I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Tidak bisa menolak



"Keysha "


Sandy menarik gagang pintu berwarna silver di kamarnya. Tanpa berbasa-basi lagi untuk mengetuk seperti biasanya. Ia tahu, istrinya pasti sudah menunggu kedatangannya dengan cemas, bahkan kaki milik perempuan itu sudah di pastikan gusar tidak bisa diam karena hatinya terus di desir rasa takut. Benar saja, ia sudah bolak-balik layaknya setrika di dalam kamar, disudut ruang dengan pandangan mata yang berubah-ubah arah. Jemari lentik itu saling menyatu bahkan beradu saling menyalahkan, saling memukul-mukul ringan tanpa tanda akhir. Kaki yang tidak bisa dikatakan jenjang itupun, kesulitan jika ditanya tentang jejak yang ditinggalkan.


kurasa kau terlalu berlebihan, Keysha.


Darah Sandy seakan berhenti di satu titik.Tatapan arogan yang Keysha perlihatkan sungguh membuat pria itu bergidik ngeri. Ia tidak memahami hal besar apa yang membuat wanita itu begitu ketakutan setelah kejadian malam itu, saat Sandy kehilangan kendali, bahkan hampir tak berdaya melawan sakit yang bisa dikatakan tiba-tiba menyerang.


"Maaf sayang, tidurmu sangat pulas tadi, aku tidak tega membangunkan, Allan sudah meledekku di depan pintu, apa aku harus berpura-pura tidak mempedulikan dia ?"


Sandy mengatur kosa kata, merangkai jelas untuk menyampaikan cerita. Ia mengatur nafasnya untuk sedikit lebih tenang.


"Apa kau benar-benar sudah sehat San ?" Suara lembut itu menyapu halus dibalik telinga Sandy. Menghapus setiap bayangan dan prasangka buruk yang sempat menjalar di benaknya.


"Sayang, aku sehat sekarang. Kamu lihat ? apa aku masih berusaha menyembunyikan darimu ?" Dengan penuh tenaga Sandy mengangkat tubuh istrinya. Memperlihatkan energi yang masih tersimpan di dalam tubuh kekar itu. Ia memberi bukti, jika tidak ada hal yang masih rapi bersembunyi atau sengaja ia simpan agar Keysha tidak mengetahui itu.


"Kamu harus janji padaku, jika kamu akan tetap sehat seperti yang kulihat saat ini." Ucap Keysha dengan nada sungguh-sungguh. wajahnya sudah pucat pasi karena tekanan rasa takut ya ia hadirkan sendiri, Sandy mengerutkan dahi , semakin tak mengerti dengan arah bicara yang Keysha tempuh.


"Sayang, apa ada yang mengancammu ?" Sandy tidak mengerti apa yang membuat Keysha begitu mencemaskan dirinya. Jika hanya sebuah ancaman, tentu bukan tentang kesehatan lelakinya yang menjadi pusat perhatiannya. Melainkan, hal yang lebih signifikan. Ia masih membiarkan wanita yang masih menyelinap di balik badannya, bersembunyi di bawah teduh nya tubuh Sandy. Tangan laki-laki itu halus membelai lembut ujung kepala Keysha hingga sampai di punggungnya.


"ti tidak Sandy. Aku hanya selalu bermimpi buruk tentang dirimu beberapa hari ke belakang. Kamu selalu dalam kesulitan dan aku kesusahan untuk menolongmu." Keysha masih serius dengan kalimat yang ia ucapkan dengan sungguh-sungguh. Kata demi kata yang mengeras di tenggorokan, mendorong keluar hingga terasa sakit. Jantungnya berdetak hebat, mengetuk dada hingga sulit untuk bernafas dengan baik.


