I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Rencana Lunch



Ini detik terakhir kau bisa melihat wajah Ayahmu, kau harus bangkit Key, bangkit! Kau kuat! Iya, kau pasti bisa...


Jiwanya bergejolak, meraung memaksa raganya untuk bangkit dari atas tempat tidur. Entah, sudah berapa kali dia pingsan dalam satu hari ini, melihat Danu yang sudah tak bernyawa hatinya kian memekik pilu.


Sudah tidak akan ada lagi yang menyayangiku.


Ah, apa-apaan aku! Kenapa aku masih bisa berfikir seegois ini...


"Key, kamu sudah sadar?" Sayup-sayup terdengar seorang lelaki berjalan kearahnya.


"Jenazah akan segera dimakamkan, kau sanggup ikut ?" Keysha sudah menduga jika lelaki itu adalah Sandy. Siapa lagi yang berbicara semanis itu selain dia. Yang bisa keluar masuk semau nya di kamar Key. Ah, bukan! Di rumah Danu. Bukan juga. Di rumah dia sendiri. Iya, benar! Rumah yang keluarganya tinggali adalah rumah milik Sandy. Ya walau atas nama Keysha Larasati tetap saja ini adalah milik lelaki itu.


Keysha segera memaksa kan tubuhnya untuk bangkit, perlahan dia menguatkan raganya. Tangannya dengan cepat menepis setiap kali Sandy berusaha menolongnya.


Sungguh, hatiku masih sangat membenci kelakuanmu Sandy. Seberapa dalam pun aku bersedih, itu tidak akan membuatku lupa dengan semua penghianatan darimu....


--


Suasana hening menyelimuti pemakaman Danu, isak tangis dan suara sesenggukan Key yang menyapa setiap pasang telinga yang masih berdiri di sana. Jasad Danu telah dalam terpendam, di bawah timbunan tanah merah yang masih basah, di bawah batu nisan yang jelas tertulis namanya, di balik taburan bunga yang memiliki aroma wangi yang khas.


"Key aku turut berduka cita ya. Kamu yang sabar. Mungkin memang jalannya seperti ini" Gilang menghampiri Keysha. Dia mencoba mengukir senyum untuk wanita yang kini di anggap sebagai sahabatnya.


Satu persatu dari sekian orang menyampaikan duka cita, bergilir berpamit pulang. Di sana, di atas tempat tidur terakhir Danu hanya ada Sandy dan Key yang masih pilu memeluk batu nisan.


Tidak....Tidak...aku tidak bisa selamanya seperti ini. Aku yakin akan ada ganti yang lebih indah dari perginya mereka yang benar-benar ku cintai....


"Key kita pulang ya? Aku yakin ayah sudah tenang di sana." Sandy merunduk, memegang lembut bahu Keysha. Tatapannya dalam menyalurkan cinta, menguatkan tulang-tulang yang mulai melunak. Sandy andai kau tau, aku akan lebih kuat jika kau masih di sampingku, pekik Keysha dalam hatinya.


--


--


"hei San kamu di sini juga?" Cherry antusias melihat Sandy yang baru saja tiba, wajahnya sumringah senyumnya merekah. Jantungnya mungkin sedang berdetak "bangga" bisa satu acara dan bersebelahan duduk dengan Sandy.


Ah, wanita selicik ini. Pasti selalu memikirkan cara untuk memikat kembali pria yang disukai. Dia belum tahu saja, jika laki-laki yang digilai ini sudah berstatus duda. Kalau saja tahu, pasti... Hah! Sudahlah, pasti paham juga.


"Kamu tidak mengajak istri mu ?" Cherry memecah kekakuan diantara mereka. Riuh nya suara orang yang saling berbisik karena acara belum juga dimulai. Ya, mereka menghadiri sebuah undangan pameran di sebuah gedung. Acara yang di gelar oleh orang paling berpengaruh dalam dunia bisnis. Siapa lagi? Tentu saja Chandra.


"Kamu tahukan jam segini jam kuliah?" jawab Sandy sinis. Bibirnya menyeringai seperti singa hendak menerkam mangsa.


"Kuliah? Bukannya ini libur semester?" Cherry tak percaya jika Sandy tidak mengetahui itu. Dia mulai menaruh curiga karena memang sudah lama sekali dia tidak melihat Sandy bersama Keysha. Walau hanya mengantar jemput atau sekedar makan bersama. Tapi Rania juga tidak mengatakan apapun.


Ada yang perlu diselidiki. Apa mungkin hubungan mereka merenggang? Heh, baguslah! Aku tidak perlu repot-repot lagi memikirkan cara untuk memisahkan mereka..


"a-ah sudahlah. Tidak perlu dijawab. Kita lunch yuk sesudah ini, kita kan sudah lama ni ngga makan bareng?" Cherry menggeser tubuhnya. Menghadapkan diri pada Sandy dan meraih jemarinya. Laki-laki itu hanya meliriknya tanpa menolak.


"Mau ya? Kamu boleh deh mengajak istri mu kalo kamu tidak mau berduaan sama aku" Wajahnya benar-benar di tata agar terlihat manis. Cherry Ananta Dea kau sangat lah pandai berakting. Kau pandai memohon dan memanfaatkan kesempatan. Karena kesungguhannya itu, dia mendapat anggukan oleh Sandy.


Yes, batinnya berteriak, bersorak membanggakan keberhasilannya. Setidaknya ini menjadi jalan yang mulus untuk kembali melancarkan serangan, batinnya.


Bersambung.........