I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Obat



"Rania kamu sangat bodoh ! Apa yang kamu lakukan sampai-sampai mereka mengetahui rencana kita !" Cherry memulai drama barunya. Dia memaki adik iparnya dengan kata-kata yang sudah mendesak hatinya sedari tadi. Mendorong kuat hingga membuat dada terasa sakit.


"Aku tidak mengatakan hal apapun kepada mereka kak. " Rania bersikeras membela diri. Mengatakan kalimat yang memang seharusnya dia lontarkan dengan tegas. Tidak ada rahasia yang bocor akibat kesalahan kata yang terucap dari mulut Rania.


"Bodoh ! Mereka tidak akan bisa dengan mudah menebak jika kamu tidak membuka suara." Cherry semakin gencar menghujam Rania dengan ragam tuduhan. Kalimat pedas begitu kuat menyambar, mengoyak hati yang tak kunjung tenang dari cengkraman emosi.


"Demi apapun itu kak, aku sendiri tidak mengerti darimana mereka mendapat rekaman itu." Rania mengangkat kedua bahunya. Menolak, dengan alasan kuat membela diri. Matanya tajam menatap Cherry yang masih sangat bernafsu untuk menghukumnya dengan ragam kalimat kejam.


"Rekaman ?" Jawab Cherry lirih, dia mencoba menyakinkan kalimat yang terlontar dari bibir Rania.


"Kakak tidak mengetahui itu ?" Lirih Rania semakin bingung. Tidak sedikitpun terlintas di benaknya jika Sandy masih menyimpan teka-teki dari amarahnya. Tidak gamblang menyatakan sebuah bukti yang semakin tegas mengincar mereka. Ya, Sandy hanya terus menekan dan menghujat Cherry tanpa menunjukkan letak salah yang seharusnya di buka di depan mata.


"Kamu jangan mengarang cerita untuk menutupi kesalahan yang kamu buat Rania !" Gertak Cherry kembali memanas. Dia tidak percaya perihal rekaman yang Rania katakan. Perempuan itu berpikir jika Rania hanya mengarang cerita agar kesalahan sepenuhnya tidak tertimpa kepadanya.


"Aku tidak seperti itu kak ! Sandy mempunyai rekaman saat kita bertemu di cafe beberapa hari yang lalu. " Rania berbicara dengan pelan agar Cherry lebih mudah untuk menangkap maksudnya. "Rekaman video yang tertangkap dari arah yang sangat jelas. Selama ini, ada mata-mata yang mengintai tanpa sepengatuan kita."


Cherry mengangguk ringan, ia dengan mudah menangkap kejadian yang tertera diantara cerita Rania. Menelaah dengan otaknya yang terus mengasah. Praduga, ya hanya sebuah dugaan yang menggiring opini jika Keysha yang menjadi dalang di balik semua ini. Cherry berkacak pinggang dan tak kunjung mengakui perbuatannya. Dia membalikkan fakta, menaruh tuduhan lagi kepada Keysha. Ia dengan angkuh mengatakan jika Keysha telah memanfaatkan Rania untuk mengorek informasi lebih dalam mengenai kehidupan Cherry.


Ah, sejatinya manusia yang bersalah akan semakin memperbanyak alasan untuk menutupi kesalahan yang ada pada dirinya. Berbeda dengan orang-orang yang tidak berbuat, dia akan terlihat sangat santai meskipun banyak fitnah yang beterbangan menerpa keteguhan hatinya...


"Aku sungguh kecewa denganmu Ran. Ini mungkin akan menjadi hari terakhir aku untuk percaya dan membantumu." Kata Cherry sebelum mengayun kaki. Dia beranjak dari poros kaki jenjang nya lalu mengayun langkah meninggalkan Rania seorang diri.


Rania hanya tertegun melihat punggung Cherry. Tiada lagi kata yang mewakilkan untuk membela diri. Perempuan itu menyipitkan mata, mencoba menelaah kejadian demi kejadian yang menerpa harinya.


Ada sebuah kecewa yang tiba-tiba menyentuh hati. Menyeruak menimbulkan luka yang terasa perih ketika tertiup angin. Entah, harus bagaimana lagi menyikapi. Tidak banyak hasrat yang ingin dia penuhi selain untuk mendapatkan cinta Ibnu seutuhnya. Telah besar pengorbanan yang terlepas dari dirinya, cinta tulus yang pergi dari hatinya, kenyamanan terusik karena obsesinya. Tetapi, semua musnah. Hilang bersama rasa kesal Cherry yang tidak seharusnya terlimpahkan kepadanya.


