I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Berkumpul



****


Beberapa hari terakhir, Reno dan dokter Alexa sedang menikmati masa-masa bahagia mereka. Sementara Sandy, ia justru di buat sibuk dengan bebasnya Cherry. Padahal, belum lama ia di jebloskan dan mendekam di penjara. Gadis itu tentu saja belum merasa jera, dan bisa jadi, ia akan berbuat lebih bingar dan mengerikan dari sebelumnya. Ia akan sangat membahayakan untuk diri Keysha, apalagi jika sampai mendengar tentang kehamilan Keysha. Tentu saja, dengan hasrat yang kuat, ia akan berusaha keras melukai Keysha bahkan bersama janin yang masih memiliki usia sangat rentan tersebut. Tujuannya tidak lain adalah Sandy. Ya, ia selalu menyalahkan Keysha lah orang yang membuat Sandy berpaling darinya. Membuat laki-laki yang dulu sempat menggilainya, kini berubah rasa menjadi sosok pria yang sangat membencinya. Padahal, semua kesalahan berasal dari egonya sendiri. Semua terletak dari cara berpikirnya yang hanya mengutamakan kesenangan sesaat.


Sudah lama Keysha, Sandy, Reno dan juga dokter Alexa tidak berkumpul. Kali ini, mereka memang sengaja meluangkan waktu untuk sekedar melepas rindu. Keempatnya, kini membaur di ruang keluarga milik Sandy. Bercanda, bertukar pikiran, saling bercerita hingga waktu beranjak malam.


"Oh ya San, katamu Cherry bebas, gimana ceritanya ?" Reno mulai serius. Ia menatap tajam pada Sandy, dan mengangkat sebelah tangannya untuk menopang kepala. Sementara Keysha dan dokter Alexa, mereka berdua masih asyik melihat-lihat contoh gambar gaun sebagai referensi yang akan dokter Alexa pakai nantinya.


"Aku juga tidak tahu. Tapi, saat ku konfirmasi ke kantor polisi, mereka mengatakan jika ada sepasang suami istri yang mengaku sebagai kerabat Cherry yang membebaskannya, " tutur Sandy dengan lirih. Ia tidak ingin pembahasan ini di dengar oleh Keysha, karena wanitanya itu masih sangat sensitif jika mendengar sesuatu yang tidak ia sukai.


"Kerabat ? Ibnu dan Rania ?" Reno membelalakkan matanya. Ia sangat terkejut mendengar pernyataan Sandy. Dua insan yang mengaku telah bertobat, bahkan mereka juga secara terang-terangan menunjukkan. Mana mungkin berani berkhianat apalagi jika menyangkut dengan Sandy.


"Ku pikir, itu trik mereka untuk membuat aku menuduh Rania, dan bermusuhan lagi dengannya. Jika memang yang melakukan dia, mana mungkin dia merasa biasa saja ketika datang ke rumah untuk menyerahkan laporan keuangan di boutique milik Keysha." Sahut Sandy dengan jelas. Ia tidak pernah berpikir hal serupa tentang Rania dan Ibnu. Mereka di beri kebebasan, bahkan seolah-olah menjalankan bisnis mereka sendiri oleh Keysha. Sebenarnya, Keysha tidak ingin mengambil sedikitpun keuntungan, tapi karena mereka berperasaan, mereka tetap bersikeras untuk membagi dua hasil yang telah mereka dapatkan dari usaha yang Keysha buka.


"Terus siapa ? Kerabat Cherry di Indonesia ya hanya Ibnu !" gertak Reno dengan suara tertahan. Mereka terlihat beradu mata, saling mempertahankan keyakinan masing-masing. Dokter Alexa mulai menyadari itu, hingga dengan sengaja melemparkan sebuah bantal sofa di antara keduanya.


"Baik-baik, ntar ke sambet ngrepotin orang !" seru dokter Alexa sinis.


