
Reno terpaku begitu keluar dari kamar mandi langsung melihat Sandy yang masih memasang senyum dengan mata terpejam. Kepala di tarik ke atas, mendongak menyaksikan pijar lampu sebagai penerang. Reno menyipitkan mata, tajam menelisik seisi ruangan . Tidak ada siapapun, atau sebuah hal yang mengundang senyum jika dia tidak .....
"Sandy !"
Tenggorakan Reno sedikit kering, sehingga berbicara dengan suara parau, tertahan dalam di tenggorokan.
"Selesaikan saja urusanmu. Tidak perlu berpikir buruk denganku." Sandy menyahuti dengan datar. Tetapi, tidak ada secuil nada marah yang terdengar. Seakan menangkap mudah dengan apa yang berada di benak Reno, menolak tanpa sedikitpun bergerak. Tidak juga menoleh untuk memastikan sekitar, ia memilih larut dan terus tenggelam dalam dunia angan-angan miliknya. Tubuhnya yang di topang sofa seluruhnya, menyisakan kaki yang menapak pada lantai.
Suasana hening, karena mereka berdua bergelut dengan dunia masing-masing. Sibuk mengatur tubuh untuk terlihat lebih tampan dan bersinar. Reno mengolesi rambut dengan sebuah gel, mengaturnya untuk lebih segar di lihat lalu mengurutkan sisir dari pangkal hingga ujung rambut. Dia memang terbiasa melakukan hal yang lebih rumit untuk urusan penampilan di banding pria pada umumnya. Bukan karena arah tujuan perginya, tetapi itu adalah bagian dari wibawanya, sinar dan juga rasa kepercayaan diri yang sangat berpengaruh besar untuk kelangsungan harinya.
Harusnya Sandy lebih sibuk dengan tubuhnya , tetapi dia selalu menjawab dengan kalimat, bahwa dia lebih keren dari siapapun walau tanpa melakukan perawatan khusus seperti yang Reno kerjakan....
tok tok tok
Sandy kembali tersenyum lalu mengangkat tubuh dan bergegas membuka pintu. Ada seorang yang telah tegap di depan mengulur senyum dan salam yang sopan. Ia membawa sebuah bunga mawar yang terangkai dengan indah. Tak tertinggal sebuah kotak kado yang berukuran kecil. Entahlah, apa yang berada di dalam sana, bisa saja sebuah hal yang memang telah lama Keysha inginkan.
"Baiklah, kalau sudah sesuai saya permisi tuan." Laki-laki itu menunduk dalam dan mengangguk ringan. Tangannya rapi ia lipat di depan paha, menatap pada lantai dengan sopan.
Sandy membalas senyuman tulus lalu mengibaskan tangan beberapa kali. Mengisyaratkan tidak ada hak yang kurang dan orang yang di hadapan nya sudah di izinkan untuk beranjak kembali pada pekerjaannya. Matanya tak kunjung beralih dari mawar-mawar nan cantik di tangannya. Tidak terlalu mewah, rangkaian sedang dengan tema yang sangat sederhana. Ini adalah hal kecil yang sangat Keysha senangi....
----
Reno melukis senyum paham, ia mengangguk ringan mengerti apa yang sedang Sandy siapkan. Kejutan romantis dengan hal kecil yang selalu di senangi oleh istrinya, ah tidak perlu berkata juga Reno sudah mahir di dunia seperti itu. Jangankan mengatakan, melihat saja itu sudah cukup memberi jawaban untuknya.
Kini mereka telah berada di lorong panjang yang tampak sepi. Bagaimana tidak, satu lantai itu hanya di tinggali oleh Reno seorang, beberapa petugas kebersihan yang berjagapun hanya orang-orang tertentu yang sudah melewati masa-masa ketat. Pengawasan dan juga sudah mengikuti test khusus. Satu-satunya akses menuju sana adalah lift yang di rancang menggunakan kode digit untuk membukanya, di jaga oleh dua bodyguard dengan wajah dingin nan garang di lobby utama.
Berdiri kaku di dalam lift dengan mata yang fokus dengan angka-angka yang menunjukkan berada di lantai berapa posisi mereka.
