I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Menyerahkan diri



"Ayo turun, apa kau berpikir kau adalah ratu, Dan lelaki yang membayar mu akan menjemput mu ke sini ?" Ucap Vino sinis, ia kini sudah bersandar di tepi pintu mobil. Menaruh siku di atas mobilnya. Shinta hanya mendongak menatapnya kilas.


"Hei, apa kau tuli ? Ayo segeralah turun ! Ini sudah sangat malam, " Keluh Vino semakin jengah karena Shinta tidak kunjung bersiap turun. Ia justru merunduk, seraya menggigit bibir bawahnya .


"Vin...."


"Jangan mempermainkan tamu besar kita ! Dia pasti sudah jenuh menunggumu di dalam, " Davino membuka pintu dengan kasar. Ia menarik lengan Shinta, hingga membuat perempuan itu meringis kesakitan.


Di ambang pintu, musik bingar mulai menyapa telinga Shinta. Berdendang, seolah menyambut harga diri yang berangsur menghilang. Nada keras yang di putar, layaknya sorakan bibir-bibir manusia yang menertawakan nasibnya sekarang.


Shinta berhenti di sana, ia tampak sedang memejamkan mata. Mempersiapkan diri, jika saja tubuhnya akan lebih di hina oleh seorang tamu besar yang Vino katakan.


Shinta sudah terbiasa menari, memamerkan lekukan tubuh bersama teman-temannya. Ia juga sudah terbiasa mendengar bisingnya musik yang mengalun. Minuman keras dan tempat keramaian dengan gemerlap lampu disko juga bukanlah hal yang asing baginya. Namun, malam ini ada yang beda. Semua terasa asing. Semua tidak menyatu dengan hatinya. Kedatangannya ke sana bukanlah karena tujuannya untuk bersenang-senang, melainkan untuk memberikan kesenangan. Ya, Shinta datang untuk menggoda, bahkan bermurah kepada lelaki hidung belang yang telah menyewanya. Entah, lelaki muda atau tua, tampan atau buruk sekalipun. Yang jelas, dia adalah lelaki kaya yang memiliki harta yang berlebih, hingga rela membuang jutaan bahkan puluhan juta uang hanya untuk semalam. Menyentuh, wanita yang tidak di kenalnya. Berkeringat bersama hingga pagi menjelang.


"Shinta ! "


"Hei, apa kau tidak bisa jalan ? Kenapa kau diam saja di sini ?" Tegur Vino, yang tiba-tiba saja menyentuh pundaknya. Ia tidak sadar, sejak kapan Vino berteriak memanggil namanya. Hanya mimpi, semua benar-benar tidak pernah ia pikirkan.


"Aku lagi berpikir bagaimana aku menggodanya agar puas, " Jawab Shinta tidak jujur. Ia sengaja berkata dengan kalimat yang bertolak belakang dengan batinnya. Mengatakan seolah-olah memang dia sangat lah rendah. Menyerahkan tubuhnya begitu saja tanpa ikatan yang pasti. Ah, miris ! Demi sebuah rahasia yang ibunya simpan, sebuah masa lalu buruk yang menyulitkan masa depannya.


"Sial, jika bukan karena ingin tahu masa lalu mama, aku tidak akan menerimanya, " Omel Shinta dalam hati.


"Ikutlah denganku, bos besar memintamu untuk menunggu di kamar, " Ucap Vino dengan tegas. Ia melangkah seraya menari lengan Shinta agar perempuan itu tidak lagi membuatnya bolak-balik karena sudah berulang kali ia diam mematung. Tiba-tiba melamun, walau di tengah keramaian. Shinta hanya menurut, melangkah mengikuti langkah Vino membawanya. Hingga sampai di suatu lorong, yang berjajar beberapa kamar. Vino membawanya ke ruangan paling ujung. Yang jauh dari keramaian. Masih terdengar dentuman irama, tapi tidak terlalu keras seperti saat di kamar yang pertama ia lewati.


Shinta menatap sekeliling sudut, ia tidak pernah bermain ke club malam sampai memasuki kawasan ini. Tidak pernah ingin mencoba, walau hanya dengan kekasihnya sendiri.


"Ku harap, kau tidak akan pernah mengecewakan tamu besar ku kali ini, " ucap Vino dengan nada arogan. Ia memberikan peringatan sebelum Shinta melangkah masuk ke dalam.


