I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Gadis Kecil



"Sayang, sebenarnya apa yang membuatmu keluar tiba-tiba tadi ? Aku sangat tahu siapa kamu, aku juga paham bagaimana wajahmu jika kamu sedang tidak jujur." Sandy melontarkan kalimat yang sedari tadi berkecamuk di hati. Antara yakin dan tidak, ia hanya takut menyinggung perasaan istrinya. Sengaja berkata dengan nada santai untuk menunjukkan jika dirinya tidak sedang menekan dan memaksa wanitanya untuk terbuka.


"Aku melihat Dokter Alexa kak, dia lama memperhatikan kita tadi. Tapi wajahnya sedih dan lari begitu saja." Seru Keysha dengan jujur. Ia mulai membuka cerita karena memang tidak tahan untuk tidak berbagi kisah dengan suaminya. Keysha hanya berjanji untuk tidak membicarakan pertemuan mereka tadi kepada Reno. Entah, apa yang membuatnya sangat terpukul dan tidak ingin melibatkan Reno lagi dalam hidupnya. Cemburu ? Tapi siapa yang perlu di cemburui ? Atau Reno ingkar dengan janji yang mereka buat ? Ah, tidak mungkin. Reno sangat tahu bagaimana menyenangkan hati perempuan. Ia mantan playboy, tentunya sangat hafal dengan hal-hal sepele seperti itu.


"Lalu ? Apa kau bertanya padanya kenapa dia sedih ?" Sandy masih bersikap tenang. Ia mengimbangi jalan cerita yang Keysha ucapkan. Berharap bisa menjadi penengah, dan lebih berguna untuk membantu permasalahan hidup orang lain. Sandy merasa berhutang budi dan nyawa kepada Dokter Alexa. Karenanya, semangatnya dan kesabarannya dalam merawat Sandy bisa kembali sehat seperti saat sekarang.


Keysha mengangguk pilu, "Tapi, Dokter Alexa tidak mengatakannya. Dia bilang, matanya kemasukan debu. Tapi, dia memintaku agar tidak bilang ke Reno mengenai itu." Keysha menggeser posisi duduknya. Ia sedikit serong untuk lebih jelas menyampaikan rasa terhadap suaminya.


"Perempuan memang suka aneh." Ucap Sandy lirih. Ia tidak menoleh dan tetap fokus dengan kemudi. Tidak mengerti jika istrinya sedang menatapnya dengan tajam. pandangan yang mengiris dada, menepis kata aneh yang tidak beralasan dengan jelas.


"Apa maksud kak Sandy ? " Keysha cemberut. Ia menghentakkan tubuh pada sandaran kursi dengan keras.


Sandy menggaruk-garuk tengkuk lehernya, dan memikirkan alasan yang masuk akal.


"Eng...enggak, maksud kakak tu...."


"Apa ? Keysha juga perempuan...."


"Ya, bukan seperti itu...."


"Lalu ? "


"Jangan salah paham sayang, tapi coba kamu pikir apa yang membuatnya sedih tanpa alasan, apa tidak aneh ?" Ucap Sandy memberi penjelasan. Ia sudah kehabisan cara untuk berpikir, memainkan kata mencari cara untuk mengamankan diri.


"Ya...Ya mungkin Dokter Alexa punya alasan yang tidak kita ketahui." Keysha bersikeras, ia tidak mau mengalah dan mengakui jika memang Dokter Alexa merajuk tanpa sebab.


Sandy bungkam, sudah tidak ada lagi pembelaan yang terdengar. Ia kembali fokus dengan kemudi, melihat pada jalanan yang mulai sepi karena waktu sudah cukup malam.


"Apa semua perempuan tidak bisa di salahkan ?" Gumam Sandy kesal sendiri. Ia bercengkrama, dan mengeluh dalam hati. Memecahkan clue kehidupan yang tidak juga menemukan titik terang dalam proses pendewasaan. Berdebat hanya akan menyudutkan dirinya, mendorong untuk lebih cepat mengaku salah, walau tidak bertindak.


"Mungkin takdirnya demikian, kenapa harus sedih jika tidak ada alasan. Kenapa menangis di tempat umum kalau tidak mau bercerita ? Apa tidak aneh ?" Gumamnya lagi. Sandy hanya berani menerka dalam hati. Tidak berani berteriak keras menyuarakan kata hati yang tersudutkan.


Perjalanan cukup jauh, tiga puluh menit sudah berlalu. Mobil perlahan mulai memasuki halaman rumah, menderu pelan dan memarkirkan pada tempat yang telah di sediakan.


Keysha segera turun dan di ikuti oleh Sandy. Keadaan rumah sudah cukup sepi, tiada aktivitas yang terlihat mata. Semua sudah kembali ke dalam kamar masing-masing, termasuk dengan para pelayan yang di pekerjakan di sana. Mereka berdua menelusuri anak tangga dan bergegas masuk ke dalam kamar pribadinya. Membersihkan diri dan berganti pakaian.


