I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Di temani



Sudah puluhan kali ponsel yang Keysha letakkan di atas meja kerjanya berdering . Panggilan masuk juga pesan singkat yang dengan sengaja dia abaikan. Dia melirik sesaat ketika ponsel kembali berdering, hanya untuk memastikan jika panggilan yang masuk masih dengan nomor yang sama.


"Kau tidak mengangkatnya ?" Kata Sandy yang sudah duduk santai di ujung ruang. Dia merasa terganggu dengan ponsel Keysha yang tidak ada hentinya.


"Malas ...paling juga cuma jual janji manis." Jawab Keysha dengan pelan.


Entahlah, mengapa rasa kesal itu hadir setelah dia menyaksikan semua tentang Cherry dan Rania di ponsel Reno. Sepenggal rekaman yang menjawab segala tuduhan Sandy, yang dengan kilat mematikan kobaran rasa percaya yang kembali menyala di dalam dirinya. Namun, lagi dan lagi semua itu padam. Musnah, seketika kecewa menyelinap masuk dan tinggal di hatinya.


"Siapa ? Rania ?" Kata Sandy penuh selidik . Ia menurunkan buku yang sedari tadi menutup rapat wajahnya. Menghentikan sejenak kegiatan membaca yang memang sudah menjadi rutinitas nya setiap hari.


"hmm ....." Keysha mengangguk dengan pelan. Kakinya mulai bergerak, beranjak dari bangku yang sangat melelahkan seharian, memaksa untuk dia tetap duduk dengan tumpukan pekerjaan yang beberapa hari telah dia tinggalkan. Berkas-berkas laporan keuangan juga dengan pesanan yang menggunung. "Padahal aku sudah percaya banget sama dia." Keysha menatap ke arah luar jendela dengan wajah sedih. Lidahnya terasa lemah saat berucap. Mungkin, itu karena dia terlalu tinggi berharap kepada manusia .


"Jangan di sesali ! Semua bisa kamu ambil hikmahnya, sebuah pelajaran yang guru di sekolahpun tidak akan bisa memberikan." Jawab Sandy menguatkan. Ia ikut bangkit dari duduknya, mendekat ke arah Keysha lalu mendekap pinggang Keysha dari belakang. Nafasnya terdengar teratur saat hembusannya menyapa dengan jelas dari balik telinga Keysha.


"Maafkan aku kak, aku malah sempat tidak percaya dengan mu." Keysha memiringkan kepala, mencoba menoleh untuk bisa menatap suaminya. Namun, lehernya tertahan dengan kepala Sandy yang masih nyaman berbaring di sana.


" Tidak ...kamu tidak salah sayang." Sandy memutar tubuh istrinya. Saling berhadapan dengan posisi yang masih sangat dekat. Pria itu tidak melepas pelukannya dari pinggang Keysha. Justru sebelah tangannya menuntun kedua lengah Key untuk merangkul di lehernya.


"Aku harus kembali bekerja kak Sandy. Bukankah kau berjanji akan menemaniku, bukan malah mengganggu." Protes Keysha. Ia mencoba menarik tubuhnya mundur, namun Sandy malah semakin mengeratkan.


"lalu ...kamu mau apa ?" Keysha menatap Sandy lekat. Tubuhnya mulai s dikit tenang saat jemari Sandy sudah menempel halus di wajahnya.


"Aku hanya ingin selalu dekat denganmu seperti ini. " Jawabnya hangat. Tidak ada perbuatan yang lebih intim yang Sandy lakukan.


"Selalu dekat ?" Tanya Keysha mengulang kalimat Sandy untuk lebih meyakinkan. "Bukankah kita selalu dekat setiap hari. Kamu kenapa sih kok tumben manja sekali. " Jemari Keysha sudah meraba hidung mancung milik Sandy, perlahan mengusapnya lalu menarik gemas.


"Aku hanya ingin bermanja dengan istriku, apa itu salah ?" Rajuknya semakin bermanja.


"Tidak ada yang salah... tapi kok tidak seperti biasanya." Keysha mempertegas kalimatnya.


Kecupan hangat mendarat tepat di kening Keysha, lalu turun di bibir merahnya. Sandy sengaja mendiamkan di sana hingga beberapa detik sebelum akhirnya melepaskan semua termasuk dengan tubuh wanita itu. Ia kembali lagi duduk di ujung ruang dengan buku yang kembali di raihnya.


"cepat selesaikan pekerjaan mu . Aku sudah sangat jenuh di sini."


"Baiklah....."