
Maaf readers...
Atas banyaknya typo yang tidak saya sadari di episode sebelumnya....
Key terkulai diatas kursi tempat Rania tadi duduk. Dia bisa tersenyum dan bisa tiba-tiba menangis membayangkan masa-masa indahnya bersama Rania. Tertawa, bercanda, berebut hal kecil dan segalanya mereka lalui berdua. Jauh sebelum mereka mengenal cinta. Ah! Benar! Cinta memang merusak segala yang telah indah.
Sandy POV
Sandy berjalan dengan langkah cepat berharap istri nya mendapat apa yang dia mohonkan. Namun kakinya terhenti di deretan mobil-mobil mewah itu. Menatap sinis di salah satu mobil berwarna merah. Itu mobil Cherry. Matanya beralih cepat melihat Rania menangis saat keluar restoran. Gadis itu seperti menyimpan sesuatu. Namun langkahnya cepat menuju mobil. Sandy memutuskan berdiam diri di luar menanti pemilik mobil berwarna merah. Dia sudah menebak wanita licik itu pasti sedang tertawa di dalam sana.
Benar saja selang beberapa menit mobil Rania melaju Cherry ikut keluar. Dengan wajah yang sumringah dan penuh kemenangan.
"Dasar wanita licik" gumam Sandy. Dia menghadang mobil Cherry yang hendak melaju.
"Sandy kamu ....kamu di sini juga?" Cherry segera turun dari kendaraan. Memutar nada mencari syair yang tepat.
"Kamu kebetulan di sini atau memang ada yang kamu rencanakan sebelum ini?" tanya sandy menekan. Matanya tajam menatap wanita yang berdiri di depannya. Wanita yang memutar mata mencari alasan yang tepat.
"maksud kamu apa sih San? Aku memang suka ke sini!" elak Cherry.
"Kamu bisa saja Cher bohong ke semua orang yang terlibat dalam masalah ini. Tapi jangan harap kamum bisa tenang setelahnya." ancam Sandy santai.
Sandy masuk untuk menemui Keysha. Wanita itu berdecak kesal atas apa yang Sandy ucapkan. Kepalanya selalu terngiang dengan ancaman Sandy. Namun, rasa benci nya kepada Key telah menyeruak, memenuhi rongga pernafasannya. Dan selamanya akan seperti ini, jika dendamku belum terpuaskan.
--
"Key" Sandy membelai mesra kepala Keysha.
"Kak Sandy ?" gadis itu mencoba tersenyum. "kita pulang ya, semua sudah selesai" lanjutnya. Dia menyeret lembut kakinya.
Tidak ada suara yang menyibak, membuka percakapan. Deru mesin mobil dan nyanyian merdu suara AC yang memenuhi.
"key, kamu baik-baik saja?" Sandy tampak khawatir. Sedari tadi gadis itu banyak berdiam.
"Rania memilih menyudahi pertemanan kita Kak. Aku bisa apa? Ya kalau itu bisa membuat dia bahagia, aku juga akan bahagia untuk dia" Keysha menghela nafas. Membuang segala penat dan rasa sakit yang menusuk hatinya.
Entah, aku yang bodoh apa memang aku sedang dipermainkan oleh waktu. Selalu ada titik yang mengganggu ketenangan jiwaku.
Aku, masih ingin lebih lama bergurai dengannya. Seorang gadis yang selama ini lebih mempedulikanku dibanding saudaraku..
"aku percaya kamu bisa lebih dewasa menyikapi ini. Lebih baik pikirkan universitas yang akan kamu pilih setelah ini." Sandy mencoba menasehati. Membangkitkan semangat dan menghidupkan kembaki jiwa Keysha yang sesungguhnya.
Laki-laki berlesung pipit itu tersenyum bangga.
--
Cherry POV
"Nu kamu hebat! Baru segitu Rania benar-benar mengutuk Key. Dia sangat membenci gadis bodoh itu. Hahaha" Cherry merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang di ruang tamu rumahnya.
"tugas aku kelar kan? Aju tagih janji kakak" jawab Ibnu serius.
"Ya tugas kamu memang kelar! Aku akan selalu pegang janji aku, selagi Keysha selalu menderita seperti ini" Cherry merapatkan kedua jemarinya. Mengangkat kaki dan duduk menyilang. Wajahnya licik penuh ambisi kejahatan.
Flashback
Dua hari sebelumnya......
"Nu kamu pemakai?" cherry mengambil barang yang jatuh dari saku celana ibnu.
"i.. Itu punya.. Punya temen aku kak!" Ibnu gelagapan.
"Kamu tidak perlu bohong deh! Ngaku ngga?" Cherry menggertak, menghakimi adik laki-laki nya.
"ok ok..aku ngaku. Iya! Itu punya aku. Tapi gue aku baru nyoba kak" Ibnu menjawab jujur.
"gila kamu ya Nu! Buat apa kamu pakai obat-obatan begini ? Kamu pikir dong Nu! Aku bakal aduin ini sama Daddy!" Cherry mengancam.
"please kak! Jangan"
Ancaman demi ancaman memenuhi isi kepala Ibnu. Laki-laki berumur belasan tahun itu memelas. Mencari perlindungan atas apa yang dia perbuat. Dia tergoda dengan obat-obatan terlarang. Mungkin karena pergaulan dan kurangnya kasih sayang. Ibnu memiliki cara tersendiri untuk membuatnya senang.
"ok..aku akan tutup mulut tapi dengan satu syarat!" Cherry tersenyum sinis. Wajahnyha menyimpan niat licik lalu membisikkan pada Ibnu.
"ngga ah! Kakak gila ya...." ibnu menolak.
"baiklah....
Dad? Daddy !" ah! Gadis itu sungguh-sungguh dengan ancamannya.
"ok ok! Aku bakal lakuin apa yang kamu minta. Awas asja sampai buka mulut." Ibnu merasa kesal. Dia pergi meninggalkan kakaknya dengan tak menyenangkan.