Berada di situasi yang cemas ataupun sedang tidak sabar untuk melakukan suatu hal membuat seseorang merasa jam tidak beranjak. Bahkan lift yang bergerak dengan cepat daripada gerak kaki mereka walaupun sudah berlari tetap saja menguji kesabaran...
Pintu lift terbuka dengan sempurna. Sandy menatap Reno dengan damai, begitu pula Reno yang membalasnya hangat lalu menyudahi dengan menepuk bahu untuk mendorong semangat dan keyakinan yang dalam. "Kau benar-benar seperti seorang remaja yang baru pertama kali melakukan kencan." Sambungnya dengan nada meledek. Ada tawa geli yang mengiringi kalimatnya.
"Hentikan omong kosong mu itu jika kau tidak ingin merasakan pukulan ku " Sandy menekan kata-katanya. Menggertak dengan mengeratkan kedua baris gigi-gigi putihnya.
Tidak ada hal yang lebih menarik daripada menertawai sahabatnya Mereka terus melangkah dan Reno yang masih terbuai dengan gelak tawa yang menyebalkan bagi Sandy.
Reno sengaja mengganti mobil miliknya dengan sebuah mobil butut yang sudah ia sewa. Dengan rasa yakin yang menggebu, ia perlahan menginjak pedal gas. Fokus dengan titik jalan yang terus berputar hingga sampai di gerbang basement.
"Aku akan menelpon Keysha, kau jangan bersuara." Ucap Reno memberi instruksi. Ia memasang headset bluetooth di telinga kanan setelah memastikan telpon tersambung. Mata nya masih fokus dengan jalanan, berebut antara spion dan kaca besar yang terpampang di depannya.
"Hallo, Assalamualaikum..."
"Wa'alaikum salam." Keysha yang berada di sebrang telepon menyahuti dengan halus.
"Key sibuk ? "
"Oh tidak kak, ada apa ?"
"Aku mau kasih lihat sesuatu padamu. Tapi kamu harus siap lahir dan batin sebelumnya. Kau bisa menyusul ku sekarang ? Ini perihal Sandy, kalau bisa datanglah dengan cepat. Sebelum semua berakhir...."
Dengan perlahan dan sangat hati-hati, Reno memberondong Keysha dengan ragam tanda tanya dan pernyataan. Sebuah teka-teki yang seketika membuat jantung Keysha berdebar dengan kencang. Entah, getarannya mengisyaratkan rasa takut. Nalurinya meraba, sebuah hal yang buruk sedang Sandy lakukan di sana. Sudah beberapa detik Reno terdiam, menunggu jawaban . Tetapi, Keysha tampak masih terkejut dan mencoba menguatkan diri . Nafasnya terdengar kasar dan tidak terdengar lega sebelum kalimat tanya menyembur dari balik bibir "Ada apa Ren ?"
"Aku tidak bisa menjelaskan dari sambungan telepon Key. Ini menyangkut rumah tangga kalian. " Reno masih berusaha keras membujuk. Menekan Keysha agar semakin cemas dengan apa yang dia katakan.
Sandy hanya duduk diam mendengarkan, wajahnya datar tidak tertebak dengan rasa yang mengusik jiwanya. Entah itu sebuah lelucon yang bisa dia terima atau justru besarnya rasa cinta yang tersirat membuatnya merasa tidak tega dengan apa yang Reno ucapkan untuk istrinya.....
"Rumah tangga ?" setelah lama terdiam, Keysha mengulang kata-kata Reno untuk meyakinkan diri
"Ya. Kau bisa ? Aku tidak ingin kamu semakin berburuk sangka, lebih baik kamu datang ke taman gemilang. Tepat di samping Danau nya." Ucapnya dengan cepat sebelum Keysha mengatakan sesuatu penolakan.
"A-aku ...."
"Ya susah ya Key. Aku tunggu, kalau bisa lebih cepat akan lebih baik untuk kamu mempertahankan semua " Reno menutup telepon secara sepihak.
Gelak tawa yang sudah ia tahan beberapa waktu yang lalu akhirnya pecah, memenuhi ruang kecil di dalam mobil. Sandy menatap nya dengan sangat tajam, seolah tidak senang dengan kata-kata yang menyudutkan dirinya.
Hanya orang bodoh yang tidak memahami bahwa Reno telah menuduhnya berselingkuh....
---Keysha POV---
"Siapa nak ?"
