
Sudah kali kedua Reno menyebut nama Rania. Ia mengusulkan untuk sengaja datang ke rumah wanita itu. Setidaknya ketika bertatap muka semua akan jelas terlihat jika memang dia sedang berusaha bersembunyi di balik kalimat penolakan nya.
"Ku rasa memang itu jalan satu-satunya. " Lirih Sandy. Ia akhirnya setuju dan segera mungkin melajukan mobilnya. Melesat jauh dengan kecepatan tinggi.
Waktu yang ia lewati tidaklah lama, hanya ketidak sabaran dan tekanan hati yang kian menyempitkan jalur nafasnya yang membuat semua terasa berbeda. tiga puluh menit yang ia lewati, seolah memanjang menjadi waktu yang sangat menyebalkan dalam hidupnya.
"Ayo !" Suara Reno membuat Sandy menoleh.
"Kamu saja. Aku tunggu di sini. Aku pasti tidak akan bisa mengontrol emosi ku jika melihat wanita itu." Tolak Sandy kembali bersandar pada pintu mobil. Ia mengibaskan tangan, meminta agar Reno menemui Rania seorang diri.
"Sebenarnya aku atau kamu sih suami Keysha ? Istrimu lagi dalam bahaya men !" Reno meninggikan suara. Langkah kakinya kembali ia putar untuk mendekati Sandy. Pria yang masih tegak terpaku dan memilih diam tanpa banyak pergerakan.
Sandy mengangkat alis, menatap Reno dengan sinis. Ada kalimat Reno yang menyinggung hatinya, tidak sejalan dengan apa yang tengah ia pikirkan.
"Ya...maksudku...seharusnya kamu mendesak Rania dengan caramu agar dia mengakui perbuatannya." Celetuk Reno cepat. Ia mulai gelagapan melihat tatapan Sandy yang semakin arogan.
Sandy tidak bergeming. Ia mengayun langkah mendahului Reno yang masih mematung di tempatnya berdiri. Ia hanya mengerutkan dahi, benar-benar tidak bisa menebak dengan jalan pikiran Sandy.
"Apa kau sengaja membuang waktuku ? Sampai kapan mau berdiri di situ ?" Sandy memasukkan kedua jemarinya ke dalam saku celana. Menegur Reno tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
"ha ? Membuang waktu ? Siapa yang yang sengaja melakukannya ? Bukankah itu karena kamu yang memulai ?" Reno menggerutu pelan. Langkahnya cepat mengejar arah yang di ambil Sandy.
"Apa yang sedang kau bicarakan?"
"Ah tidak...tidak. Aku tidak sedang membicarakan apapun tadi. "
"Aku melihat mulutmu bergerak pelan. Apa mungkin hanya bernafas bisa menghasilkan gerakan di bibir ?" Sandy terus saja menekan Reno dengan ragam tuduhan seiring langkahnya yang ia ayun dengan cepat.
"Kamu perhatian sekali Sandy . Aku tadi hanya bernyanyi, setidaknya aku tidak tegang saat harus berdebat dengan Rania dan suaminya." Pungkas Reno mencari alasan. Ia melirik Sandy untuk memastikan jika laki-laki itu percaya dengan apa yang telah terucap dari lidahnya.
"Siapa juga yang berani membicarakan mu secara terang-terangan jika bukan manusia yang memiliki tujuh nyawa." Reno kembali menggerutu. Ia memalingkan muka seraya melambatkan langkah kakinya.
"Apa ?" Sandy menautkan kedua alisnya.
"Tidak....kita sudah sampai di depan pintu. Apa tidak sebaiknya kita mengetuknya agar segera jelas keberadaan Keysha dimana ?" Reno tersenyum masam. Membuat Sandy geram dengan tingkahnya.
Sandy mengangkat tangan, menggenggamnya lalu mengarahkan ke daun pintu yang tertutup rapat di hadapannya. Ia sudah bersiap untuk mengetuk, tapi di urungkan ketika mendengar suara yang menegur dari arah belakang.
"Kalian ? Ada perlu apa datang kemari ?" Tegur seorang perempuan dengan sangat pelan.
"Ah ... kebetulan kamu di situ. Dimana kamu dan Cherry menyembunyikan istriku ?" Sandy langsung menyerang wanita itu dengan pertanyaan yang sudah memanaskan hatinya. Nadanya kesal, kata-kata itu terlontar tanpa basa-basi dari balik bibir tipis Sandy.
"Keysha ? Aku tidak ......"
"Sungguh. Aku tidak mengerti apa maksud kalian."
"Heh, aku tidak percaya itu."
"Apalagi aku. " Sandy melebarkan mata. Tatapannya sungguh mengintimidasi, membuat tubuh Rania gemetar sulit terkendali.
"Simpan saja sandiwara mu itu Rania ! Aku tidak akan terpengaruh dengan wajah memelas mu itu."
Ragam cara yang Reno dan Sandy lakukan untuk membuat wanita itu buka mulut. Mengatakan secara gamblang tanpa alasan berbelit yang hanya akan membuang waktunya secara sia-sia. Tekanan demi tekanan ia layangkan bebas di udara. Kalimat kasar bahkan mewarnai setiap desakan yang semakin mencengkram jiwanya.
Ibnu mendengar keributan dari dalam rumah. Rasa penasaran yang mengetuk otaknya, menuntun pria itu berjalan mendekat ke pintu utama. Awalnya ia hanya memperhatikan dari celah jendela yang terbuka sedikit, tetapi apa yang mereka bicarakan membuatnya tertarik dan ingin tahu lebih jauh. Ia membuka pintu dengan cepat, melihat jelas istri nya yang sudah menangis tersedu-sedu, kehabisan cara untuk meyakinkan dua pria yang terus saja menggertaknya dengan ragam tuduhan.
