
Hari sudah beranjak semakin sore, sudah waktunya untuk sebagian orang pulang ke rumahnya. Menapaki jalan, atau menggunakan kendaraan pribadi. Bahkan tidak sedikit yang rela berebut dan berdesak untuk naik kendaraan umum.
Keysha masih bergelut dengan pekerjaannya. Kali ini, ia turut melayani customer yang memerlukan bantuan. Menyapa ramah kepada setiap orang yang berbelanja atau hanya sekedar bersinggah untuk melihat-lihat.
"Kak Keysha...." Suara seorang wanita dari belakang tubuhnya membuat Keysha berputar dengan cepat.
Ia tertegun menatap wanita itu, sejenak sebelum membuka mulut untuk menjawab sapaan darinya. " Shinta ? "
Alisnya terangkat sebelah, merasa heran melihat ekspresi adiknya yang terlihat sedih. Wanita yang tak kunjung menikah itu bermuka masam dan larut bersama rasa cemas.
"Kak...." Shinta berlari memeluk tubuh Keysha. Ia membenamkan wajahnya di pundak Keysha begitu dalam. Tidak peduli dengan Keysha yang acuh tidak membalasnya. Perempuan itu hanya berdiri tegak dan tangan yang terkulai pasrah saat Shinta semakin erat memeluknya.
"Kak ... tolong Shinta kak..." Pinta Shinta memelas. Ia merenggangkan tubuh, menatap Keysha dengan pandangan nanar. Matanya mengisyaratkan permohonan yang mendalam, bersimpuh seolah benar-benar membutuhkan bantuan.
"Kamu kenapa Shin ?" Keysha menatap Shinta dengan heran. Hatinya sama sekali tidak tersentuh dengan raut sedih yang Shinta lukis. Entahlah, tidak biasanya Keysha mati hati seperti saat ini.
"Mama sakit kak... Shinta tidak tahu lagi harus minta tolong sama siapa ?" Shinta menangis. Air matanya telah mengalir bebas membasahi kedua pipinya. Ia menarik lengan Keysha, merunduk hendak berlutut untuk memohon. Namun dengan cekatan Keysha menggapai tubuhnya, ia meraih lengan Shinta agar kembali bangkit dan membawanya duduk di sofa panjang di dekat meja kasir.
"Sakit ?" Keysha mengulang kata Shinta. Meyakinkan hati bahwa harusnya dia tersentuh dan mengalirkan rasa kasihan. Tapi nyatanya dia sama sekali tidak terpengaruh. Justru pikiran-pikiran buruk yang merogoh otak dan logikanya.
Shinta hanya mengangguk ringan, dan menatap lantai dan membenamkan kesedihan di sana. Kedua jemarinya saling bertemu, bermain dengan risau. Perempuan itu menggigit bibir bagian bawah, menahan isak tangis yang kian menjadi.
"Kamu tidak sedang berbohong kan Shin ?" Keysha meraih pundak Shinta. Meraih wajahnya agar lebih mudah untuk menatap.
"Untuk apa Shinta bohong kak ? Bukankah kakak pernah bilang setiap kata adalah doa . Dan aku tidak ingin berkata hal buruk tentang mama jika itu tidak benar-benar terjadi." Ujar Shinta meyakinkan.
"Dimana mama Lita sekarang ?" Keysha mulai panik. Perempuan itu menatap Shinta dengan pandangan sedih. Mencurahkan kasih yang nyatanya masih tertata rapi walau dia tidak di beri kesempatan untuk mengungkapkan.
"Mama...mama ada di kost Shinta kak." Jawab Shinta ragu.
"Kost ?" Keysha menekan katanya. Tidak percaya jika adiknya yang sangat manja itu bisa tinggal di kost, yang rata-rata hanya rumah kecil atau justru sepetak kamar yang di gunakan sebagian besar anak-anak yang tinggal jauh dari orang tuanya.
"I...iya kak. " Jawab Shinta terbata. "Mama bantuin Shinta beres-beres kamar kost karena memang baru beberapa hari ini Shinta memutuskan untuk tinggal di kost dekat kampus. Tapi... tiba-tiba mama pingsan dan badannya lemas kak." Shinta memanjangkan kalimatnya. Berputar mencari-cari alasan untuk meyakinkan Keysha. Menarik rasa kasihan yang mulai tampak dan nyata.
"Kenapa tidak kamu bawa ke rumah sakit Shinta !" Gertak Keysha geram. Ia mencengkram kedua bahu Shinta karena kesal dengan adiknya yang tidak cekatan mengambil tindakan.
"Shinta tidak punya uang sepeserpun kak. " Kata Shinta dalam tangisnya. "Tolong Shinta kak..."
"Kita ke sana ....tunggu sebentar." Keysha setengah berlari menelusuri tangga. Dengan sangat cepat membuka pintu ruang kerjanya lalu meraih tas di atas meja. Ia tidak memeriksa terlebih dahulu, bahkan tidak sadar ketika ponselnya masih tergeletak begitu saja di atas tumpukan berkas.
