
Naura menikmati sarapannya dengan lahap. Semua terasa begitu lezat di lidahnya. Entah karena rasa lapar yang menyeruak, atau makanan sederhana itu memang benar-benar lezat.
Setelah selesai makan dan membayar nya, Naura bergegas kembali melanjutkan perjalanan nya menuju sekolah.
"Setidaknya aku bisa lebih konsentrasi dengan sekolahku hari ini, " ungkap Naura dalam hati sambil mengusap perutnya yang sudah kenyang.
"Sudah sampai non..." driver ojek online itu membuyarkan lamunan Naura.
"Oh, maaf pak..." Naura beranjak turun lalu melepas helm yang ia kenakan tadi.
Hari pertama sekolah setelah beberapa hari liburan, Naura harus menelusuri lorong dan naik tangga sampai dua kali untuk sampai ke ruang kelasnya.
Semua masih sama seperti sebelumnya, teman-teman Naura tetaplah Diandra dan Leona. Mereka sangat ramah dan hangat begitu menyambut kedatangan Naura, sahabat terbaik yang selalu mereka puji kelembutan hatinya. Naura anak hebat ! Ia tak ingin memperlihatkan kekacauan dalam hidupnya. Masalah sebesar itu, ia tak ingin melibatkan teman-teman baiknya. Mereka, tak Naura izinkan larut bersedih bahkan kerepotan membantu Naura.
Jam pelajaran telah usai. Naura, Diandra dan Leona segera beranjak dari dalam kelas. Mereka bersamaan jalan keluar menuju halaman sekolah.
Tak sedikit anak-anak di sekolah Naura yang menggunakan kendaraan pribadi. Ada yang membawa motor, sampai mobil mewah. Ya, maklumlah, sekolah Naura adalah sekolah favorit di pusat kota. Meskipun Naura bukan dari golongan orang yang hartanya tak akan habis sampai beberapa turunan, tetapi Naura adalah anak yang cerdas. Ia bisa bersekolah di sana atas kerja kerasnya sendiri. Dan sekolah tidak salah memberikan beasiswa kepada Naura.
"Ra, kita nanti nonton ya, kangen nih nonton bareng kamu, " Seru Diandra setelah mereka sampai di dekat mobil milik Leona.
"Iya Ra, aku yang bayarin deh..." Bujuk Leona sambil memegang tangan Naura.
"Aduh... gimana ya ? hmm...." Naura terlihat berpikir. Dia memang jenuh dengan suasana rumah akhir-akhir ini. Apalagi, tiada dokter Alexa yang bisa menghiburnya. Namun, Naura tidak ingin menjadi anak durhaka, dan bepergian tanpa pamit kepada Febi.
"Ayolah Ra, aku telfon mama kamu deh. Gimana ?" Diandra tak menyerah. Ia masih bersikeras membujuk sahabatnya.
"Betul banget tuh kata Diandra. Kita bantuin kamu bilang sama mama kamu..." Leona pun masih melakukan hal yang serupa dengan Diandra.
Diandra dan Leona memang anak dari orang-orang kaya. Mereka tumbuh dengan berlinang harta. Pulang sekolah tanpa harus datang ke rumah pun, tidak menjadi perkara yang perlu di cemaskan untuk mereka. Namun, mereka sangat baik. Mereka tahu, Naura hanya orang biasa yang ingin sukses dengan kecerdasan yang ia miliki. Mereka tidak pernah membeda-bedakan dalam berteman. Itulah yang membuat Naura sangat menyayangi kedua sahabat baiknya tersebut.
"Naura...."
Dokter Alexa sudah berdiri di depan gerbang dengan wajah sumringah. Senyuman menawan, dan terkesan menarik begitu hangat menyapa Naura.
Naura sempat tercengang. Ia tak percaya jika sang kakak akan datang ke sekolah untuk menemuinya.
"Kak Alexa...." Naura berlari cepat. Mereka saling menautkan raga. Mendekap hangat melepas kerinduan. Waktu cukup puas memisah kan mereka. Jarak, cukup jauh memisahkan raga keduanya. Naura tak bisa lagi menahan tangis, air mata kerinduan yang bercampur dengan senang berhamburan.
"Apa kabar dek ?" Dokter Alexa belum rela melepaskan tubuh mungil itu dari pelukan hangatnya. Rasanya, semua belum cukup untuk membalas waktu yang mereka lewatkan tanpa kebersamaan.
