I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Kecewa



Keysha tertegun di tempatnya, ia terpaksa membiarkan perempuan yang ia kenal baik itu melenggang pergi mencepatkan langkahnya. Keysha tidak berani memaksa dengan pertanyaan yang lebih mendesak lagi. Otak dan logika nya tidak berani berasumsi dengan ragam tuduhan yang menyulut rasa ingin tahunya. Penasaran yang menderu dan mengoyak tak berani lebih jeli menguak air mata yang mengalir bebas di kedua pipi Dokter Alexa. Aneh, itu bukanlah air mata bahagia ataupun karena debu yang masuk seperti alasan yang Dokter Alexa berikan padanya. Sebuah tanda dari batin yang teriris, wujud dari rasa sedih yang tidak bisa ia ungkap kebenarannya secara terang-terangan.


"Sayang...."


Sandy menyusul keluar restoran, pun dengan Audrey dan Reno. Mereka khawatir karena Keysha terlalu lama meminta izin dan tidak kunjung kembali.


"Kamu ngapain di sini sayang ?" Ucap Sandy menyelidiki. Ia berjalan sigap, mendekatkan diri agar tidak menyisakan jarak yang cukup jauh dengan wanitanya.


Keysha bungkam, ia mencoba untuk tidak terlihat gugup dan menyembunyikan apapun. Berlaga biasa, layaknya Keysha yang selalu ceria tanpa beban yang memberatkan pikiran. Ia ingat, Dokter Alexa sempat berpesan agar tidak memberitahukan kepada siapapun mengenai keberadaannya di sana. Pertemuan singkat yang tanpa sengaja, bahkan pandangan mata yang tidak di rencanakan tengah menangkap kesedihan yang Dokter Alexa kemukakan. Alasan yang belum tertebak oleh logika Keysha, yang ia tahu ada sesuatu yang tidak sengaja di lihat oleh perempuan itu hingga membuat hatinya terluka. Bersedih dalam praduga yang hanya membekaskan sebuah sangka yang buruk.


"Aku hanya ingin mencari udara segar saja. Panas sekali di dalam..." Keysha mengukir senyum simpul. Ia menutup diri, semakin sulit menemukan kata yang bisa mengalihkan perhatian mereka.


"Panas ? Yang benar saja." Protes Reno lantang. Ia memicingkan bibir, merasa tidak percaya dan curiga dengan tingkah Keysha yang tidak biasa. Ada sesuatu yang di coba untuk di sembunyikan olehnya, ia jelas sekali sedang tertekan dan berkilah dengan tingkah yang ingin mengakui.


"AC di dalam sangat dingin kak, apa iya masih panas untuk kakak ?" Imbuh Audrey heran. Ia tidak bisa menebak kenapa kakak iparnya bertingkah tidak menentu seperti itu. Ia hanya berusaha menerka dengan pikiran positif walau terkadang terbesit pikiran jahat, dan menuduh Keysha dengan sebuah rasa yang salah.


Keysha menggaruk-garuk kepala dari luar jilbabnya walau ia tidak merasa gatel sedikit pun. Bibirnya menyungging, semakin terlihat dengan caranya bersembunyi. Keysha Larasati, perempuan baik yang tidak pernah berkilah dengan kalimatnya. Ia perempuan yang selalu jujur dan senada antara lidah dan hati. Bagaimana bisa dia melakukan permintaan Dokter Alexa dengan sempurna.


"Sayang, apa kau berbohong ?" Sandy menangkap kedua pipi istrinya. Ia menahan agar wajah ayu itu tidak di jatuhkan dan semakin dalam bersembunyi dan menunduk. Kedua pasang mata mereka saling bertemu, bersenandung dengan harapan dan janji-janji yang selalu mereka lantunkan. Tiada dusta yang mewarnai kehidupan mereka, tiada kata yang menjadi perwakilan untuk bersembunyi walau hanya secuil kisah.


"Aku tadi seperti melihat Dokter Alexa, tapi ketika aku keluar aku tidak menemukannya...." Keysha mencoba mengatur nafasnya untuk lebih tenang. Mungkin ada bagian yang tidak bisa ia sembunyikan, tapi tetap ada yang rapat ia simpan dalam ingatan.


"Mungkin aku salah lihat, aku sudah berusaha mencarinya tapi tidak juga ketemu." Imbuh Keysha dengan lebih tenang. Ia meyakinkan semua yang sedang mendesaknya untuk jujur.


