I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Garis Dua



"Kamu kenapa Vin ?" Shinta mengangkat alisnya. Ia merasa heran melihat Vino yang begitu bersemangat masuk ke dalam bathup.


"Kenapa ?" Vino berbalik badan dengan cepat. Ia menghampiri Shinta dengan pakaiannya yang basah kuyup. Menatap pada perempuan itu dengan geram. Kesalnya lagi, Shinta hanya diam mematung melihat keadaan dirinya yang sudah sangat memalukan.


"Kamu kebelet ? Atau kenapa ?" Shinta mengernyitkan dahi. Semakin heran dengan sikap Vino yang begitu kesal melihatnya.


"Bagaimana kamu bisa berpikir sedangkal itu Shinta ? " gertak Vino. Wajahnya memandang Shinta dengan sangat arogan. "Kamu berteriak panik, ketika ku ketuk kau sama sekali tidak bersuara ! Siapa yang tidak cemas ?" Imbuhnya semakin mendekatkan wajah dengan telinga Shinta.


"A..aku ...aku tidak apa-apa Vino ! Tapi...lihatlah..." Shinta mendorong sebuah benda berukuran kecil, yang baru saja ia gunakan. Sebuah benda terbentuk pipih, dan menunjukkan dua garis dengan begitu jelas.


"Testpack ?" Vino meraihnya dengan segera.


Shinta merunduk pilu. Ia semakin dalam meresapi kesedihan yang semakin menguasai dirinya. Bernaung di balik tubuhnya yang gemetaran. Sayup-sayup, isak tangisnya mulai terdengar ramah di telinga. Perlahan, hingga akhirnya pecah memenuhi ruang. Shinta meraung di atas ranjang. Tidak mengerti apa yang harus ia lakukan setelahnya. Apa ia harus mengulang kisah sang mama ? Hamil, tanpa menyandang gelar istri. Bagaimana bisa ? Bagaimana kalau sampai teman-temannya mengetahui itu ? Ah, pikirannya mulai kalut. Shinta di buat pasrah dan menggila dengan nalurinya sendiri. Ia tidak memiliki kekasih yang bisa ia mintai pertanggung jawabannya.


"Shhht....Jangan nangis Shin, " Vino ikut resah. Ia semakin bingung sendiri melihat Shinta. Rasa kasihan pada perempuan itu menyeruak. Mengetuk dada, mendatangkan naluri baik untuk menolongnya.


Keteguhan hati Vino rupanya mulai goyah. Ia tidak bisa lagi mempertahankan perasaannya untuk tidak larut dalam cinta yang buruk. Ia telah berusaha keras membatasi diri agar tidak semakin terjerumus dalam pesona paras cantik milik Shinta. Namun, semua terpatahkan oleh jeratan perempuan itu. Gayanya menggoda sungguh tak bisa lenyap meskipun dalam pejaman mata.


Kesal yang di wariskan sang Ayah, begitu kental dengan keyakinan ingin memperalat Shinta. Awalnya, ia tak begitu peduli dengan perempuan itu. Bahkan terkesan acuh dan tega. Namun, seiring berjalannya waktu, semakin seringnya mereka memadu kasih dalam jalan yang salah, semakin lama mereka terperangkap dalam waktu yang sama, rasa itu tumbuh. Menjalar, mulai mengisi setiap sudut ruang hati yang masih kosong. Vino memang tak mengakui itu, tapi perilakunya ketika melihat Shinta kesusahan sungguh tak lagi bisa di kendalikan. Panggilan sayang yang berawal dari hasrat untuk memperkuat nafsu, rupanya menjadi bahan bakar yang sanggup meruntuhkan tembok pembatas yang telah susah payah ia bangun seorang diri.


"Aku malu Vin ! Bagaimana aku hamil, padahal aku belum menikah !" Shinta menjerit dalam tangis. Ia semakin dalam menyembunyikan wajah di dalam selimut. cengkraman tangannya semakin kuat, seiring dengan detak jantung yang mengisyaratkan rasa kesalnya.


"Aku...."


"Kau harus membantu ku Vino..."


Shinta segera bangkit dari baringnya. Ia duduk menghadap ke arah Vino. Menatapnya dengan sangat dalam. Ia juga menyeka sisa air mata yang melembabkan kulit wajahnya.


"Dengan senang hati Shinta, " Vino tersenyum nakal. Sepertinya, ia memiliki imajinasi dengan otaknya sendiri. Berkhayal dan mengharap Shinta akan memohon agar Vino menikahinya. Ya karena ia tahu, anak yang di kandung Shinta adalah darah dagingnya sendiri.