"Alhamdulillah kak, Naura sehat. Kakak, kakak baik-baik saja kan ? kakak kemana saja beberapa hari ini...." Naura meraba seluruh tubuh kakaknya. Seolah-olah sedang memastikan jika tubuh yang sangat ia sayangi itu tidak terluka meski pun hanya seujung kuku.
"Nanti kakak ceritakan, kamu ikut kakak sebentar ya. Bilang sama mama kalau kamu ada pelajaran tambahan..." Ungkap dokter Alexa. Ia merangkul bahu adiknya, namun keduanya kembali berhenti setelah Leona dan Diandra menghampiri mereka.
"Kak Alexa....." sapa keduanya kompak.
"Hai Di, hai Na, apa kabar kalian ?" tanya dokter Alexa dengan sangat ramah.
"Baik kak. Kakak habis tugas di luar kota ya ? Kok kayak lama gak ketemu Naura ? " Tanya Leona dengan nada penasaran.
"Oh, hmmm...." dokter Alexa menatap mata Naura. Seolah mencari kata untuk berlindung, karena tidak mungkin ia mengatakan semua kepada kedua anak yang tak seharusnya mengetahui dilema keluarga mereka. "Ini, kakak habis liburan sama teman-teman kakak. Jadi, ya kakak kangen sekali sama Naura..."
"Oh....." Leona mengangguk ringan, ia juga membulatkan bibir seolah sangat paham dengan apa yang Dokter Alexa katakan.
"Teman yang gimana sih kak ?" tanya Diandra dengan nada meledek. " Teman mesra ya..." sambungnya seraya tertawa ringan.
"Eh, apa sih kalian ini. " Sahut dokter Alexa menepis ledekan kedua anak yang sangat menyayangi adik angkatnya tersebut.
Diandra dan Leona tertawa, mereka merasa terhibur dengan ekspresi wajah dokter Alexa yang terlihat kebingungan.
"Sudah, sudah, kita pulang dulu ya ...Kalian jangan kelayapan ! Segera pulang, " ungkap dokter Alexa.
"Siap kak ..." seru Diandra dan Leona kembali kompak. Mereka mengangkat tangan, memberikan hormat seperti sedang mengikuti upacara bendera kepada dokter Alexa.
Naura dan Dokter Alexa hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu segera berbalik menuju mobil.
Dokter Alexa mengendarai mobil dengan santai. Kendaraan berwarna merah yang menjadi saksi dari kerja keras dokter Alexa itu melesat membelah jalanan kota. Menelusuri di bawah teriknya mentari. Dokter Alexa membawa Naura ke rumah Keysha. Ada banyak hal yang ingin ia sampaikan kepada adik kecilnya. Termasuk, kemana ia akan tinggal setelah ini. Ia juga akan mengatakan tentang Reno. Dokter Alexa ingin meluruskan kesalahpahaman yang masih di percaya oleh Naura.
Hanya dua puluh menit, keduanya telah tiba di halaman rumah Keysha. Dokter Alexa memarkirkan mobil di halaman, lalu menyerahkan kunci mobil kepada penjaga di sana.
"Kak, ini rumah siapa ?" Naura menatap sekeliling. Memperhatikan bangunan mewah yang tidak pernah ia datangi sebelumnya. Rumah yang membentang luas, mungkin bisa lima kali lipat dari rumah yang ia tempati bersama Dokter Alexa dan mama Febi. Ia masih mematung, tepat di injakan pertama ketika ia turun dari mobil.
"Ini rumah kak Keysha, kamu ingat kan ?" ungkap dokter Alexa seraya menggandeng tangan Naura agar segera bergerak mengikuti langkah kakinya.
"Besar sekali..."Naura tak henti-hentinya melontarkan kalimat pujian nya. Ia sangat terkesan dengan kemewahan yang ia lihat hari itu. Kekayaan yang menjulang tinggi, tersebar ke seluruh pelosok negeri. Bisnis yang bahkan telah menjamah luar negeri, benar-benar tak bisa merubah kelembutan hati Keysha. Naura tercengang akan itu semua, betapa beruntungnya dokter Alexa memiliki sahabat yang tak berdiri di atas kesombongan seperti Keysha.
Bukan karena hartanya, melainkan kerendahan hatinya. Naura selalu kagum dengan orang-orang yang memiliki sifat seperti itu meskipun hidup dengan limpahan harta yang tak akan ada habisnya.
Mbok Darmi menyambut kedatangan dokter Alexa dan Naura dengan ramah. Ia segera mempersilakan keduanya masuk, karena Keysha sudah menanti keduanya di meja makan.
