
*Keesokan harinya
Sudah beberapa kali Keysha mondar-mandir ke kamar mandi. Ada yang aneh dari dirinya
hari itu, rasa mual yang berlebih dan keinginan kuat untuk memuntahkan semua makanan yang baru masuk.
Keysha keluar dari kamar mandi dengan langkah yang lemas. Terlalu kesal karena memang paginya cukup membuatnya menguras energi.
"Sayang, kamu kenapa ?" Melihat Keysha yang pucat dan lesu, Sandy panik. Dengan cepat ia meraih tubuh Keysha. Berulang kali mendekapnya, dan juga memeriksa suhu tubuhnya.
"Aku baik-baik saja kak, mungkin aku terlalu lelah sampai-sampai maag ku kambuh" jawab Keysha lirih.
"Apa kau masih menyimpan obatnya ?" tanya Sandy cemas.
"Ma...hoeek.."
Keysha kembali berlari ke kamar mandi. Memuntahkan seluruh makanan yang baru ia makan.
"Kita ke Dokter sekarang !" Seru Sandy, ia sudah tidak kuat mendengar suara Keysha seperti itu. Melihatnya menderita, karena berulang kali merasakan mual.
"Tidak kak, aku baik-baik saja. Aku tinggal minum obat, lalu beristirahat sebentar. " Sahut Keysha, menepis kekhawatiran suaminya. Keysha menyentuh bahu Sandy, seolah mengatakan jika dirinya memang sedang baik-baik saja.
"Sayang..."
"Nanti kalau sampai sore belum beda, kita baru ke dokter, "Sambung Keysha.
"Tapi kan sa..."
"Aku baik-baik saja kak, " Elak Keysha memotong kalimat khawatir yang Sandy luapkan.
"OK, baiklah, " Akhirnya Sandy menyerah, mengiyakan apa yang Keysha ucapkan. "Tapi dengan satu syarat, " Jemarinya mengacung tegak seolah-olah memang syarat yang ia ucapkan adalah suatu keharusan.
Keysha hanya mengernyit, terus memperhatikan suaminya yang memberi jeda terlalu lama pada ucapannya.
"Kau tidak boleh bekerja hari ini, " imbuh Sandy.
"Tapi kak...."
"Masih mau bandel ?" Sandy menyentil dahi Keysha.
"Tidak.." ucap Keysha seraya mengusap dahinya yang sakit.
*_*
Dokter Alexa hampir saja putus asa, merasa kesal dengan Reno yang sama sekali tidak menerima panggilan darinya. Satu pesan pun tiada yang mendapatkan balasan, padahal jika di hitung dokter Alexa telah mengirim lebih dari ratusan kali sejak ia mendengar penjelasan dari Keysha dan Audrey. Tiada aktivitas selain bergulat dengan kasur dan selimut besarnya, berguling-guling menanti sebuah panggilan dari Reno. Mustahil. Hanya pesan saja ia tidak mau membalas, mana mungkin dengan telepon.
Kring ( Suara ponsel dokter Alexa berdering )
dokter Alexa segera bangkit, tergesa-gesa meraih ponsel yang baru saja ia letakkan di atas nakas. "Reno ?" pekiknya dalam hati. Menjunjung tinggi harapan, tentang pria idaman hatinya. Berharap Tuhan telah mengabulkan segala untaian doa yang selalu ia panjatkan dalam diamnya.
"Oh Sandy, " Dokter Alexa menghela nafas kecewa. Semua tidak sesuai permintaan hatinya.
Dokter Alexa, ku mohon datanglah ke rumah. Aku sangat membutuhkan mu untuk menjaga Keysha. Anggap saja, ini pekerjaan untukmu.
Dahi dokter Alexa mengerut ketika usai membaca pesan yang masuk. Ia tahu, Sandy adalah pria yang sangat menyayangi Keysha dan berusaha keras untuk menjaganya, tapi ini terasa lebih ke sebuah perasaan cemas. Ya, Sandy sangat cemas dengan kondisi istrinya.
"Keysha sakit ?" gumam dokter Alexa heran.
Baik, aku akan ke sana sekarang.
Tanpa ragu, dokter Alexa mengiyakan. Ia segera bersiap-siap lalu bergegas ke luar kamar. Menyapa adik dan ibunya yang masih asyik menyantap menu sarapan. Keduanya tidak terlihat sedang bercengkrama, hanya ketukan sendok pada piring yang memecahkan keheningan.
"Ma, Alexa keluar dulu ya, ada kerjaan, " pamit Alexa, seraya mengecup punggung tangan mamanya.
"Iya sayang, hati-hati ya" sahut mamanya. Ia tidak banyak bertanya karena dokter Alexa belum pernah bercerita mengenai pekerjaan nya yang raib. Hilang, hingga lupa sebuah perjuangan ketika mendaki. Memang benar kata orang, mempertahankan lebih sulit di banding proses nya.
"Hati-hati kak, " Imbuh Naura, adik kecil dokter Alexa. Seorang gadis yang sejatinya bukanlah adik kandungnya. Gadis itu ia temukan di depan pagar rumahnya, ketika is masih bayi. Anak yang malang, orang tuanya benar-benar bejat karena telah tega membuang anaknya begitu saja.
"Iya dek, jangan nakal di rumah ya, " ucap dokter Alexa.
"Siap kak, " jawab Naura.
dokter Alexa bergegas duduk di balik kemudi. Menginjak pedal gas dengan hati-hati. Mobil melesat cepat, melintasi bangunan-bangunan megah yang berjajar di tepi jalanan.
