
"Maafkan mama Naura, maafkan mama..."
Febi menutup telinga rapat-rapat. Bayang-bayang suara tamparan yang ia lakukan itu berputar bebas di kepalanya. Sesal ! Hanya itu yang bisa ia tangisi sekarang. Ia telah berbuat kasar terhadap Naura, ia tengah tega menamparnya hanya karena masalah sepele.
"Naura...." Febi semakin rapat menutup telinga.
Naura berlari ke arah pintu. Ia menguncinya rapat-rapat. Ia juga meletakkan meja kecil di belakang pintu.
"Mama jahat !" teriak Naura dengan suara parau. Tangisnya terdengar pilu, semakin dalam meresapi duka.
Belum hilang kesedihan karena kehilangan dokter Alexa, Naura harus kembali bersedih atas perubahan sikap Febi.
drrtt....drrtt.... (Suara ponsel berdering )
Alunan musik dari potongan lagu yang Naura gunakan untuk ringtone ponselnya menghentikan tangis Naura. Dengan malas, ia mencari-cari ponsel di balik bantal yang baru saja is pukul-pukul untuk meringankan kekesalan dalam diri.
"Kak Alexa..."
Naura segera menghapus air matanya. Panggilan yang menggugah semangatnya. Melerai luka yang semakin dalam menusuk dada. Senyuman simpul terukir indah di sudut bibirnya begitu ia mengangkat telepon dari dokter Alexa.
"Assalamualaikum dek..." sayup-sayup terdengar suara salam yang dokter Alexa ucapkan. "Hallo adek ? " ia mengulangi dengan kalimat yang berbeda, karena Naura tak kunjung menjawab salam darinya.
"Wa'alaikum salam kak..." sahut Naura dengan suara pelan. Ia berusaha keras untuk menahan diri agar tidak menangis ketika menghadapi dokter Alexa. Dari hatinya, ia menjerit. Keinginan untuk mengatakan semua yang ia alami sungguh kuat. Namun, nalurinya menolak. Ia tak ingin dokter Alexa semakin berpikir buruk tentang Febi. Naura tak menginginkan perpecahan di keluarganya. Ia hanya ingin semua kembali seperti dulu. Damai tanpa ada pemaksaan dari masing-masing hati.
"Dek, kamu kenapa ? Kamu nangis ya ?" Tidak ada yang dokter Alexa lupakan tentang sikap adik angkatnya. Ia ingat betul, bagaimana Naura akan menyambut nya setelah lama mereka tidak saling bertegur sapa. Kali ini, ia merasakan ada yang beda. Naura lebih diam dan tidak banyak bicara. Suaranya lirih ketika menjawab salam darinya, itu sudah menunjukkan adanya hal yang sangat mengganjal di hatinya.
"Tidak kak, aku baik-baik saja. Kakak dimana sekarang ? " tanya Naura mencairkan kecemasan dokter Alexa.
"Kakak tidak percaya. Kita video call sekarang !"
Dokter Alexa menutup sambungan telepon itu, lalu kembali menghubungi Naura dengan sambungan video call. Namun, Naura menolaknya. Ia terus menekan tombol merah dan tidak peduli dengan panggilan yang dokter Alexa lakukan terus-menerus.
Naura me non-aktifkan ponselnya seketika. Ia takut jika dokter Alexa semakin menaruh curiga kepadanya. Ia takut jika dokter Alexa semakin cemas memikirkan kondisinya saat ini.
*****
"Ada apa sayang ?" tanya Reno yang merasa heran dengan dokter Alexa. Perempuan itu tampak cemas begitu menatap layar ponsel. Raut wajah sumringah yang ia tampakkan sebelum menghubungi Naura kini mulai sirna. Semakin menghilang, seperti kabar Naura yang lenyap seketika.
"Perasaanku tidak enak Ren. Aku takut terjadi apa-apa dengan Naura." sahut dokter Alexa tanpa melepaskan pandangan matanya terhadap layar ponsel miliknya.
"Hanya perasaan mu saja sayang. Naura pasti baik-baik saja." Reno mencoba menghibur wanitanya agar tidak berprasangka buruk tentang kondisi Naura.
"Tidak Reno. Tadi aku bisa menghubungi nya, tapi tiba-tiba nomernya tidak aktif." Ungkap dokter Alexa memberikan penjelasan.