Yeni yang baru saja datang dari belakang, membuat Keysha terkejut dan langsung menghapus air mata yang tidak ia sadari. Matanya lembab, kristal-kristal bening telah penuh menguasai seluruh bola matanya.
"Kak Reno bun." Ucapnya membuang wajah agar tidak terlihat bersedih.
"Reno ? ada apa nak ?"
"Ti-tidak bun. dia ada urusan dan mengajak Keysha untuk bertemu di luar. " Sahut Keysha berbohong.
"mama sedih ?" Allan ikut berbicara. Ia melihat raut wajah yang pilu, garis-garis kesedihan mulai terpancar di sana.
"Tidak sayang. mama baik-baik saja."
"Terus, kenapa mama menangis ?"
"tidak....mama tidak menangis sama sekali, ada debu masuk mata, jadi berair." Lirihnya, ia menggiring tangan menyeka pipi. Menutup mata berharap bisa lebih tahan untuk tidak meluapkan segalanya di depan Yeni dan Allan.
"Iya bun. Tapi kak Reno hanya ada urusan dengan ku sebentar. "Keysha menarik nafas dalam sebelum melanjutkan kembali kalimatnya. "Allan, mama mau pergi sebentar Allan dan Lena di rumah sama oma tidak apa-apakan ?"
"Iya ma, Allan akan jaga Lena dan oma." Ucap Allan dengan tegas. Nadanya berwibawa seakan dia memang laki-laki dewasa. Angkuh dengan kalimatnya.
"Bun, Keysha nitip anak-anak sebentar ya ?"
Yeni tersenyum lalu mengangguk ringan seolah memberi kebebasan untuk putrinya.
Wanita itu beranjak dengan langkah yang gontai, seakan langkahnya ia tahan untuk tidak beranjak dengan cepat. Tidak banyak waktu yang ia habisku untuk memoles diri, berpenampilan dengan gamis panjang dan jilbab ya menjuntai menutup bagian dada sudah sangat manis untuk di panjang. Tidak banyak polesan yang ia goreskan di wajah cantiknya. Cukup dengan sedikit pelembab dan lip tint tipis di bibir mungil itu.
Tanpa aneka ragam lukisan untuk mempercantik parasnya. Ia memang terlahir dengan wajah yang ayu dan bercahaya. Air wudhu adalah hal utama yang ia yakini kuat turut menjaga kealamian wajahnya ...
Sepatunya bernada riang tatkala ia dengan cepat menuruni tangga. Meraih tangan Yeni lalu mengecupnya pada bagian punggung tangan. Tak lupa, ia juga pamit kepada pria kecilnya yang ikut mengantar sampai teras rumah. Di belai lembut bagian rambut dan meninggalkan kecupan kasih di sana. Mereka berdua melambai, hingga mobil yang membawa Keysha telah jauh tidak lagi terlihat , menghilang di balik pagar besi yang menjulang tinggi mengitari bagian halaman rumah.
Kaki kanan yang ia tumpukan di atas kaki kiri, bergerak dengan gusar dan tidak bisa bersikap lebih tenang. Mata bulatnya mulai jelas menampakkan kegelisahan yang berkecamuk hebat. Wajahnya pucat pasi seketika. Ya, mungkin karena perasaan yang bercampur aduk, membuat semua seakan kalut. Ah, harusnya tidak ku izinkan dia pergi begitu lama jika saja dia mengatakan sebelumnya. Tetapi ...
Bisikan-bisikan halus mulai menggangu hatinya, bergerumuh hebat di balik telinga. Detak jantungnya terpompa dengan kasar mendorong keras dada hingga terasa sesak dan sakit. Tenggorokan yang sebelumnya biasa-biasa saja, tiba-tiba terasa sakit saat ia hendak menelan ludah. Semua terasa beradu mengeluh dengan sakit yang tak kasat mata.