"Kau harus mencarikan ku seseorang yang bisa membantuku untuk menggugurkan kandungan ini !" ucap Shinta dengan yakin.


Vino membelalakkan mata nya lebar-lebar. Tidak pernah terpikirkan olehnya sebelum ini. Ia tidak pernah menduga jika perempuan itu akan bertindak nekat dengan memintanya melakukan hal konyol itu.


"Gila ! Kau sungguh gila Shinta ! Itu sangat membahayakan dirimu sendiri..."


Vino beranjak. Ia menolak permintaan Shinta mentah-mentah. Memakinya dengan nada kasar dan berpikir jika itu akan menyakiti hatinya. Ia di buat murka dalam hentakan waktu. Giliran jarum jam, yang hanya bersifat sekilas.


"Lalu apa yang harus aku lakukan Vin ? Aku tidak mungkin hamil tanpa suami !"


"Aku akan membantumu, tetapi tidak untuk hal satu ini !"


Setelah puas beradu argumen, akhirnya mereka saling terdiam. Mematung tanpa suara, tak mematahkan hening nya malam yang menyisir waktu. Shinta mengusap perutnya, lagi lagi tangisnya pecah di atas keheningan.


"Reno..." lirih Shinta di tengah tangisnya. Ia kembali mengusap air mata.


"Reno ?" Vino mengernyit. Langkahnya perlahan kembali mendekati ranjang. Menghampiri perempuan yang tengah duduk di tepi ranjang. Keyakinan Vino mulai terkikis, rasa gengsi berkabut lebat menyelimuti hati. Ia tak lagi berkeinginan untuk menikah dengan Shinta. Bukan karena tidak cinta, tapi ia enggan mengakui jika dirinya telah kalah dan menyerah.


"Aku akan memintanya menikahi ku ! Dia pernah tidur denganku, meskipun hanya satu malam !" Shinta menyeringai lebar. Ia tersenyum sinis ketika pandangan matanya jatuh pada mata sipit Vino.


Vino menggeleng ringan seraya melangkah mundur. " Kau benar-benar gila Shinta ! Kau akan mengulang kejadian waktu itu ? Kau akan mengikuti langkah mamamu ? "


"Vino, kenapa kau seperti tidak suka ? Bukankah dia pernah menjamah tubuhku ? Aku akan meminta gantinya ! Bukankah dia pernah merasakan nikmat bersamaku ?"


"Shinta, kau jangan gila ! Dia orang pintar, dan kamu bukanlah tandingan yang imbang untuknya !" seru Vino dengan keras. Ia mencoba mengingatkan, si balik rasa tak rela melepas perempuan itu kepada pria lain .


"Sudahlah Vino, jangan banyak bicara ! Ini sudah sangat malam, lebih baik kembali lah ke kamarmu !" Shinta mendorong tubuh Vino. menyeretnya dengan langkah cepat agar pria itu segera keluar dari dalam kamarnya. Vino mengelak, ia berontak dengan energi ringan, tapi Shinta tetap menginginkan agar Vino pergi. Membiarkan ia dalam kesendirian, melewati malam dengan rangkaian cerita yang akan ia lesatkan untuk memperkuat drama yang akan ia buat . Sebuah sandiwara yang akan menyentuh barisan hati yang tengah berjajar menanti hari bahagia.


Shinta segera mengunci pintu rapat-rapat setelah berhasil mendorong tubuh Vino keluar. Ia membiarkan pria itu berteriak menyebut namanya. Genggaman tangannya berusaha keras mengetuk pintu, tapi Shinta terus merapatkan telinga dengan sebuah headset. Ia memutar lagu-lagu favoritnya sambil membayangkan reaksi Reno dan orang-orang sekitarnya yang akan mendengar pengakuan dari Shinta. Tak hanya itu, secara diam-diam Shinta menghubungi club malam yang menjadi saksi dari kejadian malam itu. Shinta meminta sebuah file yang berisi penggalan dari rekaman CCTV yang menunjukkan kedatangan Reno ke sana. Detik-detik di saat Shinta masuk kamar, hingga Reno menyusulnya.


Senyuman licik merekah di bibir tipis Shinta. Imajinasi nya sungguh membuatnya larut dalam kebahagiaan yang belum tertera. Sebuah kejadian yang sengaja ia siapkan sedemikian rupa.