"Mungkin handphonenya lowbet sayang." hibur Reno lagi. "Sudah malam, istirahat lah ! Besok kita harus bangun pagi-pagi." sambung Reno seraya mencubit ujung hidung dokter Alexa.
"Tapi Ren..." Dokter Alexa menarik-narik lengan Reno. Seolah sedang bermanja dan meminta perhatian yang lebih.
"Kenapa ? Apa sedang mencoba menggodaku, hemm ?" Reno tersenyum sinis. Ia mencondongkan wajahnya dan menyisakan jarak beberapa centimeter saja.
Mereka saling bisa merasakan hembusan nafas masing-masing. Membuat dokter Alexa menganga, tak mengerti harus melakukan apa. Ia beringsut mundur pelan-pelan. Dengan lambat menghindari hembusan nafas Reno yang membuatnya salah tingkah.
Tidak semudah itu. Reno juga menggencarkan langkahnya. Ia melangkah maju, seiring dengan pergerakan dokter Alexa.
Dokter Alexa sudah tidak bisa lagi menggerakkan tubuhnya. Ia sudah berada di sudut ruang. Menempel pada dinding dan tak bisa lagi menghindar dari Reno.
Reno semakin berani memajukan wajahnya. Semakin dekat dan lebih dekat lagi dari sebelumnya. Membuat jantung dokter Alexa semakin berdetak kencang. Melemah, seolah-olah tidak berada pada tempatnya.
Dokter Alexa memejamkan mata, ia sedikit mendongak dan menempelkan kepada di tembok. Pasrah dengan apa yang akan Reno lakukan. Menyerah tak lagi berontak dengan tenaga yang hanya sia-sia.
"Lex, kamu kenapa merem begitu ?" tanya Reno pada dokter Alexa.
"Aku ? Kamu kenapa membuatku menempel di tembok seperti ini ?" Dokter Alexa mengembalikan tanda tanya. Ia berbicara dengan terbata-bata. Salah tingkah sendiri dengan pertanyaan yang Reno lontarkan dengan nada santai.
"Aku hanya ingin membuat kotoran di rambutmu..." Seru Reno menjelaskan. "Jangan-jangan , kamu pikir kalau aku...." Reno mengukir senyum sinis. Ia berbicara dengan setengah berbisik di balik telinga dokter Alexa.
"Tidak .... aku tidak berpikir kalau kamu ingin mencium ku ! Jangan PD ..." dokter Alexa menutup telinganya rapat-rapat.
Reno terkesiap. Ia tak menyangka jika wanitanya berpikir sejauh itu. " Aku tidak bilang begitu..."
Dokter Alexa tak ingin mendengar apapun lagi. Ia bergegas pergi tanpa melepaskan tangannya dari telinga. Wajahnya memerah karena rasa malu karena ketahuan telah berpikir hal yang jorok.
Getaran itu masih ada, meskipun tubuhnya telah berada di dalam kamar. Wajah putih nya semakin merona. Rasa malu itu semakin bersarang di dalam hati.
Setelah mengunci pintu kamar, ia bergegas lari menuju ranjang. Terlentang menatap langit-langit kamar. Sesekali, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan karena malu ketika mengingat tingkah konyol yang tidak ia sadari.
"Kenapa kamu bodoh sekali Alexa ...." dokter Alexa memukuli kepala sendiri dengan pelan. Jika di izinkan, ingin sekali rasanya melupakan apa yang barusan terjadi. Membuang jauh-jauh pikiran memalukan yang hanya membuatnya tak ingin bertemu dengan Reno.
Sedangkan, Reno sedang tertawa terbahak-bahak mendapati tingkah konyol wanitanya. Di dalam kamar yang di pilih nya ia membanting keras tubuhnya di atas ranjang. Mengingat-ingat kejadian yang baru saja berlalu. Mengulang-ulang pada ekspresi wajah dokter Alexa yang sudah bersiap menerima kecupan dari nya.
Mulanya Reno memang berniat untuk mengecup bibir dokter Alexa. Namun, keinginannya sirna begitu ia menatap wajahnya. Raut polos yang belum pernah ia jamah sebelumnya. Di sana terukir keluguan. Suatu anugerah yang jarang di temukan oleh laki-laki liar seperti Reno.
"Tidak, aku tidak akan melakukan itu sebelum kita sah menikah...." gumam Reno ketika nafsunya memuncak begitu bayangan wajah cantik dokter Alexa terbesit di benaknya.
