I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Sesal dan Kecewa



"Semua sudah terlambat. " Dokter Alexa kini telah beranjak. Ia menghela nafas panjang sebelum melangkah lebih cepat meninggalkan orang-orang yang masih setia menatapnya seraya saling berbisik dengan orang-orang di sampingnya. Dokter Alexa sudah menduga, akan banyak berita buruk yang menyebut namanya. Akan banyak pula wanita yang menggilai Reno, menggunakan momentum itu untuk menertawakannya. Ia tetap fokus melangkah keluar, semakin menjauh dari kerumunan orang. Sementara, tak peduli dengan sang mama dan adiknya yang saling memeluk dengan berderai air mata. Ia acuh dengan suara-suara yang menggema menyebut-nyebut namanya.


"Alexa...." Reno berusaha mengejarnya. Menembus kegelapan demi sebuah penjelasan.


Mereka berlarian, saling mengejar di bawah rintik hujan yang mengiringi. Seakan, alam pun mengerti, seperti apa reaksi yang patut terjadi dengan kondisi hati dokter Alexa. Cuaca mendung tiba-tiba. Menurunkan hujan, menghilangkan cantiknya sinar rembulan dan gemerlap bintang.


"Alexa, apa kau akan membenciku setelah ini ?" Reno menggapai lengan dokter Alexa. Menggengamnya erat-erat agar perempuan itu tak lagi berlari dan menghindar dari permasalahan yang tak terduga akan hadir di malam pernikahannya. "Lex, apa kau tidak bisa menerima masa laluku ?" Reno berlutut. Seolah-olah pasrah dengan keputusan akhir yang akan Dokter Alexa ucapkan.


"Reno, aku tidak pernah ingin melihat masa lalu mu. Aku menerima mu dari segala sisi.." Dokter Alexa sudah deras meneteskan air mata. Seirama dengan derasnya hujan yang mengguyur tubuh mereka berdua. "Tapi, apa kau menyadari jika semua yang kamu lakukan ada sebuah kesalahan ? Kau melakukan itu, tepat pada saat kita sudah saling dekat Reno, kenapa kau tega mengukir luka di tengah-tengah warna-warni tawa yang kau coretkan dalam diriku ?"


Reno hanya terus merunduk dengan tangan yang masih saling bertautan dengan pergelangan tangan dokter Alexa. Wajahnya merunduk pilu, meresapi setiap masalah yang menimpanya. Otak dan logikanya berputar-putar. Memaki diri, menghardik dan terus menyalahkan atas kebodohan satu malam. Ia tahu, jika Shinta tak hanya tidur dengannya, tapi dengan bukti yang ada, sudah jelas jika setiap mata yang menyorot akan menyudutkan dirinya.


"Apa masih ada yang ingin kau sampaikan ? " Dengan kekuatan yang ia punya, dokter Alexa menoleh dengan perlahan. Ia menatap ujung kepala Reno yang tak berani menatapnya. Pria itu, masih berlutut dan terus menangis. "Jika tidak, biarkan aku pergi Reno. Semua sudah terjadi, dan terus menyesal bukanlah langkah yang tepat. Terima kasih untuk semua kebaikan mu Reno, anggap saja kita tidak pernah saling mengenal setelah ini, anggap saja kegagalan dalam pernikahan ini hanyalah sebuah mimpi buruk dalam tidur kita."


Mendengar ucapan itu, hati Reno seperti tersambar petir. Nada ringan dengan pilihan kata yang berat sungguh membuat penyesalan Reno semakin mendalam. Genggaman tangan itu mulai ia lepaskan, perlahan, dan sampai benar-benar tak saling bersentuhan.


Dokter Alexa meninggalkan tatapan dalam yang bercampur luka. Kini, ia memilih kembali berlari dan menjauh dari Reno. Beriringan dengan riuhnya hujan yang mengguyur. Reno masih membisu. Menangis di tempat dan menggenggam tanah kuat-kuat. Urat-urat nya menegang, ia mendongak sesaat setelah dokter Alexa menghilang dari pandangan matanya.


"Alexaaaa.........." Hanya sebuah nama yang ia sebut. Hanya sepenggal nama yang telah dalam menorehkan cinta, lalu dalam pula meninggalkan luka. Hanya itu, iya itu. Reno berteriak keras sekuat yang ia bisa. Menyebut seseorang yang mungkin saja pergi bersama luka yang tak akan mampu di obati. Ya, benar ! Reno adalah laki-laki bodoh yang dengan mudah terjerumus dalam godaan pesona wanita penghibur, dan berakhir dengan sebuah petaka yang menghancurkan segala mimpi indah yang perlahan ia bangun.


