
Telinga, bisa saja salah mendengar
Mata, tentu punya kelemahan yang salah dalam melihat.
Bibir, bisa saja berujar sesuatu hal yang tak berdasarkan pada fakta.
Lalu, kenapa kau tidak percaya dengan hatimu sendiri ? Yang sudah jelas tidak mungkin menipu dirimu...
************
Keysha, Sandy dan Reno memulai rencana mereka. Lokasi pertama yang mereka tuju adalah sebuah club malam yang menjadi awal dari segala konflik yang memuncak. Bodohnya, mereka datang di jam yang salah. Di tempat itu, sama sekali belum ada lalu lalang manusia. Belum terlihat ada aktivitas yang mulai memadati. Keadaan masih sangat sepi, hanya ada orang-orang yang hanya sekedar melintas di depan bangunan yang cukup elit tersebut. Mereka bertiga masih berada di dalam mobil. Mengintai setiap orang yang terlihat sibuk di sekitaran bangunan.
"Masih dua sampai tiga jam lagi bukanya, kalian yakin mau diam di sini ?" tanya Reno. Ia melepaskan kaca mata, mematikan deru mobil dan membuka sedikit kaca mobil.
"Kenapa dari awal kau tidak bicara sih ? Kita akan mati gaya selama itu di dalam mobil. " keluh Sandy.
"Sudahlah kak. Jangan banyak bicara, kita perhatikan saja tempat itu. Pasti ada petunjuk yang bisa kita temui. " seru Keysha.
"Bawel banget jadi laki, " ledek Reno kesal.
"Kamu juga cengeng banget jadi laki, " balas Sandy dengan sinis.
"Hei jangan lupa sejarah ! Ingat, kalau Keysha gak berhasil aku bujuk dulu, kamu sekarang ku pastikan sudah pontang-panting di jalanan." Ungkap Reno lagi.
"Sudah, sudah ! Kalian ini, kalau gak ribut pasti berantem. Gak ada kegiatan yang lebih bermanfaat selain itu ?" Keysha menonjok keras kedua kursi yang berada di depannya. Membungkam mulut Sandy dan Reno seketika.
"Ah itu... itu kan Shinta," Keysha menunjuk ke arah luar, tepat pada Shinta dan seorang pria yang berjalan menuju Club malam. Mereka terlihat akrab, tapi parasnya tak terlihat jelas karena posisi mobil Reno berada di belakang mobil Shinta dan pria tersebut.
"Aku akan menemuinya, " Sandy sudah bergegas untuk turun dari mobil.
"Jangan ceroboh, bodoh !" gertak Reno.
"Tenanglah kak, kita harus punya bukti untuk menangkap Shinta. Setidaknya, untuk mengumpulkan bukti agar Shinta tidak bisa lagi mengelak." Jelas Keysha. Ia turut mencegah Sandy untuk bersikap tergesa-gesa.
"Terus, sampai kapan kita diam di sini ? Mau sampai jamuran ?" Keluh Sandy yang mulai bosan berdiam tanpa melakukan aktivitas apapun sungguh membosankan.
Sandy merogoh ponselnya, jemarinya sangat lentur menari di atas layarnya.
"Kirim mata-mata untuk mengawasi Shinta. Ia berada di Club malam di jalan Cemara . Lakukan yang terbaik, jangan sampai salah langkah !" Seru Sandy ketika ponselnya telah menempel di telinga.
"Akan ku kirimkan fotonya, dan tujuan utamanya. " sambung Sandy.
"Sudah ku katakan, jangan ceroboh San, " seru Reno.
"Tenang saja. Anak buah ku sangat cerdas. Mereka pasti akan menjalankan tugas dengan sempurna dan sembunyi-sembunyi. Berikan saja uang, kau akan sangat mudah mendapatkan informasi tentang perempuan itu. " jawab Sandy memberikan penjelasan.
"Sudah, ayo kita pulang. Kau mau tetap menatapku dengan pandangan menyebalkan seperti itu ?" gertak Sandy ketika mendapati Reno yang melihatnya tak percaya. Sejatinya, ia masih ragu mengiyakan rencana yang Sandy terapkan sendiri. Mengirim orang untuk mengintrogasi ke dalam adalah hal yang konyol. Bagaimana tidak, itu sama saja seperti mengirimkan satu nyawa secara cuma-cuma. Bagaiman jika ia di tangkap ? Lalu, di paksa untuk menjawab jejalan pertanyaan tentang siapa yang memintanya melakukan itu ?