*****
Hari terakhir di Villa, mereka berencana untuk menghabiskan waktu di kebun teh. Lahan yang membentang luas dengan tanaman teh yang tertata rapi nan cantik. Allan dan Lena berlarian di antaranya. Mereka bersembunyi dan saling mengagetkan satu sama lain.
Tawa ceria nyaring terdengar di telinga. Canda yang memang menjadi ciri khas mereka.
Reno dan dokter Alexa mengabadikan momen mereka. Layaknya muda mudi yang tengah memuncak dalam asmara. Mereka hanya ingin berdua untuk hari itu. Tanpa gangguan sedikit pun dari Allan dan Lena.
Dokter Alexa bersandar pada bahu Reno. Keduanya berada di bukit tertinggi untuk mencari kebebasan dalam menatap sekeliling.
"Nanti, kalau sudah di Jakarta kita langsung ketemu sama mama mu ya..." seru Reno.
Dokter Alexa mengangkat kepala lalu menatap Reno dari samping.
"Bertemu mama ? Untuk apa ?" tanya dokter Alexa. Ada keinginan untuk menolak tetapi ia pikirkan ulang.
"Aku ingin kita segera menikah Lex. Aku ingin bicara dengan mamamu..." sahut Reno dengan bangga.
"heh..." Dokter Alexa tersenyum miris. "Aku rasa, semua akan jauh lebih susah Ren. Mama sangat membencimu untuk waktu sekarang." terang dokter Alexa. Ia merunduk, mengingat makian kasar Febi ketika ia menyebut nama Reno.
"Mamamu kan belum tahu cerita aslinya sayang. Kita coba ya..." Reno menggenggam erat jemari tangan dokter Alexa. Memberinya dukungan agar perempuan itu tak menyerah begitu saja terhadap keadaan.
"Bagaimana kalau mama tetap menolak ?" dokter Alexa menatap Reno dengan tatapan sedih.
"Aku akan tetap berjuang untukmu." Reno meletakkan kedua tangannya di pipi dokter Alexa. Membuat ia bungkam dan tidak lagi berbicara dengan nada cemas.
Setelah puas menikmati indahnya alam, Reno mengajak dokter Alexa untuk segera turun. Senja telah menyapa, dan waktunya mereka untuk kembali ke pusat kota. Kembali menyibukkan diri dengan kehidupan nyata. Bekerja dan menjalankan rutinitas yang seharusnya.
Mereka sama-sama kembali ke Villa. Mengemasi barang-barang dan pakaian yang mereka bawa. Para pelayan membantu mereka untuk memasukkan ke bagasi mobil. Dan mereka berterima kasih untuk itu.
Reno, Dokter Alexa, Sandy, Allena dan Allandra sudah berada di dalam mobil. Menunggu Keysha yang masih berbicara dengan salah satu pelayan di sana. Keysha mengucap kan banyak terima kasih sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam mobil. Ia juga meninggalkan sejumlah uang kepada kepala pelayan, untuk di bagi kepada seluruh pelayan dan penjaga yang bertugas di sana.
Sandy meminta orang suruhannya untuk membawa mobil dokter Alexa. Ia juga memerintah salah seorang untuk mengemudikan mobil yang ia naiki bersama keluarga dan juga sahabat nya.
Sehari ini sudah lelah berkelana. Sandy dan Reno sudah tidak sanggup jika harus mengendalikan mobil dari Villa menuju kediaman mereka. Mereka memilih berada di bangku belakang. Beristirahat karena esok harus kembali ke rutinitas biasanya.
Tepat pukul 23:43, mereka tiba di rumah. Allan dan Lena sudah pulas dalam tidurnya. Reno dan dokter Alexa juga memilih bermalam di rumah Keysha. Menunggu pagi karena mereka merasa lelah setelah perjalanan jauh.
*****
Sejak kemarin sore, Naura sama sekali tidak mau keluar kamar. Ia hanya makan snack yang ia simpan di dalam kamar. Meminum air putih yang memang ia simpan di dalam kamar juga.
Hampir tiap menit Febi mengetuk pintu kamar Naura. Membujuk putrinya agar mau keluar sekedar untuk makan. Febi mengakui kesalahannya, dengan tangis yang tak bisa di bendung ia memohon maaf dari depan kamar Naura.
Malam sudah larut, Febi tak henti mengetuk-ngetuk kamar Naura. Meminta putrinya segera membuka kunci pintu. Febi benar-benar tidak enak makan bahkan tidak sanggup memejamkan mata karena terus kepikiran tentang putrinya.
