
"Ini hanya karena saya kehilangan jadwal makan dan istirahat saya beberapa hari ini kan dok ?"
Sandy terus memberondong dokter dengan rentetan pertanyaan yang mengusik pikirannya. Ia terus menatap dokter dengan kalut, mengikuti pergerakan mata yang tidak kunjung membuat hatinya lega.
Dokter turut menatapnya dengan nanar, seolah menepis setiap harapan baik pada diri Sandy. Menghela nafas panjang, seakan memberi tanda ada yang tidak baik yang akan ia sampaikan. "Jadi seperti ini." Dokter melipat kedua tangan, menyatukan di atas sebuah map yang baru saja di tutup olehnya.
"Ada kerusakan pada liver tuan Sandy, saya belum bisa mengatakan ini sangat berbahaya. Tetapi kemungkinan untuk sembuh itu hanya dua puluh lima persen." Dengan sangat jelas sang dokter mengungkapkan.
"Jadi masih ada kemungkinan untuk sembuh kan dok ? Meskipun itu sangat tipis." Reno yang masih duduk tenang, mulai menjabarkan setiap kata yang dokter ucapkan. Alisnya mengernyit, menyimpan energi positif. Tatapan tajam tiada asa yang terputus. Tuhan selalu punya rencana untuk setiap makhluknya. Entah itu dengan yang bisa kita terima dan pikirkan sesuai akal atau bahkan di luar akal sehat manusia. Kini ia beralih, sedikit mencondongkan tubuh mengikuti gerakan Sandy. Laki-laki yang masih tegang karena dihujam rasa takut yang mendalam. Kecemasan terus menyelimuti jiwanya. Kalut, terus membungkus rapat setiap celah di rongga hatinya.
"Allah menitipkan rasa sakit selalu sepaket dengan obatnya. Tetapi, cara penyampaiannya terkadang yang berbeda. Ada yang mudah di temukan, ada yang di luar nalar susahnya. Itu semua hanya untuk menguji iman dan rasa sabar kita. " Dokter menepuk pelan tangan Sandy, menguatkan agar kembali bangkit. Fokus pada titik awal pengobatan. Sakit dan sedang berusaha untuk sembuh . Ya, banyak hal yang memerlukan hadirnya, dirinya, cara berpikirnya. Bahkan, ada keluarga yang selalu merindu dekapan hangat tubuh kekarnya, menanti senyum indah di sela-sela rasa lelahnya dan menagih rasa nyaman di setiap ketakutan yang menerpa jiwa mereka. "Tuan Sandy saya yakin anda adalah orang yang kuat. Kita usaha bersama-sama, jangan lupa doa dan dukungan orang-orang yang anda cintai untuk membuat hati tuan merasa damai. Itu bisa menjadi bekal yang kuat untuk mendorong keinginan untuk sembuh yang luar biasa dari dalam jiwa anda." Senyumnya terurai, seakan meyakinkan kembali keyakinan Sandy yang mulai pudar. Menarik kuat jiwa seorang pasien yang mulai menghilang dan tenggelam dengan ketakutan, putus asa bahkan hampir menyerah dengan apa yang baru di dengar olehnya.
"Dengan cara apa dok ? Yang memiliki kemungkinan besar untuk saya bisa kembali sehat ? Atau obat apa yang perlu saya konsumsi setiap hari ?" Sandy menarik nafas dalam-dalam . Mencoba menghapus bayang-bayang buruk yang terus mengitari otaknya. Mengantar rasa cemas, takut dan ancaman yang menyedihkan.
"Obat yang saya berikan hanya akan mengurangi rasa sakit yang menekan perut tuan Sandy." Jelas sang dokter kembali larut dalam kepiluan.
"Lalu ?"
Tatapan yang tidak terlepas sedikitpun dari mata dokter. Sandy terus menenggelamkan pandangan di sana. Sorot yang tidak biasa ia sandarkan kepada orang lain. Rasa ingin di kasihani dan memohon dengan harapan hati yang mendasar. Tangannya bermain tidak ia sadari. Bergoyang seakan ikut resah dengan berita yang mengoyak dalam hati.
