
Hari demi hari telah berlalu, waktu bergulir kian melambat. Seolah-olah enggan beranjak, melambat dan semakin erat bermain-main dengan satu titik rasa.
Keysha sudah di izinkan pulang, kesehatan nya pulih lebih cepat dari waktu yang di perkirakan. Semua menyimpan tanya, mengungkit rasa bingung yang kian menerka-nerka. Sudah dua hari tinggal di rumah, tidak sehari pun ia lalui bersama suaminya, Sandy. Laki-laki itu tidak kunjung menampakkan batang hidungnya, tidak pula mengirimkan suara sebagai penenang jiwa atau sekedar cuitan yang tertulis dengan nada baik-baik saja. Tingkah Yeni, Reno dan juga kedua mertuanya semakin membuatnya menaruh curiga, mereka berkilah, menutup rapat celah rahasia yang tersimpan rapi di belakang mereka.
"Mama, jujurlah pada Keysha ! Apa yang sedang kalian sembunyikan ? " Keysha menggenggam erat jemari Meera. Mendesak agar perempuan yang tidak bisa bersandiwara dengan hebat itu untuk buka suara.
"Pa ?" Tak kunjung menerima jawaban, Keysha mengalihkan pandangan. Ia tahu, Chandra paling tidak bisa melihatnya bersedih karena suatu harapan. Dengan raut polos yang terpoles dengan harapan yang tinggi, Keysha berjongkok di depan kaki Chandra.
"Keysha, apa yang kamu lakukan nak !" Chandra menangkap tubuh Keysha dengan cepat. Bukan suatu kehormatan baginya, jika sang anak harus memohon dengan cara bersimpuh. Memaksa mengetahui dengan cara merendah. Itu sungguh menyiksa hatinya, menekan jiwa dan tidak betah untuk berlama-lama menahan setiap duka yang tersembunyi.
"Sandy tidak akan seperti ini kepada Keysha jika tidak terjadi apa-apa padanya." Keysha menunduk lesu. Semakin bersedih karena tiada mulut yang buka suara perihal suaminya.
"Reno ?" Perempuan itu tidak kunjung menyerah. Ia masih berusaha merayu orang-orang baik yang mengelilingi nya di sana. Menghibur dengan ragam candaan yang tidak satupun bisa bertahan lama di dalam ingatan. Ya, rasa curiga dan gelisah yang menyapa hatinya sungguh melebihi apapun. Termasuk untuk dirinya sendiri dan juga Allan dan Lena. Mereka harus tersisih dan sering bersama Yeni karena Keysha kesulitan mengontrol hati.
"Baiklah jika kalian tidak ada yang mau jujur denganku, aku akan mencari tahunya sendiri," Ucap Keysha pelan tapi masih jelas tertangkap di telinga mereka yang ada.
"Atau Sandy telah bosan denganku...." Suara tangisnya mulai pecah. Keysha tersedu-sedu dan semakin dalam menundukkan kepala.
"Jangan berpikir seperti itu Key. Mana mungkin saja bosan denganmu. Dia sangat mencintaimu melebihi cintanya pada diri sendiri." Pekik Yeni cepat. Ia membantah setiap prasangka buruk yang Keysha senandungkan, menolak persepsi buruk yang terlintas dalam benaknya. Yeni tidak ingin anaknya semakin menderita dan bergulat dengan kesedihan karena pikirannya yang semakin keruh.
Chandra menghela nafasnya pelan, mengatur detak jantung agar berdetak lebih beraturan. "Apa kamu mau berjanji satu hal dengan papa ?"
"Pa...." Tangan Meera menyapu lembut paha Chandra. Berharap suaminya tidak mengatakan dengan jujur dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Isak tangis mulai terdengar nyaring dari bibirnya, bahkan tubuh yang mulai menua itu tidak bisa berbohong jika dirinya tengah di landa rasa takut.
Chandra tidak menghiraukan kode teguran itu, Ia justru mendekati Keysha dan meraih bahunya untuk membuatnya lebih kuat dari sebelumnya, " Suami mu kritis nak. Kondisinya tidak bisa kita tebak kapan membaiknya," Ucap Chandra dengan pelan. Air matanya mulai bercucuran ketika berbicara perihal kondisi putra sulungnya. Laki-laki tampan yang mulai lebih peka hatinya, semenjak mengenal Keysha. Ya, pria itu begitu dingin sebelumnya, ia selalu kesulitan merasakan cinta yang sesungguhnya.