****


Jam telah menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Sudah terlalu larut untuk dokter Alexa dan Reno pulang. Jadi, keduanya memutuskan untuk tetap tinggal, menunggu pagi menjelang berkat paksaan dari sang ratu rumah. Siapa lagi kalau bukan Keysha. Dia sangat merasa senang jika teman-temannya yang datang berkunjung, mau tetap tinggal untuk beberapa hari. Apalagi jika yang datang dokter Alexa ataupun Rania. Duh, hatinya benar-benar bahagia.


Dokter Alexa dan Keysha sudah berada di lantai atas sekarang. Mereka sudah masuk di kamar masing-masing. Keysha segera merebahkan tubuhnya di atas kasur, menggeliat melemaskan otot-otot yang menegang. Seharian ini sangat membuatnya merasa lelah, hingga matanya tampak sembab karena kurang istirahat. Otak dan logikanya tak henti berpikir, segala macam cara pandang berebut untuk meminta di kenang. Mulai dari kembalinya Cherry, hingga ingatan yang tiba-tiba terbesit tentang Shinta, adiknya yang telah lama menghilang.


Kemana dia ? Bagaimana kehidupan ia sekarang ? Apa dia baik-baik saja ? Pertanyaan itu selalu muncul di angannya. Terbayang jelas sedang melayang-layang meminta di kenang. Lambat laun, Keysha mulai memejamkan mata. Terbuai dengan kenyamanan yang menyentuh diri. Keysha telah terlelap, berlayar ke pulau indah membawa ragam mimpi yang terencana.


****


Sandy menjejakkan langkahnya di barisan anak tangga. Langkahnya yang tegas ia ayunkan melewati setiap kamar yang bergandengan. Sorot matanya yang tajam, selalu terlihat pasti. Ia jarang sekali melirik sekeliling, apalagi hanya untuk memastikan sebuah keadaan yang tak pasti.


Perlahan, Sandy mendorong pintu kamar. Setelah puas mengitari setiap sudut ruang, kakinya baru ia mantapkan untuk melangkah masuk. Dengan lembut, ia menghampiri wanitanya yang terbaring pulas di atas ranjang. Senyuman indah mulai mewarnai setiap garis lelah yang tergambar jelas di wajahnya. Jemarinya menyapu lembut wajah yang istri. Membelai penuh kasih, mengalirkan desakan rasa yang membuatnya berbunga.


Ia tak pernah sadar, sejak kapan cinta itu mulai datang. Sejengkal, lalu memanjang hingga perjalanan jauh, yang tak memungkinkan dirinya untuk kembali. Berputar pada rasa yang sama, hanya jiwa dan hatinya yang berbeda. Tidak ! Sandy bukan laki-laki yang mudah tergoda. Apalagi, dengan jiwa-jiwa yang telah sengaja membuatnya terluka. Mencampakkan tanpa kesadaran yang di terapkan. Ia telah tumbuh, mewangi pada satu taman yang menyambutnya hangat. Damai, bersama warna-warna kupu-kupu yang menari menghinggapi.


Wajah kaku tanpa tawa, bibir tipis jarang tersenyum, kini mulai menghilang terkikis oleh rasa yang Keysha terapkan. Berawal dari kisah yang di paksakan. Bermula pada hasrat yang di haruskan. Heh, lucu memang. Cinta tumbuh tanpa permisi. Sayang timbul, tanpa di minta. Semua mengalir begitu saja, menepis duka, menanamkan suka.


"Kau adalah bidadari surgaku sayang, aku sangat bersyukur telah di pertemukan dengan wanita sehebat kamu, " Sandy masih tertegun menatap lekukan wajah yang istri. Terbenam di sana, bersama sinar terang yang tak pernah padam. Remang-remang cahaya yang menenangkan.


"Sayang, I Love you...." Sandy mengecup kilas pada kening Keysha, sebelum akhirnya menarik selimut dan menutupkan pada sebagian tubuh perempuan itu.