"Assalamualaikum...." Sapa Naura dan dokter Alexa kompak.
"Wa'alaikum salam..." Jawab Keysha, Allan dan Lena. Yeni juga menjawab salam, tetapi beberapa detik setelah Keysha dan kedua anaknya selesai menjawabnya.
"Hai Naura..." Sapa Keysha dengan ramah. " Sini duduk, kamu pasti lapar kan baru pulang sekolah ? Kita makan dulu ya..." sambungnya sambil menyiapkan piring untuk Naura.
Dokter Alexa tersenyum, pun dengan Naura yang mengikuti langkah kakaknya. Mereka berdua sudah duduk, berhadapan dengan Keysha dan keluarga nya.
"Makan yang banyak Naura, tambah lagi tuh lauknya !" Seru Yeni dengan wajah sumringah.
"Iya tante, terima kasih..." sahut Naura malu-malu.
"Eeh, jangan panggil tante, panggil bunda !" bantah Yeni dengan ekspresi mengagetkan.
Mulanya Naura terkejut, tetapi ia tertawa setelah Yeni menyelesaikan kalimatnya.
Mereka menyempatkan bercanda ringan di sela-sela makan mereka. Allan dan Lena yang mulanya malu-malu, kini mulai berani memanggil-manggil nama Naura. Mereka berdua sudah bercerita banyak dan menyusun rencana untuk bermain bersama Naura setelah selesai makan.
Naura sangat senang, karena ia di sambut baik oleh Keysha dan keluarganya. Apalagi anak-anaknya, mereka sangat lengket dan senang dengan Naura. Ia sendiri sangat menyukai anak kecil, jadi wajar saja jika tidak butuh banyak waktu untuk menjalin hubungan yang baik dengan Allan dan Lena.
"Ma, Lena mau main sama kak Naura..." rengek Lena setelah mereka selesai makan.
"Boleh, tapi kalian mandi terus istirahat siang dulu ya. Setelah itu, kalian boleh bermain sama kak Naura..." Kata Keysha.
Allan dan Lena tampak kecewa. Namun, dengan kelembutan hati Keysha, mereka berdua bisa luluh dan menuruti apa yang Keysha katakan.
Setelah selesai mengurusi anak-anaknya, Keysha segera kembali ke bawah. Bergabung dengan Naura dan dokter Alexa yang sedang bercanda melepas kerinduan.
"Jadi, gimana Lex ? Sudah bilang ? "Tanya Keysha setelah ia tiba di ruang keluarga.
"Belum Key, " dokter Alexa merunduk pilu. Nada bicaranya melemah, menandakan ada hal yang mengecewakan yang akan ia ungkapkan.
"Ada apa kak ?" Tanya Naura dengan nada penasaran. ia menautkan alisnya, hatinya mulai berdebar tidak seperti umumnya. Seperti sebuah kode, apa yang dokter Alexa ucapkan tidak akan membuatnya berbahagia.
Keysha menatap Dokter Alexa dengan pandangan yakin. Ia memberikan dorongan yang kuat, dan keyakinan agar dokter Alexa tidak mundur dari apa yang telah ia yakini sebelumnya.
"Sebenarnya, ada dua hal yang ingin kakak sampaikan dek. " Dokter Alexa menghela nafas panjang.
"Dua hal ?" Naura mengulang kalimat dokter Alexa untuk meyakinkan.
"Kakak gak tahu ini baik atau tidak menurutmu, tapi buat kakak ini jalan yang memang harus kakak ambil." Dokter Alexa terus merangkai kata untuk memulai pembicaraan.
"Apa kak ? Ayo, bicara saja !" seru Naura tak sabar.
Dokter Alexa menghela nafas ringan, " pertama, kamu harus tahu, kalau kakak tidak mungkin untuk kembali tinggal di rumah dalam waktu dekat. Kakak, akan menyewa apartemen di dekat Rumah Sakit, kakak mohon kamu ngerti ya dek..." Ungkap dokter Alexa. Ia tak berani menatap Naura. Ada banyak hal yang sedang ia takutkan. Terutama kekecewaan dan air mata gadis kecil itu. Baginya, Naura adalah sosok istimewa yang Allah kirim untuknya. Meskipun mereka tidak saudara sedarah, Namun sayang yang mereka miliki melebihi sayangnya sepasang saudara kandung. Dokter Alexa bisa memberikan rasa yang lebih, begitu pula sebaliknya.
