
laju mobil berwarna merah itu mulai berkurang secara perlahan. Perputaran roda berhenti tepat di depan pintu butik milik Keysha. Tampak keluar seorang perempuan cantik dengan balutan jilbab berwarna merah muda senada dengan tas selempang di bahu kirinya. Ia berputar arah, berdiri di samping pintu kemudi lalu membungkuk sesaat setelah kaca mobil di buka.
"Kamu tidak akan lembur lagi kan hari ini ?" Kata Sandy setelah mempertemukan kedua bola matanya dengan wajah ayu di samping mobil.
"mmm...kurasa aku tetap harus lembur kak. Banyak hal yang belum aku selesaikan kemarin." Jawab Keysha cepat. Bola matanya berputar seakan mengingat apa yang dipertanyakan oleh Sandy.
"Kenapa kamu tidak mencari seorang asisten yang meringankan pekerjaan mu sayang ?" Kata Sandy penuh khawatir. Ia sangat mencintai istrinya, mana mungkin tega melihat wanita itu semakin lelah dengan banyaknya hal yang perlu di tangani seorang diri. Belum lagi, mengenai anak-anak yang sering merajuk dan meminta lebih banyak waktu lagi untuk bermanja dengannya. Itu bukan hal yang mudah untuk di lalui seorang diri.
"Sudahlah kak. Sementara ini aku bisa menangani semua." Keysha tersenyum lebar. Secara halus menolak pengajuan yang suaminya lontarkan.
"Baiklah. Jaga diri baik-baik, aku akan menjemputmu nanti." Sandy mengangguk pasrah. Memahami penolakan yang tidak lagi bisa dipaksa olehnya.
Keysha berdiri tegak menatap pada arah laju mobil. Memperhatikan hingga berada di titik yang sulit untuk di gapai oleh sinar matanya. Tangannya baru berhenti melambai ketika dia memutuskan untuk segera beranjak dan bergegas masuk ke dalam butik.
Sudah menjadi hal yang wajar ketika Keysha datang semua karyawan berjajar lalu kompak menunduk mengucap salam. Mereka saling menyapa walau terkadang hanya sebatas Senyuman tipis. Melempar pandangan untuk saling bercengkrama dengan bahasa mata.
------
Waktu terus berkelana, memutar jarum jam menjadi lebih cepat. Menarik Surya hingga berada tepat di pertengahan bumi. Ada rasa yang memberatkan perasaan Rania, wanita yang meraung dalam derita, menangis seorang diri di atas rerumputan. Pakaian basah karena guyuran hujan kembali mengering karena kehangatan. Ah, wanita itu terlalu lama bergumam dalam kesedihan hingga melupakan waktu.
Rania beranjak dari duduknya, ada sesuatu yang menarik hatinya untuk kembali menemui Cherry. Wanita yang berdiri kokoh di atas kepentingan egonya. Entahlah, apa yang sedang Rania pikirkan kala itu. Sebuah kesadaran atau justru kemunafikan yang akan bertolak lagi dengan hati kecilnya.
Ia mengirim pesan singkat untuk Ibnu agar menjemput putrinya sebelum menginjak pedal gas di antara kakinya. Melajukan mobil dengan lambat, ia menelusuri sekitar jalan mencari-cari keberadaan Cherry. Wanita itu benar-benar memutus hubungan dengan memblokir akses yang memudahkan Rania untuk menghubunginya.
"Sial !" Rania memaki dalam hati. Ia semakin di buat kesal dengan tingkah Cherry yang seenaknya.
Tidak ada tujuan yang menjadi tumpuan terakhir dari arah perjalanan nya. Ia hanya terus mengikuti jemarinya menuntun roda mobil memutari penjuru kota. Mungkin itu lebih baik untuk sedikit membuat hatinya merasa tenang. Mengembara menebar petaka di seluruh sudut yang di putari. Ya, ia hanya ingin berbagi dengan alam tentang apa yang menyesakkan dadanya.
Rania menghentikan laju mobilnya di halaman cafe yang mengawali perpecahan nya dengan Keysha. Mengusap wajah dan mengukir senyum miris di sudut bibirnya. Logikanya kembali memutar kenangan seakan mengajak nya untuk bernostalgia. Ah, sialan apa yang hati kecil itu inginkan sesungguhnya. Ingatan itu kembali menuntun luka yang tidak ingin di ingat olehnya. Cherry benar-benar telah merusak semua secara terang-terangan. Dia membuang Rania begitu saja ketika wanita itu sudah tidak mampu lagi di manfaatkan.
