
Sandy mulai mengendarai mobil. Perlahan ia mulai memancal pedal gas. Dengan laju yang cukup aman , dengan kecepatan yang tidak berlebih. Ia ingin menikmati hari dengan Keysha, Allandra dan Allena. Tidak ingin memburu waktu hingga semua dengan cepat berakhir. Ia malas jika mengingat hari esok, harus kembali ke kantor dan melakukan meeting dengan Cherry.
----
Rania masih kesal sampai di rumah. Wajah muram tak ia lepaskan sedari tadi, bahkan putri kecilnya menjadi pelampiasan yang paling malang. Tangis dan rengekan yang keluar dari bibir mungilnya menjadi Boomerang untuknya. Rania akan membentak agar Angeline bisa diam . Ah, tadi aku sempat berfikir jika wanita itu akan memanjakan putrinya . Rupanya salah ...
"Sayang , kalian udah pulang. Papi baru saja mau nyusul ."
"Angel, kamu masuk kamar ya "
Angeline hanya mengangguk ringan . Kemudian ia berjalan menuju kamar , tangannya mencekram kuat rok yang ia kenakan . Dengan rasa takut, yang masih bertahta di dasar hatinya. Kekecewaan yang menyentil dadanya. 'Ah, mami egois. Angel suka berteman dengan Lena . Kenapa ia malah memaksaku pulang.' Ia mengumpat dalam hati.
"Ada apa sih Ran ? kamu sudah janji untuk tidak membawa-bawa Angel pada setiap permasalahan mu . Kenapa kamu kembali membentaknya ?" Ibnu menutup buku di tangannya. Ia beranjak berdiri dan meletakkan di meja sebelah ia duduk.
"*Kau yang kenapa Nu ! Sampai kapan kamu nyembunyiin semua dari aku !"
"Nyembunyiin? maksud kamu apa sih Ran ?"
"Heh. Omonganmu tidak ada yang bisa di percaya. Kalau pun kita masih tinggal dalam lingkungan Keysha, mungkin rasa mu itu tidak bisa berpaling darinya*"
Wajah Ibnu memerah, ia menahan diri untuk tidak marah. Walau hatinya telah memanas, tangannya ia genggam kuat-kuat.
"*Kenapa mau marah ? Mau nampar ? "
"Aku sudah cukup sabar dengan mu Rania. Tapi kamu selalu seperti itu, selalu membawa-bawa Keysha atas permasalahan kita. Kamu pergi, lalu pulang dengan amarah. mau kami apa sih Ran ?"
"Nu ? Maksud mu ngomong kek gitu apa ? kamu udah ngga tahan sama aku ? o-oh aku tahu. Semua pasti karena Keysha. Iya kan ? kamu merasa udah dapet celah untuk kembali sama wanita murah itu* ."
Plaakkkkk
Tangan Ibnu sudah menempel di pipi Rania, memberi bekas merah dengan rasa sakit yang menjalar hingga dada. buliran kristal-kristal bening di kedua sudut matanya semakin membanjiri pipi ranumnya. Rania terpaku menatap Ibnu, Mulutnya terbungkam seketika. Tiada lagi sepatah kata yang berdebat di bibirnya.
Rania berlari memegangi pipi. Masih dengan isakan yang bergema di sudut ruang. Ia meninggalkan Ibnu yang masih berdiri kaku, menyesal atas apa yang telah ia lakukan terhadap istrinya.
"Ran ? maafin aku . Rania ...aku tak bermaksud ..."
Ibnu menarik tangan Rania, menaruh harapan agar di izinkan berbicara . Mengulur tangan memohon ampunan. Terlambat Ibnu ! Wanita mu telah marah. Bukan hanya sakit di pipinya yang mata mu pun bisa melihat , tapi hatinya ? lebih hancur dari itu.
jederrrrrr
Rania mengunci pintunya rapat. Ia menutup kuping dengan kedua tangannya. Memendam derita di balik isak tangisnya.
"Pergi Ibnu ! gue muak sama lo ." Rania berteriak , mengusir Ibnu untuk menjauh dari pintu kamar. Dekapan tangannya di telinga, semakin ia perkuat tekanannya.
Suara lelaki di depan pintu sudah tak terdengar. Entah ia sedang memikirkan sesalnya dan tertunduk di sana, atau mungkin ia menurut mencoba memberi waktu untuk Rania berfikir. Beranjak dan meninggalkan wanitanya yang tengah terpuruk.
