
Keysha berlari menelusuri tangga, naik dengan langkah yang cepat. Membolak-balik bed cover, mengeluarkan seluruh isi tas yang dia gunakan hari ini. Terus mencari hingga menemukan ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Ia meraihnya cepat, lagi dan lagi ia berlari menelusuri anak tangga hingga kembali di ruang tamu.
Nafasnya terengah-engah, bahkan terdengar lebih kasar dan berantakan. Ia menghempas tubuh di atas sofa. Sekejap memejamkan mata untuk mengusir lelah yang mengusik. Tetapi, bayangan buruk Sandy terus menghantui, berputar-putar diatas kepala. Menari riang seolah memanggil untuk segera mencari tahu.
Keysha kembali mengalihkan pandangan ke ponsel di genggaman tangannya. Jarinya lincah bergoyang di sana. Menggeser, naik ,turun hingga terhenti pada kontak dengan nama "kak Sandy" . Ia mengarahkan jari ke tombol berwarna hijau, lalu mengangkat ponsel untuk ia tempelkan di telinga. Dengan kaki yang gusar, bolak-balik, berputar, menggigit-gigit ujung jari. Ah, benar-benar tidak bisa lagi di gambarkan bagaimana perasaan Keysha saat itu.
Bagaimana keadaan Sandy sekarang ? Apa dia hilang kendali, lalu melakukan hal buruk kepada Rania dan Cherry ? tidakkah ada sedikit saja celah, rasa kasihan ...walau hanya sedikit. Sekiranya, yang mengembalikan kesadaran agar tidak semakin larut ke jurang dosa yang besar.
Rasa frustasi yang dalam terpancar dari sorot matanya yang risau, membuat Keysha harus menghembuskan nafas panjang untuk meredakan dadanya yang seolah tertekan banyak beban hingga terasa sesak dan mencekik tenggorokan.
Suara musik terdengar tidak jauh dari posisi duduk Keysha. Terus bergema ketika Keysha menempelkan ponsel di telinga. Rasa penasaran menariknya untuk menelisik sekitar, mengangkat bantalan sofa yang berjajar rapi.
"kak Sandy tidak membawa hp ? Pantas saja tidak di jawab dari tadi. "
Keysha tertunduk semakin lesu, raut sedih tidak bisa lagi dia ceritakan secara tertulis. Rasa yang tersirat kian membebani setiap hembusan nafas. Ia terus menepuk-nepuk bagian layar ponsel, memandangi terus berharap ada keajaiban yang hadir.
"Reno ?" Terlintas nama orang yang terakhir kali bersama Sandy. Nafas panjang kembali di tariknya kuat-kuat. Di hembuskan perlahan seiring doa yang ia panjatkan.
"Tidak ada jawaban juga." Keysha semakin menyerah dengan keadaan. Ia menghempas kasar tubuhnya di atas sofa, menatap atap yang menggambarkan birunya langit. Matanya perlahan terpejam, melatih diri untuk tetap berpikir positif.
drrt drrtt
Ponsel bergetar, sekilas terdengar suara melodi singkat. Tidak butuh waktu lama, Keysha menyambar ponsel dan segera membuka pesan yang masuk.
"Keysha ? Sorry, aku ngga pamit sama kamu. Hari ini, aku pinjam Sandy buat bantuin aku ngelarin masalah kantor. Mungkin sampai besok."
Benarkah ? tidak biasa kak Sandy seperti itu ...
Keysha tidak puas dengan kabar yang Reno sampaikan. Itu bukan sikap Sandy, dia tidak pernah pergi tanpa pamit, sekalipun ada masalah besar di antara mereka. Bahkan, ponsel itu tidak pernah dia tinggalkan begitu saja. Laki-laki itu akan rela membuang waktu untuk berputar balik meskipun jarak sudah jauh hanya demi sebuah ponsel. Tapi tidak dengan hari ini ....
-------
Ponsel di saku celana milik Reno terus bergetar. Menandakan panggilan masuk dari seseorang. Ia hanya merogoh lalu melirik sekilas, tidak ada keberanian untuk dia menarik tombol berwarna hijau yang tertera setelah ia membaca nama Keysha di sana. Ia memilih menunggu, hingga ponsel diam dengan sendiri.
