I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
lamaran



Malam telah tiba, menggeser mentari mengganti kan rembulan. Suasana masih dalam nuansa purnama. Terang tanpa penerang buatan pun keadaan sekitar masih bisa di lihat dengan mata meskipun tidak terlalu jelas.


Reno sudah siap, ia bersama Sandy dan keluarga besarnya telah terlebih dahulu tiba. Reno sengaja menyewa satu restoran hanya untuk acaranya. Mempersiapkan diri dan melawan grogi yang melanda. Tangannya berkeringat dingin, karena rasa cemas dan takut yang merajai hatinya.


"Sudah duduk dulu, nanti juga datang dia..." Celetuk Sandy begitu melihat Reno yang tampak mondar-mandir di belakangnya. Bolak-balik arah seperti sebuah setrikaan.


"Sial, kenapa jantungnya susah sekali aku kendalikan.." gumam Reno dalam hati.


Ia masih sibuk mengulang langkahnya di tempat yang sama. Berulang kali menengok arah luar, berharap dalam cemas semoga Tuhan memberinya kesempatan untuk melangkah ke jenjang kehidupan yang lebih baik lagi.


****


"Dimana sih Lex restoran yang di pilih Reno ?" Febi mulai merasa penat karena sudah lama berada di dalam mobil. Berputar-putar mencari titik yang Reno kirimkan melalui pesan.


"Restaurant...A..ba..d..i... nah ini mah..." dokter Alexa menghentikan mobilnya sejenak untuk mengeja papan tulisan yang terpajang di sana.


"Wah..." Naura tergiur akan pesona outdoor dari restoran tersebut. Takjub dengan desain yang sangat menarik pandangan. Semua pasti akan terkesima setiap kali datang ke sana. Semua sungguh tertata dengan sangat elegan dan mewah.


"Ayo turun.." seru dokter Alexa. Ia sudah memarkirkan mobilnya di sana. Bebas memilih karena tiada banyak mobil yang berjejal penuh seperti hari-hari sebelumnya.


"Aneh sekali...kenapa tampak sepi..." gumam Dokter Alexa mulai curiga.


"Ah mungkin memang belum pada datang..." gumamnya lagi.


Mereka bertiga melangkah beriringan. Berjalan dengan mata yang sibuk memperhatikan sekitar. Berulang kali menggeleng ringan karena takjub melihat bangunan megah yang masih memberikan aura kenyamanan bagi siapa saja yang datang ke sana.


Dokter Alexa, Naura dan sang mama berpenampilan sederhana. Masing-masing mengenakan dress yang senada dengan warna kulitnya. Melekat pas tanpa aneka ragam aksesoris yang melengkapi.


"Sepi sekali kak. Ini benar tempatnya kan ?" fokus Naura terganggu. Ia tidak lagi sibuk memikirkan cara pembuatan segala bangunan yang menyesatkan mata. Justru, ia merasa heran dengan keadaan sekitar. Tiada satupun pengunjung yang terlihat berlalu lalang. Tiada aktivitas padat seperti umumnya restoran. Semua jauh dari yang ia bayangkan.


"Benar ini kan Lex ?" Febi juga tampak bimbang.


"Benar kok ma...kita masuk saja ya..." ajak dokter Alexa. Ia masih yakin, melangkah ke dalam mencari keberadaan Reno.


Setelah sampai di dalam, Reno tercengang menyaksikan sudut ruang. Tidak hanya Reno yang ia temui di sana, tapi di dominasi oleh keluarga dari Chandra Hutama.


"Itu Alexa.." Bisik Keysha pelan. Ia menunjuk pelan pada titik tempat Dokter Alexa dan keluarganya berhenti.


Reno menoleh cepat, mengikuti jemari Keysha memberitahukan. Ia membulatkan senyuman tulus setelah melihat mereka. " Alexa..." gumamnya. Ia beranjak dari bangku untuk menemui dokter Alexa dan keluarganya terlebih dahulu.


"Alexa.." Sapa Reno dengan nada lembut. Ia merunduk mencium punggung tangan Febi penuh hormat.


"Jadi ini yang namanya Reno ?" ucap Febi setengah berbisik di balik telinga dokter Alexa. Membuat gadis itu tersipu malu karena Reno tersenyum lebar mendengar ucapan Febi.


"Ayo tante..silahkan duduk..." Reno membuka tangan. Menunjuk pada perkumpulan orang-orang yang sengaja Reno hadirkan di sana.


"Ayo..." lirih Reno, ia tidak melepas pandangan matanya. Gadis cantik ini, benar-benar membuatnya terhipnotis dengan segala penampilan nya.


Mereka sama-sama membaur, menikmati dinginnya malam di tengah kehangatan kekeluargaan. Meera, Yeni dan Febi tampaknya sangat mudah akrab. Begitu juga dengan Naura dan Audrey. Mereka saling bercanda, masih fokus dengan makanan yang di pesan oleh masing-masing orang.