Rania kembali berteriak, berharap kesal nya keluar bersama suara. Membebaskan dada dari tekanan jiwa. Ia kembali membenamkan wajah di antara lututnya setelah merasa puas dengan melempar-lemparkan benda yang ada di sekelilingnya.
-------
Assalamualaikum " Ucap Keysha, Sandy, Allan dan Lena bersamaan. Mereka memasuki rumah dengan menenteng barang-barang yang mereka bawa sebelumnya.
" Wa'alaikum salam ...
E-eh udah pada pulang . Sini biar Oma bantu " Jawab Yeni menyahuti.
Ia selalu menghabiskan harinya untuk kedua cucunya, namun jika mereka di bawa pergi oleh Sandy dan Keysha ia memilih menyulam . Dengan menikmati secangkir teh dan duduk manis di ruang tamu.
Di letakkan nya sulaman yang belum usai itu, ia bergegas menghampiri Allan dan Lena dengan senyum. Hendak di raihnya barang yang Lena bawa, karena di lihatnya gadis kecil itu tak senang hati membawa nya.
"*Sini sini, biar oma bantu ya ."
"Eh ! tidak oma ! Mama selalu bilang kita tidak boleh merepotkan orang lain selagi kita bisa melakukan nya sendiri. Dan Lena, itu tidaklah berat, ayolah jangan bermalas-malasan*."
Allan membantah . Ia menolak dengan tegas bantuan yang Yeni tawarkan. Bukan karena galak , hanya saja ia kasihan melihat oma nya yang sudah mulai menua. Bahkan , tak jarang ia melihat Yeni memengangi dada menahan sakit. Yaa, Jantung Yeni memang mulai bermasalah. Sweet amat yak ni anak diem-diem . Dia sayang tapi gengsi. Kalau sikap yang ini sih Keysha banget. Ya kan ?
Cinta tidak perlu di ungkapkan kali, tapi di buktikan . Dengan perhatian, dengan kasih sayang blablabla ...paling begitu jawaban Key tiap di tegur perihal cinta. Ah, bukan cintanya tapi rasa gengsi nya yang Masya Allah ngeselin sekali . Parah ...
Semua terpana melihat Allan, pria kecil yang mulai menarik saudara kembarnya masuk ke kamar. Di ikuti 2 pengasuh, yang telah lama menjadi teman main mereka . Dari, semenjak mereka berumur ....hmmm 13 bulan 4 hari, semenjak semua mulai bisa jalan dengan cepat. Dan Key mulai kewalahan. Bukaaaaan kewalahan, tapi sangat repot. Gimana kagak repot cuy, yang satu ke kanan yang satu ke kiri. Yang satu mau makan, yang satu mau pup . Puyeng ....
Ok, ok udahan cerita pengasuhnya . Sandy tampak senyum-senyum melihat Allan . Ia menyenggol Key dengan lengannya . Kode keras " noh, masih mau bilang Allah gue banget ?" seperti itu lah mungkin kalau di katakan . Tapi Key berpura-pura tak memahami, ia justru bertanya balik pada Sandy . Memutar-mutar kata agar Sandy semakin kesulitan meledeknya. Tuh kannn , ngaku aja kalo gengsian juga susah.
Yeni tertawa , ia kembali duduk dan melanjutkan karya nya. Meresapi setiap sulaman yang membawanya berlayar pada kenangan. Mengingat ingatan indah saat Danu belum gila ulah Lita. Ah, sudahlah ! lupakan . Yang jelas, Yeni sangat bahagia untuk saat sekarang. Bersama putrinya tersayang, dan cucu-cucunya. Bahkan menantu tampan nya ini sangat menyayangi. Benar memang, pelangi akan terbit setelah badai.
"Bunda udah makan ? ini tadi Key beliin martabak kesukaan bunda." Ucap Key , ia mengeluarkan satu kotak makanan berwarna putih.
"Waah, pas sekali. Bunda belum makan tadi. hehe" Yeni pun dengan senang menyambut. Ia segera mengeluarkan kotak martabak dari kresek berwarna putih.
"Cuci tangan dulu Bunda." Protes Key, Ia memang sangat posesif kalau Yeni jorok. Secara, usia Yeni adalah usia yang rentan dan mudah terkena penyakit. Jadi, ia sangat memperhatikan itu.
"o-oh iya .. Bunda lupa" Key menggeleng ringan. Ia pun ikut beranjak dan mencuci tangan. Begitu pula Sandy, memilih kembali ke kamar dan berniat untuk segera mandi.