Sudah menjadi rutinitas wajib Keysha untuk menemui Allan dan Lena selepas kerja. Walaupun mereka Sudah pasti sedang larut dalam tidur, tapi ada gairah yang tidak tersampaikan jika ia tidak menemui kedua anak kembarnya.


Sejenak, ia hanya akan membelai rambut keduanya, lalu meninggalkan sekilas kecupan hangat di dahi masing-masing. Ia tidak lupa membisikkan ucapan maaf karena pulang larut dan tidak mempedulikan keduanya. Keysha memang ibu yang baik, perempuan yang tidak pernah meremehkan orang-orang yang membantunya. Dengan lembut, ia selalu menoleh kepada kedua pengasuhnya untuk mengucap rasa terima kasih dan permohonan maaf. Entahlah, mereka mendengar itu atau tidak. Yang jelas, karena sudah terbiasa hati Keysha selalu tidak tenang jika tidak melakukan hal serupa.


Keysha menutup pintu dengan sangat pelan, sehingga tidak menimbulkan suara sedikitpun. ia tidak ingin mengganggu anak-anaknya yang sedang beristirahat dan juga kedua pengasuhnya yang tampak letih menjaga Allan dan Lena. Ia bergegas kembali ke kamar, menutup pintu tanpa menguncinya.


"Sudah pada tidur kan ?" Seru Sandy ingin tahu.


"Sudah..." Keysha mengangguk cepat. Ia telah duduk di depan cermin dan menyisir rambutnya yang tergerai panjang. Rambut hitam yang tidak membosankan, tertata halus walau tidak di tampakkan ketika ke luar. Keysha tidak pernah malas merawatnya karena baginya, kecantikan yang ia miliki ketika tidak berhijab hanya suaminya yang berhak tahu. Karena itu, ia tidak rela jika rambutnya terlihat kucel dan berminyak. Atau sangat berantakan karena tidak dirawat.


"Kak, aku besok harus pergi pagi-pagi. Aku akan menemui Rania sebentar." Keysha berbalik badan. Ia ingat jika di butiknya sedang membutuhkan tambahan karyawan untuk desainer baru.


"Untuk apa ? " Sandy menutup bukunya, ia meletakkan di nakas sebelah ranjangnya .


"Aku sangat butuh desainer untuk waktu sekarang. Ku pikir Rania sangat cocok dengan kriteria yang ku cari, dia pandai sekali dalam urusan menggambar dan menjahit." Seru Keysha dengan riang. Ia beranjak dari bangku dan beralih duduk di tepi ranjang.


"Tidurlah ! Ini sudah sangat malam...." Sandy mendekap pinggang ramping Keysha. Mengendus-endus seperti kucing yang menyambut kedatangan majikannya.


Keysha terkekeh geli, dan berusaha mendorong tubuh Sandy agar tidak melanjutkan tingkah usilnya. Dengan lembut, Keysha merebahkan diri, menarik bad cover besar untuk menutupi sebagian tubuhnya. Sandy berguling, dan mendesakkan tubuhnya di samping Keysha. Mereka berdua mulai larut dalam alam bawah sadar. Berlayar dengan mimpi indahnya masing-masing. Melukis sebuah harapan indah bersama sukacita yang mewarnai. Lantunan jarum jam mengiringi setiap detik waktu mereka. Saling berpegangan dan rasa tidak ingin melepaskan. Keysha sangat menikmati setiap kehangatan yang menyapa raganya. Menepis rasa takut yang tersirat pada keheningan malam. Sandy tampak berwibawa dengan postur yang setia melindungi. Tidak peduli mata yang terpejam, tapi jiwanya tetap berjaga untuk wanitanya.


----------


Waktu yang menyapa sudah menunjukkan pukul tiga pagi, malam mulai meredup dengan kegelapan nya. Mereka sudah bersiap untuk kembali karena hari telah berganti. Namun, Reno tetap tertegun di balkon apartemennya. Merenung dan bertegur sapa dengan semilir angin yang menghembus tiada henti.


"Ah, sial ! Persetan dengan semuanya !" Reno meremas kuat rambutnya. Ia berteriak keras, memecahkan heningnya pagi dari atas awan. Bagusnya, belum ada yang berlalu-lalang di bawah sana. Tapi tetap tidak menutup kemungkinan, dengan orang-orang sekitar yang mendengar suaranya.


"Apa maunya, hei ! Apa yang ku pikirkan ? Tuhan, apa sebenarnya yang sedang kau rahasiakan dari kehidupanku ?" Reno berbisik pada angin yang berhembus mesra. Menyapa tengkuk lehernya, hingga membuat bulu kuduknya merinding sempurna. Ia masih saja bersikeras dan berusaha memecahkan teka-teki yang bukan bidangnya. Menerka, berprasangka, bahkan tiada iktikad untuk bertanya pada sumbernya.


ting tong ( Bel rumah berbunyi)


"Sial !" Reno memukul udara dengan kesal. Ia berlalu, masuk ke dalam kamarnya untuk menyambut seseorang yang telah mengganggu kesalnya. Mengusik gelisah, untuk memberitahukan kenyataan yang nyata.