*******
Sesampai di rumah, Keysha mendapati ada dokter Alexa dan juga Rania yang telah menunggunya di sana. Duduk bersantai di ruang keluarga dan menikmati macam hidangan yang Yeni sajikan untuk menemani kejenuhan mereka. Menurut yang Keysha dengar dari mbok Darmi ketika membuka pintu tadi, dokter Alexa terus menerus memaksa Rania untuk tetap tinggal dan menemaninya menunggu Keysha pulang. Ia sudah sangat biasa, dan menganggap Keysha adalah bagian dari keluarganya sendiri. Jadi, hal yang wajar jika ia tidak lagi merasa risih dan enggan untuk berlama-lama tinggal bersama Bunda Yeni.
"Assalamualaikum...." sapa Keysha begitu tiba di ruang tengah. Ia sudah bersiap, dan menatap ekspresi untuk tetap biasa saja menyambut kedua tamunya tersebut.
"Wa'alaikum salam, " sahut dokter Alexa dan Rania dengan kompak. Keduanya menoleh ke arah sumber suara, menyambut perempuan itu dengan penuh suka cita.
"Keysha, kamu dari mana ? " tanya dokter Alexa spontan.
"Aku...aku tadi menghadiri undangan dari client bisnis kak Sandy, " jawab Keysha.
"Oh, pantas saja. Aku menunggumu begitu lama di boutique. " Keluh dokter Alexa.
"Maaf ya, aku tidak mengabari mu terlebih dahulu, " ungkap Keysha.
"Oh, aku hanya ingin memperlihatkan ini, bagaimana menurutmu ? Maaf ya kalau masih sangat buruk melakukan ini. " ucap dokter Alexa seraya menyerahkan beberapa lembar kertas yang telah berhasil ia isi dengan ragam sketsa gaun dan pakaian lainnya. Sebuah media baru yang mampu meluluhkan hatinya, dokter Alexa mulai terpikat dengan bidang yang sedang di geluti secara mendalam oleh Keysha.
"Wah, Lex, ini sempurna sekali. Kau benar-benar sangat cepat menangkap apa yang ku beritahukan padamu, " sambut Keysha dengan wajah berseri-seri. Di raihnya beberapa kertas itu, lalu ia membukanya satu demi satu dan memperhatikan setiap garisnya dengan jeli.
"Kau benar-benar menggunakan perasaanmu dalam setiap coretan yang kau tuangkan, " ucap Keysha.
"Kau bisa melihat nya ?" tanya dokter Alexa heran.
"Karena Keysha sudah sangat lama mendalami bidang seperti ini, jadi mudah sekali baginya membaca semua coretan yang di tuangkan oleh para desainer. " Sahut Rania.
"Oh ya Key, ini sudah sangat malam, aku pulang ya. Kasihan Angeline, dia pasti belum tidur karena menungguku pulang." Rania menghampiri Keysha. Ia menyentuh bahu sahabatnya itu.
"Makasih ya Ran, " ungkap Keysha, ia mengerti jika Rania hanya menuruti kemauan dokter Alexa. Menemaninya menembus malam dan duduk santai menunggu kepulangan Keysha. Seperti seorang gadis yang tak memilik tanggungan anak dan suami. Namun, Rania menyadari itu dan dengan senang hati ia menuruti kemauan dokter Alexa. tak banyak bantuan yang bisa ia kerahkan, selain sisa waktu dan secuil senyuman untuk menghiburnya.
Keysha dan dokter Alexa menatap pada punggung Rania yang mulai menjauh. Lenyap, lalu menghilang di balik tembok pembatas. Sandy berpamit terlebih dahulu untuk membersihkan diri. Meninggalkan Keysha dan dokter Alexa menghabiskan malam.
"Kau mau menginap di sini ? Ini sudah sangat malam..." tawar Keysha.
"Maaf ya Key kalau aku ganggu kamu, tapi aku benar-benar gila kalau hanya diam di rumah saja. " keluh dokter Alexa. Ia merunduk pilu, ingatannya kembali mengulang pada kisah salah yang menghakimi waktunya. Menerjang rencana indah yang tinggal hitungan detik.
