagu dengan syair tentang cinta )
"Hallo ? " Dokter Alexa menempelkan ponsel pada telinga. Menyapa ramah pada seseorang yang sengaja memanggil namanya.
"Sudah tidur ya ?" ucap pria di seberang. Suaranya parau, tapi tetap saja membuat jantung berdegup kencang tanpa tempo.
"Sudah Ren, ini kembaran nya yang bicara. " jawab dokter Alexa dengan suara yang tertahan. Tidak berani melepaskan tawa yang sudah menggebu mendorong bibir.
"Ye.. kamu ini ada-ada saja. " ucap Reno gemas. Ia salah tingkah sendiri. Berguling-guling dengan bantal sofa yang sudah ia peluk erat sejak tadi.
"Kenapa Reno ? Kamu sudah sampai di rumah kan ?" Gadis itu bangkit. Ia duduk bersila, memilin-milin ujung rambutnya tidak karuan.
"Tidak apa-apa. Aku sudah sampai di rumah kok sayang....ah Alexa..."
dokter Alexa membulatkan mata. Terkejut dengan panggilan yang Reno lontarkan, walaupun Reno masih sempat meralatnya.
"Ya..ya sudah..cepat tidur sudah malam. Mimpi aku ya, ha ha ha. " Reno membanggakan diri. Tertawa lepas tanpa ada yang melarang.
"Bye Lex..."
"Bye Ren..."
*_* *_*
"Vino...lepas !" Shinta memberontak kuat. Menepis dengan kasar tangan kekar Vino yang menjegal tubuhnya dengan kuat. Shinta berusaha menepi dari cengkraman lelaki buaya yang membuatnya tertekan. Menjadikan dia wanita gila yang mulai terbiasa merayu lelaki-lelaki kaya yang menyambangi Club malam milik Vino.
"Ayolah Shinta, kenapa kau sangat jual mahal hah ?" Vino tidak mau menyerah. Semakin kuat Shinta melawan, semakin erat pula tubuhnya mencengkram.
"Hoek...hoek..."
"Ah sial ! " Davino menyingkir dari atas tubuh Shinta. Melepaskan perempuan itu tanpa paksaan dan perlawanan yang kuat seperti sebelumnya. "Dasar p e l a c u r ! Apa yang kamu lakukan ?"
Shinta tidak peduli, ia acuh dengan suara keras yang memaki dirinya. Merendahkan harga diri beserta seluruh isinya. Shinta berlarian menuju kamar mandi. Memuntahkan isi makanan yang belum lama ia makan dengan lahap.
Sementara Vino ? Tentu saja ia masih meninggikan amarahnya di atas ranjang sana. Kesal dengan Shinta yang muntah mengenai tubuhnya. Mengalir membuat sprei putih itu penuh dengan noda dan sisa-sisa makanan yang mengeluarkan bau menyengat karena sudah di proses di dalam perut.
Dengan lemas, Shinta keluar kamar mandi. Ia memegangi perutnya yang tidak nyaman, dan juga punggungnya.
"Kamu sakit ? Lemah banget sih jadi perempuan ! Sering sekali sakit. " Gerutu Vino kesal. "Menyebalkan sekali.." Imbuhnya dengan nada kesal.
"Aku cuma mual saja Vin . Hari ini, aku istirahat ya ? Aku tidak kuat, " Keluhnya dengan suara lemah.
"Hoek... Hoek..."
Shinta kembali berlarian ke dalam kamar mandi. Masih mual walaupun sudah tidak ada lagi makanan yang tersisa. Cairan bening, membuat Shinta mengeluh dengan rasa pahit di tenggorokan.
"Kamu beneran sakit ? " Kali ini, Vino tampak khawatir. Mulai percaya dengan keluhan yang tidak sengaja Shinta rasakan.
"Kita ke dokter ! " Dengan kasar, Reno menarik pergelangan tangan Shinta.
"Vino...aku tidak kuat. Tolonglah lebih pelan, " Rengek Shinta memelas.
"Jangan manja ! Malam ini malam minggu ! Pasti akan banyak laki-laki kaya yang datang ke Club kita. Jika kamu sakit, siapa yang akan menjadi magnet untuk menarik perhatian mereka ? " omel Vino panjang lebar. Seolah-olah mengatakan jika Shinta adalah ATM dan sumber keuangan paling besar baginya. Pundi-pundi tabungan yang di sayangkan jika sehari saja tidak menggoda.
Vino tidak peduli dengan pakaian seksi yang Shinta kenakan. Sebuah tank top berwarna biru yang ia padukan dengan rok mini yang hanya menutup pahanya bagian atas.
Mereka sudah tiba di klinik terdekat. Shinta menutup tubuhnya dengan kedua tangannya karena malu menjadi pusat perhatian. Apalagi dengan mata-mata nakal laki-laki yang terlihat sangat tergoda dengan tubuh yang tereksplor tanpa penghalang.
"Ayo !" bentak Vino geram karena Shinta masih saja mematung di depan pintu dokter umum yang sudah menunggunya.
Mereka berdua mengetuk pintu dengan sopan. Melangkah masuk, sesaat setelah mendengar suara yang mempersilahkan dari dalam ruangan. Vino mendorong pintu pelan-pelan. Menyapa dengan senyuman manis ketika bola matanya bertemu dengan seorang perempuan berseragam dokter yang sibuk dengan bolpoin nya di belakang meja.