Vino melirik arah belakang, lalu mengecup bibir Shinta penuh nafsu. Namun, itu hanya kilas, hanya seperti kecupan perpisahan dan pendobrak semangat, "Lakukan seperti yang pernah aku katakan padamu ! Rendahkan dirimu, hingga membuatnya menginginkan bersamamu lagi, " Vino mengedipkan sebelah matanya, lalu menyentil dada Shinta.


Shinta tidak menjawab, bahkan wajahnya tetap ia biarkan datar tanpa respon. Terlanjur, tubuhnya terlanjur di jajah oleh pria yang baru saja melangkah meninggalkan dia di sana.


"Lihat saja, jika aku sudah mampu melepaskan diri darimu, " gumam Shinta dalam hatinya. Kini, ia telah beranjak dari ambang pintu setelah memastikan jika Vino telah menghilang dari pandangan matanya.


"Ih menjijikkan sekali, " Shinta menekan tombol off pada remote tv. Mematikan sebuah video sepasang anak manusia yang sedang melepas hasrat. Shinta sengaja tidak menutup pintu, agar ia tidak kerepotan ketika pria yang sejatinya tidak ia tunggu itu datang.


Shinta duduk termenung, matanya kosong memperhatikan garis-garis halus yang tergambar pada lantai. Wajah sedih yang terukir, mungkin tidak terlihat jelas jika ia tidak mendongak.


Tidak berselang lama, ada langkah kaki yang mendekati kamar itu. Melangkah dengan sigap, lalu mengunci pintu rapat-rapat.


"Apa sudah lama menungguku di sini ?" Tegur pria itu kepada Shinta yang terus menunduk tidak berani menatapnya. Pria itu melepaskan jas dan dasi berwarna merah yang melingkar di lehernya.


"Tubuhmu sangat menggoda, apa kau jarang sekali di sentuh ? Atau justru belum jebol sama sekali ?" Tanya pria itu semakin menggila. Walau Shinta masih merunduk, ia tidak peduli. Bahkan, ia mulai melucuti kemeja yang ia kenakan.


"Kenapa kau diam saja, hei ? Aku telah menbayar mu untuk menggodaku. " Gertaknya seraya melempar kemeja yang ia kenakan.


"Oh, baiklah. Mungkin, ini sebagian dari caramu untuk menggodaku. Manis sekali, " gumam pria itu kembali, ia mengangguk-angguk, mengiyakan segala asumsi yang melintas di benaknya.


"Bersiaplah honey, " Dengan kasar ia mendorong tubuh Shinta hingga terlentang. Tanpa ingin tahu seperti apa cantiknya wajah yang semenjak tadi bersembunyi di balik rambut, Ia langsung menindih tubuh Shinta.


"Tolong, lepaskan !" Shinta memejamkan mata, membuat pria itu berhenti mengecap lehernya. Baru sekarang ia mendongak memperhatikan wajah perempuan yang sudah berada di bawah tubuhnya itu.


"Shinta ?" Ucapnya terkejut. Ia segera beranjak untuk melepaskan tubuh perempuan yang ia kenal.


"Reno, jadi kau ?" Shinta mengusap wajah nya . Ia menghapus air matanya yang sempat menetes.


"Kau menjadi p e l a c u r sekarang ?" Ucap Reno setengah menghina.


"Heh, sudah ku duga, " Shinta merunduk, sudah mulai terbiasa karena ia mempersiapkan dirinya jika memang akan ada yang menganggapnya seperti itu.


"Bagaimana ini ? Bagaimana kalau sampai Reno komplain dan mengatakan jika pelayanan yang ku berikan sangatlah buruk ?" Batin Shinta semakin kuat bergejolak. Menerka-nerka dengan kata andai yang semakin menekan jiwanya. Shinta menarik nafasnya ringan. Ia lalu bangkit, dan mendekap erat tubuh Reno dari arah belakang.


"Aku sudah tidak sabar untuk melakukannya denganmu Reno . Apa kau tidak tertarik dengan tubuhnya yang sangat seksi ?" dengan berat hati, Shinta mulai menggoda. Menyentuh beberapa bagian sensitif milik Reno.


Mulanya, pria itu hanya diam saja. Namun, pertahanannya goyah karena usapan lembut tangan Shinta yang semakin tidak terkendali.


"Aku sudah membayar mu dengan malah, mana mungkin aku menyia-nyiakan. " jawab Reno dengan tersenyum.


"Tunggulah di atas ranjang, aku tidak ingin melihat ini masih melekat di tubuhmu ketika aku datang, " ucap Reno. Jemarinya menarik mini dress Shinta untuk memberikan kode.


