I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Menipu



"Sayang? Kok diam aja sih di tanya ?"


kali ini Sandy menyenggol lengan Key dengan tubuh nya. Membuyarkan angan yang berlarian mencari alasan.


"Ah iya San ?" Jawabnya tersentak.


"Sayang, kamu dengar aku bicara kan ?" Sandy kembali bertanya, mempertegas pernyataan yang telah berlalu.


"Emang kamu tanya apa sih San ? Key nya sampai bingung gitu lo mau jawabnya ?" Meera menengahi, rasa penasaran nya mulai memunculkan ragam tanya.


"Itu Ma, mama Lita. Key tadi cerita, katanya sempet ketemu mereka. Bahkan ngobrol lama , ya harusnya Key juga tanya dimana mereka tinggal kan ?" Jelas Sandy. Ia mencari pembelaan, tentang persepsi yang ia katakan adalah hal benar.


"Ya barangkali Key nya lupa. Kan bisa aja San. Jangan terlalu di tekan Keysha nya !" Chandra membuka mulut. Ikut menyahuti, agar Sandy tak lagi menekan Keysha. Mencoba membujuk dengan membelokkan arah bicara.


"Gimana bisnis baru mu ? Bukan nya kali ini perusahaan Cherry melibatkan diri ?" Timpal Chandra. Ia mendekat dan merangkul bahu putra sulungnya.


"loh, Papa kok tahu ?" Sandy beranjak dari duduknya. Ia menoleh, dan menatap Chandra heran. "Jangan bilang papa punya mata-mata baru di perusahaan Sandy ? Awas saja kalau sampai ketahuan . Sandy bakal pecat dah tu orang."


"Hahahaha . . . " Chandra terkekeh. Ia menutup mulut dan kembali merebahkan tubuh di sofa sebelah jendela.


"Siapa pa orangnya ?" Sandy mengikuti gerak Chandra, merengek seperti anak kecil hendak meminta uang jajan.


"Papa tidak memerlukan mata-mata pun bisa tahu apa yang kamu lakukan Sandy. Silahkan kamu bermain-main dengan bisnisnya, tapi kalau sampai membuat Keysha sakit hati, kamu yang bakal papa bunuh." Chandra menyeringai, ia benar-benar mengancam anaknya sendiri di depan Keysha. Sorot mata yang sangat jelas menggambarkan kasih sayangnya yang tulus untuk anak menantunya, sinar tajam yang tak pernah ia perlihatkan untuk menggertak musuh-musuh Sandy.


"OK OK , Sandy kalah kali ini" Sandy mengangkat kedua tangan, seolah menyerah di hadapan tubuh renta Chandra.


Keysha dan Chandra saling bertatap, bercengkrama melalui naluri, mengucap terima kasih dalam diri. Key bernafas lega , setidaknya ia masih bisa merangkai kata baru untuk kembali bersembunyi kala Sandy mempertanyakan hal yang sama di lain waktu. Begitu pun Meera, menempelkan wajahnya dengan wajah anak menantunya, melantunkan bisikkan merdu yang membuat Key tersenyum tipis, "Siapin kalimat yang tepat ya sayang buat jawab. Suamimu ini kadang nyebelin kalau sudah kepo sama sesuatu."


"Apa tu bisik-bisik ?" Ucap Sandy ketus, ia melirik dua wanita yang terkekeh dalam bisikan.


"ih, anak laki jangan suka nguping, mau tahu banget urusan wanita." Jawab Meera sinis.


Ibu dan Anak ini jika suka saling melempar ledekan, atau pun berantem manja suka mengundang tawa bagi yang mendengar.


----


tok tok tok


Di tengah canda mereka, ada ketukan pintu yang membuat bibir mereka menganga. Tawa yang riang seketika terjeda, karena titik fokus yang berpindah tempat.


"Bu, ada yang mau bertemu di luar. " Ucap Nur ketika pintu yang ia ketuk berhasil ia dorong pelan.


"Key, kamu ada janji sama orang ?" Tanya Meera heran.


Keysha menggeleng pelan, ia tak merasa membuat janji dengan orang lain selain Meera dan Chandra.


"Ya sudah, ngga usah di temui " Sandy ikut berbicara, mengusulkan sikap yang biasa ia ambil jika kejadian serupa terjadi padanya.


"Key temui dulu ya ma,pa. Takutnya memang ada yang darurat " Key memutuskan. Ia meninggalkan senyum simpul sebelum beranjak meninggalkan ruang. Langkahnya tegap menelusuri tangga. Matanya sudah bergerilya di bawah, memperjelas penglihatan pada seseorang yang duduk tak jauh dari tempat kasir.


"Itu bu orangnya " Nur menunjuk pada seorang yang memang sedang Keysha perhatikan.Sosok perempuan yang gestur tubuh nya sangat Key kenali.