Api cemburu yang sengaja Reno nyalakan sungguh luar biasa merebak masuk menelusuri rongga-rongga tubuh yang tidak pernah merasa nyeri. Menelisik dalam menggali cinta yang menjulang tinggi. Terhimpit di antara rasa gengsi dan malu saat hendak menyuarakan. Ya, Keysha adalah wanita yang tidak terbiasa mengungkapkan cinta dengan lisan, ia memilih menyuarakan dengan tindakan, perbuatan dan sebuah perhatian. Batin yang mengikat akan menghasilkan suatu persembahan yang baik untuk hiruk-pikuk rumah tangga mereka. Nyatanya, jika tidak ada gangguan dari luar semua berjalan wajar dan harmonis. Kemesraan yang tidak tertulis dengan ungkapan tetap bisa di rasakan hangat menyisir seluruh tubuh. Lembut menyapa setiap aliran darah yang mengalir.
Tapi semua hal indah akan menjadi kenangan yang tersirat jika apa yang ia pikirkan benar terjadi ....
"Tidak ..tidak ...aku tidak boleh se'udzon sebelum melihat semua !" Keysha meremas kepalanya dari luar jilbab. Merunduk menyembunyikan wajah di sela-sela kaki yang merenggang.
"Non baik-baik saja ?" Ucap driver yang terbiasa mengantar Keysha. Ia memperhatikan gerak-gerik majikannya dari pantulan kaca yang tergantung di atas kendali kemudinya.
Sial, ia benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya dan tanpa sadar bertingkah yang mengundang perhatian orang lain...
"Ah ..tidak pak. Aku hanya sedikit pusing dengan urusan butik. Sudah beberapa hari tidak bekerja, semua pekerjaan menjadi numpuk." Lirihnya memutar otak mencari jawaban yang logis dan nyambung dengan apa yang ia keluhkan sebelumnya.
Driver mengangguk-angguk mengerti dengan apa yang boss nya katakan. Kembali fokus dengan jalanan yang sudah mulai ramai. Lalu lalang orang yang berbondong-bondong bepergian, atau justru malah sebaliknya. Tidak sedikit pula yang duduk bersantai di pinggir jalanan melepas penat dengan ragam pekerjaan dan tugas-tugas yang menumpuk.
Keysha mengalihkan perhatian pada rutinitas orang di sekitar jalan, menatap lekat pada pohon-pohon rindang yang tampak bergoyang-goyang dalam kegelapan. Ia mencoba terus merebah masuk di sana, menggeser titik fokus agar tidak lagi berburuk sangka kepada suaminya.
Sandy adalah pria setia, dia baik hati dan tidak mudah tertarik dengan wanita. Tidak dengan membalikkan telapak tangan, batinnya dengan mudah bisa legowo menerima perjodohan ini .Mana mungkin dia macam-macam di luar rumah sana...
Mobil mulai berjalan melambat saat memasuki kawasan taman kota, tempat yang memang menjadi tujuannya ia pergi. Suasana tidak terlalu ramai, bahkan lebih tenang dan menyambutnya hangat. Danau yang membentang luas di sisi taman, menarik untuk muda-mudi memadu kasih di tengah gulita nya malam.
Saat hendak meraih gagang pintu dan menekan tombol open di sana, matanya tertarik dengan sepasang kekasih yang sedang berdebat tak jauh dari posisi nya. Tidak jelas dengan apa yang keluar dari mulut mereka. Ya, semua karena jarak dan kondisi Keysha yang masih di dalam mobil. Tetapi, apa yang dia lihat sudah cukup memberi jawaban. Ada seorang perempuan di antara sepasang manusia itu. Ia bersembunyi di balik sang pria karena tubuhnya menjadi sasaran dari amarah sang wanita. Hentakkan kasar dan ucapan yang terus mencaci, menghina tak henti melayang dari mulutnya. Mungkin, semua atas penghianatan yang wanita itu terima, tidak bisa mengontrol diri melampiaskan segala kecewa dan kesal atas drama yang terjadi.
"Non, jadi turun tidak ?" Driver merasa Keysha sedang melamun, tidak mengerti dengan apa yang menjadi pusat perhatian nya sedari mobil terparkir di sana. Ia terus berdiam dan menatap keluar dengan mata yang berkaca-kaca, menyimpan duka seolah-olah bisa merasakan dan meresapi setiap insiden yang belum juga berlalu dari hadapan nya.
"Oh i-iya pak. Tolong tunggu di sini sebentar ya. Saya tidak akan lama."
Ia memberi instruksi sebelum akhirnya menapakkan kaki ke tanah. Berlalu, meninggalkan mobil dan mencari tempat yang di tunjukkan Reno.