"Tapi kenapa kak ? Karena mama ? " Air matanya mulai membentuk kristal-kristal bening yang siap meluncur. Mendengar hal mengejutkan dari sang kakak, Naura benar-benar terpukul dan tidak pernah berpikir bahwa ia akan secepat itu tinggal berpisah dengan dokter Alexa. Padahal, kakak satu-satunya itu, belum jadi terikat dalam suatu pernikahan.
"Adek bisa kan ngerti kakak sekarang ? Kakak tidak bisa dek, kalau tiap hari harus berdebat dengan mama. Kakak sayang sama mama, kakak sayang sama Naura. Kakak tidak mau semua bersedih karena mama dan kakak sama-sama egois " Lanjut dokter Alexa.
"Naura akan bilang sama mama kak. Mama tidak akan marah-marah lagi sama kakak. Tapi, Naura mohon kak, kakak jangan pergi dari rumah..." Naura menggenggam tangan dokter Alexa. Tangisnya, membuat Keysha tersentuh dan ikut meneteskan air mata. kasihnya enggan untuk berpisah, sayangnya tak ingin terbagi jauh. Naura benar-benar berharap besar dengan dokter Alexa. Tiada yang lebih bisa ia harapkan selain ketulusan sang kakak. Apalagi dengan perubahan sikap Febi yang tanpa alasan. Membuatnya terdesak kuat dengan rasa takut. Bayang-bayang buruk mengintai di kepalanya. Berputar, menakut-nakuti dan semakin membuatnya terpuruk.
"Dek..."
"Kalau kakak tidak tinggal sama Naura, Naura tidak akan sekolah lagi. " Ancam Naura membuat Dokter Alexa bungkam seketika. Tidak ada lagi kata bantahan yang bisa ia lontarkan untuk membujuk Naura. Gadis itu, seperti nya sangat serius dengan apa yang ia ucapkan. Tidak ada raut bercanda atau hanya ancaman semata.
"Lex, kamu pikir baik-baik dulu deh. Kasihan Naura..." Bujuk Keysha.
Dokter Alexa merenung sejenak. Ia tahu jika Naura sangat membenci perpisahan. Ia juga takut dengan kata kehilangan. "Kakak, akan pikirkan lagi dek...." ucapnya dengan suara parau.
"Kakak pernah janji, kakak tidak akan pernah tinggalkan Naura...." Naura menatap lekat kepada dokter Alexa. Sebuah kalimat yang mengingatkan pada ikrar yang pernah ia ungkapkan.
Dokter Alexa mengusap lembut kepala Naura. Ia sudah tidak bisa lagi mengucapkan hal yang hanya akan menambah luka dalam diri Naura. Baginya, kebahagiaan gadis remaja itu begitu berharga dan sangat berarti dalam perjalanan hidupnya.
"Satu hal lagi, apa kak ?" tanya Naura ragu-ragu. Ada ketakutan, jika kabar yang di terima adalah sebuah kata yang kembali mengejutkan. Sebuah peristiwa yang tidak pernah ia nantikan dalam sejarah hidupnya.
"Kakak cuma mau bilang, kalau kakak sama kak Reno sudah baikan. Kakak salah paham dek. Seharusnya, waktu itu kakak dengar penjelasan Reno terlebih dulu..." Raut wajah dokter Alexa berubah. Kini lebih mempesona dengan warna merah yang remang-remang terbentuk di kedua pipi nya.
"Alhamdulillah...." Naura mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Naura seneng dengarnya kak. Aku yakin kak Reno tidak seburuk yang orang-orang gambarkan..." Seru Naura dengan nada ceria.
"Iya dek..." dokter Alexa meraih tubuh Naura. Keduanya saling mendekap dengan erat. Ikatan persaudaraan yang tak membutuhkan hubungan darah. Mereka merupakan sepasang kakak adik, yang tidak perlu di pertanyaan kan kasih dan sayangnya. Cinta tulusnya yang mengalir, bebas. Tidak butuh sebuah pengakuan dari banyak orang. Dokter Alexa selalu senang dengan kedatangan adik kecilnya. Anak malang, yang ia temukan di halaman rumah. Tergeletak tanpa ada yang mengakui hadirnya.
"Kau harus menjadi wanita sukses..." Gumam dokter Alexa dalam hati.
