
Sandy POV
Semua akan mengalir, seiring roda waktu berputar..
Derita mu akan menjadi kehancuran hidupku..
Bahagiamu, akan tetap menjadi priorotasku,
Aku senang, melihat wajah itu manis tersenyum...
Ini belum usai Key, akan ku ukir dalam raut wajahmu yang indah itu dengan goresan kebahagiaan....
Tumpukkan berkas yang menggunung, menanti secoret tanda tangan Sandy. Jadwal meeting yang padat, karena beberapa hari terakhir dia harus mengurung diri dari urusan kantor. Banyak jadwal yang harus terbengkalai.
"masih semangat saja bro, sudah sore ini! Ngga kangen sama bini?" Reno mulai meledek. Dia merasa bosan menunggu temannya membolak balik tumpukan berkas-berkas itu.
"Diam kau kutu!" Sandy tak menatapnya.
Reno memutar matanya percuma mau debat juga sama orang kaya lo! Dia merogoh ponsel dari saku jasnya. Membuka satu per satu pesan yang masuk.
"mantan kamu ngajak ketemu ni!" Kata Reno yang masih sibuk dengan ponselnya.
"ladenin saja. Kamu ini yang diajak" Sandy tak menggubris. Dia memilih tetap memfokuskan pikiran pada pekerjaannya.
"bukan sama aku kutu! Ini sama ngajaknya." Reno mengembalikan ledekan Sandy. Laki-laki itu kini menatap tajam ke arah Reno. Bukan karena ledekannya, tapi merasa heran dengan keberanian Cherry yang tidak kendor dengan status Sandy saat ini. Reno nyengir kaku, aku salah apa? Mata kamu sampai mau lepas gitu?
"katakan saja aku akan menemui dia besok di jam makan siang!" ketus Sandy.
"aku ikut dong ?" Reno menawarkan diri.
Sandy tidak lagi merespon. *A*h! Lelaki ini, kenapa juga aku bisa betah temenan selama ini? Tapi harusnya dia ngizinin sih, secara itu bukan acara lunch dia dengan orang spesial kan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00, Reno sudah berpamit pulang sedari tadi. dia merasa bosan dikacangin sama sobat karibnya. Sandy berdiri untuk meregangkan otot-otot badannya yang berasa kaku. Berputar ke kanan dan ke kiri, mencari kenyamanan yang tepat. Sudah jam segini, Keysha pasti khawatir.
Laki-laki itu merapikan tumpukan map yang sudah selesai dia kerjakan. Diraih nya jas di sandaran kursi sebelum bergegas untuk kembali ke rumah.
"malam" singkatnya.
"pak, itu mobil siapa?" Sandy kembali berjalan mundur, merasa heran dengan mobil yang masih terparkir di halaman kantor. Tidak ada karyawan yang belum pulang selarut itu.
"o-oh itu pak, mobilnya Mbak Cherry, beliau udah dari sore di sini. Saya suruh nemui bapak, tapi dia menolak. Katanya ngga mau ganggu kerjaan bapak" terang pak Abu, security yang kejatah jaga malam.
Cherry? Ngapain wanita licik itu di sini hingga selarut ini!
Sandy mempercepat langkah kakinya, dia sempat berfikir untuk meninggalkan wanita itu begitu saja, namun nuraninya menolak. Sandy, itu tidak baik! Laki-laki itu memutar kembali langkahnya, menuju tempat mobil Cherry parkir.
"Cher?" di ketuknya kaca mobil Cherry yang tertutup rapat. Dengan berdiri tegak tanpa rasa penasaran untuk mengintip wanita itu.
"Cherry kamu ada di dalam?" tambahnya.
"hei, Cher! Apa kamu dengar aku?" Sandy menegaskan bicaranya. Dia mulai merasa kesal karena tidak ada jawaban ataupun kode dari Cherry .
Jengkel, kesal, terlalu lelah untuk berlama-lama menunggu. Sandi mencoba membuka pintu mobil, yang ya... Tidak terkunci. Awalnya dia hanya mengernyit, melihat wanita itu duduk bersandar dengan mata tertutup.
Wanita ini! Segitu pulesnya tidur sampai ngga dengar sama sekali ocehan aku?
"hei Cher! Bangun! Kamu ngapain tidur di sini?" dia mencoba membangunkan gadis itu.
"Cherry! Berhenti untuk berakting karena aku tidak akan terpengaruh!" bentak Sandy dengan nada tinggi.
"baiklah! Aku harus pulang" Sandy mengancam. Dia melangkah menjauh dari mobil milik cherry.
Masih tak ada respon, apa jangan-jangan....
Sandy kembali menghampiri Cherry. Kali ini dia menyentuh badan wanita itu. Tidak sedikit pun bergerak.
"pak Abu, tolong pak!" Sandy berteriak memanggil Security yang berdiri tak jauh dari tempat Mereka.
"pak, tolong bantu saya buat mindahin Cherry ke mobil saya. Sepertinya dia pinsan" Sandy sedikit panik. Bukan mencemaskan wanita itu, Dia hanya merasa takut jika kejadian buruk menimpa Cherry di halaman kantornya.