Dengan langkah lambat, kaki merayap yang seperti tak lagi memiliki tenaga untuk melangkah, Reno kembali ke dalam taman. Semua tamu sudah pulang, meninggalkan keluarga dan sahabat-sahabatnya. Reno menatap mereka semua dengan tatapan sedih. Tak mengerti, harus bagaimana lagi membuat mereka tetap beranggapan baik tentangnya.


Tidak ada yang berani buka suara dan banyak bertanya pada Reno. Terdengar langkah kaki yang bercampur genangan air melangkah, dan berhenti tepat di hadapan Reno.


Plakkkk


Lagi dan lagi, sebuah tamparan mendarat di pipi Reno. Kali ini, lebih keras dan terasa sampai ke relung hati. Dengan wajah sembab, dan air mata yang menghiasi, Febi menatap Reno dengan tajam. Sorot mata arogan, ia siap meluapkan segala rasa kesal dan amarah yang terbungkus cepat dalam hitungan menit.


"Reno siap untuk tante siksa, semua memang berawal dari kesalahan dan kebodohan ku." Reno membiarkan perempuan itu menghajar nya. Ia tetap diam, tanpa menyentuh pipi yang telah memerah, dan ujung bibir yang sedikit mengeluarkan darah.


"Jangan pernah lagi datang di kehidupan anak-anak ku, " Febi menekankan setiap katanya. Matanya melotot dalam kepada Reno. Semua jelas melihat kobaran amarahnya, Febi menghentak kaki dan menarik tangan Naura lalu meninggalkan pesta begitu saja. Membiarkan tubuh basah kuyup, menuju tempat ia memarkirkan mobilnya.


"Tante..." Panggil Keysha, sebelum mereka benar-benar menjauh dari tempat itu. "Tante, hujannya masih sangat deras. Tunggu reda dulu ya tan, berteduh dulu di sana. " Keysha menunjuk pada pelaminan. Sebuah tempat yang di harapkan akan menjadi awal dari kebahagiaan yang akan Dokter Alexa dan Reno bangun.


"Tidak nak, terima kasih..." Febi menyentuh bahu Keysha, lalu meninggalkan mereka dengan langkah kesal. Meskipun Keysha tidak terlibat, terlihat jelas jika Febi turut kesal dengan Keysha, selaku sahabat Reno. Tidak tampak lagi senyuman hangat yang biasa Febi perlihatkan.


"Kamu mikir gak sih Ren? hah ?" Suara Sandy menggugurkan lamunan Keysha. Pukulan tepat menimpa pipi Reno, Sandy layangkan dengan luapan rasa kesal yang tak terkendali.


"Kak sandy !" Dengan cepat, Keysha menarik tubuh Sandy untuk menahannya agar tak lagi berlaku kasar dengan sahabatnya.


Reno hanya pasrah. Ia jatuh tersungkur tanpa perlawanan. Hanya suara sesenggukan tangis yang menyapa telinga. Tidak ada pembelaan yang Reno lontarkan. Sama sekali, pria itu sepertinya telah rela jika ajalnya harus berakhir menyedihkan. Di tangan orang-orang yang ia sayangi, membawa penyesalan dalam yang semakin detik semakin dalam menghakimi.


Sandy masih berusaha menyerang Reno, tapi Keysha tak membiarkan begitu saja. Menahan tubuh kekar suaminya dengan tenaga yang ia miliki.


"P e n g e c u t ! Kenapa kau menyembunyikan semuanya Reno !" seru Sandy dengan lantang.


Sebelum suasana semakin memanas, Keysha dan Chandra menyeret tubuh Sandy. Membawanya pergi dan menuju mobil. Mereka mendorong Sandy dengan keras, dan menghimpitnya agar tak lagi berontak dan berusaha menghajar Reno.


Mobil telah melaju, Audrey duduk di hadapan kemudi dan terus fokus menerjang gelapnya malam yang berkabut. Hujan memang mulai reda, tapi malam yang lagi tampang terang dengan aneka sinar yang tersenyum menjadi saksi kebahagiaan.