*****


Waktu telah bergulir, menapaki detik demi detik mencapai pada menit yang di dambakan. Sebuah titik yang telah Reno dan dokter Alexa tetapkan sebagai hari pernikahan keduanya.


Acara memang belum di mulai, tapi tamu undangan sudah mulai berdatangan memadati tempat. Sebuah pesta dengan tema outdoor, dengan gemerlap warna-warni lampu disko. Sebuah alam yang turut menambah kepuasan kedua mempelai dan para tamu.


Keysha, Sandy, Allandra dan Allena telah membaur di sana. Mereka saling melempar canda tawa di sela waktu menanti waktu yang di semogakan. Tak tertinggal Audrey, Chandra dan Meera. Mereka juga hadir lebih awal, sebagai wujud dukungan yang kuat untuk kisah cinta Reno dan dokter Alexa.


Reno telah duduk, menghadap meja dan saling berhadapan dengan seorang laki-laki paruh baya yang cukup membuat jantungnya berdebar. Laki-laki itu memberikan selembar kertas yang berisi jawaban yang harus Reno ucapkan tatkala proses ijab Kabul telah di mulai. Sementara dokter Alexa, ia masih di sebuah ruang kecil yang mereka gunakan sebagai ruang rias. Keysha menemani di sana, menguatkan hati dokter Alexa agar tak terlalu cemas dan panik.


"Audrey, bikin kaget saja, " sahut dokter Alexa. Perempuan itu tampak menghela nafas ringan.


"Penghulunya sudah datang kak, " seru Audrey.


"Baiklah, terima kasih Drey, " ucap Keysha. Kini, ia beralih menatap dokter Alexa. Menggenggam kedua jemarinya, agar gadis itu tidak lagi merasa grogi dan gelisah. "Ayo."


Mereka bertiga melangkah ke luar. Menapaki jalan taman yang di hiasi bebatuan kecil. Keysha dan Audrey tampak menguatkan dokter Alexa. Memberinya dorongan dan gebrakan agar ia melawan rasa.


Semua mats tertegun memperhatikan dokter Alexa. Make up natural dengan gaun elegan yang begitu indah melekat pas di tubuhnya. Mereka lama menganga, karena sangat jarang melihat dokter Alexa ber-make up begitu sempurna.


Keysha mengantar dokter Alexa hingga di kursi yang telah tersedia. Duduk berdampingan dengan Reno, laki-laki beruntung yang tak kunjung melepaskan tatapan dari wajah cantik wanitanya.


"Bisa kita mulai ?" Suara penghulu membuyarkan tatapan keduanya. Mereka segera mengangguk kompak, mengiyakan setiap pertanyaan yang penghulu lontarkan untuk mereka.


Reno telah meraih uluran tangan sang penghulu. Telah bersiap menjawab sesuai apa yang telah ia pelajari semenjak tadi.


"Saya nikahkan dan kawinkan, saudara Alexandra Nadine binti...."


"Stop !"


Suara teriakkan keras seorang perempuan menghentikan sebuah protes. Memutus ketegangan yang telah mengalir di nadi kedua mempelai.


"Shinta ?" bisik Keysha tak percaya. Ia menggeser kakinya, mendekat pada perempuan yang sekarang tengah menjadi pusat perhatian. "Shinta apa yang kamu lakukan ?"


"Dasar b a j i n g a n kamu Reno ! " Shinta semakin arogan dengan katanya. Dengan raut garang, kini ia berhadapan dengan Reno.


"Apa maksudmu ? Kenapa kau menghancurkan pestaku, hah ? " Kalimat Reno memang terdengar lirih, tapi begitu menakutkan.


"Kau tanya apa maksud ku ? Hei b a j i n g a n ! Kenapa kau tidak pandang dirimu saja ? Pestamu hanyalah uang kecil, dan dengan uang recehan mu itu, kenapa kau hancurkan masa depan ku Reno !" Shinta sengaja berteriak keras. Suaranya menggema, membuat semua tamu undangan saling melempar mata. Tak mengerti dengan tujuan perempuan itu, datang dengan amarah yang lebat menutup hati. Mendengar ucapan Shinta, hati dokter Alexa seakan tersambar. Tersentak kaget dalam ketidakpahaman.


Ada beberapa pengawal yang datang di sana ingin maju dan menghentikan kegilaan Shinta, tapi di tahan oleh Sandy, karena ia turut bingung dengan kejadian ini.