"Dengan melakukan cangkok hati." Ucap dokter dengan sangat hati-hati. "itupun ada dua kemungkinan, jika berhasil maka anda akan sehat dan pulih seperti sedia kala. Tetapi, jika sampai gagal nyawa anda akan menjadi taruhannya." Sambungnya masih dengan sangat pelan.
"Dokter hanya bercanda bukan ? Mana mungkin sampai segitunya dok. Sandy baru kemarin menyadari sakitnya !" Gertak Reno tidak terima. Ia melihat dokter dengan tatapan mengiris, tajam dan menusuk.
"Tapi kenyataannya seperti itu tuan."
"Saya tidak percaya itu dok !"
"Saya paham bagaimana perasaan anda sebagai seorang sahabat. Tetapi menyesali dan bersikeras dengan apa yang terjadi tidak akan mengubah garis fakta sedikitpun. Yang perlu anda lakukan, hanya terus memberi dukungan kepada sahabat anda, dan kita sama-sama berusaha mendapatkan donor hati yang cocok." Dokter memberikan instruksi dengan nada tenang. Memberi kekuatan batin untuk Reno yang tidak bisa mengontrol emosi yang membeludak. Menutup rapat telinga, tidak ingin lagi mendengar berita buruk tentang sahabatnya.
Sekarang, ketika kedua pria tersebut sudah melangkah keluar dari ruang dokter. Mata mereka saling berpandang, mengadu gundah dalam kasih yang erat, menelusuri setiap titik pilu yang mewakilkan. Tidak ada yang bisa lagi di tawar, semua hanya butuh keajaiban. Tetapi, selagi ada usaha dan doa masih liar bergema di seluruh penjuru langit, tidak ada yang di izinkan menyerah. Semua masih berproses, dan rencana Tuhan adalah sebuah keputusan yang menyimpan nikmat yang berkah.
"Kamu masih egois untuk tidak memberitahu semua kepada Keysha ?" Reno mengernyitkan dahi, masih tidak bisa mengimbangi cara berpikir Sandy. Ada nafsu yang memaksa lidah untuk mengungkap semua di belakang Sandy. Namun, semua hanya sampai di tenggorokan, dan berdiam di sana hingga terasa mencekik keras. Membuatnya sakit saat menelan ludah.
" Mengenai Keysha biarkan aku yang berpikir. ki cukup bantu buat aku mencari donor yang sesuai, pun jika tidak bisa mendapatkan, tolong bantu untuk bertahan hidup hingga bisa memastikan semua sudah aman untuk mereka !"
Kalimat Sandy itu membuat Reno terkejut, wajahnya pucat pasi terus di landa takut. Tekanan jantungnya kian sulit terkendali. Matanya menyipit memperhatikan wajah Sandy yabg tertunduk. Entah, itu adalah kalimat yang sengaja dia ucapkan atau hanya ... ah tidak ! semua akan baik-baik saja bukan ?
"Baiklah. Apa rencana kamu setelah ini ? pulang dengan wajah pucat seperti ini hanya akan membuat mereka menaruh curiga, lalu mendorong ribuan pertanyaan yang akan mencekik tenggorokan." Kedua kaki mereka terus mengayun, meninggalkan rumah sakit dan menuju mobil. Ya, Reno mengemudi tanpa sopir karena tempat mereka berpijar akan menimbulkan banyak tanda tanya jika ada yang mengetahui. Bahkan Keysha akan memaksa keras untuk siapapun yang ikut Sandy pergi, agar menjawab dengan satu kalimat jujur yang mewakilkan seluruhnya.
Pertanyaan Reno sesungguhnya tidak perlu mendapatkan jawaban, karena memang Sandy telah memikirkan sedari ia belum terbebas dari jerat jarum infus yang melukai punggung tangannya.
