I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Membuka Rasa



Hari demi hari telah berlalu, melerai waktu dari masa ke masa. Memisahkan beberapa raga yang tidak bisa saling bertegur sapa. Mungkin, sebuah permainan yang sengaja Tuhan berikan. Sebuah ujian penguji ketabahan, jalan yang memberikan bahan renungan.


Reno melewatkan harinya tanpa penggerak semangat yang menyenangkan. Belum ia temui jiwa yang menenangkan seperti kala bersanding dengan Dokter Alexa. Jika tidak malu dengan alam yang senantiasa memperhatikan tanpa mata yang terbuka, ia tentu saja sudah meronta. Menangisi detik yang ia lewati dengan sebuah kesalahan yang membuatnya menjauh dari dambaan hati.


"Kamu kenapa Ren ?" Keysha tidak terbiasa melihat raut yang menyedihkan seperti yang sedang Reno perlihatkan sore itu.


"Kenapa ? Apanya yang kenapa?" Reno mengernyit, berpura-pura baik-baik saja lalu menanggapi pertanyaan Keysha dengan tawa yang terdengar memaksa.


"Kalau putus cinta sih tidak mungkin ya, dia kan belum punya pacar. Tapi, kalau patah hati karena cintanya yang di tolak itu bisa saja." Sandy sudah cengengesan di ambang pintu kamar mandi. Remang-remang ia mendengar istrinya menanyakan perihal pilu yang mendera sahabatnya. Datang dengan wajah masam, dan terus bungkam di sudut ruang bukanlah suatu hal yang biasa untuk makhluk yang bergelar nama Reno.


Reno menoleh, lalu menatap Sandy dengan tatapan arogan. Pandangan yang mengintimidasi tanpa pesan yang tertinggal. Mungkin, jika suasana hatinya mendukung, ia akan membalas ledekan itu dengan timpukan barang yang di lempar dengan keras..Mengenai atau tidak adalah bagian terakhir, yang terpenting seberapa puas ia bisa meluapkan kesal yang mengurung hatinya, mengusik dengan dorongan keras membuatnya sesak. Ya, Sandy Atma Hutama, pria dingin yang bisa sangat humoris bahkan jahil ketika bersanding dengan Reno. Menguras hati dengan sengatan rasa kesal dan jengkel. Menyajikan lawakan-lawakan ringan yang lebih terkesan garing.


"Kamu beneran baik-baik saja Ren ?" Keysha tidak mengalihkan perhatiannya pada Reno. Dengan jeli dan sangat teliti Keysha berusaha mengulik, menyibakkan lembar demi lembar tulisan yang rapi berjajar di balik wajah pilunya.


"nggak tahulah Key. " Reno kembali merunduk, ia memainkan jemarinya dengan bimbang.


Keysha menghela nafas dengan tenang, berusaha mencari kata yang mungkin bisa membuat Reno lebih terbuka. Perempuan itu menoleh, menatap pada Sandy yang masih asyik dengan dirinya sendiri.


"Sebentar..." Keysha beranjak dari sandaran sofa, menghampiri Sandy lalu membisikkan kalimat yang membuat pria itu tercengang sekilas. Keysha mengangguk-angguk lirih, mengisyaratkan jika ia benar-benar serius dengan apa yang ia katakan.


Sandy mengayun langkahnya menuju kursi yang memanjakan Reno. Bersandar di sudut ruang dengan mata yang tertutup rapat. Mungkin benar, pria itu benar-benar sedang rapuh dan membutuhkan penopang. Sandy bukan lelaki jahat yang hanya hadir ketika butuh, bukan ? Ia duduk menepi, di bangku yang lebih berjarak dengan Reno. Menghadap luar, menatap alam dengan pemandangan yang menyenangkan.


"Minum dulu Ren !" Keysha meletakkan tiga cangkir coklat hangat, dan satu kotak cookies yang ia buat di waktu kosongnya.


"Coklat ?" Reno mengangkat salah satu alisnya, merasa heran dengan sajian yang tidak biasa Keysha suguhkan untuknya. Keysha bukanlah orang baru atau asing yang mengenal pribadi Reno. Ia tahu betul jika pria itu sangat menggilai berbagai macam kopi. Ia kurang tertarik dengan minuman-minuman lain yang tidak ada ada bau-bau kopinya.


"Kata bunda, kandungan serotonin, dan anti-depresan yang ada pada coklat dapat meningkatkan mood seseorang." Keysha meraih coklat miliknya, lalu menyesapnya hingga beberapa kali tegukan.