"Selamat pagi kak Reno ?" Audrey sudah berdiri di depan pintu dengan senyuman yang menawan. Menyambut pagi Reno dengan keceriaan. Tawa sumringah yang tanpa sebab, sanggup meluluhkan hati Reno yang sempat mengeras.


Reno masih memasang wajah flat di sana, tidak terpengaruh dengan senyum lebar yang tidak padam dari bibir Audrey. Reno melenggang masuk tanpa mempersilahkan gadis kecil itu. Ia tidak peduli, bagaimana ia akan menanggapinya.


"Untuk apa kau pagi-pagi sudah ada di sini ?" Reno menarik kursi, lalu berjalan menuju dapur kecilnya. Meracik dua cangkir kopi dengan aroma capuccino. Semua serba instan, hitungan detik kopi capuccino panas itu sudah tersaji di atas meja.


"Minum !" Seru Reno ketus, seakan sengaja meluapkan rasa kesal untuk menguji kesabaran gadis di depannya itu.


"Matahari baru bangun, itu muka sudah kecut banget." Ledek Audrey dengan senyum jahil. Ia meraih secangkir kopi yang tak kunjung Reno dekatkan di hadapannya.


Jika menanggapi, pasti akan menyulut amarah yang tak bertepi. Gadis polos yang tidak mengerti gerangan apa yang membuat Reno muram, tidak berhak menerima imbas dari emosi yang tak bisa di luapkan. Reno bungkam, dan menatap Audrey dengan lekat. Gadis cantik yang selalu merengek meminta pembelaan, hari ini sudah tumbuh besar dan menginjak usia dewasa. Parasnya, semakin memancarkan aura yang menggairahkan.


"Kenapa kak Reno melihatku seperti itu ? Jangan katakan kakak jatuh cinta padaku ?" Audrey terbuai dengan mata yang tidak melepas raganya. Ia tidak merasakan canggung yang berlebih, justru dengan sengaja ia mendorong wajah menyisakan satu jengkal di depan hidung mancung Reno.


"Cih ! Siapa yang mengajarimu percaya diri seperti itu ?" Reno terkekeh geli. Ia membuang muka, seraya menyapu bibir bawahnya . Tangannya beralih, tidak lagi ia gunakan untuk menopang kepala. Reno duduk bersandar, masih bebas dengan suara tawa yang menggema.


"Lalu apa yang membuat kakak menatap ku seperti macam yang siap memangsa musuhnya ?" Tanya Audrey menyelidiki. Ia mengikuti cara Reno duduk. Bersandar pada kursi yang menopang tubuhnya.


"Untuk apa kau sepagi ini sudah ada di sini ? Aku baru saja mau tidur." Ucap Reno santai. Ia sudah menyulut rokok dan menyesapnya dalam-dalam. Meniup secara sengaja, menimbulkan asap yang melayang memenuhi ruangan.


"Kak Reno. Kakak berjanji akan mengantar ku survey lokasi. Bukankah kakak sendiri yang mengatakannya kemarin ?" Gadis itu mengumpat dalam kesal. Ia menekan beberapa kalimat terakhirnya untuk mengulik ingatan Reno. Tidak mungkin pria yang belum menikah di usia tua itu pelupa separah itu.


Reno tersenyum simpul, ia mengacak-acak rambut pirang milik Audrey dengan gemas,


"Ku kira itu hanya rengekan yang biasa kau lakukan seperti dulu." Senyum Reno menyungging bebas di kedua sudut bibir.


"Audrey sudah besar, Audrey juga sudah sukses di luar sana. Apa kak Reno lupa itu ?" Audrey memasang wajah dengan cemberut. Ia merajuk dan berhenti memperhatikan ekspresi Reno. Semakin jengah dan menampakkan sikap manja yang sudah lama tidak ia ekspresikan. Di luar negeri, ia terbiasa hidup seorang diri. Semua memaksanya menjadi pribadi yang mandiri dan mampu berdiri di atas kaki sendiri.


Reno tertawa lepas, ia semakin gemas melihat tingkah konyol gadis yang sudah di anggap sebagai adiknya.


"Kenapa kakak senang sekali tertawa tiba-tiba ? Aneh !"


"Apa kau lelah dengan pribadi yang mandiri, hei ? Kenapa kau sangat manja sekali."


"Biarkan saja. Aku sudah lama tidak merepotkan orang lain. Apa salahnya sekarang aku balas dendam."


Reno kembali di buat tertawa oleh Audrey, ia mencubit hidung gadis itu dengan lembut.


"Ayo kita pergi !"


"Sekarang ?"


"Besok ! Untuk apa kau datang sepagi ini jika tidak pergi sekarang ?"


"Sebentar, aku mau minum ini dulu. "


"Kenapa kau sangat senang merepotkan ? Ayo." Reno menarik pergelangan tangan Audrey. Ia membawa gadis itu tanpa mendengar celotehan yang memberatkan telinga. Tidak ingin berlama-lama berdiam di apartemen yang akan membawa bayangan tentang perempuan yang sedang merajuk padanya.