"Sorry Key, aku tahu kamu bertanya-tanya tentang pesan yang aku kirim. Aku belum sanggup untuk berbohong lebih dalam lagi jika kamu terus membanjiri ku dengan ribuan tanda tanya mu." Reno menghela nafas, masih terlalu cemas dengan kondisi Sandy yang belum sadarkan diri. Bahkan dokter dan perawat belum juga ada yang memberi tanda jika Sandy baik-baik saja. Ia terus berdiri dengan segala resah yang mengekang jiwanya, menekan dalam hingga dasar hati, mendorong keras jantung dengan debar yang menakutkan. Langkahnya tak menentu arah, berputar-putar di satu sudut. Sungguh, dia telah lelah dengan kecemasan yang menggila.
Menit beralih, merubah waktu menjadi satu jam berlalu. Reno, masih gusar sendiri dengan langkahnya. Jangankan mengingat untuk menyuapkan makanan untuk minum saja terasa berhenti di tenggorokan. Belum adanya kabar dari dokter mengenai Sandy benar-benar membuat dirinya dirundung pilu.
Matanya terus saja memperhatikan pintu, sudah berpuluh-puluh kali jika di hitung lehernya menoleh ke arah ruangan. Belum juga ada tanda gagang pintu di tarik ke bawah.
cekrekkkk
Dengan cepat, Reno beranjak lagi dari kursi panjang yang menemaninya menunggu. Ia bergegas mengayun langkah menghampiri dokter dan beberapa perawat yang baru keluar.
"Bagaimana dok, Sandy sakit apa ? Apa serius? Lalu, apa harus di rawat inap ?" Baru saja menghela nafas dengan bebas setelah beberapa lama mulutnya di tutup dengan masker, Reno sudah menghujam dengan beberapa pertanyaan. Rentetan, seakan memaksa harus di jawab dengan baik. Tidak mau menerima alasan apapun, mata tajam Reno seolah mengintimidasi dokter tersebut.
"Hentikan pertanyaan konyol mu itu Ren !"
Reno memiringkan kepala, alisnya mengernyit heran dengan Sandy yang sudah berteriak keras melarangnya menyerang dokter dengan rentetan pertanyaan yang menurut laki-laki itu adalah hal konyol.
"Tuan Sandy sudah sadar, silahkan jika anda mau menemuinya." Ucap sang dokter seraya menepuk ringan pada bahu Reno. Ia masih tercengang, mulutnya menganga tidak mengerti.
Reno berjalan beberapa langkah hingga tiba di ambang pintu, menatap Sandy dengan tajam. Dari sinar mata yang mengkilat seakan menduga Sandy hanya sedang mempermainkannya.
Ah tidak, lelaki itu lengkap dengan alat-alat medis di beberapa bagian tubuhnya.
"Apa kamu hanya akan terus berdiri di sana ?" Sandy menggertak dengan suara yang jelas.
Reno menghela nafas lega, lalu masuk dan mendekati tubuh Sandy yang masing terbaring di atas tempat tidur. Dengan beberapa alat medis yang masih menempel ditubuhnya. Reno memperhatikan seluruhnya, dari ujung kepala hingga kaki, tiada sejengkalpun yang terlepas dari kedipan matanya.
"Jangan katakan kamu bernafsu melihat ku berbaring pasrah seperti ini ?" Celetuk Sandy spontan, ia merasa risih bahkan menampakkan sorot mata yang tidak suka dengan tatapan Reno.
"Aku jomblo juga masih normal." Sanggah Reno dengan cepat. Ia membuang muka, mengangkat tangan dan ia letakkan di pinggang. Seakan menantang Sandy dengan gaya gagahnya.
"Menyebalkan, turunkan tangan kamu !" Sandy menarik lengan Reno kasar.
"Kamu yang gila ! sakit sampai segini parah, sekalipun tidak pernah bicara "
"Aku juga tidak pernah tahu sebelumnya "
Reno mengernyit, memfokuskan mata pada bibir Sandy yang bergerak . "Kamu serius ?"
"hmm " Raut wajah tampak itu tampak muram. Menunduk, kecewa dengan ujian yang menimpa.
Jangan sampai dia tahu. Gue yakin gue sehat setelah ini." Di sambarnya kalimat yang belum lengkap terlontar dari balik lidah Reno, ia menoleh ke arahnya, menggambar senyum simpul di raut wajah yang masih tampak pucat. Menggebrak semangat untuk memompa jiwanya, sehingga terlahir lah Sandy yang pantang menyerah, meskipun badai besar sedang menerpa hidupnya.
