I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Kembali di pertemukan



"hoek...hoek..."


selesai sarapan Keysha merasakan jika perutnya tidak nyaman lagi. Ia berulang kali bolak-balik ke kamar mandi, memuntahkan kembali semua makanan yang baru saja ia isikan. Seolah-olah perutnya penuh, padahal ia sangat merasakan kelaparan. Menunya, juga bukan menu yang tidak Keysha senangi, justru beberapa makanan yang tersaji adalah menu yang sangat Keysha senangi.


Dokter Alexa segera bangkit dari duduknya, ia meninggalkan Allandra dan Allena bersama kedua pengasuhnya. Berlari kecil untuk menghampiri malaikat berwujud manusia yang tidak pernah lelah menebar kebaikan. Dialah Keysha, perempuan yang selalu merendah demi kebaikan orang lain. Is tegar, ia kuat, ia selalu membela yang lemah.


"Key, kamu baik-baik saja ?" tegur dokter Alexa. Ia menyentuh kening Keysha untuk memeriksa suhu tubuhnya. "Normal, " imbuhnya.


"Sudah sejak pagi aku mual terus, mungkin karena maag ku kambuh, " seru Keysha menjelaskan. Ia berjalan dengan lemah, untuk kembali ke ruang keluarga.


"Kau tampak pucat ? Istirahat lah, aku akan siapkan alat untuk memeriksa kondisi mu, " ucap dokter Alexa. Perempuan itu menepi, meraih tas ransel berwarna pink untuk mengeluarkan alat medis yang ia bawa.


"Berbaringlah Keysha, " dokter Alexa menautkan stetoskop pada kedua telinganya.


Wajah pucat pasi yang tidak bisa di sembunyikan lagi, Keysha hanya menurut dan mengiyakan apa yang dokter Alexa perintahkan. Ia berjalan, dengan langkah yang semakin berat, mengayun dengan lambat dan terlihat jelas mulai melemah.


"Aku tidak apa-apa Lexa, jangan terlalu khawatir, " Keysha segera menepis langkah yang diambil dokter Alexa ketika melihat kakinya kian melemah. Menolak dengan sopan, uluran tangan yang tengah bersiap untuk membopong tubuhnya.


Keysha berbalik badan, kembali melanjutkan langkah kaki yang sempat tertunda. Tidak banyak lagi langkah yang sanggup ia gapai, Keysha telah rapuh dan menjatuhkan diri ke belakang. Dengan spontan dokter Alexa membuka kedua tangannya untuk menangkap tubuh Keysha.


"Keysha..." dokter Alexa menjerit karena terkejut, tenaganya tidak cukup kuat untuk menerima beban yang datang secara tiba-tiba. Perlahan, ia membawa tubuh Keysha untuk menapak di atas lantai, lalu berteriak memanggil Yeni untuk menolongnya.


"Mama kenapa ?" Allan turut panik, ia bisa merasakan wajah-wajah cemas orang dewasa di sekitarnya. Baginya, menangkap sesuatu yang tidak terucap adalah hal yang mudah.


"Mama hanya kelelahan sayang, " jawab dokter Alexa untuk menenangkan Allan. "sus, tolong bawa anak-anak ke kamarnya ya, " ia juga memberikan perintah kepada pengasuh Allan dan Lena.


Dengan cekatan Keysha memeriksa kondisi Keysha, menempelkan stetoskop di bagian dada dan perut bagian atas milik Keysha.


"Benarkah ?" dokter Alexa mengernyit, masih tidak percaya dengan tanda-tanda yang ia dapatkan dari hasil pemeriksaan.