"Cukup dengan memberinya kejutan kecil, aku kira sudah mewakilkan seluruhnya."
"Dengan cara ?"
"Bawalah seorang wanita ke hadapannya. Dia tidak akan lagi mengintimidasimu dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat mu menelan ludah. "Sandy melirik Reno dengan tatapan yang meledek.
"Kenapa harus aku lagi yang kamu korbankan ?" Reno memutar bola matanya. Tidak tertarik dengan kalimat Sandy yang menekan jiwanya.
Ah sejatinya, di dasar hati kecil sedang meronta...
mengaminkan setiap kata yang Sandy ucapkan, namun sayangnya tiada wanita yang benar-benar menduduki tahta tertinggi dihatinya.
Secara bersamaan mereka masuk ke dalam mobil. Reno telah siap dengan tangan di kemudi dan kaki menginjak pasti gas. Perlahan, mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang. Tidak ada pembicaraan intim lagi di antara mereka. Hanya hentakan jemari dan kaki yang seirama dengan musik yang dimainkan.
"Kita ke apartemenku dulu baru aku antar kamu pulang." Ucap Reno memberi instruksi. Tangannya meraba tombol volume lalu menekan tombol kurang.
Sandy menyipitkan matanya, mengangkat alis tidak mengerti tujuan akhir kalimat Reno "Jangan macem-macem. Aku masih normal dan tidak doyan dengan laki-laki model kamu begini! "
"Jauh-jauh dah dari otak mesum mu itu ! Apa kamu mau ketemu Keysha dengan wajah pucat dan pakaian yang sama sebelum kamu pergi ? " Reno segera menyambar dengan kalimat yang memotong angan Sandy yang telah salah arah.
Sandy hanya mengangguk pelan, telah paham dengan maksud Reno.
"Ren ?"
"hmm"
"Aku titip Keysha dan anak-anak ya."
"Kamu bicara apa sih San. Otak kamu makin geser kali ya ! Mana Sandy yang aku kenal ? harusnya, ini waktu yang tepat buat lumpuhin semua yang menyerang raga mu, termasuk sakit yang sudah jelas bisa kita sembuhkan ! "
"Ya kali saja aku tidur lupa bangun. Kamu mau kan bantu aku ?"
Pernyataan Sandy sungguh memecah konsentrasi Reno. Ia tidak bisa fokus dengan apa yang berada di genggaman tangan. Dengan kilat, Reno membanting setir ke bahu jalan dan menginjak rem dengan tiba-tiba. Seketika, membuat tubuh Sandy yang tidak siap itu terdorong kasar ke depan.
"Kamu masih waras kan Ren ? Mau mati kamu !"
"Nah itu, itu yang perlu kamu yakinkan untuk dirimu sendiri. Lawan apa yang membuat hidup mu tidak nyaman !"
Reno kembali memancal laju mobil. Perlahan hingga sampai pada titik kecepatan yang dirasanya cukup. Ia terus berdiam diri, membungkus rapat kata yang sudah siap ia semburkan untuk memaki rasa putus asa sahabatnya. Memperlihatkan wajah garang, tanda penolakan dengan kalimat menyebalkan yang Sandy senandungkan.
Mobil berjalan melambat saat memasuki basement apartemen. Berputar, memilih tempat yang memang sudah di jatahkan untuknya.
Mereka secara bersamaan membuka pintu mobil, satu persatu kaki turun lalu beranjak masuk ke lift yang menghubungkan antar lantai.
"Kamu sudah bisa menemukan diri mu yang sesungguhnya." Reno menyipitkan mata, menatap penuh tanda tanya. Wajah tampan itu penuh seringai.
"Aku tidak pernah hilang dari raga ku sendiri. Harapan aku tetap yang terbaik untuk diriku sendiri dan keluarga ku. Tapi jika Tuhan memiliki rencana lain, apa yang bisa kamu lakukan ?" Sandy menatap pada tombol-tombol angka yang tertera di depannya. Memperhatikan setiap perubahan angka yang di gunakan sebagai penunjuk posisi di lift .
