I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Sebuah Kejutan



"Kamu sudah di sini ? Tadi antusias banget di telepon. Kenapa sekarang diam saja ?" Sandy berdiri di jajaran anak tangga. Condong ke depan dengan tangan yang bertumpu pada pagar besi. Ia masih berpakaian santai, tidak begitu pantas jika ia kenakan untuk bekerja.


"Kata siapa ?" ucap Reno geram. Ia melirik tajam ketika menatap Sandy.


"Tadi tetangga bilang..." Sandy menyeret kakinya ringan. Menelusuri anak tangga yang tinggal beberapa lagi.


Sandy menarik kursi di samping Reno. Mendudukkan tubuhnya di sana dengan gaya sesantai mungkin. Ia menyesap kopi yang baru saja Keysha seduh. Ia sudah tahu tanpa Keysha bicara karena istrinya itu selalu memakai cangkir yang sama ketika menyiapkan kopi untuk suaminya.


"Kamu tidak bekerja ? Tumben sekali. Bukankah kau budak duit ?" Reno tersenyum sinis tanpa menatap Sandy.


"Kak Reno gimana sih, kan mau merayakan hari jadian kakak sama dokter cantik. " lagi, lagi Audrey tertawa karena ucapannya sendiri.


Chandra dan Meera hanya tersenyum-senyum menyaksikan tingkah anak-anak nya. Turut berbahagia dengan kebahagiaan yang anak-anaknya rasakan. Lengkap sudah segalanya hadir secara bersamaan dalam rentetan waktu yang beriringan.


"Lanjutannya gimana Ren ? Masak tidak bagi-bagi cerita sih ?" Keysha menyodorkan satu cangkir kopi hangat di depan Reno.


"Apa sih Key ? Kenapa kamu juga jadi julit gini sih ? Bawaan bayi, atau keseringan bareng Audrey jadinya ketular ?"


"Enak saja. " Audrey menonjok lengan Sandy dengan keras. Ia meringis, merasakan tulang jemarinya yang ngilu akibat benturan keras dengan Reno. Sementara Reno, ia masih duduk santai tanpa ekspresi. Sibuk menikmati kopi hangat yang Keysha berikan.


Mereka kembali tertawa, bersorak dengan rasa nyaman dalam kebersamaan. Berulang kali dalam satu hari, waktu yang Keysha gunakan untuk bersyukur. Berterima kasih kepada Allah karena telah melimpahkan rejeki yang begitu indah dalam hidupnya. Keluarga yang memiliki cinta yang utuh. Kasih dan sayang selalu ia rasakan walaupun mereka tidak tinggal bersama di setiap harinya.


"Pada ketawa apa sih ? Bunda ketinggalan ya..." Yeni hadir di tengah-tengah mereka. Menyelinap di antara pembicaraan konyol yang mewarnai siang mereka.


"Reno sudah punya pacar loh bun.." Lagi dan lagi Audrey berbicara asal.


"Bunda sudah tahu duluan kalau itu..." Yeni tersenyum menggoda. Menyentuh pipi Reno yang tampak memerah dengan gemas.


"Siapa sih yang pacaran ? Aku sama Alexa masih berteman, kita belum berbicara sejauh itu, " ucap Reno jujur.


"Masih mau mengulang kejadian yang sama ? Nanti kalau dokter Alexa sudah sama orang lain baru nyesel, " Sandy dan Reno memang selalu berbeda pendapat. Banyak hal yang mulanya mereka perdebatkan, namun akhirnya mereka tetap kembali sejalan. Kompak dengan pemikiran yang sama.


"Tidak akan, " Reno menggeleng cepat. Menepis dugaan Sandy dengan nada tegas. Reno menatap semua orang yang tengah memandanginya sebelum melanjutkan kalimatnya. "Aku ingin melamarnya malam ini..."


Semua tercengang mendengar ucapan Reno. Apalagi Sandy, ia sampai tersedak kopi yang baru saja ia sesap.


"Kamu serius Ren ?" Tanya Keysha penuh selidik. Ia sangat antusias namun tetap ragu dengan keputusan Reno yang termasuk mendadak.


Tidak ada yang terlihat beraktivitas. Semua memilih mematung agar lebih fokus memperhatikan Reno. Pria yang tengah menjadi pusat perhatian karena ucapannya yang sangat serius.


Sementara Chandra, ia berhenti mengunyah. Jemarinya diam, tidak lagi memainkan sendok di atas piring. Meresapi setiap kata-kata yang Reno ucapkan dengan lantang.


"Kalau aku tidak serius, aku tidak mungkin datang ke sini Key. " sahut Reno.