"Naura, mama mohon sayang, buka pintunya ya nak..." seru Febi dengan suara mengiba.
Naura bungkam. Air mata kesedihan masih mengalir dadi sudut matanya. Febi memang sudah kelewat batas. Tak seharusnya ia melakukan hal seperti itu terhadap anak-anaknya.
Jika hanya kegagalan dokter Alexa dalam rencana pernikahan saja bisa membuat nya hilang kendali, bagaimana jika ada ujian yang lebih besar suatu saat nanti ? Apa ia akan semakin dalam membenci putrinya ? Tidak, tidak, bukan membenci. Tetapi, luapkan kesalnya hanya ia limpahkan kepada Naura dan dokter Alexa.
Naura membaringkan tubuh di atas kasur. Tanpa mengganti pakaian sejak pagi. Ia tidak sungguhan tidur meskipun matanya terpejam sejak tadi. Bagaimana mungkin ia bisa terlelap dalam duka yang berputar-putar di tempurung kepalanya ?
Sementara Febi, ia duduk bersimpuh di depan pintu kamar Naura. Bersandar pada daun pintu dan meratapi penyesalan nya. Ia tidak beranjak sejak tadi, padahal tidak ada sahutan apa-apa dari Naura.
"Mama akan menemani mu tidur ya sayang..." seru Febi dengan lirih. Matanya mulai terpejam dalam kebohongan. Ia hanya merem, sama seperti yang Naura lakukan.
Semalam suntuk kedua perempuan yang berada dalam satu atap itu tak bisa tidur. Otak dan logika mereka terus bekerja tanpa henti. Berpikir dengan jalan pikiran nya masing-masing. Naura menyebut-nyebut mama dokter Alexa dalam hatinya, sementara Febi ia merintih memanggil Naura dalam luka.
******
Pagi telah menjelang, meskipun mentari masih malu-malu menampakkan sinarnya. Naura menggeliatkan tubuh, cukup lelah semalaman hanya berbaring tanpa bisa tidur walaupun sebentar saja. Naura segera turun dari atas ranjang, ia berusaha melupakan semua yang terjadi, dan mulai beraktivitas seperti hari sebelumnya. Langkahnya ia seret dengan malas ke kamar mandi. Naura harus sekolah hari ini. Dengan ataupun tanpa masalah yang menghakimi hatinya.
Febi juga baru beranjak dari depan pintu kamar Naura. Ia segera menuju dapur dan memasak untuk Naura. Menyiapkan bekal seperti kebiasaan anak bungsunya.
"Beres...."
Macam-macam menu favorit Naura tersaji di atas meja. Lengkap, tanpa ada satupun yang tidak Naura senangi. Dari makanan ringan, hingga makanan berat sekalipun. Semua sudah berjajar rapi di atas meja makan.
"Naura, ayo sarapan dulu nak." ucap Febi begitu mendengar pintu kamar Naura terbuka. Gadis itu sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia juga sudah membawa tas dan memakai jaket berwarna pink seperti biasanya.
"Naura pergi sekolah dulu ma..." Naura menyodorkan tangan.
"Sarapan dulu sayang. Kamu kan tidak makan sejak kemarin..." pinta Febi dengan suara mengiba.
"Makan kok...." Sahut Naura yakin.
"Makan apa nak, kamu kan tidak keluar kamar dari kemarin." ungkap Febi. Ada kesedihan pada penggalan kalimat nya.
"Makan ati...." jawab Naura tegas. "Ya sudah, Naura berangkat ya ma. Assalamualaikum...." Naura membalikkan badan dengan cepat. Tidak lagi berharap uluran tangannya segera di sambut oleh Febi. Naura menjadi acuh dan tak menghiraukan Febi yang berteriak-teriak memanggil namanya.
"Ojek...."
"Iya pak..." Naura berlari ke halaman. Ojek online yang ia pesan sudah berada di depan pagar rumah.
"Naura, bawa ini...."
Febi mengejar Naura, tetapi Naura sudah terlanjur pergi dengan ojek online yang di pesannya sejak di dalam kamar.
"Pak mampir di situ dulu ya..." ucap Naura seraya menunjuk pada sisi jalan. Ada barisan orang-orang yang berjualan makanan di pinggir jalan, dan Naura berniat untuk membeli sarapan di sana.