
"Sekuat apapun mama membujukku, aku tidak akan terlena dan luluh begitu saja ma. Maaf, pun jika yang mama katakan adalah benar, semoga itu menjadi teguran untuk diri mama sendiri." Keysha menutup kalimatnya. Dia berharap Lita bisa menerima dan memikirkan semua yang Keysha ucapkan. Bukan dia ingin membalas segala kejahatan yang pernah dia alami, hanya dia memang perlu berlaku sekeras itu untuk membuat seseorang yang termasuk orang yang di sayang sadar. Ya, semoga saja Shinta bisa menjaga dirinya baik-baik jika penculikan itu memang terjadi.
"Keysha tolong mama...." Ucap Lita parau, kedua pipinya sudah basah dengan air mata yang mengalir bebas. Entah, bagaimana lagi caranya untuk membujuk Keysha yang sudah menutup rapat pintu kepercayaan yang berulang kali di tipu.
Keysha tertegun di ambang pintu ketika mendengar Lita memohon padanya, bertahun-tahun, baru kali ini ia mendengar perempuan itu begitu memohon dengan cara yang lembut kepadanya. Jika saja tubuhnya tidak sedang lemas dan terikat oleh jarum infus, mungkin sekarang Lita sudah bersujud memohon agar Keysha menolongnya. Ya, hanya Keysha yang bisa.
"Key...." Ucap Lita lirih, wajahnya memelas dan terus menatap Keysha dengan permohonan yang dalam.
Tiada lagi suara yang terdengar, Keysha membalas tatapan itu tanpa ekspresi. Ia berlalu meninggalkan ruang perawatan Lita tanpa permisi.
"Apa kau tidak mau mendengarkan suamimu ini ?" Sandy yang duduk terdiam di bangku tunggu, menyodorkan sebuah pertanyaan tanpa menengok ke arah Keysha. Ia benar-benar menolak dan sangat tidak setuju jika Keysha bersikeras untuk menolong dua perempuan yang selalu menyulitkan hidupnya itu. Masalah yang kemarin sempat mereka susun, belum seutuhnya selesai bagi Sandy. Laki-laki itu masih berniat untuk mengusut dan menjerat mereka dengan hukum yang setimpal. Itupun jika Keysha berkenan, karena walau bagaimanapun Shinta adalah adik sebapak dengan Keysha.
"Sejak kapan aku berani membantah mu sayang ?" Sahut Keysha lembut. Ia turut duduk dan meraih bahu suaminya. "Aku tidak akan menolong mereka, jika kakak tidak mengizinkan."
"Jika mereka tahu diri, mungkin aku bisa memberimu izin untuk tetap berbaik hati." Seru Sandy datar.
Sementara itu, Lita terus bergelut dengan rasa sesal yang menghujam dalam jantungnya. Ia terus menangis tanpa henti, terngiang jelas di benaknya tentang senyuman manis yang selalu Shinta tunjukkan. Mata bulat, bisa di katakan sangatlah mirip dengan Keysha. Tidak akan ada yang membantah hubungan darah dua wanita itu jika mereka duduk bersanding. Tentu karena tingkat kemiripan mereka melebih lima puluh persen.
Lita memejamkan mata, betapa jelas tergambarkan semua kejahatan yang pernah ia lakukan kepada anak tirinya. Luka diri, bahkan luka batin yang Keysha alami akan mampu membuat hatinya senang. Ia puas, ketika melihat anak tirinya menderita. Kejam ! Mungkin kata itulah yang sangat tepat untuk mewakili semua tingkah lakunya.
"Maafkan mama Keysha...." Lita tersedu seorang diri. Tiada manusia yang akan menolongnya, tiada lagi raga yang bisa mendengar segala keluh kesahnya, tentang kerapuhan yang benar-benar mendera hidupnya, tentang pilu yang tidak bisa di ungkapkan dengan sepatah kata. Ah, dia seakan merasakan seluruh kepahitan yang pernah Keysha alami.
"Tuhan, apa Engkau sedang menghukum ku ?" Ucap Lita dengan lirih di tengah isak tangis yang tidak bisa lagi di bendung.
.
.
*Flashback*
.
.