"Heh, mitos !" Reno memicingkan bibir, menepis pernyataan yang tersembur dari balik bibir Keysha.


"Yee, coba dulu ! Itu sudah ada penelitiannya tahu !" Keysha bukan perempuan yang bodoh. Setidaknya, nilainya semasa sekolah cukup tinggi, jadi ia tidak terlalu dungu ketika harus berdebat dengan orang-orang yang lebih berpengalaman dengannya.


"Gak percaya !" Reno membuang pandangan. Mengikuti Sandy yang masih bungkam di sudut ruang. Otaknya kembali menerka, dengan bayang-bayang wanita yang memilih menjauh dari raga dan jiwanya. Tidak ada lagi senyum tulus yang tergambar, sebuah tegur sapa yang mengguncangkan rasa.


"Coba dulu, lalu cerita sama kita apa yang membuatmu terlihat menyedekahkan seperti ini ? Ngeselin ngerti gak ? Pasti besok di koran ada berita baru dengan tema, Seorang Reno, mantan Playboy terkeren pada jamannya, mendadak melow bahkan pendiam karena permasalahan yang tidak ingin ia ceritakan terhadap orang lain termasuk sahabat-sahabatnya, kan gak lucu Ren ?" Keysha menerka, menghibur dengan caranya yang unik. Reno terkekeh geli, bukan mengenai kata-kata yang Keysha lontarkan dengan panjang, melainkan ekspresi wajah yang menggemaskan cukup menjadi penghibur untuknya.


"Untung ya kamu itu istri sahabat ku !" Reno memicingkan bibir, ia melirik Sandy yang mendadak beringas menatapnya. Sudah beberapa kali Reno menggosok-gosok hidung karena tidak bisa menahan tawa yang lekat terlontar dari bibirnya.


Keysha hanya nyengir keki, ada lega yang menyenangkan melihat Reno bisa memperlihatkan tawanya lagi. Entah sadar atau tidak, tapi pria itu sudah menyapa secangkir coklat yang hangat yang Keysha berikan. Menyesapnya beberapa kali, lalu ia memejamkan mata. Mungkin, ia sedang menikmati rasa hangat yang menjalar menenangkan dada.


"Key, kamu tahu kenapa Alexa dua minggu ini menjauhiku ?" Reno meletakkan kembali cangkir di atas meja.


Keysha tercengang, tawanya lenyap seketika mendengar jerit hati sahabatnya. Ia tidak berpikir panjang, jika Reno memang telah jatuh hati pada Dokter Alexa. Perempuan cantik, yang beberapa bulan terakhir masuk dalam daftar orang-orang terdekatnya.


"Kamu jatuh cinta padanya ?" Sandy turun dari kursinya. Ia melangkah, lalu menyentuh bahu Reno dengan ragu. Keysha hanya memperhatikan itu, ia belum menjawab walau hanya sekedar mengiyakan atau kata yang mewakilkan jika ia tidak mengetahui mengenai hal seperti itu.


"Aku sendiri tidak tahu, apa sebenarnya yang sedang aku rasakan." Reno tersenyum miris, lalu kembali menunduk dengan wajah pilu.


"Yang jelas, aku tidak pernah merasakan rasa yang gila seperti ini. Aku nyaman saat dengannya, yang ada ingin terus-menerus tersenyum melihatnya." Reno menegakkan tubuhnya. Lalu mengangkat kepala, untuk menatap langit-langit. Ah tidak ! Ia justru memejamkan matanya, merasakan sebuah rasa yang mendorong dada hingga membuatnya terasa sakit.


"Kamu sering gonta-ganti pacar men, masak tidak tahu kalau kamu sudah jatuh cinta ?" Reno membungkuk mengimbangi wajah Reno.


"Mungkin, Dokter Alexa merasakan hal yang sama dengan mu Ren," Keysha angkat bicara. Ia menyimpulkan dengan sebuah kata yang cukup mengejutkan, membuat kedua pria itu kompak menatap Keysha dengan penuh tanda tanya.


"Hal yang sama ?" Jawab Reno dan Sandy kompak.


Keysha menghela nafas pelan, ia tampak sedang mempersiapkan diri untuk memberi penjelasan. "Dokter Alexa mencintai mu, tapi ada hal yang kamu lakukan hingga membuatnya kecewa."


"Tapi aku tidak melakukan apapun ? Kenapa dia harus kecewa ?" Reno mengelak, ia tidak merasa salah selama dekat dengan Dokter Alexa.


"Kamu tahu lah men, perempuan mana ada yang mau ngalah ? Apalagi salah." Sandy berbisik, berharap istrinya tidak mendengar ucapan yang lebih menekan dengan suara hati.