Sedangkan Shinta, ia tertawa puas dalam hati. Menyeringai bebas, angkuh dengan jalan kemenangan yang mulai terbuka lebar. Ia membuang pandangan dan menaruh tatapan hina saat melihat Keysha mulai berlari kembali menghampiri nya.
"Shinta berjalan di belakang Keysha, semakin girang dengan keberhasilannya membohongi perempuan itu. Menari di atas rasa senang yang memuncak saat menggiring Keysha masuk ke dalam jebakan rencananya.
"Kita naik mobil kakak ya..." Keysha menghentikan langkah dan berputar cepat melihat Shinta. Membuat gadis itu terkejut dan sulit mengontrol ekspresi. Matanya gelagapan mencari pelarian untuk menutup lagi celah yang mempertunjukkan sandiwara palsunya.
--------
"Kamu mau kemana men ?" Reno melempar tanya saat melihat Sandy tengah bersiap-siap untuk meninggalkan kantor. Laki-laki yang baru saja membuka matanya setelah seharian menghabiskan waktu dengan bermanja pada sofa milik Sandy itu tampak bingung. Ah, sudah berapa jam waktu yang di buang sia-sia untuk bermalas-malasan di sana. Tapi bukan Reno jika merasa menyesal dengan waktu yang telah hilang.
"Aku akan ke butik. Menemani istriku sekaligus menjemputnya." Jawab Sandy datar. Ia mengibaskan jas nya sebelum kembali mengenakan.
"Oh rupanya dia masih lembur." Reno menutup wajah dengan kedua jemari. Mengusapnya mengusik kantuk yang masih menerpa mata. Menepis keinginan untuk kembali bersandar pada kursi dan meminta memejamkan mata lagi.
"Ya ...." Jawab Sandy sangat singkat. "Kau tetap di sini ?" Tanya Sandy sinis.
"Kau mengusirku ?"
"Tidak....aku hanya bertanya apa kau tetap di sini walau aku sudah pulang ? Apa kau benar-benar kurang kerjaan atau merasa kesepian." Kata-kata ledekan dari Sandy membuat Reno memicingkan mata. Laki-laki itu merasa kesal dengan nada canda yang menyindirnya.
"Heh...katakan saja jika kau mau mengusirku. " Celetuk Reno seraya mengangkat tubuh. Ia menggeliat, melemaskan otot yang menegang.
Sandy memandang Reno yang fokus mengatur ekspresi nya. Terkadang, ia tersenyum merasa lucu dengan tingkahnya yang terkesan Childish saat berdebat dengan sahabatnya. Ya, hubungan mereka memang selalu sama, dari kecil hingga besar. Tidak ada satu masalah yang memecahkan jarak antara kedua pria itu.
"Sudah puas ?" Reno menyadari jika Sandy tidak melepas mata sedari tadi. Ia melirik dengan tatapan arogan. Mengintimidasi Sandy dengan pandangan yang menyengat. Membuat Sandy segera sadar dan sedikit salah tingkah.
"Aku harus pergi. Titipkan kunci pada Safira." Ujar Sandy dengan pelan. Ia menepuk bahu Reno sebelum memutuskan untuk mengayun langkah menuju pintu keluar.
"Aku beruntung memiliki teman dan saudara sepertimu Reno." Sandy membalik tubuh saat tiba di daun pintu. Ia tersenyum tulus menoleh ke belakang. Kalimatnya menggema, dan masih terulang di udara. Laki-laki itu kembali melanjutkan perjalanan nya tanpa menuju jawaban Reno yang terobsesi dengan nada angkuh. Bahkan sudah tertebak jika di dengarkan laki-laki pasti akan menyombongkan dirinya di depan mata Sandy.
Kurasa itu memang sudah menjadi tabiatnya. Jadi ya, lebih baik untuk menyadari dan menganggap itu sebagai hal yang wajar.....
"Sudah ku duga kau yang akan menjadikanku candu dalam hidup mu Sandy . Aku tahu itu walau kau tidak mengatakannya." Gumam Reno percaya diri. Ia bersorak dalam keadaan sepi, yaa dia sedang menyombongkan sikap di hadapan benda-benda mati yang tertata rapi di ruang kerja Sandy.
"Kau mendengar itu ? tentu saja. Akulah pahlawan tanpa tanda jasa untuk setiap detik nafas Sandy ." Reno mengangkat tangan. Ia bergaya angkuh dengan berkacak pinggang. Berbicara lantang dengan menghadap pada kaca yang memantulkan kembali wajahnya.
"Ah, lebih baik aku pulang. Lelah sekali rasanya seharian di sini. " Kata Reno beranjak dari depan kaca. Ia memungut jasnya yang berserakan di bawah sofa. Mengemasi beberapa barang pribadi yang tidak bisa lepas dari hari-harinya.
Laki-laki itu berjalan dengan bersiul santai. Penampilan yang terlihat acak-acakan, tidak tertata . Hanya mengalungkan jas di atas bahu dan dengan satu kedipan mata ia menyerahkan kunci kepada Safira.