"Jadi dokter bilang sakit apa ?" Reno serius memandangi. Semakin hanyut dalam mata. Ia seakan tidak ingin melanjutkan perihal Keysha, perempuan yang mungkin belum bisa tenang karena Sandy sendiri belum juga menyapa hingga malam semakin larut.
"Tidak berat. Cuma ada gangguan sedikit pada liver dan ginjal gue."
"Dua organ dalam kamu bermasalah sekaligus, dan kamu bilang itu tidak berat ? kau ...kau benar-benar gila kali ya San." Mata Reno membelalak semakin membulat lebar, entah karena tidak percaya atau justru heran dengan sikap Sandy yang menganggap itu hal sepele. "Terus gimana ceritanya bisa sampai separah itu dan lo tidak tahu sebelumnya ?" Ucap Reno semakin jeli, ia semakin dalam menelisik.
"Sepertinya aku bakal gila beneran kalau kamu terus menekan aku dengan ocehan brutal mu " Sandy mengangkat tubuhnya. Berpegang pada nakas dan menarik sisi ranjang, ia berusaha bangkit . Tidak menerima uluran tangan Reno yang mencoba membantu, Sandy terus bersikeras untuk melakukan seorang diri.
"Ponsel aku dimana ?" Ucapnya datar seraya terus berkeliling, menatap seisi ruangan.
"Sepertinya tertinggal di rumah. Aku tidak bisa berpikir hal lain selain bawa kamu ke sini. "
"Keysha pasti cemas." Ia menggerutu, berkata dengan pelan dan nada sedikit kesal.
"Kamu pikir aku kagak cemas ?"
"Oh ya ? so sweet sekali sahabat ku ini." Mendengar kata itu Sandy seketika menoleh. Mengernyitkan mata, lalu tersenyum paksa.
"Sini ponsel kamu."
Oh sialan ! Reno memaki, namun lebih sial lagi dia hanya berani mengucapkan itu dalam hati. Bukan perihal ponsel yang cepat beralih tangan. Melainkan rasa cemas yang baru saja mengikis harus terganti dengan hentakan kuat karena kaget dengan dorongan tangan Sandy.
"Kamu tidak menghubungi Keysha ? Ia menyelidik, menggeser layar ponsel dengan arogan. Memeriksa bagian pesan dan log panggilan. "Reno ? kenapa kamu tidak angkat telepon dari Keysha" Sandy berdecak kesal, ia menatap Reno dengan sangat arogan. Mungkin saja kalau tidak terikat dengan beberapa alat medis ia sudah menerjang tubuh Reno yang hanya berdiri kaku di samping ranjang. Matanya tajam mengintai, menyiapkan siasat untuk menghabisi mangsa yang terjebak di depan mata.
"Aku sudah mengirim pesan untuknya. Lagian San, aku harus katakan apa padanya jika dia memaksa untuk berbicara dengan kamu, meminta buat aku kirimkan lokasi kita padanya. Kamu pasti lebih paham sikap istri kamu di bandingkan aku. " Reno menjelaskan dengan panjang lebar. Berbicara dengan nada jelas dan pelan, dengan maksud agar Sandy paham pemikirannya.
Sepertinya, harapan Reno di ijabah oleh Tuhan. Sandy mengangguk-angguk ringan, mulai paham dengan apa yang di sampaikan Reno. Kini, ia kembali fokus pada layar ponsel, lebih tepatnya terus mencari bukti dari apa yang Reno katakan. Jarinya menari indah di sana, sesekali berhenti bergantian dengan mata yang jeli mengamati. Reno masih setia berdiri tegak di samping ranjang, dengan tangan yang di selipkan di saku celana, ikut menatap layar memastikan jika Sandy tidak sedang bertindak di luar akal dengan ponsel miliknya
Secara Sandy selalu berbicara dengan nada ledekan jika berhubungan dengan wanita.
"Ayolah angkat." Sandy mulai tidak sabar ketika telepon sudah terhubung. Ia mengangkat ponsel menempelkan di telinga. Berharap jika istrinya masih terjaga karena hari memang sudah malam.
"Assalamualaikum. Kenapa Ren ?" Perempuan di sebrang telepon mulai berbicara. Bersuara pelan dengan nada berbisik.