"Kenapa kamu diam ?" Tegur Sandy tak sedikit pun menoleh. Ia masih sibuk dengan permainan kedua jemarinya. Mengesampingkan hatinya yang luka mengatakan itu. Ia mencoba kokoh berdiri seorang tanpa penopang. Tidak peduli dengan dunia miliknya, yang utama hanya Keysha, Allan dan Lena.
"hahaha . Kamu terlalu jauh bermimpi, bangun ! dunia kamu masih panjang." Tawa Reno menggelegar, bersaut riang dengan pantulan yang menjelma di ruang lift yang berukuran dua kali dua meter tersebut.
"Katakan saja, iya atau tidak . Maka, aku akan bisa lebih tenang setelahnya. " Pekik Sandy masih serius. Tidak peduli dengan tawa tanpa nada yang bersenandung sedih di balik telinga.
Ya, Reno memang sedang tertawa lepas, terbahak keras,tetapi tidak dengan hatinya. Ia sedang menyimpan rasa sedih, yang belum saatnya ia luapkan.
"Dari dulu juga aku selalu jaga keluarga kamu. Termasuk dari ancaman-ancaman licik dua wanita busuk itu." Wajahnya berseringai. Ia menatap Sandy dan tersenyum tipis.
Lift telah melesat tinggi, menunjuk pada angka 43 . Lantai yang dituju oleh mereka berdua. Lorong panjang yang menghubungkan kamar per kamar terlihat sepi. Suasana hening dan nyaman, membawa hati terbuai damai.
"Sudah berapa tahun saja aku tidak datang ke sini." Sandy terkekeh geli. Berdiri tegak di balik tubuh Reno yang fokus memasukkan angka untuk membuka pintu.
"Semenjak kamu lepas dari gelar jomblo akut mu itu." Setelah pintu terbuka, Reno bergegas masuk. Ia sempat menoleh, menyemburkan kata yang sudah bergerumuh hebat di antara lidah dan tenggorokan.
"Dan ketika kamu lepas dari gelar mu, aku rasa kamu juga harus meninggalkan tempat sempit ini." Sandy berkata dengan penuh nada ledekan. Lelaki itu menyenderkan tubuhnya ke sofa dan bersedekap dengan santai.
"Mandi, lalu pikirkan bagaimana jika Keysha sudah sibuk menyiapkan berbagai macam pertanyaan untuk menyambut mu nanti !" Jawab Reno sambil berlalu. Ia menuju telpon rumah yang terletak di atas nakas. Menghubungi seseorang lalu memberikan instruksi dengan tutur kata yang sangat sopan.
Hanya beberapa menit setelah Reno meletakkan ponsel, kini terdengar ketukan pintu dengan halus. Ucapan permisi menyahuti di sela-sela ketukan. Reno tersenyum sebelum akhirnya beranjak untuk membukanya. Menerima tamu dengan suguhan senyum yang menawan, ia meraih barang yang terlihat di sodorkan untuknya. Sayup-sayup orang tersebut, berpamit lalu di jawab dengan sopan pula oleh Reno.
Dia memang laki-laki yang memegang teguh sopan santun. Tidak memandang dengan siapapun berinteraksi. Hanya saja, dia pernah terbuai dengan wajah ayu setiap wanita, hingga sempat menggila dan terkenal dengan wanita satu malamnya ...
"Ganti pakaian kamu ! Gue akan antar lo pulang setelah itu."
"Baiklah."
Setelah menerima pakaian yang sengaja Reno lemparkan tepat di atas tubuhnya, Sandy mengangkat tubuhnya. Mengayun dengan sangat malas menuju kamar mandi.
----------
"Non Keysha, ada yang mencari non di depan." Mbok Darmi mengulur kata dengan wajah menunduk. Nadanya sangat merendah, tutur kata yang halus tidak menyombongkan usianya yang lebih tua di banding Keysha.