"hahaha ." Sandy justru tertawa lepas mendengar pernyataan istrinya. "Itu hanya mimpi sayang, pikiranmu terlalu lelah, hingga kamu selalu bermimpi buruk seperti itu. " Sandy merapikan kalimatnya, mengatakan dengan pelan hingga mudah untuk di pahami oleh wanitanya.


"Tapi, jika ini sebuah firasat bagaimana San ?" Ia mendongakkan kepala dengan wajah lugunya. Tinggi tubuh yang hanya sebatas dada, membuat ia kesulitan menatap paras Sandy jika pria itu tidak mengalah untuk menunduk.


"tidak akan terjadi. Kamu, Allan, Lena adalah penolong pertama setiap kesulitanku. Kalian adalah malaikat dalam hidupku. Kau paham itu ?" Sandy meregangkan pelukannya. Memastikan wanitanya lebih tenang di sana, mencubit mesra ujung hidung mungil wanita itu.


"Baiklah." Keysha tersipu. Ia memasang senyuman yang paling manis. "Kamu mengantar anak-anak sendiri ?" Tambahnya mengingat pagi yang sudah ia lalui tanpa si kembar. Seakan hari yang belum dimulai. Keysha telah habis-habisan memaki diri, menggerutu karena keteledoran yang ia lakukan. Kantuk yang menyiksa mata karena semalam penuh ia terus berjaga memperhatikan Sandy menjadi pemicu utama ia ketiduran di samping meja kerja Sandy. Bersandar dengan nyaman di pangkuan kursi, lalu perlahan mata mulai terpejam tanpa sadar. Bahkan ia tak menyadari kapan suaminya melangkah keluar kamar. Tidak ada sedikitpun suara yang menyibak telinganya keras atau setidaknya memanggil namanya tegar agar ia terbangun.


"Tadinya aku ingin sekali mengantar berdua bersamamu. Tapi, saat aku berbicara kamu malah sudah pulas dalam tidurmu." Tutur Sandy lembut. Ia sengaja mengatakan hal sebenarnya agar tidak lagi menyulut rasa curiga istrinya. "kau mengatakan pada Rania tentang sekolah kita ?" Pria itu tiba-tiba terlintas bayangan wanita yang sempat jatuh karena ulahnya. Terpental mundur dari poros kaki jenjang nya.


"hem, dia bilang Angel merajuk dan ingin sekali bersahabat dengan Lena . " Keysha menyulut senyum tulus. Matanya berkedip, memohon agar Sandy tidak lagi meributkan perihal itu.


"Baguslah, Lena pasti sangat menyukai itu." Ucap Sandy datar.


"Hmm, untuk apa aku kesal ? Bukankah Rania itu sudah kembali baik seperti yang kau ceritakan ?" Jawabnya perlahan dengan suara yang sengaja di buat sangat lembut.


Sandy sengaja menutup diri, sedikit berbohong akan kecemasan yang mulai memanas. Ia menaruh curiga dengan Rania yang tiba-tiba memindahkan sekolah putrinya, bahkan tentang itupun Ibnu tidak mengatakan padanya. perempuan itu mengukir senyum puas, ia kembali menggapai tubuh kekar Sandy, memeluknya hangat meninggalkan rasa terima kasih di setiap detik dekapan.


"Aku sudah berjanji untuk menjemput anak-anak hari ini, apa kau mau ikut ?"


"Tentu . kamu tahu, sudah lama Allan memimpikan hal demikian."


"Benarkah ? kenapa kau tidak pernah mengatakan padaku ?"


"itu karena Allan menolaknya. Dia tidak ingin mengganggu jam kerjamu. Allan memang anak yang sangat pengertian." Gumam Key , ia bergidik geli saat mengingat sikap anak lelakinya.