*****
Allan dan Lena begitu senang bisa bermain bersama Naura. Ketiganya terlihat asyik larut dalam canda yang memancing tawa. Bergurau tanpa peduli masa yang memperkenalkan mereka. Keysha dan dokter Alexa memperhatikan dari kejauhan. Larut senang bisa melewati senja dengan candaan yang menyenangkan.
"Key, kita pulang ya...Mama pasti marah sama Naura karena pulang terlalu malam." ungkap dokter Alexa begitu mereka telah berada di teras rumah. Allan dan Lena memeluk Naura sebelum akhirnya mereka berpisah. Kembali memendam rindu, dan akan mereka luapkan suatu saat nanti.
Naura mengecup ujung kepala Allan dan Lena. Keduanya kompak membalas dengan mencium pipi Naura.
Mobil yang dokter Alexa kendarai bersama Naura melesat cepat. Membelah gelapnya malam yang mulai menembus. Mengusik dingin nya cuaca yang mulai menusuk hingga ke tulang.
Perjalanan singkat, karena jalanan cukup sepi. Hanya butuh beberapa menit dari rumah Keysha. Mereka sudah berada di teras rumah. Dengan menyeret kopernya, dokter Alexa merasa ragu untuk terus melangkah kembali ke rumah.
"Ayo kak...." Naura menoleh ke belakang. Mengukir senyuman manis untuk mendorong semangat sang kakak.
Cekrek ( Suara pun utama yang di buka dari dalam rumah )
Febi tercengang menatap dokter Alexa. Satu-satunya anak kandung yang ia miliki itu, tak berani menatap mata jernih nya. Sebuah luka baru yang timbul dari kesalahan yang ia perbuat. Ada buih penyesalan yang tumbuh pesat di dalam jiwa. Kehangatan yang mereka miliki lenyap. Semua hilang terhembus bersama getaran angin yang membawa keegoisan.
"Alexa...." Tak peduli respon apa yang akan dokter Alexa berikan. Febi melabuhkan tubuhnya dalam pelukan dokter Alexa. Terisak di sana membawa sebuah sesal.
Dokter Alexa mulai melunak, jemarinya perlahan mulai membalas pelukan hangat Febi. Kasih yang tak mungkin bisa ia dapatkan dari orang lain, sekalipun calon suami yang kembali bersanding dengannya.
"Maafkan Alexa ma...." dokter Alexa memejamkan mata. Meresapi setiap penyesalan yang menyentuh hatinya. Mengetuk dada, menembus hingga menguak luka.
"Mama yang salah sayang, mama yang seharusnya minta maaf..." sahut Febi, yang akhirnya menyadari kekeliruan diri.
Naura terharu melihat Febi dan dokter Alexa yang kembali lagi seperti dulu. Mengukir indahnya kasih, menabur benih sayang yang pasti akan kembali tumbuh subur. Naura memeluk keduanya, mengakui bahwa ia sangat merindukan moment yang hangat seperti yang saat ini sedang ia rasakan.
Setidaknya usaha yang Naura lakukan tak sia-sia. Ia yang tak ingin menggeser posisi dokter Alexa. Ia yang tak ingin melihat perpecahan seperti apa yang ia alami di masa kecil. Semua cerita cukup memberikan pelajaran berharga untuknya. Semua tertanam indah bersama sebuah pengalaman berharga yang sangat layak ia jadikan pembelajaran untuk kehidupan selanjutnya.
"Naura sayang sama mama, Naura sayang sama kak Alexa...."
*****
Semua telah menemui akhirnya, Naura, Dokter Alexa dan Febi kembali merasakan kemanisan cinta. Merasakan kasih hangat dalam keluarga.
Reno juga dengan cepat memproses masalahnya yang di buat oleh Shinta. Membawa perempuan itu ke ranah hukum, kembali mendekam bersama Cherry yang kembali terjerat dengan masalah yang belum usai.
Keysha dan Sandy tengah berbahagia dengan penantian nya pada anak ke tiganya. Mereka semakin kompak dan saling menjaga satu sama lain. Begitu pula dengan Allan dan Lena.
Tinggal satu kisah yang tak kunjung usai. Hubungan Reno dan dokter Alexa. Hingga pada akhirnya, Reno memberanikan diri untuk mengulang kisah. Kembali datang ke rumah Febi untuk menyatakan isi hati. Membawa cinta yang sempat salah paham. Mengulang kata yang pernah ia janjikan sebelumnya.
Dan sayangnya, Febi bersikeras menolak itu. Hanya satu alasan, yang tak mungkin bisa Reno penuhi.....
T A M A T