"Kenapa nak ? Keysha sakit ?" Suara Yeni terdengar bergetar, bersahutan dengan kecemasan yang menghalangi. Perempuan paruh baya yang hanya memiliki putri semata wayang. Ia takut, jika anak perempuannya menderita sakit. Bahkan, nyawa pun akan ia pertaruhkan demi menjaga diri Keysha. Untuk memastikan keadaannya, untuk menentukan kebahagiaan untuknya.


dokter Alexa mendongak, menatap lekat pada bola mata bulat yang melempari nya dengan pandangan sedih. Berkhayal dengan sebuah imajinasi yang menyenangkan, meminta dengan kesungguhan yang terletak di dasar hati. Perempuan itu beranjak dari duduknya, berdiri dari tepi ranjang tempat Keysha berbaring. Ia menyentuh pundak Yeni penuh iba, wajahnya membingungkan. Apalagi dengan ekspresi yang semakin sulit di pahami, "tunggu Keysha sadar ya bun. Alexa pasti akan memberitahu, "


Tidak ada jawaban yang Yeni berikan, ia beranjak dari hadapan dokter Alexa dan menunggui Keysha dengan duduk di tepi ranjang. Di raihnya jemari lentik yang menanggung ribuan beban. Tangan kecil yang memberikan kebahagiaan kepada banyak orang. Jari-jari mungil yang tidak pernah mengeluh lelah dengan aneka ragam drama yang menyapa kehidupannya. Yeni mulai menangis di sana. Di atas tubuh Keysha yang lemah. Menangis, entah karena apa. Air matanya sudah mengalir deras membanjiri kedua pipinya.


dokter Alexa sengaja memasang infus kepada Keysha, ia sudah mempersiapkan semua sebelum ia datang, karena pesan yang ia terima dari Sandy sebelumnya.


"Keysha tidak apa-apa bunda. Jangan menangis, " Rasa tidak tega membawa dokter Alexa menghampiri tubuh rapuh Yeni. Mendekapnya dengan erat layak seorang anak yang sedang menenangkan ibu kandungnya sendiri. "Keysha hanya butuh istirahat, "


"Apa kamu sudah bicara dengan Sandy nak ?" Yeni mengangkat tangannya, menyeka tangis yang tak henti mengalir. Berusaha tegar dengan berita yang belum sampai di telinga. Mencoba menguatkan jiwa dengan kabar apapun yang akan dokter Alexa katakan setelahnya.


"Sudah bunda. Sandy sedang dalam perjalanan sekarang, " ucap dokter Alexa yakin.


cekrek (suara pintu kamar di buka dengan keras)


"Sayang....." Sandy melangkah cepat. Berjalan dengan tergesa-gesa menuju ranjang. Menatap cemas pada wanita yang sedang terbaring tak berdaya dengan infus yang menempel di punggung tangannya.


"kak, bukankah kamu sudah berangkat ?" Keysha menyentuh pelipisnya. Merasakan pusing yang mendera. Melemahkan ingatan, memutus semangat untuk bangun yang menggebu.


"Bagaimana keadaan mu sayang ? Aku sangat khawatir ketika dokter Alexa mengatakan jika kamu pingsan. " ucap Sandy sangat khawatir. Suaranya terdengar pelan, seolah terhenti menjerat tenggorokan. Menghentikan lantunan syair panjang yang ia senandungkan dengan kecemasan.


Keysha tersenyum simpul, "Aku tidak apa-apa kak. Mungkin aku terlalu lelah akhir-akhir ini, "


Bukankah suatu kebahagiaan yang perlu di agungkan ketika banyak orang menaruh cemas padanya. Keysha memang selalu memikirkan orang sekitar, hingga ia lupa mengenai dirinya sendiri. Ia sangat menolak untuk di kasihani, apalagi dengan orang-orang yang teramat ia sayangi.


"Kakak sama Reno ?" Keysha mengalihkan pandangan. Menatap pada sosok pria yang tengah bersedekap di ambang pintu. Bersandar pada tepi pintu, memperhatikan orang-orang di dalam ruangan yang sedang fokus dengan rasa sedih ketika melihat Keysha.


"Hai Key, bagaimana keadaan mu ?" Bagaimana pun perasaan ia saat itu terhadap dokter Alexa, Reno mencoba untuk biasa. Membiasakan diri terlibat dalam segala urusan yang bersangkutan dengan Sandy. Hadir dalam jajaran orang-orang yang memang di butuhkan oleh Keysha, meskipun harus terus-menerus berhubungan dengan dokter Alexa.