"Aku ingin, tante sama om mau untuk menjadi orang tuaku selama malam ini. Tante sama om kan tahu sendiri, Reno sudah lama tinggal sendiri. " Reno merunduk pilu. Matanya berkaca-kaca, bersedih dengan keadaan yang tidak berpihak kepadanya. Ia benar-benar sebatang kara, tanpa keluarga ataupun saudara. Namun, ia memiliki sahabat yang telah menganggap nya lebih dari saudara.


"Reno, berapa kali tante bilang, anggap tante sama om ini orang tuamu sendiri ! Jangan malu-malu untuk minta bantuan sama kami, " Meera meraih jemari tangan Reno. Mengusap punggung tangannya dengan lembut. Menyalurkan kasih yang meresap masuk ke dalam darah yang mengalir di dalam nadi.


"Terima kasih tante..." Dengan senang hati Reno memeluk perempuan yang selalu bangga di anggap sebagai mama oleh Reno. Selalu menyeimbangkan antara Sandy dan Reno semenjak mereka masih kecil. Ia tidak pernah membeda-bedakan dan selalu menganggap keduanya adalah saudara kandung.


"Oh ya Key, kamu bisa hadirkan nanti malam ?" tanya Reno penuh harap. Udara malam selalu berhembus dingin. Menyibak bulu kudu dan menusuk dalam sampai ke tulang. Sedangkan Keysha, ia sangat membutuhkan istirahat yang cukup. Dokter Alexa menyarankan untuk Keysha benar-bensr istirahat total dari segala aktivitas yang memberatkan tubuh dan pikirannya.


"Insya Allah Ren, anakku pasti juga senang menghadiri acara lamaran mu ..." Keysha mengusap perutnya gemas. Perut yang masih tampak ramping, tapi sudah ada malaikat kecil yang sedang bertumbuh di dalam sana.


"Aku gak di undang nih..." sindir Audrey begitu dirinya tidak di absen oleh Reno. Tidak di tanya kesiapannya untuk hadir di acara lamarannya malam nanti.


"Kalau kamu, lebih baik jangan datang Audrey..." Kali ini gantian Reno yang tertawa karena jawabannya sendiri.


"Ih kak Reno...tega..." Rengek Audrey manja. Ia meninju lengan Reno lagi, tapi kali ini dengan energi pelan.


"Yakin mau datang ? Semua berpasangan loh...Kamu mau sama siapa ?" Reno mendekatkan wajahnya di samping telinga Audrey. Menggodanya dengan ledekan yang dulu sering ia dengar kari bibir Sandy. Sebuah ejekan yang nyatanya mampu membuat ia merasa iri hati dan berusaha keras untuk tegar. Terlihat baik-baik saja padahal hatinya selalu berharap dalam pinta kepada Tuhan. Ia selalu mengulang bait-bait doa tentang jodohnya. Permintaan konyol, karena berharap Tuhan menemukan ia dengan seorang perempuan baik hati yang memiliki sifat menyerupai Keysha. Ya, ia memang selalu mengagumi karakter wanita itu, dan Sandy sangat paham dengan itu.


"Sama mbok Darmi ! Puas ?" Audrey mendengus kesal. Semakin jengkel dengan ledekan Reno yang tidak jauh dari kata jodoh. Memangnya aku bisa mengatur semuanya sendiri. Hari ini minta, besok ada. Gila ! pekik Audrey dalam hati.


"Sudah, jangan pada ribut ! Ayo selesaikan dulu makannya, nanti kita bahas ini lagi. Keburu dingin nanti, mana enak..." ucap Yeni menengahi. Ia kembali mengangkat sendok dan garpu, kembali fokus melahap makanan dengan tenang.


Suasana hening, tiada lagi suara tawa yang bersahut-sahutan. Hanya terdengar suara piring yang berbenturan dengan sendok. Sudah tidak ada yang bersuara, membuka mulut selain ketika menyuap nasi.


"Sayang, kamu harus banyak istirahat. Ini biar sama mbok Darmi saja dulu ya..." Sandy menarik tangan Keysha. Memintanya kembali duduk di sampingnya.


"Iya nak. kandungan kamu masih sangat lemah. Jangan terlalu banyak gerak dulu ya..." Yeni membenarkan kalimat Sandy. Melakukan pembelaan, dan meminta Keysha untuk tetap tenang dan duduk bersandar pada kursi.


"Ini sebenarnya bukan pekerjaan yang melelahkan kak, Keysha baik-baik saja." ucap Keysha.


"Jangan bandel nak !" Meera juga membela Sandy. Mengatakan hal serupa agar perempuan itu tetap diam di tempat.