Ia tak menjawab kata Nur, hanya mengangguk ringan dan mengulur senyum.Key memberi kode agar Nur membiarkan dia sendiri, berjalan pasti menghampiri seseorang yang telah menantinya.


"Assalamualaikum, maaf ada yang bisa saya bantu ?" Seperti pada customer lain yang memerlukan nya. Key selalu mengucap salam dan sapa yang halus. Senyum tulus pun terukir indah di bibir tipis itu. Tak lupa, tangan lentiknya ia ulurkan untuk memberi penghormatan.


"Wa'alaikum salam, Keysha " Wanita itu menoleh. Tak banyak basa-basi, ia langsung mendekap erat tubuh Keysha, meraihnya untuk merangkul, meminta penghangat untuk hatinya yang terlihat hancur.


"Rania ? lo kenapa ?"


loh ? Dia beneran Rania ? Wanita yang hari kemarin saja masih mencaci Keysha. Bisa-bisanya hari ini datang seolah tidak ada apa-apa. Tak mengingat kata pedas yang terucap dari lidahnya untuk menyakiti hati Keysha. Demi apa ? dia hadir dengar tangis, ia datang atas ke piluan hati, kecamuk jiwa yang tak sanggup lagi di pikulnya seorang diri.


Eh tunggu, bukan ! bukan ! Bukan seperti itu kisahnya. Ia tersenyum licik di sela tangisnya. Mengarang cerita palsu untuk menipu beningnya hati Keysha.


"Ran, lo kenapa ? lo ada masalah ?" Keysha membangkitkan tubuh Rania, menopang kedua pundak yang ia pikir sedang rapuh. Ia tak tahu, jika wajah lugu itu sedang mempermainkan dirinya.


Rahangnya tak juga ia gerakkan, ia masih menikmati derita palsu di dalam isak tangisnya. Menunduk, memikirkan kata yang paling ampuh menyentuh hati Keysha.


"Ran, lo duduk dulu ya biar lebih tenang." Keysha menggandeng tubuh Rania, membawa nya duduk berdampingan. "Mbak, tolong ambilkan air putih ya " Perintah Key pada salah seorang pegawai.


Tak menunggu lama, seseorang yang Key perintahkan telah membawa segelas air putih. Ia merunduk lalu meletakkan di hadapan Rania.


"Ini Ran di minum dulu " Ucap Key mengangkat gelas. Mendorong lebih dekat kepada Rania.."Lo bisa cerita kalau lo mau Ran. Kita pernah janji kan bakal sama-sama sampai tua ? Bakal sahabatan sampai cucu-cucu kita besar " Keysha bernostalgia. Bermunajat dalam doa, menarik kembali sebuah harapan yang hampir ia lepaskan. Di sana, air mata itu menetes tak terasa, menyentuh hati kecil Rania dan sempat membuatnya terbuai, "Rania, ingat ! Tujuan lo bukan untuk memperbaiki semua. Lo harus bisa hancurin kehidupan wanita murahan di depan lo ini " Namun itu hanya sesaat, Setan dalam hatinya ikut menghasut. Membisikkan niat buruk yang telah Rania genggam.


"Key, gue - gue mau minta maaf sama lo. Gue udah jahat banget sama lo. gue ...." Rania menghentikan bicaranya. Ia benar-benar terbawa perasaan, terbuai seakan tulus mengatakan semua . Entahlah ! Jika dia mau jujur, hati nya telah lelah berjalan menjauh dari hal yang baik, namun lagi dan lagi bisik-bisik sesat di telinganya selalu membunuh keyakinan yang ingin ia bangun kembali.


"Rania ..." Key tak banyak menjawab. Ia kembali merangkul hangat tubuh Keysha . Tak berfikir perihal yang lain, 'Semua yang Rania katakan adalah benar. Dan gue percaya akan hal itu ' batinnya dalam hati.


Tuhan, terima kasih ...


Engkau hadirkan kembali satu titik bahagia dalam hidupku. Cinta yang sempat merajuk dan beranjak dari jiwaku..


Ini adalah anugerah besar selain keluarga yang selalu menyayangi ku...


Tuhan, entah mengapa ! aku tak bisa setitik pun membenci wanita ini, apapun hal konyol yang ia lakukan aku sanggup memaklumi menjadi sebuah khilaf untuknya . . .


Namun, gengsi ku yang besar selalu menutup rapat betapa indahnya sayangku untuknya. ~Keysha


"Keysha ? ini apa-apaan ? Kenapa ada dia disini ?"


Suara Sandy bergerumuh. Memutus rindu yang mulai bebas tersalurkan. Nada bicara yang meninggi, membuat semua yang mendengar tersentak hebat. Kini semua menunduk, menyembunyikan rasa takut yang menghujam. Tiada satu pasang mata yang berani beradu, menatap dan menantang perihal protes besar yang Sandy layangkan.