"Dokter Alexa ? Siapa dia ?" Audrey bertanya dengan heran. Sudah ada lima tahun gadis itu hidup di negeri orang. Mencari penghasilan dan mengembangkan kemampuan di sana. Ia tidak tahu banyaknya orang baru yang silih berganti mampir di kehidupan keluarganya. Menyapa mereka, berkisah dengan drama yang unik. Akhirnya, semua kembali kepada mereka untuk memilih singgah atau hanya sekedar menumpang berteduh. Banyak kisah baru dan menegangkan yang di alami Keysha dan keluarganya, tapi Audrey sengaja tidak di beritahu. Chandra tidak menginginkan putrinya khawatir dan terus-menerus memikirkan masalah yang tidak seutuhnya ia ketahui. Itu hanya akan menjadikannya beban, dan membiarkannya angan buruk berlayar dengan bebas tanpa ada daratan untuk melabuhkan semua. Chandra membatasi untuk itu, ia hanya mengatakan jika semua adalah berita yang baik. Dan semua kompak menjalankan yang menjadi permintaan Chandra.


"Dokter Alexa, dokter yang merawat Rania." Jawab Keysha pelan. Kalimatnya sedikit terbata, karena Keysha tidak memikirkan itu sebelumnya.


"Bukanlah dia sahabat yang ingkar sama kakak ? Audrey ingat sekali itu." Audrey merespon tidak suka. Ia memicingkan mata, dan berkata kurang sopan mengenai nama perempuan yang baru saja Keysha sebut.


"Itu dulu Audrey. Ada kisah yang perlu kamu tahu, agar kamu tidak berlama-lama membencinya." Tutur Keysha dengan lembut. Ia meraih kedua jemari Audrey dan menggenggamnya dengan erat. Ada sebuah energi yang Keysha transfer, sebuah perasaan hangat menjalar dan lebih memberi rasa tenang pada jiwa dan hati Audrey.


"Apa ?"


"Nanti, aku pasti akan cerita kepadamu. Sekarang sudah sangat malam, kasihan Allan dan Lena pasti sudah menunggu di rumah." Jawab Keysha menjelaskan. Ia berjanji akan bercerita semua kepada Audrey. Mengatakan drama yang terjadi selepas kepergiannya. Menunjukkan kebenaran yang harus ia percaya tanpa ada hasutan karena ketidaktahuannya.


"Baiklah." Audrey mengerti, ia tersenyum tulus dan menggandeng jemari Keysha ketika menuju mobil.


Mereka berpisah di sana, Sandy dan Keysha berada dalam mobil yang sama. Sedangkan Reno dengan senang hati mengantarkan Audrey. Tidak ada paksaan, mereka sudah lama sekali tidak saling bertegur sapa. Tepatnya sejak Audrey memfokuskan diri pada kerjaan yang berkembang pesat di sana. Ia terlalu sibuk dan tidak memiliki waktu hanya untuk berbasa-basi tidak jelas di sambungan telepon.


Reno mengendarai mobil dengan tenang, ia sengaja memperlambat laju mobil karena masih banyak hal konyol yang ingin ia bahas dengan adik sahabat karibnya. Sebuah lelucon yang mengakibatkan mereka tertawa lepas, bernostalgia dengan kisah kecil Audrey yang tidak pernah lepas dari kata manja dan selalu bergelayutan dengan laki-laki yang datang ke rumahnya.


"Apa kau tetap genit seperti dulu ?" Celetuk Reno di sela tawa mereka. Ia berkata dengan nada meledek.


Audrey mengernyit tidak suka, bibirnya sengaja ia majukan karena malu ketika mengingat kecilnya yang tidak memiliki risih kepada laki-laki dewasa.


" Tidak perlu genit, bukankah akan banyak yang mendekati Audrey ? Secara aku sangat cantik." Jawab Audrey dengan angkuh. Ia mengikuti ucapan Reno dulu yang masih melekat akrab di ingatannya. Ia pernah memberi nasihat tersebut kepada Audrey, bahkan berkali-kali hingga gadis iku kesal sendiri. Ia tidak merasa jika dirinya terlalu bermurah dan genit, tapi Reno selalu meledeknya seperti itu.