Reno melangkah ke dalam kamar mandi. Otak kotornya sudah kuat menguasai diri. Dengan cepat, ia meminum sebuah pil agar membuatnya semakin bergairah dan kuat. Tidak lama, ia segera keluar dan bersiap. Melepas datu persatu pakaian yang melekat pas di wajahnya. Shinta yang sudah menunggu sesuai dengan apa yang Reno inginkan, terpaksa mengembangkan senyuman menggoda. Ia berpose, seperti seorang perempuan yang baru saja ia lihat di tv ketika ia melangkah masuk ke ruangan itu.


Kini, mereka sudah bersatu. Saling meraba dan menyentuh mengikuti nafsu yang menuntun. Entahlah, saat Reno mulai menggerayangi tubuhnya, tidak ada lagi rasa terpaksa yang menyelinap di hati Shinta. Ia dengan senang hati, bahkan sangat menikmati permainan itu. Berdua, memadu kasih hingga pagi menjelang. Keringat yang keluar membasahi pelipis menambah gairah keduanya. Ah, Reno. Andai saja kau tahu, jika dokter Alexa sedang berusaha menghubungi mu dan ingin memulai segalanya dari awal. Saling berbagi cerita, dan mengucapkan keresahan yang mendekam di hati. Berbicara jujur dengan cemburu yang menguasai diri, walau nyatanya itu adalah kesalahpahaman.


Pagi menjelang, Shinta mulai mengerjapkan mata karena sinar matahari yang sangat menggangu tidurnya. Menembus masuk karena gorden yang tidak tertutup dengan sempurna. Shinta menggeliat, merasakan setiap jengkal tubuh yang terasa lelah. Tubuhnya, hanya tertutup selimut tebal, tanpa pakaian.


Shinta menoleh, sudah tidak ada Reno di sampingnya.


"Sejak kapan Reno pergi ?" gumamnya dalam hati, ia beranjak lalu berdiri di depan cermin dengan keadaan telanjang. Ada beberapa bekas di bagian dada dan lehernya.


Shinta termenung, membayangkan kisah gila yang semalam ia lakukan bersama Reno. Tidak sadar, tiba-tiba darahnya berdesir, membuat gairahnya kembali hadir. Bibirnya kini mengukir senyuman.


"Reno..." Shinta menyebut nama itu.


"Aku akan menerimamu kembali, " imbuhnya, lalu memungut pakaian nya yang tersebar di lantai.


Setelah selesai dan merapikan diri, Shinta kembali duduk di tepi ranjang. Menunggu Vino datang untuk menjemput nya, untuk menceritakan sebuah masa lalu yang membuatnya harus menjadi tawanan. Shinta tidak sengaja menoleh ke arah nakas, ada secarik kertas yang tergelatak lengkap dengan bolpoin dan beberapa lembar uang ratusan ribu di sana.


Shinta menariknya, lalu mulai membaca tulisan yang tertera.


Hei p e l a c u r !


kau sudah tidak perawan, haha ....


tapi tidak masalah, kau cukup membuat ku puas malam ini ! Maka aku tambah tips ini kepadamu :-*


kau benar-benar menjadi wanita seperti ini sekarang ? Gila sekali kamu ! Apa uang membutakan matamu ? Bahkan kau tidak hadir di pemakaman mamamu.....


kau benar-benar iblis Shinta !


Deg !


"Pemakaman mama ?"


Shinta membacanya ulang, hingga ia meyakini jika tidak ada kata yang ia baca dengan salah. Shinta mulai menangis, air matanya terus mengalir membasahi pipi. Shinta beringsut dan menjatuhkan tubuh di atas lantai. Hatinya hancur, ia tidak pernah mendengar jika Lita sakit, tapi secara tiba-tiba harus mendengar mamanya meninggal .


"Mama, maafkan Shinta ..." Shinta semakin tersedu-sedu. Kehilangan tanpa persiapan itu sangatlah menghujam hatinya. Rasanya, melebihi sakit ketika awal ia harus menyerahkan tubuhnya.


"Vino, semua ulah mu " Shinta menggenggam kertas itu dengan kuat. Ia menyeringai, merasa kesal ketika mengingat nama Vino. Ya, jika pria itu tidak menjadikan ia tawanan, setidaknya ia bisa bersama dengan mamanya di detik terakhir. Di sisa nafas yang Tuhan berikan, bahkan melihat senyuman tulus dari seorang ibu untuk kali terakhir .


Cekrek ( Suara pintu terbuka)


Shinta berdiri, dengan langkah kesal ia menghampiri suara langkah yang berjalan ke arahnya.


"Vino, semua salah mu ! " Teriak Shinta dengan tangis yang membayangi.