Tanpa sadar langkahnya mulai bergerak lambat. Selangkah demi selangkah semakin merebak masuk hingga berada di dalam cafe. Matanya bergerilya mengitari setiap sudut ruangan. Menata pandangan pada setiap bangku yang menyenangkan pikiran.
Rania tercengang tidak percaya, ada hal yang menghentikan putaran matanya. Seluruh jiwanya seolah terkoyak, tercabik tidak pada waktunya. Ia terus berdiam menyaksikan tiga wanita yang bercengkrama dengan sangat serius di bangku yang berjajar di sudut ruangan. Satu wanita yang sangat ia kenali, bahkan baru saja mengibarkan bendera kecewa di atasnya. Memutus hubungan erat yang tengah terjalin di antaranya. Dan dua orang itu, dia adalah...
"Tante Lita dan Shinta ? ......" Rania membelalakkan mata. Ia semakin jeli mengintai, tertegun menyaksikan hal yang sangat tidak terduga sebelumnya.
"Kakak mencari seseorang atau mau saya carikan bangku kosong ?"
Rania semakin larut dalam pandangan matanya. Tidak peduli seberapa tulusnya seorang wanita yang masih mengumbar senyum di hadapannya.
"kak...." perempuan itu menggapai lengan Rania. Membuatnya sadar dan mengembalikan jiwa kepada raganya.
"oh maaf ." Rania mengusap wajah lalu melanjutkan kalimatnya. "Bagaimana mbak ?"
"di sana ada bangku kosong, silahkan duduk kak ..." Ucap waitress itu sangat sabar. Dia masih sanggup tersenyum lembut, tidak peduli dengan setiap kalimat tanyanya yang tidak menemui jawaban.
"Terima kasih...." Sahut Rania sembari mengayun langkah.
Tepat memang, bangku yang di tawarkan sangat mudah untuknya kembali masuk di obrolan Cherry dan dua wanita yang masih ada kaitannya dengan Keysha itu. Remang-remang pembicaraan mereka bisa tertangkap oleh indera pendengarannya.
"Tapi kalau mereka menyadari lalu kita di usir bagaimana ? kita kan tinggal di rumah milik Chandra beberapa tahun ke belakang ini. " Rania menutup wajahnya dengan buku menu, tetapi dia sangat hafal dengan suara yang sedang berbicara. Ia mengkerutkan dahi, masih belum bisa paham dengan apa yang sedang mereka bicarakan.
"hahahaha....." sayup-sayup terdengar nada tawa dari mulut Cherry. Suaranya nyaring, seolah menantang untuk aksi yang lebih kejam lagi dari sebelumnya.
"Aku akan membelikan sebuah apartemen untuk kalian dan atas nama kalian jika memang kita bisa sama-sama menyengsarakan wanita murahan itu." Jawab Cherry setelah lebih tenang dari tawanya.
Mata Rania kembali membelalak atas hentakan rasa kaget yang mendera jantungnya. Ia tidak berpikir jika Cherry hanya memanfaatkan orang-orang yang memandang tidak suka kepada Keysha.
"Ah aku pernah salah, sempat larut di antara kejahatan yang sebenarnya hatiku sendiri sangat sedih ketika melakukannya." Gumam Rania di dalam hati.
"Apa ucapan mu bisa di pegang ? " Rania segera sadar dari lamunannya. Ia kembali fokus dan memaksa telinganya untuk mendengar suara yang hanya terdengar remang-remang.
"Aku tidak pernah mengingkari janjiku. Jadi tidak ada yang perlu kalian ragukan. Besok kita datangi apartemen yang kalian inginkan. Akan aku bayarkan DP nya untuk membuat kalian lebih tenang dan mudah untuk mempercayaiku." Sambung Cherry dengan angkuh. Nada bicaranya menyakinkan setiap kalimat yang tersembur rapi dari tenggorokan nya.
Lita dan Shinta tersenyum puas. Mereka saling melempar tatapan yang mengisyaratkan setuju dengan hal yang Cherry ajukan.
Tidak banyak waktu yang di buang lagi, mereka menghabiskan makanan yang telah di pesan lalu saling berpamit untuk berpisah. Rania hanya menghela nafas lega. Setidaknya dia aman dari incaran Cherry untuk sementara waktu. Perempuan itu tidak melihat hadirnya di sana. Tetapi, detak jantungnya tetap berdetak dengan kencang. Memberikan rasa yang lagi dan lagi membuatnya sesak tak berdaya. Ada secuil rasa yang tiba-tiba hadir menyapanya, membuatnya bergidik kasihan ketika mengingat Keysha. Ya seorang wanita yang sempat menjadi sahabat dekatnya itu kini mulai terancam dengan hal yang lebih menakutkan dari sebelumnya.