"Siapa mbok ?" Keysha mengangkat alis, ia mengernyit heran tidak merasa ada janji dengan siapapun.
"kamu ada janji sama siapa Key ?"
Keysha menggeleng pelan, mengingat orang-orang yang ia temui hari kemarin, mereka yang sempat berhubungan dengannya melalui ponsel. "Key tidak ada janji dengan siapapun bun."
"Saya tidak kenal non. sepertinya belum pernah main kesini sebelumnya, dia bersama anak kecil perempuan juga. cantik seperti ibunya." Ucap Mbok Darmi dengan senyum lebar.
deg ! Kalimat mbok Darmi memompa kencang jantungnya. Otak dan logika kian kencang memutar dengan ciri-ciri orang yang di sebut. "Sebentar ya bun. Itu sepertinya Rania." Ia mengurai senyum paksa. Mencoba menyembunyikan suatu rahasia yang sudah terbuka oleh matanya. Ia tidak ingin Yeni menaruh rasa khawatir jika sampai dia mengetahui kebusukan Rania.
Langkahnya dengan tegap ia ayun, melangkah ke teras rumah menghampiri seseorang yang tengah mencarinya.
Betul ! dia adalah Rania dan si cantik, Angeline. Senyuman yang terpancar seolah tulus terlihat. Sayang, itu hanya sebuah topeng yang sengaja Rania pasang untuk menipu mangsanya. Dan yang lebih di sayangkan lagi, ketika kedua bola mata bulat Keysha menggapai wajah mungil Angeline, gadis cilik yang hanya menjadi korban dan perantara untuk melancarkan aksi kejam mamanya.
"Hei Key. " Salam sapa yang Rania ucapkan, menepis lamunan Keysha. Menggoyangkan banyangan yang kembali berputar di memori kepalanya. Ia ikut tersenyum, walau setengah memaksa.
Kecewa yang menyapanya sungguh membuat rasa kesal dan muak itu hadir di bayangannya...
"Hai Angeline, kamu pasti mau main sama Allena ya " Gumamnya merunduk. Menyapu lembut bagian poni Angel yang tergerai lurus.
"Iya tante.." Ucapnya tersipu malu.
"Iya Key. Sudah dari kemarin Angel nanyain Lena." Rania angkat bicara. Menyela pembicaraan Keysha yang terus fokus kepada Angel.
"Masuk dulu Ran"
"Oh. iya, terima kasih Key."
"Angel ke sana dulu ya. Lena nya lagi nonton tv di sana"
Angel mengangguk, ia melepas jemari Rania lalu berlari ke arah yang di tunjuk Keysha. Jerit girangnya menggema, terdengar nyaring walau tubuhnya sudah lagi tidak nampak. Ah, benar-benar mengingatkan masa-masa Keysha di saat masih saling mengadu kasih dengan Rania. Tanpa topeng, dan keegoisan yang menjadi penghalang.
Semoga saja pertemanan kedua gadis cilik itu benar-benar utuh hingga maut memisahkan...
"Key aku ada salah ya sama kamu ? Aku kirim pesan berkali-kali bahkan telepon , tapi tidak ada respon dari kamu ?"
Duh, wajah licik ini seperti nya ada remote khusus. Ada kala menjadi garang dan membuat orang bergidik ngeri. Tetapi, ada sisi yang bisa membuat orang menaruh rasa kasian dan iba. Alisnya yang dengan enteng ia mainkan. Tak luput bibir yang pandai berkilah kejam.
Keysha menyipitkan mata, menatap penuh tanya pada diri Rania. Ia menarik nafas panjang, menyiapkan kalimat yang sudah ingin ia ungkapkan sedari melihat video yang Reno putar.
"Loh Nak Rania to ?" Dengan senyum sumringah, Yeni tiba-tiba menghampiri mereka. Menyambut Rania dengan kehangatan dan memeluknya erat seperti menyambut datangnya Keysha.
