I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Berkumpul



Mentari memang sudah menyingsing. Pagi telah beranjak, berlayar tanpa jejak menggapai siang. Reno menggeliat, melepas penat dalam tidur nyenyak yang baru saja bisa ia rasakan.


Kenyamanan yang dokter Alexa berikan mengalir kuat di dalam tubuh Reno. Hatinya sedang menapaki hari dengan riang. Jadi wajah saja jika ia mulai lupa dengan urusan yang merumitkan otaknya .


Dengan mata yang masih sulit untuk di buka, Reno mengangkat tubuh. Duduk bersandar pada tepi ranjang, memaki ponsel yang sejak tadi berdering mengganggu tidurnya.


"Ya, halo ?" jawab Reno dengan suara parau. Ia begitu malas membuka mulut untuk mengeluarkan suara.


Suara kencang menyambar, sebuah luapan protes membuat Reno membulatkan mata sempurna. Kantuk yang menggelayuti matanya lenyap seketika. Reno segera beranjak menoleh pada jam yang sudah hancur di samping ranjang.


"Iya maaf pak, sepuluh menit lagi saya pasti ada di tempat. " ucap Reno dengan cepat. Ia melempar ponsel asal setelah sambungan telepon itu di sudahi secara sepihak oleh seseorang yang berada di ujung telepon.


"Tuhan, bagaimana aku bisa tidur sampai segini siangnya, " Keluh Reno di sela-sela langkahnya. Sibuk memaki diri karena terlalu damai berada di atas ranjang. Apalagi suara alarm yang membangunkan nya atas perintah darinya pula, ia tepis begitu saja. Hancur sudah tidak berbentuk di sudut kamar.


Sudah tiga kali Reno bolak-balik keluar masuk kamar. Meraih beberapa benda yang ia perlukan yang tergeletak di atas meja. Dengan waktu yang ia janjikan, sudah jelas Reno tidak sempat untuk mengguyur tubuhnya dengan air. Hanya wajah, dan menggosok gigi sebentar yang berusaha ia sempatkan. Semprotan minyak wangi, yang tidak terhitung berapa kali ia semprot kan di tubuhnya.


"Huff..." Reno menghela nafas pelan ketika lift mulai meluncur ke lantai dasar. Untunglah, Reno memilih tempat tinggal yang menyatu dengan tempat kerjanya, jadi tidak perlu membuang waktu banyak untuk menuju kantornya.


Tepat sepuluh menit, Reno melangkah keluar dari lift. Memperhatikan sekitar, melihat satu per satu orang. Is sedang mencari keberadaan seseorang yang mempunyai janji dengannya.


"Pak tunggu..." panggil Reno lantang. Ia melangkah cepat menuju seseorang yang sudah berada di ambang pintu utama. Berwajah masam dan berniat untuk pergi.


"Maaf saya terlambat. Ada hal lain yang harus saya kerjakan, " seru Reno dengan nada lembut.


"Tapi bohong. " Gumamnya dalam hati.


Reno mengulurkan tangannya. Menjabat jemari pria yang tak kunjung bersuara di hadapannya. "Jika tidak karena uang dan bisnis, malas sekali aku berurusan dengan orang yang membosankan seperti ini. " Pekik Reno dalam hati. Dengan kalimat rayuan yang memabukkan Reno berhasil merayu pria tua itu. Membawanya masuk ke dalam ruang kerjanya. Di sana, mereka membicarakan sebuah bisnis yang mereka bicarakan sebelumnya. Sebuah sistem kerja sama yang pasti sangat memberikan nilai lebih untuk perusahaan Reno.


Tidak berselang lama, mereka sama-sama menanda tangani kontrak kerja. Sebuah perjanjian yang mengikat kedua belah pihak.


"Terima kasih pak, senang sekali bekerja sama dengan anda. " Reno menjabat tangannya. Mereka sama-sama tersenyum, mengukir harapan indah untuk sebuah proyek baru yang akan mereka kerjakan setelah ini.


"Saya juga. " jawabnya lugas.


Reno menghela nafasnya lega sesaat setelah pria itu berpamitan. Melangkah keluar ruangan dengan wajah yang lebih berseri-seri.


"Alexa..." Sejak pagi Reno memang belum membayangkan wajah ayu nan anggun milik dokter Alexa. Ia terlalu sibuk mengurus diri karena di paksa cepat turun oleh client yang sudah sangat lama menunggunya di bawah.


"Sebenarnya apa sih status hubungan ku dengannya ? " Reno tersenyum sendiri membayangkan sebuah kisah yang ia jalani tanpa status.


"Mungkin, ini sudah saatnya." gumamnya dalam hati.


Reno merogoh ponsel dari kantongnya, mengotak-atik untuk menghubungi seseorang. Ia berbicara dengan jelas, memberikan instruksi khusus untuk memberikan arahan. Sebuah persiapan untuk melewati detik bahagia yang sudah jelas terbayang di angannya.


"San, kamu dimana ?" tanya Reno kepada Sandy ketika pria itu mengangkat telepon darinya dengan cepat.


"Di rumah. Kenapa ?" sayup-sayup suara Sandy menyahuti.


"Ok, aku ke sana sekarang . " Reno memutus sambungan telepon secara sepihak.


Alunan musik memenuhi mobil, nyanyian kecil dari balik bibir Reno bersahutan dengan suara penyanyi yang terdengar riang. Jalanan yang padat tidak lagi membuat Reno risau. Ia tetap menikmati perjalanan dengan siulan kecil yang menghias bibir.