Keysha hanya tersenyum geli, lalu menggeleng lirih, "Memangnya aku seperti itu ?"


"Ah, tidak ! Tidak kok sayang...." Jawab Sandy dengan cepat. Ia kembali melangkah mundur, dan mendudukkan diri di kursi yang sedari tadi menopangnya.


"Kalau tidak kuat dengan sifat nya bilang saja San, mumpung aku belum ke lain hati !" Seru Reno dengan nada serius. Tentu saja, kalimat itu memancing Sandy berontak dan kembali menghampiri pria itu. Ia berusaha melayangkan pukulan karena terganggu dengan celetukan Reno yang tanpa pikir panjang.


"Santai saja sih." Reno menata jasnya, ia kembali duduk karena Keysha menengahi mereka. Ah, sudah menjadi hal yang biasa, canda-canda ringan berujung perkelahian yang menyebalkan. Dan Keysha, sangat memahami itu.


"Kamu juga ! Mancing terus hobinya !" Gertak Keysha dengan nada kesal. Ia mendengus lalu menarik kursi dan berada di tengah-tengah antara Sandy dan Reno.


"Bercanda Key..." Reno terkekeh geli, begitu pula dengan Sandy. Mereka memang kompak dalam urusan jahil dan membuat Keysha tegang. Menganggap perkelahian yang terjadi adalah suatu hal yang nyata. Nyatanya, rasa trauma yang di sebabkan putusnya hubungan persahabatannya dengan Rania dulu, membuat ia dewasa dengan pola pikir yang cukup dangkal. Ia tidak mudah menangkap canda yang bersikap serius. Ia tidak bisa melihat debat, yang tidak berdasar pada hal yang penting. Ya, tentu saja. Faktanya, persahabatannya kala itu sempat terjeda hanya karena kesalahpahaman yang merajai.


"Apa kamu pernah jalan dengan perempuan lain akhir-akhir ini ?" Keysha kembali fokus. mengintrogasi Reno dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi.


"Mana mungkin. Dia jomblo akut akhir-akhir ini " Lagi-lagi, Sandy menimpalinya dengan sebuah lelucon. Terkekeh dengan jawaban yang terlontar dari bibirnya sendiri. Bahkan, jiwa humor yang cukup rendah, membuatnya tertawa sendiri dengan kalimat yang ia katakan.


"Kamu tahu lah Key, paling juga sama si bungsu Audrey,." Reno mengangkat tangannya, ia mengusap bibir bawahnya memikirkan tingkah yang tidak ia sadari telah mengecewakan. Namun, ada yang lebih menarik dari percakapan itu, sebuah pernyataan yang Keysha kemukakan, sebuah dugaan rasa yang tidak ia pikirkan sebelumnya. Reno tersenyum kecil mengingatnya, berbangga dengan dirinya. Merasa melambung jika apa yang Keysha katakan adalah suatu kebenaran.


"Kamu kenapa senyum-senyum Ren ?" Keysha mengeja katanya, semakin tidak mengerti dengan tingkah Reno yang tidak terarah. Sebentar bersedih, sebentar tersenyum tanpa akibat yang terlibat.


"Aku tidak pernah berpikir jika Alexa memang jatuh cinta sama aku," Reno masih berbangga dengan senyumnya. Membesarkan diri dengan ungkapan yang belum terbukti.


"Itukan baru dugaan Keysha, itu juga belum tentu benar." Sandy memprotesnya, ia menyesap coklat hangat yang tinggal setengah cangkirnya saja.


"Setidaknya Keysha sudah mengakui itu."


"Baiklah, terserah apa katamu." Sandy beranjak, ia memilih bergabung dengan Allan dan Lena yang asyik bermain di ruang keluarga bersama Yeni dan pengasuhnya.


"Besok kamu datang ke butik. Dokter Alexa ada janji untuk fitting baju di butik." Keysha tersenyum, ia menyesap habis coklat yang tidak terlepas dari genggaman tangannya sedari tadi.


"Fitting baju ?"


"Jangan mikir yang aneh-aneh dulu ! Sepupunya mau menikah, dia berencana memakai gaun yang senada dengan ibunya. "


"Baiklah. " Reno membalas senyuman Keysha. "Terima kasih Key, kamu benar-benar perempuan yang sangat baik."


"Jangan begitu, bukankah kita sebagai manusia harus saling membantu ? Kamu juga sangat baik terhadap ku. Kamu juga pernah membantu ku sewaktu Sandy sakit."