Sementara itu, Reno masih mematung. Berdiri tanpa bahu sandaran yang menguatkan. Semua memojokkan dirinya, memaki dengan ragam rangkaian kalimat yang menyengat hati. Ia memang telah mengaku dengan segala salahnya. Semua khilaf yang telah terlanjur ia lakukan. Kegilaan dalam satu malam yang melenyapkan segalanya. Menenggelamkan rangkaian mimpi yang telah susah ia rancang. Musnah sudah segala harapan, tiada lagi sedikit celah yang membuatnya bisa kembali dengan dokter Alexa. Tidak ada lagi harapan kuat yang akan kembali mempersatukan mereka.


"Tuhan, kenapa Kau tidak ambil saja nyawaku ?'


Reno menjerit keras. Meluapkan emosi yang membendung di aliran nadi. Siapa yang akan mendengarnya ? Semua telah menyuarakan kebencian atas tuduhan yang Shinta tampilkan. Bangga sekali perempuan itu, jika sampai Reno pasrah lalu menerima ancaman yang ia berikan. Takluk, lalu menikahinya secara diam-diam. Hah, konyol . Reno memang telah menjamahnya, tapi Reno bukanlah pria bodoh yang mudah di peralat. Layaknya Danu, ya almarhum papa Keysha. Entahlah, kelicikan Lita hingga detik ini tak kunjung terbongkar.


"Reno, untuk apa kau menangisi semua ? Kau dan aku memang selayaknya menikah, lalu sama-sama bahagia dengan hadirnya malaikat kecil di antara kita. " Entah kemana tadi perginya Shinta. Perempuan itu tiba-tiba kembali setelah semua orang telah tiada. Ia datang, dan memutari tubuh Reno. Menyentuh bahu laki-laki itu, lalu berbicara dengan nada menggoda.


"Ku pastikan kau akan membayar segalanya, kau tidak layak hidup tenang. Kau harus mati dengan perlahan, dan lebih menyedihkan dariku, " Reno mencengkram leher Shinta. Berbicara dengan berbisik dan ancaman menakutkan yang membuat Shinta berkeringat seketika.


Reno mendorong perempuan itu, hingga tubuhnya beringsut mundur hampir terjatuh. Hentakan langkah Reno, terdengar jelas dan penuh ancaman. Ia telah menjauh, menghilang dari pandangan Shinta. Remang-remang, pria itu telah masuk ke dalam mobilnya, bergegas meninggalkan indahnya taman dengan membawa seluruh kekecewaan yang bertahta di seluruh jiwa dan raganya.


*****


Semalam suntuk, dokter Alexa hanya terus menangis. Ia mengurung diri di dalam kamar, tak peduli dengan suara Naura dan Febi yang berusaha membujuknya untuk keluar kamar dan sedikit mengisi makanan untuk perutnya. Ya, sudah sejak kemarin, sejak malam kejadian itu dokter Alexa tak mau makan. Meskipun hanya sesuap nasi, meskipun hanya seteguk air putih. Ia benar-benar menyiksa diri karena kesedihan yang melanda hati. Air matanya terus saja mengalir tanpa henti. Mengiringi isak tangis yang tak mudah terkendali.


"Nak, tolong buka pintunya sayang, " Febi mulai sesenggukan. Ia menangis, meratapi nasib anaknya yang berulang kali di permainkan oleh seorang laki-laki. Usianya yang belum terlalu dewasa, harus melewati dua kali kegagalan dalam rencana indah dalam sebuah hubungan.


"Kak, buka pintunya kak. Kasihan mama, " rengek kecil Naura turut menyahuti untuk membujuk dokter Alexa.


"Ma, Lexa mau sendiri... tolong tinggalkan Lexa, " jawab Alexa dengan suara parau.


Febi dan Naura menuruni anak tangga dengan payah. Sesekali mereka saling berpandangan, lalu saling berpelukan. Sungguh, miris membayangkan nasib buruk yang sedang menimpa dokter Alexa. Sikap baiknya, sikap ramah nya, sikapnya yang peduli dan suka menolong, tak berbanding dengan balasan dari orang-orang yang ia terima. Tak sedikit yang memaki usahanya ketika ia masih bekerja di Rumah Sakit. Tak sedikit yang menghakimi pula. Dan sekarang, banyak orang yang sedang tertawa bahagia melihatnya. Banyak juga yang menari di atas kegagalan yang menghasut masa depannya.


tok...tok....tok....( Suara pintu utama rumah dokter Alexa di ketuk)


"Biar Naura saja ma..." Naura beranjak dari duduknya. Ia berjalan menghampiri pintu, membukanya dan menyambut tamu dengan ramah.