"Itu bukanlah masalah Lex, kau juga pasti akan melakukan hal yang sama jika kejadian serupa terjadi padaku. Bagaimana kau menginap di sini ? Allan dan Lena pasti akan senang ketika bangun pagi melihatmu sudah berada di sini, " bujuk Keysha. Jam sudah menunjukkan pukul 00: 31 dini hari. Keysha tidak mungkin tega melepaskan sahabatnya begitu saja. Meraba gelapnya malam seorang diri, tanpa adanya pria pendamping yang sepertinya begitu takut melihatnya tergores, walau hanya seujung kuku.
"Jika itu tidak mengganggu waktu mu bersama keluarga, dengan senang hati aku akan tetap tinggal untuk malam ini. " sahut dokter Alexa.
"Sama sekali Lex, justru semua akan sangat senang menyambut mu. " Keysha merangkul sahabatnya. Ia tahu, senyuman yang dokter Alexa lukis adalah palsu. Itu hanyalah kiasan untuknya mengalihkan perhatian. Sebuah cara untuk melindungi orang-orang sekitarnya, agar tak turut merasakan kesedihan yang mendera dan masih menetap di dasar hati dokter Alexa.
"Kau ingatkan kamarnya ? Istirahat lah, ini sudah sangat malam. Kau pasti kelelahan menyelesaikan desain-desain itu dalam waktu sehari. "ungkap Keysha.
"Baiklah. " Dokter Alexa beranjak. Ia telah melangkah menelusuri anak tangga terlebih dahulu. Meninggalkan Keysha yang masih duduk manis di ruang keluarga. Ada banyak hal yang masih mengganjal di pikirannya. Tentang Shinta, tentang Cherry dan sosok laki-laki di balik keberanian Shinta. Akan banyak fakta yang ia pecahkan jika anak buah yang Sandy kirimkan berhasil melakukan tugas tanpa hambatan.
Tubuhnya cukup penat, ia sangat kelelahan karena beberapa hari terakhir terlalu sibuk mengurusi sahabat-sahabatnya. Sampai lupa, jika dirinya sendiri memerlukan istirahat yang cukup. Ada satu nyawa yang ia tanggung kehidupannya. Yang perlu ia cukupi istirahat nya . Bahkan lelah yang Keysha rasakan, tentu akan di rasakan pula oleh janin yang ia kandung.
Keysha mengusap perutnya dengan lembut begitu kepalanya merunduk memperhatikan.
"Maaf sayang, mama sangat sibuk dengan urusan sahabat-sahabat mama. Kamu harus kuat ya nak, bantu mama, bantu om Reno dan juga tante Alexa, " Seru Keysha.
Tak menunggu banyak waktu, setelah merasa cukup beristirahat dan menghela nafas panjang, Keysha segera membereskan barang-barang nya. Membawanya naik meniti tangga satu persatu. Dengan langkah yang sudah mulai goyah, ia berusaha untuk tetap tegar. Ya, ada banyak orang yang bergantung padanya. Jika ia menyerah, lalu pasrah begitu saja dengan tubuh yang sebenarnya sudah mengeluh akan rasa lelah, tentu akan banyak raga yang kehilangan dirinya sendiri. Akan banyak orang yang tak bisa menopang tubuhnya sendiri.
Di lihatnya sang suami, pria itu sudah berbaring tanpa mengganti pakaiannya. Tengkurep di atas ranjang, tanpa melepas sepatu yang ia kenakan. Keysha tersenyum kecil menatapnya, lalu melangkah masuk dan meletakkan semua barang di tangannya di atas meja.
"Maaf ya kak, Keysha harus paksa kakak buat bantu masalah ini. Reno sangat berjasa untuk pernikahan kita, aku ingin kita bisa memberi sedikit jalan untuk masalahnya. " Keysha mengusap wajah Sandy. Kemudian, menarik sepatunya dan melepasnya.
Keysha kembali beranjak, sehari ini ia belum bertemu dengan kedua anaknya, Allandra dan Allena. Dengan kantuk yang sebenarnya sudah menggelayuti mata, Keysha kembali ke luar kamar dan menuju kamar kedua anaknya. Di tariknya gagang pintu dengan sangat hati-hati, ia takut jika kedatangannya pada waktu yang sudah terlalu larut itu akan mengganggu mereka. Allan dan Lena tampak tidur pulas, Keysha hanya mengusap wajah mereka dan meninggalkan kecupan hangat.