Tidak ada kecurigaan yang tampak dari bola mata Dokter Alexa. Ia masih menganggap semuanya wajar. Itu hanyalah cara Reno untuk ia memperkenalkan diri kepada keluarga dokter Alexa.


Selepas mereka makan, alunan musik yang di putar berubah genre. Sekarang terdengar sangat lambat dan romantis. Suara gesekan biola terdengar merdu di indera pendengaran. Reno menghela nafas ringan, bersiap untuk menyemburkan berbagai kata yang sudah ia siapkan semenjak siang. Sandy memukul ringan bahu Reno, memberikan sebuah dukungan besar. Mengatakan tanpa bicara bahwa dia adalah orang pertama yang berbahagia dengan segala jalan hidup yang di pilih oleh Reno.


"Maaf semuanya..." Reno berdiri, membuat semua pasang mata tertuju padanya. Fokus memperhatikan keseriusannya berbicara.


"Selamat malam..." sapa Reno sebelum memulai bicara.


"Selamat malam..." Semua kompak menyahuti, layak murid yang menjawab salam dari sang guru.


"Maaf, jika aku mengganggu sebentar...Alexa, bisa berdiri bersamaku di sini ?" Reno menatap dalam pada dokter Alexa. Perempuan itu menoleh, membuang wajah karena tidak mengerti tujuan dan niat yang Reno rencanakan.


"Ayo..." ucap Febi. Ia memberi dukungan penuh untuk putrinya. Menyenggol lengan anak sulungnya untuk segera bangkit dan berdiri di titik yang Reno arahkan.


Meskipun rasa malu masih memuncak di hatinya, dokter Alexa tetap memaksa tubuhnya untuk beranjak. Melangkah beberapa kali lalu berbaik badan menyeimbangkan diri dengan Reno. Laki-laki itu terlena menatapnya. Masih tersenyum lebar dan penuh arti. Ia tidak melepas pandangan selama beberapa detik, hingga telinga nya mendengar suara Sandy yang berdehem memecahkan lamunan.


"Alexa, kenapa kau tampak tegang sekali ?" teriak Sandy dengan lantang. Semuanya tertawa menyahuti luapkan pertanyaan yang Sandy lontarkan begitu saja.


"Aku tidak mengerti sebenarnya apa yang sedang kita bicarakan sekarang..." seru dokter Alexa jujur.


"Baiklah. " Reno kembali menghela nafas pelan.


"Alexandra Nadine ....Maaf jika malam ini, aku membuatmu bingung dan tidak mengerti dengan jalan pikiranku. Aku sendiripun terkadang merasa sangat sulit mencerna apa yang sedang aku inginkan. ..." Reno memutar arah, ia meraih jemari Dokter Alexa. Menuntunya untuk saling berpegangan. Matanya saling bertemu, bertautan dengan pandangan yang penuh arti. Dalam, semakin erat semakin banyak pula cerita yang bisa di jadikan kenangan.


"Alexa, sudah lama aku mengagumimu sebagai sosok perempuan. Bagiku, kau adalah detak jantung yang selalu berdetak di setiap hembusan nafas ku. Kau adalah darah yang mengalir di dalam nadiku...Kau juga adalah angan yang selalu hadir menyelinap tanpa di minta di dalam bayanganku..." Sejenak, Reno memperdalam pandangan matanya.


"Alexandra Nadine ? Aku tidak pandai merangkai kata-kata indah untuk merayu mu. Aku juga tidak tertarik untuk menggoda mu lalu memacari mu seperti perempuan-perempuan lainnya. .."


Reno berlutut, berdiri dengan lutut kanannya menghadap dokter Alexa. Ia merogoh sebuah benda dari kantong jasnya, lalu menyodorkan tepat di depan perempuan yang mulai menampakkan kristal-kristal bening di pelupuk matanya.


"Alexandra Nadine, will you marry me ?"


Tangisnya tak lagi bisa di bendung. Dokter Alexa menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Masih tidak percaya dengan sebuah kejutan besar yang Reno hadiah kan untuknya secara tiba-tiba. Ia menatap Febi yang juga sedang menangis terharu. Tak sanggup menahan bahagia menjadi saksi dari kebahagiaan yang menjemput putri sulungnya. Dokter Alexa seolah-olah mempertanyakan restu kepada Febi, yang tak lama di sambut anggukan tanda mengiyakan oleh mamanya.


"Yes, I will ..."


Suara tepuk tangan riuh mewarnai. Siulan kecil yang berulang kali coba Sandy lakukan. Reno langsung menyematkan cincin di jemari dokter Alexa dengan tangan bergetar. Dengan cepat, ia mendekap perempuan yang sudah menjadi tunangannya sekaligus calon istrinya. Reno meninggalkan kecupan mesra di ujung kepala dokter Alexa. Febi dan Naura turut berpelukan, ikut merasakan kebahagiaan yang sedang dokter Alexa rasakan.