I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Tidak Seperti Biasanya



Keysha membiasakan diri pulang lebih cepat sebelum Sandy sampai rumah . Ia tidak ingin membuat suaminya menunggu . Ia juga tidak ingin jika tugasnya sebagai istri harus tergantikan semua . Mulai dari menyiapkan pakaian ganti, dan makan malam. Semua harus dia sendiri yang melaksanakan . Key tidak pernah mengeluh dengan rutinitasnya, dengan kesibukan dan waktu istirahat yang sangat kurang. Baginya, hal seperti ini memberinya nilai kesenangan tersendiri. Justru, ia sering bersedih hati jika Sandy menaruh rasa kasihan dan melakukan segala hal sendiri .


Dari Sandy pulang, Key tidak melihat raut senang di wajah suaminya. 'Ah mungkin dia terlalu lelah hari ini'. Ia tidak ingin berpikir buruk tentangnya . Tetapi, kekhawatiran selalu membayangi karena Sandy tidak pernah terlihat begitu diam . Ia selalu usil dan mengajak anak-anak bermain sebelum ia masuk kamar, tapi tidak dengan hari ini. Selesai makan ia berpamit untuk kembali menyelesaikan pekerjaan yang belum usai .


Satu jam berlalu, Allan menyusulnya . Masuk dengan pelan dan menggoda papanya seperti biasa. Ia merayu dengan candanya, merengek sesuai usianya . Dengan harapan Sandy menuruti maunya .


"Allan, kamu lihat papa masih sibuk kan ? Tolong beri papa waktu ya " Sandy masih santai menanggapi . Tetapi matanya tidak lepas sedetik pun dari laptop di depannya .


"Ayolah pa . Bukankah papa janji untuk selalu mengajak kita bermain sebelum waktu tidur ? Kenapa papa mengajari kami berbohong ?" Kembali lagi , Allan mengeluarkan kata-kata mautnya .Satu kalimat panjang yang menunjukkan rasa kesalnya . Ia hanya berusaha mengingatkan, dengan cara berbicara yang cukup enak di dengar.


Key telah berdiri di belakang pintu .Mengamati dengan cermat perbincangan keduanya . Hatinya memaksa ikut campur untuk merayu Allan agar memberi waktu suaminya. Namun, terhenti karena hentakan rasa kaget . Key terperanjak dan tak bisa mempercayai dengan hal yang baru dia saksikan. Sandy membentak Allan dengan sangat keras . Membuat anak prianya duduk berjongkok dan menutup kedua telinga .


"Allan ! Kamu lihat papa sedang sibuk. Hentikan kalimat mu yang bikin papa tambah pusing itu. Mainlah dulu sama mama, atau sus Rina !" Teriak Sandy menyebar keluar ruangan . Allan yang tidak terbiasa mendengar dan di perlakukan begitu kasar kita menangis . Dengan menutup rapat telinga juga matanya . Ketahuilah! Anak itu pasti sangat hancur hatinya .


Key terpancing, ia menatap Sandy dengan penuh benci. Murka dengan sikap Sandy yang sangat kekanak-kanakan. Ia juga meletakkan secangkir kopi di sebelah meja dengan sedikit membanting hingga tumpah . Yang pertama Keysha lakukan hanya mendekap putranya . Mengusap air matanya dan memeluknya agar lebih tenang . Tidak ada sepatah katapun yang ia ucapkan untuk menegur Sandy . Pria yang sekarang terlihat begitu tegang karena perasaan bersalah. Ia juga berusaha menyentuh punggung Allan, namun kalah cepat dengan langkah Key yang sudah lebih dulu membawa nya keluar kamar pribadinya .


"Ma ? a-apa Allan salah ?" Di tengah rasa takut dan isakan tangisnya, Allan mengajukan pertanyaan. Matanya berbinar dan berharap Sandy tidak marah lagi terhadapnya.


"Tidak sayang . Papa hanya sedang banyak kerjaan. maafin papa ya nak " Berulang, Key menciumi anaknya .Ia takut jika Allan trauma dan tidak lagi berani mendekati Sandy. Ia takut masa kecilnya terulang pada anak lelakinya.


"Ma ? mama jangan nangis . Allan tidak apa-apa. Allan salah ma, Makanya papa marah . " Pria kecil yang sangat baik hati. Ia sendiri sedang merasakan luka di hati kecilnya .Namun ia masih berusaha menghibur Keysha . Berlagak baik-baik saja dan tidak ada masalah baginya .


"Iya nak. Allan bobok ya sayang, Lena sudah di kamar sama sus Dwi dan sus Rina . kita susul ya " Key menghapus air mata nya . Membawa Allan masuk ke kamarnya sendiri . Terlihat , Lena sudah terlelap begitu pun kedua baby sitter yang merawatnya.


"Allan bobok sama sus Rina aja ma .Mama bobok aja di kamar mama . Ngga apa-apa "


Sebelum kembali ke kamar pribadinya, Key menarik nafas dalam-dalam. Menghembuskan secara perlahan. Membuang pikiran buruk dan kekesalan, ia sudah terlalu lelah jika harus berantem dengan Sandy di jam selarut itu .


cekrekkk


Sandy memegangi kepalanya. Sesekali ia juga mengusap kasar dan mengacak-acak rambutnya. Laptop masih menyala dan belum usai dengan pekerjaan nya tadi . Key masuk, menata kasur dan berbaring. Ia menarik selimut hingga menutup sebagian tubuhnya. Menyisakan kepala dan bagian wajahnya. Sengaja miring membelakangi suaminya. Jika tangis tak bisa di tahan, setidaknya Sandy tidak menyaksikan itu.


Key memang tidak pernah mencoba ikut campur dalam permasalahan suaminya. Bukan tidak mau ! Tetapi ia tidak ingin memaksa Sandy untuk bercerita jika bukan karena kemauannya sendiri. 'Ah, mungkin kantornya sedang bermasalah' pekiknya dalam hati.


Baru beberapa detik memejamkan mata, ia merasa ada yang membelai kepalanya. Membuat ia tersentak dan kembali membuka mata.


"*Sandy ? "


"Maafin aku Sayang. Aku sudah salah sama Allan. Aku benar-benar tidak bisa mengontrol emosiku kali ini*." Jelas Sandy. Matanya tampak berkaca-kaca dan menahan tangis .Baru kali pertama Sandy begitu cengeng, bahkan lemah dengan kekurangan nya sendiri.


"Kau tidak perlu meminta maaf padaku San. Katakan pada anakmu !" Sahut Key dengan ketus. Ia tak mau menatap suaminya, yang masih memiliki magnet yang menarik kembali rasa kesalnya.


"San ? kita sudah sama-sama dewasa, bahkan tua untuk saat ini. Aku tidak pernah menuntut mu lebih . Tapi aku mohon kepadamu bantu aku untuk menjaga hati anak-anak. Jangan terbiasa melempar masalahmu kepada mereka. Mereka belum sanggup, mereka masih terlalu kecil untuk menanggungnya. " Air mata yang sudah membendung di pelupuk mata kita lolos juga. Mengalir tanpa haluan dan tiada henti. Ia tahu, bagaimana rasanya Allan di perlakukan seperti itu oleh papanya sendiri. Seorang ayah yang terbiasa memanjakan, berubah hanya dengan kedipan mata.


"Aku tidak berniat seperti itu Key. Aku ..aku khilaf " Sandy menunduk. Ia tak kuasa menjelaskan permasalahan kantornya , ah bukan ! permasalahan pribadinya dengan Cherry.


"Ku harap. Kamu bisa lebih dewasa dan tidak mengulanginya San "