Sandy mengerutkan dahi, ia tak habis pikir anaknya memiliki pemikiran yang begitu dewasa. Kebanyakan anak di usia dia masih menuntut maunya, terus menyerukan rasa ingin yang tidak ada henti. Bahkan, jika bisa di katakan egois lebih tepat untuk menggambarkan segala sikap anak seusia dia. Tetapi, Allan adalah anak yang berbeda, dia istimewa, dia tidak sama. Cara dia berpikir sungguh di luar nalar orang dewasa, ia selalu menggertak Lena kala ia merengek tidak tahu alasan, ia bahkan menghardik dengan ketus orang yang tidak menempatkan diri pada hal benar. Ia tidak mengharuskan orang serupa dengannya. Tetapi, instingnya untuk mengutamakan orang-orang yang ia sayangi sungguh luar biasa.


"Anak itu, tidak diragukan lagi seperti apa nanti besarnya." Sandy terkekeh. Ia mengukir senyum puas penuh nada keangkuhan.


Keysha memundurkan langkah, memisah tubuh agar sedikit menjauh dari tubuh kekar Sandy. Ia menatap diri, aneh. tidak biasanya ia membiarkan tubuh bermesraan begitu lama, saling mendekap hangat, mengencangkan pelukan diantara pinggang masing-masing.


"Aku akan mandi, lalu bersiap-siap untuk pergi." Ucapnya ragu-ragu. Ia hanya mencari alasan agar Sandy tidak lagi merangkul pinggangnya untuk tetap tinggal. Berdiam diri, bergelut dengan nafsu yang kian bergerumuh.


Dia suamimu, kapanpun alangkah lebih baik kau turuti saja kemauannya....


"Apa kau sengaja menjauh dariku ? " Tanya Sandy mengentikan ayunan kaki yang baru Keysha ambil beberapa langkah. Ia kini berbalik badan, menghadap tepat di depan dada bidang suaminya yang tidak ia sadari sudah sangat dekat dengan wajahnya. Jantungnya berdetak kencang saat sandy meyentuh pipinya dengan lembut. Mata bulat yang mulai menyipit saat melihatnya dengan dekat. Pria itu merangkul erat pinggangnya, membuat wanita itu berjalan mundur hingga tiba di tepi ranjang. Tidak jelas, apa yang membuatnya terlena, hingga tak kuasa menahan gairah. Dengan cepat ia sudah berada di bawah tubuh lelaki nya. Dengan penekanan di beberapa titik yang membuat Keysha hanya berdiam dalam pasrah karena tidak sanggup melakukan penolakan dengan tenaga lemahnya.


-------


" lo sudah lelah berpura-pura di balik kursi roda yang hanya menyiksa raga lo sendiri ?"


Reno memutari tubuh elok Cherry, wanita yang aura kecantikannya mulai terpancar kembali. Sudah beberapa hari ini ia melepas kursi sialan yang hanya membatasi titik geraknya. Bodoh ! hal yang membuat ia hanya terperangkap dalam kebodohannya sendiri. Bahkan, saat ia tiba-tiba melepas kursi itu dan menemui Sandy di taman karena memperoleh kabar dari Rania , laki-laki itu sedikitpun tidak menyinggung perihal itu.


"gue tidak ada urusan dengan lo Reno." dengan angkuh Cherry hendak beranjak. Ia mencoba melepas diri dari kubangan Reno.


"Tapi lo memancing gue untuk terlibat di setiap urusan lo, Cherry " Reno menyeringai. Ia mencondongkan wajah mendekat ke wajah Cherry, meninggalkan jarak yang hanya beberapa cm di sana. Matanya tajam, terus mengintai setiap gerakan yang tidak ingin ia lepaskan. "Gue peringatkan, hentikan rencana gila lo , jika lo masih ingin hidup lo lebih tenang. Lo tidak bisa main-main dengan Sandy, Cherry !" Reno memperingati. Ia menekan setiap kata dengan pelan-pelan. Membuat wanita itu paham dengan barisan makna dari apa yang sudah terjadi. Tapi, nihil ! semua hanya menjadi omong kosong yang hanya di tertawakan oleh gadis tua itu.