I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Canggung



Selesai mandi dan mengeringkan rambut, Keysha merebahkan tubuh di atas kasur. Ia menggeliat, berniat melemaskan otot-otot yang menegang. Namun, kantuk yang menghampiri matanya, membuatnya terlelap tanpa sadar. Kakinya, masih menapak di lantai, karena ya dia tidak berniat untuk tidur.


"Sayang, kita makan dulu ya. Pasti Allan dan Lena juga sudah bangun dan sedang menunggu kita si bawah." Sandy keluar dari kamar mandi langsung menuju lemari, memilah-milah pakaian yang akan dia kenakan tanpa melirik istrinya. Ia menyibak tumpukan kaos lengan panjang yang tertata sangat rapi, mengambilnya satu lalu memakainya dengan cepat.


Merasa heran karena Keysha tidak kunjung menjawab, ia menoleh untuk melihatnya, lalu tersenyum saat mendapati perempuan itu tengah terlelap dengan posisi yang kurang nyaman.


"Maafkan aku sayang, aku benar-benar sudah lama menahannya. Kamu pasti sangat lelah." Ucap Sandy dengan pelan. Ia menghampiri tubuh istrinya, membelai sekilas rambutnya lalu meninggalkan kecupan di kening. Ia juga merapikan tempat tidur dan mengangkat tubuh Keysha agar lebih nyaman. Benar-benar lelah yang menguasai raga, Keysha tidak merasakan apapun bahkan tidak terbangun ketika Sandy mengangkat tubuhnya.


"Selamat istirahat sayang." Ujar Sandy setelah menutup tubuh Keysha dengan selimut hingga sampai di bawah dagu. Lagi-lagi, ia meninggalkan kecupan mesra, lalu melangkah keluar kamar.


Dengan santai, Sandy menelusuri anak tangga. Bibirnya tersenyum ketika mendapati kedua anaknya tengah asyik bermain di ruang keluarga. Ada Yeni yang mengawasi, dan juga seorang laki-laki yang sangat tidak asing dalam hidupnya. Siapa lagi kalau bukan Reno.


"Men, kamu sudah lama ?" Sandy menepuk bahu Reno yang tidak menyadari kedatangan Sandy. Ya, dia sengaja turun dengan sangat pelan dan tidak menyuarakan kaki ketika menginjak anak tangga.


"Astaga !" Reno membelalakkan mata, secangkir kopi yang belum sempat ia sesap itu lebih dulu tumpah dan mengenai pangkal pahanya. Tentu saja, ia segera meletakkan cangkir dengan cepat dan mengusap bagian yang terasa panas karena tumpahan kopi.


Tingkah Reno yang menahan nyeri, justru menjadi bahan tertawaan. Allan dan Lena yang tidak memahami apa yang membuat pria dewasa itu bertingkah seperti bocah, meloncat menahan panas dan rasa lain yang menyebalkan baginya, semakin terkekeh tak terkendali.


Sandy nyengir keki, dia yang paham hanya tertegun menahan tawa.


"Seneng ya kamu kalau juniorku tidak bisa berdiri kokoh ?" Sungut Reno kesal. Ia memukul bahu Sandy dengan keras setelah rasa nyerinya menghilang.


"Maaf, aku tidak melihatmu dengan cangkir kopi itu." Lirih Sandy menahan tawa.


"Sudah sudah ....Sandy, jangan di ulangi lagi. Kasihan Reno kalau sampai itu kejadian, baru malam pertama sudah di minta cerai nanti sama istrinya. "


Reno sudah menghela nafas lega, merasa jika Yeni tengah berpihak kepadanya dengan cara membelanya. Namun, rupanya sama saja. Perempuan paruh baya itu, menyertakan kata-kata ledekan di akhir kalimatnya.


"Heuh, bunda ...." Rengek Reno dengan nada manja.


Sandy dan Yeni terkekeh geli. Mereka sama-sama meledek Reno dengan suara tawa yang memenuhi ruangan.


"Pa, mama mana ?" Allan menghampiri Sandy lalu mendekapnya dengan mesra. Begitu pula dengan Lena yang mengikuti apa yang saudara kembarnya lakukan.


"Sepertinya mama sangat lelah sayang. Jadi, biarkan mama istirahat sebentar ya ?" Sandy berjongkok, ia mengusap lembut kepala kedua bocah tersebut lalu memeluknya dengan hangat. Meskipun mereka juga sering berkunjung ke rumah sakit untuk menemuinya, tapi rasa rindu itu selalu muncul dengan cepat.


"Apa kau langsung menggencarkan serangan mu ?" Ujar Reno tanpa berpikir panjang. Ia seakan lupa dan tidak berpikir jika ada Allan dan Lena mendengarkan mereka.


"Serangan ? Apa papa dan mama sedang perang ?" Sahut Allan dengan polos. Matanya bersinar penuh dengan rasa penasaran.


"hahaha.... Tidak Allan. Om Reno hanya bercanda." Jawab Sandy cepat. Ia terkekeh kecil, lalu menyeringai ketika menatap Reno.