"Aku baik-baik saja Ren. Apa kamu tidak bekerja ?" Senyuman manis selalu ia sematkan setiap kali bercengkrama dengan lawan bicaranya.


"Uang yang butuh dia sayang, mana peduli dia tentang pekerjaan, " sahut Sandy dengan nada meledek.


dokter Alexa tampak salah tingkah. Kesulitan mengambil langkah untuk memulai pembicaraan. Membuka obrolan yang belum tentu akan menemui jawaban. Ia beringsut mundur, memberi ruang untuk Reno mendekati Keysha. Larut dan sahutan saling meledek. dokter Alexa menunduk, merasa memang kehadirannya tidaklah terlalu di butuhkan oleh Reno. Pria itu, tampak lebih bahagia tanpanya. Ada sahabat-sahabatnya yang tidak perlu lagi di ragukan ketulusan hatinya.


"Reno benar-benar tidak membutuhkan ku, " gumam dokter Alexa dalam hati.


Merangkai sebuah senyuman bukanlah hal yang mudah di lakukan. Apa lagi dalam kondisi hati yang tertekan. Semakin terdesak dengan situasi yang memojokkan. Ia terlihat seperti orang asing di antara mereka. Seperti dokter yang memang hanya di butuhkan jasanya.


"dokter Alexa..." Sandy memanggilnya, ketika langkahnya sudah berniat untuk keluar. Meratapi kesedihan yang bertepi. Merasakan kesendirian yang benar-benar sedang menggelayuti hatinya. Ia mengurungkan niatnya, kembali berdiri tegak dan memiringkan kepala untuk mudah menatap wajah Sandy.


"sini Lex, kenapa kamu jadi pemalu seperti itu, " panggil Keysha dengan tawa kecil.


Yeni mendorongnya agar berada dalam jarak yang tidak terlalu jauh dengan Keysha. Berjajar, bahkan sampai bersentuhan lengan dengan Reno. Pria yang sedari tadi tidak menatap dokter Alexa walau hanya dalam hitungan detik. Memilih bungkam dan berpura-pura tidak mengenalnya. Semua kembali seperti kisah awal yang mempertemukan mereka. Dimana Reno jarang sekali terlihat berinteraksi dengan dokter Alexa jika tidak mempertanyakan keadaan Sandy.


"Jadi gimana keadaan Keysha sekarang nak Alexa ? Kau tadi meminta ku untuk menunggu Keysha sadar, baru mau menjawab nya.." gerutu Yeni. Mungkin, ada kekesalan dan merasa tidak di anggap ada oleh dokter Alexa.


dokter Alexa menarik nafasnya pelan, "Maaf bunda, bukan seperti itu maksud Alexa, " seru dokter Alexa cepat. Ia menyandarkan kepala di bahu Yeni. Bermanja seakan memang sudah mengenalnya sangat lama. Sikap supel dan ramah yang selalu Yeni tanamkan dalam dirinya, membuat kebanyakan orang langsung merasa nyaman ketika di dekatnya, tanpa terkecuali dokter Alexa. Ia bukanlah orang yang mudah bergaul, namun dengan Yeni ia bisa langsung lengket layaknya anak dan ibu.


"Jadi gimana keadaan Keysha sekarang dok ?" tanya Sandy serius.


dokter Alexa bungkam, memperlihatkan raut yang tidak lagi bisa di tebak. Wajah flat tanpa ekspresi membuat jantung semua orang berdetak cepat. Bergerumuh berlomba memohon kebaikan kepada Tuhannya.


"Keysha....."


"Keysha kenapa nak ? Jangan buat bunda takut. " sanggah Yeni, semakin tidak sabar menunggu sebuah hasil pemeriksaan yang sudah berulang kali dokter Alexa lakukan.


"Nak Alexa, tadi kamu berkali-kali memeriksa Keysha. Jangan katakan jika kamu masih ragu dengan hasil yang kamu temukan " imbuh Yeni semakin cemas.


"Keysha......"