Shinta wanita yang cantik. Dia tidak terima jika berpakaian sederhana apalagi jika hanya itu-itu saja. Dia akan berulah jika Lita tidak menuruti apa yang di minta.
"Sayang, dari mana mama punya uang sebesar itu. Coba kamu lihat, itu sangat mahal sekali." Lita menoleh ke sekeliling, ia memperhatikan sekitar karena takut jika banyak orang yang memperhatikan. Tentu akan sangat malu jika orang-orang mengetahui kenyataan hidupnya yang sebenarnya.
Shinta terus mengayun kakinya di tepi jalan, ia tidak peduli mamanya yang terus saja membujuk agar Shinta tidak lagi merajuk. Kata-kata maut terus saja Lita ucapkan untuk merayu putri semata wayangnya.
Mereka tidak sadar, jika sejak mereka singgah di butik mewah tadi, ada seseorang yang mengawasi keduanya. Orang asing, mereka belum mengenal sebelumnya. Saat di perjalanan, laki-laki itu datang menghadang. Dia tidak bersenjata api, atau berusaha membegal. Karena ya percuma ! Apa yang akan di minta olehnya. Jika bukan pakaian yang meleka, tidak ada perhiasan yang menunjukkan jika Lita dan Shinta adalah orang kaya, jadi ya tentu laki-laki itu punya tujuan lain.
"Aku dengar, kau sangat menginginkan gaun di butik itu ya ?" Tidak perlu basa-basi, pria itu langsung mengatakan apa yang membuatnya tertarik untuk menegur sapa Shinta.
"Terus, apa urusannya dengan om ? Apa jika aku mengatakan iya om mau membelikan untukku ? Aneh sekali, kenal juga tidak sudah sok akrab." Jawab Shinta dengan angkuh. Ia melanjutkan langkahnya, mengayun kaki tanpa tahu kemana ia akan pergi.
"Mama juga ! Kenapa mama masih di sini. Pikirkan apa yang bisa mama lakukan untuk membelikan ku gaun itu." Keysha menoleh ke arah Lita. Hingga membuat Lita terkejut atas sentakan kata yang tidak pernah Shinta lakukan di depan orang lain sebelumnya.
"Apa yang akan mama lakukan Shin ? Mama ..."
"Kerja lah ma. Atau tidak, mama minta saja sama kak Keysha." Shinta memotong kalimat Lita begitu saja. Hah, pendidikan yang salah. Ia lupa bagaimana cara menghormati orang yang lebih tua, apalagi seorang ibu yang melahirkannya dan merawat nya hingga tumbuh menjadi perempuan cantik seperti saat ini. Ia lupa, jika Lita memberikan semua termasuk apapun yang menjadi hak Keysha hanya untuknya. Bukan, bukan lupa ! Bodohnya, perempuan itu tidak tahu bagaimana caranya.
"Aku bisa membelikannya untukmu, untuk apa kau marah-marah kepada mamamu, manis ?" Pria itu berbicara tanpa di tanya.
"Kau ? Membeli gaun itu untukku ?" Shinta mengernyitkan dahi, ia menatap pria itu dari ujung kepala sampai kaki. Penampilannya memang tidak meragukan, tapi siapa dia ? Kenapa bisa tiba-tiba datang dan menawarkan diri untuk membeli barang yang tidak terlalu penting begitu saja. Apa dia sekaya itu ? Apa dia sampai bingung bagaimana caranya menghabiskan uang ? Ah, ini gila. Shinta terus saja bertanya dalam hatinya.
"Apa kau yakin dengan apa yang kau katakan ? Kita tidak saling mengenal, kenapa kau menawarkan diri untuk membeli gaun itu untukku ?" Tanya Shinta masih ragu. Ah, tidak ragu, gadis itu hanya bingung atas perlakuan pria misterius itu.
"Haha... Baiklah, perkenalkan aku Davino. Panggil saja Vino" Ucapnya lantang, ia tertawa seraya mengulur tangan.
"Shinta..." Jawab Shinta menyambut uluran tangan itu.
"Ya aku tahu..." Vino menautkan kedua alisnya.
Shinta hanya membulatkan matanya, ia masih belum mengerti akan kehadiran pria itu. Baginya, semua sangat tiba-tiba dan terjadi begitu saja.