Keadaan sangat sepi di sana, tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Bahkan menolak bayangan yang terus berputar mencoba merayu agar Keysha kembali larut dengan mimpi buruk.
Langkahnya perlahan mulai merebah masuk, menelusuri jalan setapak yang tertata sangat cantik. Semakin ke dalam, semakin sepi pula suasana yang mencengkram. Tetapi, di balik rimbunnya dedaunan, ada alunan musik romantis yang bergerak menyapa telinganya. Semakin dekat, seiring kaki Keysha merayap.
"Hemm!"
Suara dehem yang menyapa telinga dengan kasar menarik mata Keysha untuk beralih. Berputar, menyibak gelap untuk menampakkan seseorang yang sedang berdiri dengan wajah garang sedang mengintainya.
Dua orang pria, dengan kumis tebal dan pakaian yang serba hitam telah berdiri sigap di bawah pohon yang berhadapan dengan tubuh Keysha. Mereka melipat tangan dengan santai, memainkan ujung kumis dengan jemari yang terlihat sangat kokoh dan kuat.
"Tepat sekali ladies, kamu muncul di tengah malam yang sepi ."
Gelak tawa puas terdengar dari mulut mereka. Menyambar keras dan semakin menekan rasa takut . Ia melupakan dengan siapa dia datang, bahkan tujuan awal nya . Langkahnya gontai, meraba mundur menembus malam yang gelap. Penerangan yang minim membuat Keysha kesulitan berlari.
Musik yang sempat samar ia dengar telah berhenti bernyanyi Ah sial apa mereka semua sudah pergi dari sini .....
Mengumpat dalam diri dan terus berlari hanya membuat kedua pria itu tertawa semakin puas. Jalan yang Keysha tempuh hanya membawanya kembali kepada kedua pria itu. Tepat berdiri di depan mata, dengan tubuh yang terlihat lebih seram dari sebelumnya.
Sungguh,tidak ada lagi harapan untuk bisa berlari dan melepaskan diri...
"Kalian mau apa ? aku tidak ada urusan dengan kalian." Nafas Keysha memburu, menyiratkan rasa takut yang semakin tinggi. Suaranya bergetar bahkan kata yang terucap jelas terdengar terbata.
"Tidak ada urusan ? hahahaha"
Gelak tawa kembali mereka suarakan setelah mengulang kalimat terakhir yang Keysha ucapkan. Bukan untuk meyakinkan diri, melainkan menjadi lelucon yang bisa menarik untuk mereka tertawakan. "Kamu pikir, siapa yang membawamu ke tempat ini nona cantik ?"
"Maksud kalian ? Kak Reno ?"
Ekspresi wajah mereka sudah cukup memberi jawaban dari kata terakhir Keysha. Matanya membelalak tidak percaya. Reno pria baik meskipun terkadang lebih menyebalkan di bandingkan Sandy. Tetapi, ia mengenal sudah sangat lama tidak mungkin jika Reno telah menjebaknya.
Perempuan itu menjatuhkan diri, pasrah dengan situasi yang semakin kuat mencengkram jiwanya. Ia bergulat dengan rerumputan yang menutup rapat tanah. Bersandar di sana dengan isak tangis yang menjadi. Bukan hanya rasa takut yang mengusiknya, tetapi kecewa yang tersirat membuatnya ingin murka mengingat wajah Reno .
Percuma, semua sudah terlambat ,mereka akan melukaiku dan lebih kasarnya lagi mereka bisa saja membunuhku untuk menuruti nafsu ....
"Katakan dimana orang yang menyuruh kalian ?" Keysha menyeringai walau badannya telah tertunduk lesu di bawah.
"Hahaha. kau sangat berani nona. Apa kau sudah memikirkan kata-kata mu itu sebelum kau semburkan keluar ?" Salah seorang pria berjalan mendekat. Dia tidak menyentuh sedikitpun, tetapi aroma tubuh garang sudah menyulutkan keberanian Keysha. Wanita itu tidak berani mengangkat kepala bahkan semakin dalam menenggelamkan wajah. "Diamlah di situ ! Aku akan memanggilnya untukmu."
Air matanya semakin deras mengalir bebas di pipi. Jilbab cream yang senada dengan gamis itu turut basah karena berulang ia gunakan untuk menyeka mata.