"Haha...Kau masih mengingatnya ?" Reno terkekeh geli. Ia mengacak-acak rambut Audrey dengan gemas. Baginya, putri kecil yang mulai tumbuh dewasa itu adalah adik kecilnya juga. Yang sangat perlu di jaga dan selalu di pantau walau tanpa mata yang terus mengamati langkahnya. Reno selalu memberi nasihat dengan caranya. Menjaga dengan kemampuan yang ia bisa. Ia memang selalu tidak bisa jika harus bersikap keras seperti yang Sandy lakukan. Itulah alasan kenapa Audrey lebih bisa mendengar nasihat Reno di banding kakaknya sendiri.


Reno menepikan mobilnya secara mendadak ketika melihat seseorang yang tidak asing baginya tengah berdiri di depan mobil merah yang terparkir di bahu jalan. Perempuan itu membuka bagian depan mobil, dan tampak panik dengan mondar-mandir mencoba menghubungi seseorang.


"Ada apa kak ?" Seru Audrey heran. Ia mengatur nafas karena sentakan rasa kaget yang mendera jantungnya.


"Tunggu sebentar ya..." Sahut Reno dengan tergesa-gesa. Ia segera turun dari mobil dan menghampiri perempuan yang membuatnya menghentikan mobil dengan mendadak.


"Alexa, ada apa dengan mobilmu ?"


Dokter Alexa menoleh mencari sumber suara yang memanggil namanya. Perempuan itu hanya bungkam, lalu kembali fokus dengan ponselnya.


"Alexa ?" Tanya Reno heran, tidak biasanya wanita itu acuh dan tidak menganggapnya seperti sekarang.


"Mobil saya mogok. Saya pikir anda tahu itu..." Celetuk Dokter Alexa ketus. Ia menempelkan ponselnya di telinga. Bibirnya bergeming, berharap seseorang di sebrang telepon memberi respon untuk panggilannya.


"Alhamdulillah, untung saja bapak angkat telpon dari ku. "


"Iya kenapa non ?"


"Bisa jemput sekarang pak ? Aku share located sekarang ya."


Dokter Alexa memutus panggilan secara sepihak. Ia memainkan jemarinya di atas ponsel, mengirimkan lokasi kepada seseorang yang baru saja ia hubungi.


"Ayo aku antar saja." Reno menarik tangan Dokter Alexa tiba-tiba. Namun, mendapat sebuah tepisan kasar oleh perempuan itu.


"Tidak perlu, aku di jemput. Apa kau tidak mengerti ?" Dokter Alexa menajamkan pandangan.


Reno kembali tercengang, ia benar-benar di buat bingung dengan sikap Dokter Alexa yang mendadak garang. Perempuan yang mulanya sangat lembut dan welcome terhadapnya, menjadi sangat arogan dan ketus.


"Kak Reno, ayo !" Audrey berteriak, ia mengeluarkan kepala dari cela kaca yang terbuka sempurna.


Deg ! Melihat gadis itu berada dalam mobil yang sama dengan Reno membuat jantung Dokter Alexa terpacu dengan kencang. Ia berdetak, tidak menentu dengan rasa kesal yang kian kuat menjalar.


"Iya Drey, Sebentar." Reno berteriak membalas ucapan Audrey.


"Kenapa diam di sini. Bukannya kau sudah di panggil ? Sana, jangan bikin masalah baru dalam hidupmu..." Entah kemana arah pembicaraan Dokter Alexa. Reno tidak juga mengerti mengenai perubahan yang mendadak terjadi pada wanita yang ia kagumi.


Dokter Alexa memilih mengurung diri di dalam mobil. Menanti seseorang dan bersantai di dalamnya. Kondisi jalan belum terlalu sepi dari lalu lalang manusia, jadi masih cukup aman untuknya menunggu sendiri.


Reno mengetuk-ngetuk kaca mobil berulang kali, tapi tidak juga di respon oleh Dokter Alexa. Ia melenggang pergi, dan menyerahkan penjagaan kepada seorang polisi yang bertugas tidak jauh dari sana.


Tanpa sepengetahuan Reno, perempuan itu kembali menangis dan mencurahkan rasa kecewanya seorang diri. Ia membiarkan tawanya redup seketika. Tangis yang mewarnai cukup menggema memenuhi seisi mobil.


"Kenapa kau tega sekali Reno. " Gerutu Dokter Alexa seorang diri. Ia memukul-mukul kemudi untuk meluapkan emosi.


"Jika kau hanya berniat mempermainkan ku, kenapa tidak dari awal kau bawa perempuan itu. Seharusnya aku tidak sesakit ini." Dokter Alexa semakin keras menangis. Ia tersedu, dan membenamkan wajah ke dalam telapak tangan.