"Ada apa ya ?" Tanya Ibnu datar.
"Katakan pada istrimu untuk segera menyudahi sandiwara nya. Aku sungguh tidak sabar dengan kelakuan busuknya ." Jawab Sandy kesal . Amarahnya benar-benar telah memuncak, menguasai seluruh jiwa dan raganya.
"Sandiwara ? Maksud kalian apa ? Aku sungguh tidak mengerti. " Ibnu mengangkat kedua bahu. Ia masih kurang paham dengan pembicaraan Sandy yang secara tiba-tiba. Tanpa mengatakan pokok permasalahan yang membuatnya kesal hingga harus turun tangan mendatangi Rania sampai ke rumah.
"Dia bekerja sama dengan Cherry untuk menyembunyikan Keysha. " Reno menatap Rania dengan tajam. Pandangan yang mengerikan, mengiris bagi setiap hati yang merasakan.
"Menyembunyikan ? Maksud kalian menculik ?" Ujar Ibnu meyakinkan.
"Tidak....tidak...aku tidak melakukan itu. Sungguh ..." Rania mengibaskan tangannya. Ia menolak tuduhan Reno yang menekannya tanpa dasar. Raut wajah cantiknya semakin tidak terkontrol, hatinya meradang merasakan diri yang kian menegang. Andai saja ada gambaran diri yang bisa ia tunjukkan untuk meyakinkan penolakan tentu rasa takut itu tidak sedalam ini menyelimuti. Namun, lagi dan lagi ia kesulitan berbicara meskipun untuk membela diri, ragam pengakuan sudah tidak lagi di indahkan oleh Sandy dan Reno. Dua pria sejoli itu masih bersikeras dengan pendiriannya bahwa Rania memang benar-benar terlibat dengan menghilangnya Keysha.
"Rania ! Sudah berapa kali ku katakan jangan lagi mengganggu kehidupan Keysha jika kau memang masih ingin mempertahankan rumah tangga kita !" Suara Ibnu meninggi. Matanya memerah memperlihatkan bahwa dia pun turut marah kepada Rania.
"Ti-tidak Nu. sungguh. Aku tidak tahu tentang Keysha kali ini. Aku...."
"Cukup Rania ! Aku sudah muak mendengar ragam alasan yang kau berikan." Sandy memotong kalimat Rania yang belum usai ia ucapkan. Menolak alasan yang sudah tidak bisa lagi di percaya. Hatinya kian memanas menatap wanita yang berkilah dengan wajah memelas. Tatapan sedih terpancar jelas dari sorot mata yang mulai berkaca-kaca.
Rania menunduk takut, kakinya gemetaran menahan tubuh yang sudah tidak sanggup mendengar cemooh yang bersahutan di indera pendengarannya. Sudah tidak ada lagi sepasang telinga yang mau mendengarnya. Tidak ada satu patah katapun yang di indahkan atau hanya sekedar di resapi untuk di selidiki.
"Rania....aku beri kamu waktu dua puluh empat jam untuk memikirkan semua. Jika kamu masih tidak mau mengakui, maaf Rania ...aku terpaksa menyudahi ikatan di antara kita. " Ibnu mendesak Rania dengan kalimat ancaman yang membuat Rania terbelalak tidak percaya.
"Apa yang harus aku akui jika aku memang tidak tahu perihal itu. " Rania mulai menangis. Ia semakin tersedu-sedu dengan air mata yang sudah tidak kuasa ia tahan. Mengalir bebas membanjiri kedua pipi ranum, membasahi kelopak mata yang bersinar dengan indah. Ah, jika mereka mau mengakui tidak ada yang tega melihat wanita menangis sekeras ini jika tidak karena perbuatan kejam yang pernah ia lakukan.
Ibnu menepis setiap sentuhan yang Rania lakukan. Matanya memerah, enggan menatap pada tubuh Rania yang melemas di hadapannya. Wanita itu berlutut dalam kebimbangan, menjatuhkan tubuh dan bertumpu pada lantai agar Ibnu menarik ulang kata yang telah terlontar dengan nada mengancam.
"Aku memang pernah, menaruh cemburu dan iri pada diri Keysha. Aku sempat ingin membuatnya terjatuh dan berada pada posisi tidak di harapkan oleh siapapun seperti yang aku alami. Aku iri, pada Keysha karena banyak laki-laki yang memujanya, berharap ingin menjadi pendamping hidupnya. " Rania semakin keras menangis. Kalimat yang ia ucapkan terhenti, karena rasa sakit yang benar-benar menusuk dalam hati kecilnya. " Tapi, aku menyesal ...aku menyesal telah melakukan hal yang justru menyiksaku sendiri. Larut dalam benci yang hanya menyakiti hatiku sendiri, berbagi rencana buruk dan akhir-akhir nya aku juga yang kian terpuruk. Sandy, percayalah. Aku tidak ingin lagi berbuat jahat pada Keysha. Hatiku selalu terluka ketika melihat dia menangis, meskipun lahirnya aku tertawa puas di atas derita yang menimpanya."
Rania mendongak, memberanikan diri berbicara dengan bahasa mata yang menjadi tanda. Curahan hati yang mendalam ia ucapkan tidak menerima sepatah jawaban dari pria itu. Wajahnya datar, lalu kembali beranjak dan pergi dari hadapan perempuan itu. Pun dengan Reno, pria itu hanya menghardik Rania dari pandangan mata lalu bergegas mengikuti langkah Sandy yang telah jauh meninggalkannya.