"Eh tante "
Mereka memang belum lama saling mengenal. Belum terlampaui jauh untuk saling mengasihi. Dulu, di sela kedekatan Keysha dan Rania , Yeni masih menghilang dari hidup Keysha. Ramai tersiar kabar akan berita kematian nya. Danu yang berpura-pura menangis, menyatakan kabar duka. Lita yang membelai lembut seakan memberi harapan nyata untuk masa setelahnya.
"Ada temannya kok bunda tidak di panggil sih Key ."
Keysha kelabakan mencari kata. Tidak percaya jika Yeni akan sebegitu nya mengakui hadirnya Rania. Wanita kejam yang sedang melepas topeng piciknya, menyeru pada diri betapa besarnya kata munafik untuk mentafsir sifatnya. Key hanya nyengir kaku, tidak tahu harus seperti apa menggerakkan lidah.
"Angel itu anak kamu Ran ? dia cantik sekali, persis seperti kamu." Gumamnya melanjutkan kalimat yang masih digantung oleh Keysha.
"Ah tante bisa saja."
"Keysha ambil minuman dulu ya bun. tolong temani Rania sebentar." Keysha beranjak , tanpa menunggu jawaban berlalu meninggalkan mereka berdua. Yeni tampak mengangguk ringan, tidak begitu meladeni kalimat Keysha. Ia masih larut dalam obrolannya bersama Rania, wanita yang pandai sekali berakting dan menyimpan rasa muak di dalam paras yang cukup cantik.
Tawa merdu berbaur renyah terdengar dari ruang belakang. Canda mesra layak seorang anak dan ibu kandung. Rania, memang selalu pandai mengambil hati orang lain, termasuk orang-orang yang sangat di kasihi oleh Keysha. Tidak ada penolakan dari mereka kecuali Sandy dan Reno. Semua welcome bahkan tidak pernah berkata setetespun buruknya Rania.
"Mama kenapa di sini ? tidak ikut gabung sama oma dan mami Angeline ?" Allan membuyarkan sekilas lamunan yang cukup menusuk hati Keysha. Pria kecil ini, memang selalu cekatan dalam membaca hati dan juga pikiran orang lain. Seolah memiliki indera yang lebih, guna menjadi seorang yang peka terhadap lingkungan.
"Oh, mama ikut kok sayang. Ini mama mau ambil minuman buat tante Rania." Jawab Keysha mengumbar senyuman paksa. Dia mencoba menutup rapat celah di matanya agar pria kecil itu tidak semakin mendesaknya dengan ragam kata yang membuatnya semakin pusing mengelak.
"Lalu kenapa mama diam di situ ? Kan dapurnya di sana." Desak Allan semakin curiga. Dia menyipitkan mata mengawasi pergerakan Keysha yang menurutnya sedang mencari-cari alasan saja.
"mm...ini ...mama tadi lupa tanya, tante Rania sukanya apa. Jadi, sekarang mama pikirkan dulu mau buat minuman apa." Keysha turut menatap Allan sebelum kembali melanjutkan kalimatnya." Allan punya ide apa tidak ?"
"Seperti om Reno saja. Orange Juice, pasti tante Rania suka." Jawab Allan antusias hingga dia melupakan ekspresi sedih yang sempat tergambar di wajah cantik Keysha.
"Mmm ... boleh juga. Ya sudah mama ke dapur dulu ya. Allan mau sekalian mama buatkan ?" Keysha merunduk, bertumpu pada tangan yang memegangi lutut. Ia menyetarakan wajahnya dengan pria kecil yang sangatlah menawan itu.
"Tidak...Allan dan yang lain sudah banyak di buatkan oleh sus Rina." Jawab Allan sebelum akhirnya berpamit untuk kembali bergabung dengan Lena dan Angeline.
Keysha hanya tersenyum riang menatap putranya, hingga lupa dengan hal yang sempat membuatnya tercengang dan terbuai dalam lamunan duka.