"Assalamualaikum Naura..." Sapa Keysha yang sedang tersenyum tulus begitu pintu terbuka. Ia tak hanya seorang diri, ada Audrey dan juga Rania yang tampak berdiri di sampingnya.


"Wa'alaikum salam, kak...Keysha...." jawab Keysha.


"Siapa nak ?" Sahut Febi dari dalam rumah. Langkah kakinya terdengar mulai melangkah mendekati mereka.


"I..i...ini ma...." jawab Naura gelagapan. Ia mulai bingung, takut jika sang mama marah dengan kehadiran Keysha, yang tak lain adalah sahabat dekat Reno.


"Kalian ?" seru Febi, tak menyambut baik kedatangan ketiga perempuan itu.


"Wa'alaikum salam.."


Keysha berusaha tetap ramah, bagaimana pun sambutan yang Febi berikan. Baginya, hal wajar jika respon dari orang tua dokter Alexa seperti itu. Orang tua mana yang tetap baik-baik saja melihat kekacauan yang terjadi dalam diri putrinya. Hanya orang-orang bodoh yang tertawa atas penderitaan sang anak.


Mereka telah melangkah masuk. Duduk saling berhadapan di sofa ruang tamu. Febi masih membisu, tak banyak hal yang ia kemukakan di depan Keysha dan yang lainnya. Suasana hening, hanya bahasa tubuh yang terlihat saling melempar kode.


"Tante, maaf jika kedatangan kami mengganggu waktu tante, tapi Keysha mohon, tolong izinkan kami untuk bertemu Alexa, " Keysha meraih jemari Febi. Mencoba meluluhkan hati wanita itu dengan kelembutan yang ia miliki. Bahasanya lembut, nadanya penuh kasih.


Febi kembali menangis pilu, ia merunduk menyembunyikan air mata yang mulai membanjiri pipi. Matanya masih sembab, belum juga tampak ukiran senyum manis yang biasa ia hiaskan di wajah cantiknya.


"Kak Lexa gak keluar kamar kak sejak kemarin, " sahut Naura memberi penjelasan.


"Hah ? Alexa tidak makan ?" tanya Rania.


Naura menggeleng pelan, " sama sekali kak."


"Boleh gak kita ke kamar kak Lexa ?" tanya Audrey.


Naura dan Febi saling berpandangan. "Antar mereka ke kamar kakakmu ya nak, " Seru Febi.


Naura berjalan lebih awal, di ikuti Keysha, Audrey dan Rania dari belakang. Tidak ada lagi suara canda yang bersahutan di antara mereka. Semua hanya membisu, saling berbisik dengan hati dan kalbu masing-masing.


Naura menunjuk sebuah ruang yang tertutup rapat. Ia mundur dua langkah untuk memberikan ruang kepada ketika perempuan yang mengaku sebagai sahabat dokter Alexa tersebut.


tok...tok...tok....


Keysha mengetuk pintu dengan lembut.


"Alexa masih mau sendiri ma..." sahut dokter Alexa dengan suara berat. Masih sangat jelas suara isak tangis perempuan itu. Suaranya tertahan dan pelan, sangat sulit tersalurkan dengan jelas.


"Lex, ini aku. Buka pintunya ya..." sahut Keysha.


Tidak lagi ada sahutan dari dalam. Namun, selang beberapa detik, suara kunci pintu mulai terdengar. Perlahan, dokter Alexa menarik gagang pintu dan membiarkan pintu terbuka sedikit.


Naura tercengang, ia terlihat sekali senang melihat reaksi dokter Alexa yang begitu mudah terbujuk oleh suara lembut Keysha.


"Kak, tolong kasih ini untuk kak Lexa ya..." Naura berbisik pelan seraya menyerahkan nasi dan susu yang ia bawa dengan nampan sebelum Keysha melangkah masuk.


"Assalamualaikum Lex...."


"Wa'alaikum salam... "


Keysha tercengang memperhatikan dokter Alexa. Perempuan itu sama sekali belum membersihkan diri semenjak kemarin. Gaun pengantin yang diam-diam ia jahit, masih melekat di tubuh rampingnya. Rambutnya yang kemarin tertata cantik, kini sudah berantakan tak karuan. Make up natural yang sempurna membuat semua mata menatapnya iri, kini terkesan menakutkan karena terus-menerus terkena air mata.


