
Keysha menarik nafas dalam-dalam, menutup telinga menyudahi tawa. Begitu pula Chandra, ia merebahkan tubuhnya di sofa yang sempat menemani Key memutar kisah.
"Mama mana pa ?"
"Biasa lah Key. kalau ada barang baru mama mu suka lupa tujuan . Lihat saja nanti berapa kantong yang dia bawa pulang. " Ucap Chandra datar. Seolah menjadi kebiasaan buruk setiap keluar bersama, hal baru yang menyilaukan mata selalu menjadi penghalang tujuan awal bagi Meera.
"Hahahaha, ngga apa-apa pa . Biasa lah wanita " Tambah Key yang membuat Chandra kembali tertawa.
"Jadi Sandy bener-bener ngga di anggep nih ?" Sandy memotong suara tawa yang masih bergerilya di telinga nya, bersahut ria saling beriringan.
"Ya Allah , anak sulung papa ini makin temperamen banget " Sahut Chandra sembari mengangkat tubuh nya yang mulai berubah ukuran. Hihi, sedikit melar .....
Ia menghampiri putra nya yang tak juga berpindah dari sudut ruang. Mengangkat tangan, melipat di depan dada, melempar jauh pandangan berharap ada yang datang membujuk. Ia hanya lah bermain dengan peran, bercanda seolah benar-benar merajuk .
"jadi Suami kok ambekan " Chandra memukul bahu Sandy, membuat nya terperanjak kaget dan memompa kencang detak jantung nya.
"Bercanda pa . kok di pukul sih " Ia protes, meraba bagian bahu yang tiba-tiba memanas karena pukulan Chandra.
"oh, papa juga bercanda San, ngga usah melototi papa gitu dong" Chandra membalikkan kalimat Sandy. Membuat Key yang hanya diam menonton tersenyum-senyum tak karuan.
"Assalamualaikum " Dengan alunan yang sangat gembira Meera memasuki ruang. melirik mata-mata yang heran memandangi raut wajahnya.
"Wa'alaikum salam " Dengan pasti Key menyodorkan tangan,menjabat dengan sopan dan mencium bagian punggung tangan. Tak luput, dekapan hangat turut ia hadirkan bukti rindu yang sudah tak terhingga rasa nya.
"Mama, Keysha Kangen " Ucap nya bermanja. Baginya Meera adalah ibu yang baik, tempat terbaik selain Yeni untuk bercurah, melantunkan suara hati yang tak bersyarat. Dia juga salah satu istri yang menjadi panutan bagi pernikahan nya.
"Apa lagi mama , kangen banget sayang " Sahut Meera bersamaan dengan mengeratkan pelukan. "cucu-cucu mama ngga ikut ya ?"
"Sudah lama sekali mereka tidak mau ikut ke butik Ma, tapi Key selalu menghubungi mereka setiap jam " Jawabnya terkekeh, perlahan mereka saling melepas pelukan. Melepas rindu dengan saling bertatap mata.
"Hehe, kamu itu bener-bener mirip banget sama mama dulu. Waktu noh bocah masih kecil, mama juga gitu . Kerja, tapi bentar-bentar nelfon " Ucap Meera yang ikut terkekeh .Ia melirik Sandy yang belum juga menghampiri nya. Bernostalgia mengibaratkan diri pada kehidupan Keysha.
"Sebenarnya yang anak Papa sama Mama itu Sandy apa Keysha sih, beda banget deh sambutan nya " Sandy berdiri,perlahan berjalan menghampiri Meera, mencium punggung tangan juga kening nya, ia pun tak lupa memeluk Meera walau hanya sekejap.
lagi dan lagi, nada cemburu Sandy mengundang tawa, celetuk rasa iri yang membahagiakan bagi dirinya. Ia bergumam seorang diri dalam hati, mengucap syukur atas karunia besar dalam hidup nya. Memiliki sepasang orang tua yang mengerti pilihan nya, ah ! ini bukan dia yang pilih, jadi dia lah yang akhirnya bisa memahami jalan pilihan orang tuanya. Begitu pula dengan Keysha, ia tulus mencintai kedua orang tua Sandy. Kasih nya yang tercurah tak pernah membedakan antara mereka berdua dengan Yeni. Semua ia imbang kan, bahkan ia pernah menangis di bawah kaki Meera, karena bersedih harus tinggal berpisah. Ia juga pernah mengucap maaf karena meminta Yeni untuk tinggal bersamanya. Keadaan yang memaksa , bukan soal rasa yang lebih nyaman. Melainkan, ia tak tega melepas Yeni tinggal seorang diri.