"Bandel !" Sandy menyentil dahi istrinya. Ia lalu bangkit, membereskan piring-piring kotor di atas meja. Ia dengan cekatan membawa ke dapur. Meletakkan di atas kitchen xing dan meminta tolong pada mbok Darmi untuk membersihkannya.


"Oh ya Key, nanti jangan dulu bilang sama Alexa kalau aku berniat melamar ya. Aku hanya bilang akan mengajak dia sama keluarganya buat makan bersama. Jadi biar lebih berkesan saja untuknya..." ucap Reno jelas. Semua masih mendengar, kecuali Sandy yang hanya mengerti beberapa kata terakhir saja.


"Baiklah. " Keysha menyatukan jari telunjuk dan jempolnya, membuat bulatan sebagai simbol mengiyakan apa yang Reno pinta.


******


kling...( Suara pesan singkat masuk ke dalam ponsel dokter Alexa )


Lex, malam ini aku ingin mengajakmu makan malam bersama keluarga mu, apa kalian bisa ?


Dokter Alexa membulatkan mata dengan sempurna. Berulang kali ia mengulang untuk membaca pesan yang masuk. Ini benar-benar sesuatu yang mendadak, namun ia dengan senang hati menerima. Toh, mamanya dan Naura tidak kemana-mana hari itu. Jadi ya tidak ada salahnya memperkenalkan mereka kepada Reno, yang tak lain adalah laki-laki yang menjadi idaman oleh dokter Alexa. Seseorang yang ia kagumi secara berlebih hingga menumbuhkan cinta yang mendalam.


Baiklah Reno. Nanti akan ku beritahukan kepada mereka.


Jawabnya dengan singkat.


Tapi, tidak ada alasan untuk menolak...


Dokter Alexa tersenyum malu-malu. Jantungnya terpacu kian kencang. Darahnya mengalir deras, membuat ia merasakan panas dingin karena getaran rasa yang menyapa.


Ia beranjak dari atas ranjang. Melenggang keluar kamar untuk mencari keberadaan mamanya.


"Ma..." panggil dokter Alexa.


"Mama...." teriaknya lagi, kali ini ia memanggil dengan nada yang lebih keras.


"Mama di dapur kak..." sahut Naura yang sedang sibuk mengerjakan soal-soal yang di berikan oleh gurunya di sekolah. Ia menoleh, segera menyahuti teriakan dokter Alexa yang mengganggu konsentrasinya.


"Ada apa Alexa ? Adikmu lagi belajar, pelan kan suaramu..." Febi, mama dokter Alexa muncul dari arah dapur. Segera menghampiri suara teriakan Dokter Alexa yang terus bergerumuh tak henti memanggilnya.


"Maaf Naura... habisnya kakak lagi senang banget hari ini..." Alexa merebahkan tubuh di atas sofa. Memejamkan mata dan terus tersenyum lebar. Febi dan Naura hanya memandang aneh kepadanya. Heran dengan tingkah Dokter Alexa yang tidak pernah se-konyol itu.


"Are you OK ?" Febi memegangi dahi dokter Alexa.


"Ih mama, orang anaknya lagi bahagia gini kok malah di pegang dahinya sih ..." Gerutu dokter Alexa manja.


"Lagian aneh, sejak kapan kamu seperti ini Lexa ...Kenapa jadi aneh sekali.." gumam Febi lirih. Ia masih saja menatap heran kepada putri sulungnya. Masih tidak bisa menebak dengan jelas sesuatu hal yang membuatnya terus-menerus tersenyum riang.


"Paling juga jatuh cinta ma...Penyakit orang dewasa..." celetuk Naura sok tahu.


"Jatuh cinta ?" ucap Febi meyakinkan.


"Ye apa sih dek ? sok tahu banget. Tadi Reno bilang mau ajak kita makan malam ma..."


"Oh, jadi Reno yang bikin anak mama senyum-senyum terus ?" Febi menggoda putrinya. Ia menarik hidung Dokter Alexa, tapi tidak membuatnya meringis kesakitan justru mereka sama-sama tertawa.


"Pantas saja, dari kemarin ceritanya Reno itu terus, memang nya tidak ada Reno yang lain ? " Naura terkekeh kecil.


"Sudahlah jangan bawel. Selesaikan saja tugas sekolah mu kalau nanti malam kamu mau ikut.."


"Siap boss..."


"Ya Sudah, mama beresin kerjaan mama dulu ya.. Setelah itu kita baru siap-siap. "


Mereka kembali ke pekerjaan masing-masing. Fokus dengan urusan pribadi dan menyelesaikan nya dengan cepat. Setelahnya, mereka bersiap-siap. Berdandan dan menghias diri agar lebih menarik ketika setiap pasang mata menatapnya dengan riang.