Keysha meletakkan nampan di atas nakas di samping ranjang dokter Alexa. Ia mendekati perempuan itu dengan perlahan, duduk berdampingan di tepi ranjang lebar dengan nuansa ungu sesuai warna yang sangat ia favoritkan.


Tidak banyak bicara, mereka langsung berpelukan dan mulai menangis iba. Keempatnya sungguh kompak, saling merangkul turut merasakan kepiluan yang melanda sahabat baru mereka. Perempuan cerdas yang sangat berjasa bagi masa depan Keysha.


"Kak Lexa, aku janji, aku akan beri perhitungan untuk kak Reno...." Sungut Audrey.


Keysha menginjak kaki adik iparnya itu, agar tidak membawa-bawa nama laki-laki itu di tengah perbincangan mereka. Audrey hanya meringis menahan sakit.


"Kamu mau gak, kalau seharian ini kita temani kamu ? Kalau perlu, kita nginep ramai-ramai di sini ?" Keysha tersenyum hangat menatap dokter Alexa. Sungguh, tidak ada yang mengalahkan wajah teduhnya. Melihat garis halus yang selalu tulus menyayangi itu, cukup meluluhkan hati siapapun yang menatapnya tanpa dendam.


"Kamarku sangat sempit Key, apa kamu yakin mau tinggal di sini malam ini ?" seru dokter Alexa. Ia berusaha tertawa dengan celetukan Keysha yang menawarkan diri menjadi pelipur lara.


"Tidak masalah kak. Apartemen Audrey waktu kuliah dulu lebih kecil dari ini. Nyatanya, Audrey betah dan nyaman tinggal sampai lima tahun di sana , " Celetuk Audrey yang menarik tawa Rania dan Dokter Alexa. Keysha hanya tersenyum, adik iparnya ini memang sangat polos.


"Kamu makan ya ?" Keysha meraih nampan, menyodorkan kepada dokter Alexa dengan sopan.


"Aku tidak lapar Key, " jawab dokter Alexa. Ia beringsut, menghindari makanan itu.


"Sedikit saja Lex. " paksa Keysha.


Lagi, lagi, dokter Alexa menggeleng pelan.


"Ada kalanya kita belajar dari hujan, meskipun banyak yang tidak menyukai, ia tetap jatuh ke bumi untuk memberikan penghidupan pada makhluk Allah. Meskipun banyak yang mengeluh karenanya, ia tetap rela datang walau tak pernah di anggap ada. " Keysha beranjak. Ia kini melempar pandangan jauh ke luar jendela.


"Hujan ada musimnya, jarang sekali ia turun ketika musim sedang kemarau. Begitupun hati, tak selamanya menjadi seorang pemaaf itu mudah. Ada kalanya kita harus benar-benar menghilang dari kehidupan orang lain, jika harga diri kita sedikit pun tak pernah dinilai berharga. " Sahut dokter Alexa yang tak memilih beranjak dari duduknya.


"Lex, ketika kamu sedih, kamu tidak berhak menghukum mama dan adikmu, " Rania yang sedari tadi bungkam, kini turut bersuara. Meluapkan suara hati yang tak sejalan dengan pemikiran dokter Alexa.


"Aku tidak menghukumnya Ran, " sahut Dokter Alexa.


"Bagaimana kamu tidak menghukumnya, kamu terus saja mengurung diri dan tidak mau makan, lihatlah Lex, mamamu sangat terpukul melihatmu ! Ia terus menangis dan tidak enak makan memikirkan dirimu, " seru Rania.


Dokter Alexa kembali merunduk. Tidak bisa lagi bersuara untuk membantah sebuah fakta yang Rania bongkar. Sebenarnya, hatinya terkejut mendengar itu, ia tak habis pikir jika kesedihan yang ia alami, sungguh terasa juga hingga ke hati sang mama. Perempuan baik hati yang telah melahirkan dan membesarkan nya dengan kasih sayang.


"Sudah, kamu mandi ya. Ganti bajumu..." Seru Keysha kembali memecah keheningan.


"Jangan lupa luluran ya kak, " Celetuk Audrey yang di sambut tawa kecil oleh dokter Alexa.


Dokter Alexa bergegas membersihkan diri. Tidak ada manfaatnya memang jika ia terus mengikuti kekecewaan yang tak bertepi. Ada kalanya memang ia menangis, meluapkan rasa kesal dan kegagalan untuk menenangkan diri. Namun, semua memiliki batas. Semua ada masanya, dan tidak patut jika harus terus-menerus menyesali sedetik waktu yang terlewat dengan deraian air mata.