
"Kak, ada apa?"
Keysha bingung melihat tingkah lelakinya yang kesusahan menghentikan tawanya. Ia berulang menghela nafas dan memegangi perutnya yang keram karena tertawa.
"Tidak, ayo kita masuk" jawabnya setelah usahanya berhasil. Ia menggandeng mesra lengan Key dan menggiring masuk ke dalam.
Mereka mulai berpamitan pada kedua mempelai, memeluk dan mencium dengan haru.
"Selamat ya Key" Gilang terlihat biasa saja, tidak ada raut kecewa dan kesal saat dia mengatakan itu.
"Thanks ya Lang" Key segera menimpali. Ia tersenyum bangga dengan temannya yang benar-benar sudah berubah.
Sandy pun menyambut, tidak ada lagi garis kebencian di wajahnya. Ia sangat menerima kedatangan Gilang dengan sukarela.
"Bocah itu, sepertinya dia benar-benar sudah berubah" Bisik Sandy selepas Gilang pergi.
Key tersenyum
"Selamat ya Key!" Ibnu tersenyum dan memberi ucapan. Tangannya menjabat tangan Sandy, hanya Rania yang berdiri di sampingnya menatap sinis dan benci pada Keysha.
"Hati-hati saja kak, nanti kalau uangmu sudah tidak lancar pasti bakal ditinggalin lagi" Rania tersenyum sinis.
"Mulutmu itu sangat murah sekali" tentu saja ucapan Rania membuat Sandy naik darah. Matanya membelalak dan hendak berbuat kasar terhadap Rania.
"Sudah lah kak, kamu tidak segila dia kan? tidak perlu kamu tanggapi" Key menahal tangan suaminya.
Dasar mulut comberan, lupa dia dengan dulu-dulu. Siapa yang selalu siap di sampingnya, yang bantuin dia, yang semangatin dia. Bahkan, yang bisa buat dia merasa aman saat Gilang masih bringas-bringasnya. Heh, nanti juga kalau sudah sadar kalau dirinya dimanfaatkan oleh Cherry, pasti akan berlari mencari bantuan Keysha lagi. Biarkan saja dulu, biar puas. Kalau perlu sakit hati dulu, baru insaf. Heh, kesel aku tuh!
"Kam, sudah lama Keysha tidak lihat mama Lita sama Shinta. Apa mereka tidak kakak undang juga?" Key menutup album pernikahannya yang baru saja selesai dicetak.
"Ah, entahlah Key! Sudah semenjak ayah meninggal, aku tidak memikirkan mereka. Bahkan rumah itu pun mereka jual secara diam-diam" Gumamnya sembari memeluk perut sang istri.
"Semoga saja mereka baik-baik saja" lirih Key.
Ia mematikan lampu dan kembali terbuai dengan sentuhan demi sentuhan dari suaminya.
--
Benar apa yang Sandy katakan dimalam pernikahannya, Cherry menggila dengan rasanya. Ia menyiksa tubuhnya, menggores sekujur tangan dengan pisau kecil. Ia juga meminum racun yang membuatnya terkapar tak sadarkan diri. Entahlah, apa yang sedang ada di pikiran gadis itu.
Awalnya, Ibnu menyembunyikan berita itu. Hal semacam itu akan membunuh citra ayahnya, dan Ibnu yang akan menjadi sasaran atas apa yang terjadi dengan Cherry.
Tetapi, lama kelamaan, beritanya menyebar. Entah, oleh siapa dan dari mana. Semua stasiun tv mengabarkan berita yang sama, mengatakan Cherry telah lama koma dan tak sadarkan diri. Bahkan, ada yang iseng mengatakan jika gadis itu sudah meninggal.
"Si Cherry memang benaran gila deh kayanya" Reno bergumam. Ia duduk bersantai di depan tv milik Sandy, menikmati cemilan yang selalu Keysha siapkan di mejanya.
"Ada apa sih Ren, tegang amat kaya pengantin baru" lagi dan pagi Sandy meledeknya.
"Itu mulut ember banget sih!" Reno melempar bantal yang ada disampingnya tepat ke wajah Sandy.
"Lihat deh men, Cherry beneran mau bunuh diri!" Reno serius, membuat Sandy tertarik memperhatikan tv.
"Yang benar saja" ia tersenyum miris.
Bersambung.........