I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Lebih baik



"Selamat juga ya atas status baru kamu, janda" Rania berbisik di sisi telinga Keysha. Namun, masih terdengar oleh yang lain. Tatapan nya penuh ledekan juga bibirnya menyeringai puas.


"Jadi perempuan jangan murah. Baru dikasih duit dikit saja langsung nempel" tambahnya yang semakin kelewat batas. Wajah Keysha memerah, ia sangat kesal mendengar ucapan Rania yang semakin keterlaluan. Tangannya ia genggam dengan erat.


"Terserah kamu deh Ran, aku juga sudah capek jelaskan ini sama kamu" Keysha memilih melangkah untuk menghindari perkelahian dengan Rania.


"P e l a c u r mah p e l a c u r saja" Rania masih terus berteriak walau tak lagi didengar oleh Keysha.


"Kamu keterlaluan ya Ran" kata-kata Rania juga memancing emosi Ibnu. Laki-laki yang digadang kembali memacari Rania atas permintaan Cherry. Ia menepis tangan yang sedari tadi menggandengnya dan pergi meninggalkan Rania.


"Ibnuuuu, kamu kok ikut sewot sih, jangan bilang kamu masih suka sama Keysha? Ibnu......." Teriak Rania yang membuat orang-orang disekitar ikut memandangnya kesal.


"Mulut kamu itu lebih murah dari p e l a c u r." Gilang ikut menghardiknya, membisikkan kata yang membuat Rania murka. Matanya melotot seketika, seiring langkah kaki Gilang yang semakin menjauh dari tempat berdirinya.


"Awas saja kamu Lang, kamu belum tau siapa kak Cherry, kamu sudah berani main-main sama dia" gerutu Rania yang berniat mengadukan semua kepada Cherry.


"Rania lama-lama nyebelin juga. Kerasukan apa sih dia, enteng banget bilang aku kaya gitu" oceh Keysha seorang sendiri. Ia berjalan penuh kesal, hatinya sangatlah marah dengan ucapan Rania.


"Key tunggu" Teriak seseorang yang menyebut namanya.


"Ibnu? Ada apa?" jawab Keysha sedikit sinis.


"Maafin Rania ya, dia masih saja salah paham dengan kita" Ibnu tersenyum miris. Mungkin, hatinya bergidik malu atau bahkan menyesal dengan kehidupan yang dia pilih. Ah entahlah! Tidak bisa tertebak dengan apa yang terjadi dalam hidupnya setahun terakhir.


"Sudahlah Nu, aku juga sudah biasa diginiin dibully, di hina, apalah itu...Tapi mending kamu jangan dekat-dekat aku lagi deh, kamu tahu sendiri kan, pacar kamu se posesif apa?" Bukan ingin memutuskan tali silaturahmi atau apa pun itu semacamnya. Keysha hanya ingin menghindari permusuhan. Dia juga sudah pasrah jika persahabatan nya dengan Rania sudah tidak bisa diperbaiki. Tapi setidaknya, dengan Ibnu tidak lagi mengganggunya itu akan mengurangi frekuensi cibiran yang sering Rania lontarkan.


"Jadi kamu tidak mau temenan sama aku?" Ibnu melemah. Dosa apa yang ia perbuat harus kehilangan teman sebaik Keysha demi Rania. Wanita yang darahnya sudah tercampur dengan darah licik.


"Tapi kan Key...." ibnu menolak.


"Kamu tidak dengar apa kata Keysha?" Gilang ikut membuka suara. Tidak diketahui semenjak kapan ia berdiri di sana dan mendengar apa yang Key katakan pada Ibnu.


"Kamu jangan ikut campur deh Lang, kamu juga sama piciknya dengan Rania" elak Ibnu, ia mencoba mengulang kisah masa lalu yang membuat Gilang masuk penjara. Bahkan, berurusan dengan Sandy.


"Eh jaga ya mulut kamu ! Aku juga sudah minta maaf sama Keysha, lalu apa masalahnya denganmu ?" ia mendorong kasar tubuh Ibnu.


"Kalian apa-apaan sih, kenapa malah berantem ?"


Keduanya terlibat adu mulut, tidk menunggu waktu mereka saling menunjukkan kebringasannya. Berantem dengan cara yang mereka bisa, saling memukul, menendang dan semacamnya. Keysha berteriak kesal dari kejauhan, mencoba melerai namun tidak diindahkan oleh keduanya. Perkelahian yang tak berdasar, entah apa yang mereka ributkan pun tidak jelas.


"Hei! Kalian apa-apaan ini?" teriak dosen yang baru saja tiba. Bapak dosen yang sangat galak dan menakutkan. Percayalah! Satu kalimat itu tadi, membuat Ibnu dan Gilang berhenti seketika. Keduanya menunduk kaku, mungkin otaknya sedang memutar alasan apa yang akan mereka berikan pada dosen nanti.


Hahaha! Sukurin dah, susah dibilangin juga. Keysha memilih pergi karena malas jika harus terlibat.


"Kalian ini sudah nilai tidak pernah bagus, tugas juga banyak buruknya, malah berantem di lingkungan kampus! Dimana rasa malu kalian ? ha ?" bentak pak Irfan, dosen yang menghentikan Perkelahian.


"Maaf pak......" mereka kompak menjawab.


"Apa dengan seperti itu bisa menunjukkan kalau kalian ini gagah? Hah? " blablabla dan lain sebagainya.


Bersambung..........