"Wa'alaikum salam sayang. ini aku. "
"Allah, sayang kamu kemana aja sih. Ngga biasanya pergi tanpa pamit. Ponsel juga di tinggal gitu saja. Kamu tidak macem-macem kan sama Rania ? "
Baru juga menjawab salam. Keysha sudah aktif menyerang dengan rangkaian kata panjangnya. Tanda tanya yang mengusik hatinya . Suaranya kembali normal, tidak lagi terdengar lirih atau berbisik. Sepertinya dia sudah melangkah keluar, atau justru masuk ruangan. Ada suara pintu terbuka di sela ocehan yang terdengar brutal.
"hahaha, aduh istriku ini bawel sekali . Padahal baru hilang sebentar." Sandy terkekeh geli mendengar rangkaian kalimat Keysha. Ia menekan perutnya dalam menahan rasa sakit yang hadir ketika ada pergerakan yang berlebih. "gue baik-baik saja sayang. Gue juga tidak menemui Rania hari ini. Ada hal besar yang perlu gue urus bersama Reno, maaf ya sayang jika gue menginap beberapa waktu."
"Jadi tidak cuma sehari ?" Ia memekik, seakan-akan menolak dengan pernyataan Sandy.
"Doakan saja, semoga aku bisa lebih cepat menyelesaikan ini." Ucap Sandy menunduk. Ada rasa bersalah yang mendera hati, menusuk-nusuk pelan melukai diri sendiri. Tidak biasa ia melakukan kebohongan kepada wanitanya. Bisa jadi ini adalah kali pertama, atau justru awal mula dari kebohongan-kebohongan yang akan dia lakukan setelahnya. Banyak hal yang harus dia lakukan setelahnya, demi kesehatan, demi kesembuhan, demi masa depan yang lebih baik untuk dia dan keluarganya.
Semua demi kebaikan kamu, demi Allan dan Lena. ...
Reno menatap nanar pada diri sahabatnya, begitu pula dengan Sandy, ia paham hal apa yang berada di benak Reno tanpa pria itu mengungkapkan. Tanda tanya besar yang mendesak di dalam tenggorokan, seakan bersiap untuk menyembur dari dalam mulut.
"Ini akan lebih baik untuk mereka, terutama perasaan Keysha. Aku takut ini akan menjadi beban untuknya jika dia mengetahui." Lirihnya seraya melempar senyum.
Tiada kata yang bisa menggambarkan segala pikiran-pikiran yang menyibak otak. Logikanya terus berputar mencoba mencerna kejadian demi kejadian yang terus menekan kehidupannya. Tiada hal yang bisa dilakukan selain berharap dalam doa dan usaha. Melapangkan dada, menerima segala dengan suka rela mungkin akan jauh bisa mendatangkan rasa tenang untuk jiwanya. Yang utama, yang perlu di lakukan adalah percaya, yakin jika Tuhan menyiapkan hal besar setelah ujian yang menimpa. Tak luput dengan usaha besar, mencoba bangkit dari rasa takut merupakan kunci terbesar setelah itu.
"Ok Ok....Kita lupakan yang buruk. kamu mau makan sesuatu ? " Reno memecah keheningan. Membuka obrolan dengan sumbangan senyum manis yang ia miliki. "Apa lo mau apa ?"
Sandy menyipitkan mata, menatap Reno dengan rasa heran. Pria yang senang beradu argumentasi dengannya, bisa seketika melunak seakan berlutut di depan Sandy.
"Jangan samakan aku dengan Allan dan Lena. Kamu pikir dengan seperti itu aku bisa lupa dengan semua yang menerpa hidup ku ?"
"Jangan salah asumsi, menurut kebanyakan orang, hati yang riang adalah obat yang paling ampuh untuk segala penyakit . Bisa dikatakan 70% obat yang ampuh adalah diri kita sendiri ." Reno berbicara dengan sangat serius. Tangannya ikut menari, sesuai kata yang keluar dari dalam mulut. Menerangkan dengan jelas, seperti seorang dokter yang memang ahli dengan bidangnya. Sandy terus mengamati, mencoba mendengar dan memahami arah bicara Reno. Menelaah satu persatu kata yang singgah di gendang telinga. Tidak banyak komentar atau penolakan yang berarti, ia justru tertawa geli setelah sanggup mencerna segala yang Reno sampaikan. Ia terkekeh, layaknya penonton yang sedang menikmati pertunjukan lenong.
"heh, aku serius !" Reno mendengus kesal, tak terima dengan tawa Sandy yang bernada meledek.
"Siap pak dokter, aku akan selalu senang jika Tuhan selalu izinkan waktu ku habis bersama Keysha."
"Hmm, baguslah nak ...." Ucap Reno bernada angkuh.