Yeni ikut tersenyum, ia paham apa yang di katakan oleh Reno. Namun, hanya berpura-pura tidak tahu dengan diam dan tidak menimpalinya.


"Kita makan dulu ya. Nanti Keysha biar menyusul saja." Sandy berdiri, ia mengalihkan topik pembicaraan yang membuat suasana menjadi canggung. Mengayun langkah menuju meja tamu dengan pipi yang tampak merah merona menahan malu.


"Berapa ronde San ?" Reno yang mencepatkan langkah membisikkan tiga kata saat melewatinya. Itu, semakin membuat pria itu memerah dan salah tingkah.


"Tidak perlu malu-malu nak, itu wajah dalam suatu hubungan yang sudah terikat dengan halal." Timpal Yeni yang sedari tadi memperhatikan raut wajah menantunya.


"Itu wajahnya sudah merah begitu." Sontak saja, pernyataan Yeni membuat Sandy bungkam dan tidak lagi membuka mulut untuk menyanggah. Karena apa yang mereka tuduhkan memang perasaan yang sesungguhnya.


Sial, kenapa aku jadi canggung lagi. Mudah sekali pikiranku terbaca oleh mereka. ~Sandy


"Allan, Lena ayo makan dulu sayang." Yeni memanggil si kembar. Tangannya melambai-lambai ke arah keduanya. Mereka anak yang sangat penurut, dengan satu kali panggilan saja sudah membuat mereka berlarian menghampiri.


"Aku mau di sebelah papa." Rengek Lena yang memang sangat ingin bermanja dengan papanya yang baru saja pulang dari rumah sakit. Ia menyelipkan tubuh di antara Allan dan Sandy. Memaksakan diri untuk merebut kursi yang sudah hampir di duduki oleh Allan.


"Lena, ini kan tempat aku." Sungut Allan. Dia bersikeras mempertahankan kursi yang sudah menjadi tempatnya semenjak lama.


"Tapi Lena mau di sini."


Reno yang duduk si sebrang mereka, mengangkat tubuh. "Allan di sini ya. Lan adil, papa di tengah antara Allan dan Lena. Jadi semuanya dekat."


"Baiklah." Dengan malas Allan mengangkat tubuh dan berjalan menghampiri kursi yang di tawarkan Reno. "Terima kasih om Reno."


Mereka menikmati hidangan, Allan dan Lena sangat lahap menyantap makanan tanpa bantuan pengasuhnya. Ya, sudah lama mereka di ajari hidup mandiri dan tidak terlalu bergantung kepada orang lain. Di usia yang menginjak enam tahun, mereka sudah sangat pandai makan sendiri dan tanpa satupun nasi yang berceceran di bawahnya. Bisa di katakan, Keysha berhasil mendidik kedua anaknya dengan bantuan Yeni dan dua pengasuhnya. Mereka benar-benar menjalankan instruksi yang selalu Keysha ingatkan setiap harinya.


Sandy mengunyah makanan, jemarinya pun sibuk dengan sendok dan garpu di depannya. Namun, siapa sangka otak dan logikanya masih memikirkan dengan ledekan Reno dan Yeni. Dia masih terpengaruh dan bahkan terbayang dengan rasa malu yang menyita. "Ah, kenapa aku tidak menahan diri. Seharusnya, aku melakukan nanti malam." pekiknya dalam hati.


Untuk apa di pikirkan, toh Keysha adalah istri sahnya. Mau kapan dan dimana pun, itu sudah menjadi haknya kan ? Toh, dia sudah melakukan dan memenuhi semua yang menjadi kewajibannya.


"Sandy mau nambah ?" Ucap Yeni. Ia memperhatikan piring Sandy yang sudah kosong. Bahkan, tidak menyisakan sedikitpun sisa di atasnya.


"San ?"


Sandy Benar-benar larut dalam lamunan. Ia tidak mendengar jika Yeni sudah berkali-kali memanggil namanya.


"Apa masih kurang ?" Ucap Reno lantang. Suaranya yang keras membuat Sandy sadar dan berbicara asal . "Enak kok bun ..."


Awalnya Yeni hanya menganga, lalu terkekeh geli setelah matanya melihat Reno yang lebih dulu tertawa lepas.


"Sandy sandy ... Sepertinya kamu sangat lelah. Tidurlah ! "


"Iya nak . Apa kamu begitu lelah ?" Ucap Yeni membenarkan ucapan Reno.


Sandy menggeleng cepat, "Tidak kok bun....Sandy kurang fokus saja tadi. "


"Obatnya apa sih bun buat balikin fokus suami ? Eh orang maksudnya...." Reno terkekeh kecil. Ia melahap makanannya, memasukkan satu sendok penuh dan asyik melirik Sandy yang sedang berdecak kesal karena ledekan darinya yang bertubi-tubi.


"Papa belum minum obatnya ya ?" Lena mengawasi Sandy. Menunggu pria yang tengah meneguk air itu melontarkan kalimat jawaban.


Ah, bukan bukan ! Bukan sebuah jawaban, tetapi Sandy justru tersedak mendengar pernyataan putrinya .


"Pelan-pelan papa. Allan dan Lena kan juga punya air putih sendiri . Jadi, kita tidak akan memintanya."