Sontak, air mata yang sudah terbendung semenjak tadi, tidak memiliki alasan lagi untuk bertahan tak mengalir di kelopak mata. Tubuh Keysha lemas, gemetar dengan gelisah yang menyertai. Dadanya terasa sakit, sesak tak beraturan karena benturan rasa yang menghujam berkali-kali. Perempuan itu mulai menjatuhkan tubuh dan bertumpu di atas lantai rumah. Meraung, histeris dan semakin kencang dengan tangis yang semakin menjadi. Entahlah, kakinya lemas seperti tidak ada tulang yang menyangga, hatinya berasa hancur berkeping-keping.
"Kenapa kalian menyembunyikan ini dariku ? Kalian anggap apa aku ini ?" Keysha semakin larut dengan duka yang mengusik jiwanya. Suara tangisnya, menarik seluruh penghuni rumah merasakan luka yang mencabik hatinya berulang kali. Mereka semua terbuai, dan terbawa dengan kesedihan yang tiada arti. Ya, bersedih tidak akan membuat keadaan membaik dengan cepat bukan ?
"Bukan seperti itu Key...." Meera turut menjatuhkan tubuh. Memeluk erat anak menantunya yang tidak bisa menjelaskan rasa yang menyakitinya.
"Ma...Keysha istri Sandy. Kenapa kalian tega ? Apa kalian pikir Keysha akan senang ? Keysha akan bahagia ? Tidak......tidak ....!" Keysha menepis setiap tangan yang menghampiri. Menolak permohonan maaf yang belum di terima oleh nalarnya. Ia masih terlalu sedih dan terpukul dengan kabar yang baginya tiba-tiba.
Ketika kakinya, berani mengangkat tubuh untuk menopang nya, kepalanya berputar seperti hilang kendali. Pandangan kabur, berkeliling membuat seluruhnya hitam. Semakin gelap...gelap...dan Keysha telah jatuh tersungkur tidak sadarkan diri. Perempuan itu terlalu larut dengan kabar duka yang masih memiliki setitik harapan, membuat tubuhnya lunglai tak kuat menahan diri.
"Keysha....." Semua berteriak kompak.
Reno menahan tubuh Keysha agar tidak terbentur pada ubin yang keras, dengan sigap ia segera membopong tubuh perempuan itu, mengangkatnya dan merebahkan di atas sofa.
"Keysha..." Yeni tersedu, menangisi nasib buruk yang terus-menerus memburu putri tunggalnya.
"Ini...kasih ini..." Meera memberikan minyak kayu putih kepada Yeni.
"Harusnya papa tidak mengatakan itu padanya." Dalam isak tangis yang belum terkendali, Meera berujar menyalahkan suaminya. Ia berbicara dengan tinggi, memojokkan Chandra seakan semua salah memang bertumpu padanya.
"Cepat atau lambat, dia akan tahu semuanya. Dan akan lebih menyakitkan baginya, jika dia harus mendengar dari mulut orang lain." Elak Chandra membela diri. Tapi memang benar apa yang dia katakan, Keysha akan lebih merasa tidak di hargai dan di kesampingkan jika dia harus mendengar dari desas-desus dan kabar burung di luar rumah.
Drrrt.... Drrrt....
Dalam duka yang menyelimuti, pada tangis yang tak kunjung usai, ponsel Reno bergetar dengan tiba-tiba. Terpampang jelas nomor dengan ID rumah sakit yang menangani Sandy yang menghubungi pria itu.
"Siapa Ren ?" Tanya Chandra cepat, ia berharap penuh untuk setiap kebaikan yang akan menyapa setelahnya.
"Rumah sakit." Jawab Reno ragu-ragu. Ada dua kemungkinan yang akan ia dengar, sebuah kabar baik yang menggembirakan atau justru kabar buruk yang akan kembali menghantui.
"Angkat...angkat." Perintah Meera antusias.
Reno mengangguk lalu dengan ragu menarik tombol hijau yang terus bergerak.
"Ya hallo...." Sapa Reno pelan.
"Tuan Reno ?"
"Ya ?....