"Masa depan ? ha ha ha....Apa p e l a c u r seperti mu punya masa depan ?" Reno tertawa puas. Ia tak menyadari jika kata-katanya semakin membuat dokter Alexa berpikir buruk tentang nya.


"Reno, kenapa kau campakkan aku setelah kau buat aku hamil ? Kau lari begitu saja, dan sekarang malah akan menikah dengan perempuan lain. Dimana hatimu Reno...."Shinta menangis. Air matanya bercucuran dalam runduk kan pilu. Ia mempertegas dramanya, berpura-pura menyesali perbuatan yang telah ia lakukan dengan Reno.


"Hamil ? Dan kau menuduhku ? bukankah p e l a c u r seperti mu tidak hanya melayani satu laki-laki saja dalam satu malam ?"


"Reno, kenapa kau terus berkata seperti itu kepadaku ? Padahal, kau memang melakukan itu...." Shinta mendongak. Kali ini, ia menatap Reno dengan pandangan sedih. "Aku memiliki bukti, jika kau tidak percaya..."


Shinta mundur beberapa langkah, hingga akhirnya ia berbelok dan menuju ke sebuah set. Ia menyerahkan flashdisk kepada laki-laki yang berjaga di sana, memintanya agar memutar dengan layar lebar untuk memudahkan semua menyaksikan itu.


Sebuah hal yang tidak Reno sangka. Shinta benar-benar telah kehilangan akal sehatnya. Ia memutar sebuah video yang menggambarkan perbuatan Reno dan dirinya beberapa detik.


Plak ( Suara pipi yang di tampar keras )


Dokter Alexa menggeleng-gelengkan kepala. Ia tak habis pikir jika calon suami yang ia kagumi adalah seorang penjajah wanita. Ia memang pernah mendengar sedikit tentang masa lalunya, tapi tak pernah menyangka jika Reno secepat itu kembali pada jalan yang tidak benar.


"Kamu lebih ******* dari seorang b a j i n g a n Ren ! Aku tidak pernah nyangka kamu semunafik ini..." ucap dokter Alexa dengan suara parau. Ia terduduk, tak berdaya merasakan tubuh yang semakin lemas. Bukan perihal sakit hati yang mendalam, tapi rasa malu yang meluap karena pandangan ribuan tamu yang menyaksikan.


"Tidak...tidak...aku bisa jelaskan sayang. Perempuan itu berbohong !" Reno mencoba mengelak. Acuh dengan sakitnya tamparan keras yang mendarat di pipi kanannya. Sebuah peringatan terakhir yang dokter Alexa tunjukkan.


"Apa yang mau kamu jelaskan Reno ? Apa ! Semua sudah jelas, dan seharusnya kau menikahi perempuan itu ! Kau telah menodainya, kau rusak masa depannya !"


Entahlah, bagaimana lagi cara meluapkan kekecewaan. Dokter Alexa hanya mampu pasrah menahan gejolak hati yang memanas. Semua seolah-olah bercampur. Rasa benci karena di permainkan begitu memenuhi rongga hati.


"Dia itu p e l a c u r sayang. Banyak laki-laki hidung belang ya telah menjamah tubuhnya. Kamu jangan langsung percaya padanya..."


"Berapa kali kau mendatanginya ? Kau seperti sangat paham tentangnya ?"


"Dia itu...."


"Reno, kau tahu aku begitu kewalahan mencari Shinta selama ini. Kau tahu, se rapuh apa aku waktu itu ? Jika kau tahu keberadaan Shinta, kenapa kau tidak bilang padaku Ren ? Kenapa kau seolah mendukungnya terjerumus ke dunia itu ?" Keysha buka suara. Kini, air matanya mengalir bebas. Tak lagi terbendung, karena mereka telah terlanjur loncat dalam lubang yang memalukan.


"Bukan.. tolong, kalian dengarkan aku...." Dalam keterpurukan, Reno berusaha tegar. Ia memang melakukan, tapi bukan berarti apa yang Shinta tuduhkan adalah sebuah kebenaran.


"Aku...aku memang salah. Aku hampir kembali ke dunia itu. Aku salah, aku tak mengatakan semua dari awal. Aku salah, aku..aku tak bisa mengendalikan diri..." Reno telah berjongkok . Memohon agar semua memahami dirinya kala itu. Mengerti, betapa hancurnya saat dokter Alexa menghindar tanpa sebab. Ya, Reno punya alasan, jika ada telinga yang mau mencoba mendengarkan.