Reno memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Berlalu dengan cepat dan sudah tidak sabar menghampiri Sandy di dalam. Ada cuplikan kisah yang perlu ia sampaikan, sebuah kenangan yang bercampur dengan harapan yang telah membaur begitu lekat.


Ting...tung.....( Reno menekan tombol bel )


"Reno ? "Sapa Keysha spontan. Ia heran melihat sahabatnya ia sedang tersenyum lebar tanpa alasan.


"Sandy mana Key ?" tanya Reno tidak sabaran. Seperti kala luka datang, bergerumuh memaksa pintu hati untuk segera terbuka. Masuk, menusuk pada bagian yang mereka inginkan bersama. Seperti itulah Reno saat ini. Melainkan, bukan kisah buruk yang sedang ia bawa untuk di rangkai. Tapi indahnya cinta yang menyerap masuk ke dalam jiwa. Reno mulai mengenal kenyataan jika kasih itu tidak perih. Cinta tidak harus merana. Hanya saja, butuh suatu usaha untuk mencapai di titik kepuasan bersama. Jangankan ketika melintas, sudah tegak berada di puncaknya pun bisa sewaktu-waktu jatuh jika tidak saling berpegangan dengan erat. Semua memang harus di lawan, jangan diam saja jika ingin bertahan.


"Dia sudah pergi..." seru Keysha dengan begitu serius.


"Gila ! Sejak kapan ? " ucap Reno.


"Belum lama, mungkin sepuluh menit yang lalu..." jawab Keysha masih yakin.


"Tega banget, gak tau apa jalanan macet. "


Keysha tertawa lepas, tidak tahan dengan wajah sedih yang Reno tampakkan. Rupanya, pria itu punya kecewa juga, bahkan bisa tampak sedih dan seketika semangatnya yang menggebu hilang dan menciut.


"Masuk Reno, kak Sandy di dalam lagi sama anak-anak." ucap Keysha masih dengan bibir yang senyum-senyum kegirangan. Merasa puas bisa memainkan Reno seperti itu.


Keysha mempersilakan Reno masuk. Ia menepi, memberi jalan pangeran yang sedang di mabuk cinta untuk melangkah lebih dulu. Ia segera menutup pintu kembali setelah Reno telah melintas dan berjalan masuk dengan damai. Huff, Benar-benar menganggap rumah ini miliknya sendiri.


"Om Reno..." sorak Allan dan Lena kegirangan. Mereka secara kompak berlarian menghampiri Reno. Mendekap pria dewasa yang sudah sangat akrab dengannya sejak bayi. Reno tahu betul bagaimana menyenangkan hati anak kecil. Sangat paham kesenangan dua bocah yang sudah ia anggap anak nya sendiri.


"Duh kangen deh om sama kalian. " Reno duduk berjongkok untuk menyeimbangkan diri dengan dua anak yang sedang tertawa-tawa kecil itu.


"Lena juga..." Lena memeluknya. Seperti seorang anak yang telah lama tidak berjumpa dengan papa kandungnya sendiri.


"Allan juga kangen om.." Begitu pula dengan si ganteng Allan.


Kemarin memang Reno datang ketika mendengar kabar jika Keysha pingsan, tapi mereka tidak bertemu . Allan dan Lena hanya di izinkan berada di lantai atas untuk sementara waktu. Hingga tidak mengetahui kedatangan Reno yang mendadak.


"Audrey juga kangen om, boleh ndak peyuk ?" Celetuk Audrey yang sejak tadi memperhatikan mereka. Gadis yang sibuk dengan beberapa menu di meja makan itu tampak cengengesan ketika mendapati wajah Reno yang mendadak serius.


"Kamu di sini, Cil ? sejak kapan ?" Tanya Reno kepada Audrey. Ia berdiri, dan menggendong Lena yang masih ingin bermanja dengannya.


"Sejak kakak lihat saja sih, " seru Audrey asal. Ia kembali terkekeh sendiri dengan kata-kata yang ia ucapkan sendiri. Ah dasar gadis tengil ini, memang selera humornya sangat rendah.


"Om...Tante..." Reno menyapa Chandra dan Meera yang juga menikmati makan siang. Mulanya mereka hanya senyum-senyum saja menyaksikan tingkah kedua cucunya dan Audrey yang asal ceplos kepada Reno.


"Tumben lagi pada kumpul..." Seru Reno seraya tertawa ringan.


"Iya..mau dengar kamu cerita.." Goda Meera begitu Reno menatapnya. Mereka sudah mendengar sedikit cerita dari Keysha. Sekilas, tahulah apa tujuan Reno datang menemui Sandy.


"Tante bisa saja...." Reno tersipu malu. Ia menggaruk-garuk tengkuk lehernya yang sejatinya sama sekali tidak gatal.


"Jadi gimana Ren ? Sudah deal nih ?" Chandra turut membuka suara. Membuat Reno semakin salah tingkah.


"Deal apanya om ? " Reno menurunkan Lena dari pangkuannya. Gadis kecil itu terus berlari menghampiri Allan dan asyik bermain lagi di depan tv.


"Deal itunya loh...itu..." Seru Chandra yang langsung di sambut tawa oleh Audrey dan Meera.


"Bunda kemana ? Kok tidak kelihatan ?" Tanya Reno sengaja mengalihkan topik pembicaraan. Ia serius menatap sekeliling, mencari-cari keberadaan Yeni yang tidak menampakkan diri semenjak tadi.


"Bunda lagi mandi Ren..." Jawab Meera.


"Oh.." Reno membulatkan bibirnya.