"Oh ya sayang, kamu belum menjawab soal pertanyaan ku tadi ?"
dalam diamnya, Sandy kembali teringat perihal Lita. Angin yang berhembus menyingkap rambut-rambut halusnya. Membisikkan soal yang belum menemui jawaban.
"Mama Lita ? dia tinggal dimana sekarang ?" Sandy kembali serius. Ia menatap Key dengan jeli, membuat wanita nya kelabakan sulit bersembunyi.
**FlashBack**
"Sudah, biarkan beberapa saat mereka tingfal di sana. Setidaknya, sampai mereka lebih aman dari kejaran orang-orang itu. Nanti, jika waktu nya sudah tepat, biar saya yang membantu melunasi semua nya . Tunggu perintah saya selanjutnya, terus perhatikan gerak-gerik wanita itu juga anaknya."
Chandra menutup telpon, ia memasukkan ponsel kembali ke dalam kantong celana. Arah pandangan yang ia pilih, membuat ia tersentak saat menyadari Keysha telah berdiri tertegun melihatnya di belakang. Mata nya seolah tak berkedip, menelaah kata-kata yang baru saja terdengar langsung oleh nya.
"Kopi nya Pa " Keysha tersenyum, meletakkan secangkir kopi hangat di meja . Ia berjalan mendekati Chandra, ikut duduk berdampingan dengan lelaki yang menggantikan posisi Danu.
"Yang papa maksud barusan, itu mama Lita ?" Key membuka obrolan, mempertanyakan langsung tentang hal yang menjadi prasangka nya. Ia takut salah menebak, dengan keberanian yang di miliki, ia membuka bicara di hadapan Chandra.
"bu ..bukan kok Key " Chandra panik.
"Pa, Keysha akan menjaga rahasia ini. Key mohon pa, kasih tahu Keysha dimana mereka ?" Keysha memohon, menjatuhkan tubuh seakan hendak bersujud di kaki Chandra.
"eh Keysha ! apa-apaan ini ? jangan seperti itu ." Chandra menarik kembali tubuh Key. Mendudukkan berjajar kembali dengan nya."Baiklah ! Apa yang kamu pikirkan itu benar Key. Yang papa bicarakan di telfon itu mama tiri mu ."
"Mama tinggal dimana pa ?"
"Tenang Keysha . Lita dan Shinta aman. dia tinggal di jalan kenanga, salah satu rumah punya papa. Belakangan mereka lontang-lantung di jalanan, bahkan sempat di kejar-kejar oleh preman. " Ucap Chandra memperjelas ceritanya. "Papa kasian Key, mungkin mereka sempat berbuat tak baik padamu, tapi bukan berarti kita melakukan hal yang sama pada mereka ."
Keysha meneteskan air mata, membayangkan nasib Lita. Ia memang sempat menyimpan dendam, bahkan membenci keadaan karena perbuatan Lita. Tetapi nurani nya selalu tersentuh untuk memaafkan, membuang penyakit hati yang menyiksa setiap waktu nya.
"Jangan bilang Sandy ya Key. Kamu tahu seberapa kejam nya dia, jika ada yang menyakiti orang-orang yang dia sayang." Ucap Chandra berpesan. Ia paham betul sikap putra sulungnya.
"Baik pa. Key janji bakal simpan rahasia ini baik-baik." Jawab Key mengusap kedua pipi ranumnya. "Terima kasih, papa masih mau nolong mama Lita dan Shinta ."
"Sama-sama nak, papa tahu apa yang membuat hati mu senang. " Ucap Chandra , ia tersenyum tipis menyudahi tangis haru Key.
Di sela-sela kisah yang Chandra senandung kan, Sandy datang dengan tiba-tiba. Ia langsung mendekap mesra pinggang Keysha, bermanja menagih kasih yang selalu ia pintakan.
"loh sayang ? kamu nangis ?" Tanya Sandy khawatir. Ia melihat mata bulat Key memerah, menyembunyikan tangis yang baru saja ia tutup.
"Iya nih, gara-gara papa cerita jaman muda nya papa dia sampai nangis gitu, kata nya papa hebat sekali, bisa ngelewatin rintangan saat cinta papa tak di restui dulu. " Chandra terkekeh . Ia memutar cerita mencari alasan yang tepat agar Sandy tak menaruh curiga.
"Oh, kirain kenapa" Sandy pun ikut terkekeh.