Tidak lama, ia telah berada di halaman rumah Keysha. Menyerahkan mobilnya kepada sopir Keysha untuk memarkirkan di tempat yang di sediakan. Bukannya malas atau ingin merepotkan orang lain, karena di rumah itu memang begitulah peraturannya.
Cekrek ( Suara pintu rumah yang di buka dari dalam )
"Pagi Key, " dokter Alexa tersenyum manis. Menyambut pagi Keysha dengan sebuah kejutan kecil.
"Lexa ? kamu ke sini kok tidak bilang-bilang..." Sahut Keysha antusias. Ia terkejut sebenarnya dengan kedatangan dokter Alexa tanpa di minta olehnya.
"Ya Allah kak Sandy, " Keysha terkekeh geli. "Aku sudah tidak apa-apa kak. Lihat, aku sangat baik-baik saja. " Sambung Keysha, ia membuka tangan seolah-olah mengimbangi gerakan bibirnya.
dokter Alexa hanya tersenyum-senyum melihat perdebatan lucu mereka berdua.
"Sudahlah jangan bandel. " seru Sandy menghentikan rengekan Keysha. "dokter Alexa tolong ya, aku harus pergi. "
dokter Alexa mengangguk pelan, "Siap San..."
"Sayang aku pergi ya, " Keysha mengecup kilas kening Keysha.
"Hati-hati kak, " sahut Keysha seraya membungkuk mencium punggung tangan suaminya.
Sandy telah menghilang di balik pagar besi, lenyap dari jangkauan yang dapat di raih oleh mata. Keysha mempersilakan dokter Alexa masuk ke dalam, membawanya ke ruang keluarga untuk memperkenalkan kepada anak-anaknya dan juga Yeni. Mereka baru saja menyelesaikan sarapan yang mbok Darmi siapkan, jadi tidak heran jika semua masih berkumpul bersama di depan televisi.
"Loh, aku tamu toh, " Yeni meletakkan sulamannya di atas meja, lalu beranjak menghampiri Keysha dan dokter Alexa. "Sebentar, bunda sepertinya kenal, " imbuh Yeni. Ia menoleh, mencoba mengingat-ingat sebuah wajah yang sudah tidak asing lagi bagi matanya.
"Pagi tante, aku Alexa...". Dokter Alexa mengulurkan tangan, lalu merunduk mencium punggung tangannya ketika Yeni telah menyambutnya.
"Alexa ?" tanya Yeni dengan raut kebingungan, otaknya yang sejak tadi berpikir tidak kunjung menemukan sebuah ingatan tentang gadis di depannya itu.
"Alexa ini dokter yang merawat Sandy dulu bun, " Seru Keysha, membuyarkan bayangan Yeni yang tidak kunjung memecahkan teka-teki.
"Ya Allah, iya iya, bunda baru ingat, " Yeni terkekeh kecil.
"Sini nak, duduk. " Ajaknya, seraya menggandeng lengan dokter Alexa. Membawanya duduk di sofa panjang yang menghadap ke tv langsung. "Sering-seringlah main ke sini, bunda biar tidak lupa. "
"Ha-ha iya tan, "
"Jangan panggil tante ah, tidak enak di dengar. Panggil saja bunda, " Lirih Yeni.
"Di minum dulu Lex, " Keysha datang dengan membawa nampan yang berisi satu cangkir cokelat hangat. "Bunda geli Lex kalau di panggil pakai sebutan tante, " Sahut Keysha, menambahkan kalimat Yeni yang menggantung.
"Oh, " dokter Alexa membulatkan bibir, lalu tertawa bersama dengan Keysha dan Yeni.
"Oh ya sebentar. " Keysha menghentikan suara tawa yang menggema. "Allan, Lena.. sini sayang, "
"Iya ma..." Jawab keduanya kompak. Mereka berlarian menghampiri Keysha, berlomba-lomba mendapatkan dekapan hangat terlebih dahulu.
"Kalian masih ingat tidak sama tante ini, " Ujar Keysha, seraya menunjuk pada dokter Alexa.
Allan dan Lena menggeleng ringan dengan wajah yang ia selipkan di antara gamis panjang Keysha. Tersipu malu, karena memang cukup jarang bertemu dengan perempuan yang Keysha tanyakan sekarang.
"Ini tante dokter, masak lupa ? Namanya dokter Alexa. Ayo, beri salam" Keysha memberi perintah.
"Hallo Dokter..." Seru Allan dengan jelas. Ia mengulur tangan, menunggu di sambut lalu mengecup nya dengan hangat.
"Hallo tante, " Lena mengikuti apa yang Allan lakukan.
"Dokter Allena !" bentak Allan menyalahkan sebutan yang Lena gunakan.
"tidak apa-apa kan ma kalau Lena panggil tante ?" Tanya Allena kepada Keysha. Ia sedang berusaha mencari pembelaan.
"Tanya sama dokternya dong, " sahut Keysha seraya tersenyum.
"Tidak apa-apa sayang, " dokter Alexa membelai lembut rambut panjang Allena.
"tuh kan ..." ucap Allena sinis, ia sedikit menjulurkan lidah guna meledek Allandra.
"Bilang saja tidak bisa bicara dokter dengan jelas, " ledek Allan kembali.
"Hei kok jadi berantem ?" tegur Keysha.
"Allan tuh ma..."
"Lena ma..."
"Allan..."
"Lena..."
"Maaf ya Lex, mereka memang selalu seperti itu, " seru Keysha.
"Tidak masalah Key, itu hal yang wajar untuk anak kecil." tutur Dokter Alexa memberi pengertian.
"Adikmu tidak di sini ?" dokter Alexa memperhatikan sekitar, ia menoleh menatap arah asal.
"Tidak, paling kalau datang siang, " seru Keysha.