Rania menjatuhkan tubuh di atas rerumputan hijau. Menangis bersama guyuran air hujan yang datang tanpa di minta. Suasana mendung yang menghujam seakan memahami kegundahan yang menyentil hati kecil perempuan itu.


"Tuhan ada apa dengan bumiku hari ini ?" Rania semakin menjadi dan menyatu dengan tangisnya. Rasa sedih itu benar-benar dalam membebani. Ada satu titik yang menyatakan dia telah menyesal menyia-nyiakan kesempatan yang Keysha ulurkan secara tulus. Membuang jauh bahkan mengkhianati hati yang sudah mati-matian membelanya. Ah, bodoh ! sungguh perempuan bodoh yang hanya terobsesi dengan cinta yang tak kunjung berpihak.


--------


Tidak banyak kata yang Keysha ucapkan, ia hanya mengangguk ringan, memahami setiap huruf yang menyapa telinganya. Sudah terlalu lelah untuk kembali membela Rania karena nyatanya wanita itu terus berulah dengan kebodohan yang dia punya.


"Kamu sedang memikirkan dia ?" Sandy menyipitkan mata. Menaruh curiga atas raut wajah yang tidak tertebak yang Keysha perlihatkan. Tatapan yang hanya di buang sia-sia ke setiap sisi jalanan. Bahkan dia tidak menyempatkan diri untuk menatap suaminya kala mengangguk setuju dengan apa yang Sandy tegaskan.


"tidak....aku tidak memikirkan apapun itu." Keysha menggeleng cepat. Mencegah Sandy semakin liar dengan pemikiran buruknya.


"lalu ?....."


"Aku...aku hanya kecewa dengan diriku sendiri. Aku gagal membuat Rania terlepas dari cengkraman wanita itu. Tidak seharusnya wanita penurut seperti Rania berteman dengan Cherry yang sudah jelas sangat kejam jalan kehidupannya." Keysha memberi penjelasan dengan pelan-pelan. Mencurahkan isi hatinya yang membuatnya risau, dan semakin larut dalam kecemasan.


"Itu bukan kesalahanmu. Jangan terlalu membebani pikiran mu hanya demi orang yang tidak pernah memikirkan perasaan mu." Belaian lembut Sandy hadiahkan di sekujur kepala Keysha. Di usap halus sebagai wadah penyaluran kasih.


Tangan pria itu terbuai dan menelusuri lengan Keysha. Menyapa jemari lalu erat menggenggam nya. Seutas senyum turut dia suguhkan seiring dengan tarikan lembut jemari Keysha.


Sebuah kecupan mesra sempat berlama di punggung tangannya. Matanya terpejam, menikmati desiran darah yang berbahagia menyaksikan.


"Jangan sedih...." Sandy mengalihkan tangannya di kedua pipi ranum yang tampak memerah. Ia kembali mengusapnya dengan lembut, mengalirkan tanda cinta untuk menghapus derita yang mencakar langit-langit jiwa.


"Terimakasih kak Sandy....." Keysha membenamkan wajahnya di dalam dada bidang milik suaminya. Bersembunyi dan berlama-lama untuk bermanja di sana. Tangannya melingkar erat ke pinggang suaminya.


"Bahagia mu adalah obat untukku. Maka, aku berjanji padamu akan selalu berusaha membuatmu merasa tenang." Jawab Sandy lembut. Ia membalas dekapan yang menguasai tubuhnya. Melingkarkan tangannya di samping lengan Keysha. Erat bahkan sangat dalam hingga aliran hangat darahnya terasa pada setiap kulit yang menyentuh.


"Obat ?" Keysha mengulang kata Sandy yang mencuri perhatian. Dia mendongak tanpa melepas tubuhnya.


"Obat untuk rasa lelah kakak...." Seru Sandy mengalihkan.


Perempuan itu kembali hanyut dalam cinta yang melarutkan. Terlena dalam dekapan yang melupakan duka. Menutup rapat luka tanpa ada yang bisa mengulik untuk kembali membuka. Ya, Keysha kembali melangkah untuk kehidupan yang lebih menyenangkan bersama suaminya. Mereka beriringan, bergandeng tangan lalu menghilang di balik pintu mobil.