"Maafkan mama sayang, " keluhnya dalam hati.
"Mama, Allan kangen." ucap Allan di sela selimutnya.
Deg ! Jantung Keysha berdetak kencang. Ia segera menghampiri anak lelakinya. Bukankah Allan tadi begitu nyenyak ? Apa dia hanya berpura-pura tidur ?
"Sayang, mama di sini..." sahut Ksyhsa lirih. Namun, Allan tak lagi terdengar bersuara. Anak laki-laki itu tetap menghadap tembok tanpa bergerak sedikitpun. Rasa penasaran Keysha membuatnya berusaha mencari tahu. Ia meraih dahi Allan seraya menatap wajahnya.
"Ya Allah, kamu mimpi nak ?"
Suara Keysha mulai serak seperti menahan tangis. Kesedihan semakin menjadi, belum usai masalah Reno dan dokter Alexa, pun dengan Shinta, kini ia harus berusaha memberikan penjelasan kepada anak-anaknya. Anak sekecil mereka, bagaimana harus memahami permasalahan begitu besar ? Keysha tak mengerti lagi, langkah apa yang seharusnya ia ambil untuk memberikan pengertian kepada Allan dan Lena. Usianya masih terlalu dini untuk berpikir keras. Dan memang seharusnya, mereka belum mengerti tentang itu. Yang mereka inginkan hanyalah kasih sayang yang Keysha curahkan secara langsung.
"Mama akan temani kamu tidur ya ? Mama juga kangen dengan mu nak. " Keysha menarik selimut, lalu berbaring di samping Allandra.
Matanya mudah sekali terpejam, hanya butuh hitungan detik Keysha sudah terlelap dalam pelukan Allan.
*******
"Pagi bun..." sapa Sandy begitu langkah kakinya telah sampai di barisan anak tangga paling bawah.
"Pagi nak. " Yeni menorehkan secuil senyuman sebelum akhirnya kembali menyiapkan menu sarapan.
"Keysha kemana bun ?" tanya Sandy.
"Loh, kamu ini gimana to San. Keysha belum bangun dari pagi, kalian istirahat jam berapa semalam ? Jangan terlalu lelah, istrimu itu hamil muda nak. " tutur Yeni.
"Belum bangun bagaimana bun ? Keysha sudah tidak ada di kamarnya. " Sahut Sandy.
"Pagi tante, pagi San..." Dokter Alexa menghampiri mereka.
"Pagi Lex, lah semalam tidur di sini nak ?" Yeni tampak kaget, karena memang tidak mengetahui jika Dokter Alexa masih tinggal di rumahnya.
"He he...iya tante. Maaf ya kalau merepotkan, " Dokter Alexa masih mematung tak jauh dari meja makan.
"Ah kamu ini. Tidak merepotkan Lexa, sama sekali. Sini duduk sini. " Yeni menyambutnya dengan senang hati. Ia menarikkan kursi dan mempersilahkan dokter Alexa untuk turut makan bersama.
"Lex, Keysha tidur denganmu ?" tanya Sandy mulai panik. Ia memang tidak tahu jika istrinya bermalam bersama anak-anaknya. Mimpi Allan yang menyebut namanya, membuat perempuan itu tak rela meninggalkan kedua anaknya.
Dokter Alexa menggeleng pelan, seraya mengangkat kedua bahunya. "Tidak San, semalam Keysha naik setelah aku masuk kamar. Mungkin dia ketiduran di kamar anak-anaknya, saat aku ke luar untuk ambil minum, aku lihat Keysha masuk kamar anak-anak. " tutur dokter Alexa yang membuat Yeni dan Sandy menarik nafas lega.
"Mungkin Keysha sangat merindukan anak-anaknya. Jangan terlalu khawatir. " nasihat Yeni.
Yeni dan Sandy sengaja tidak membangunkan Keysha terlalu pagi. Apalagi, hari itu Allan dan Lena tidak pergi ke sekolah. Jadi, tidak ada alasan untuk membuat ketiganya bangun terlalu pagi.
Suasana meja makan tampak hening. Hanya terdengar suara piring dan sendok yang saling berbenturan. Selesai makan, Sandy segera berpamitan kepada Yeni dan dokter Alexa. Ia juga menitipkan pesan untuk istri dan kedua anaknya. Sehari kemarin, ia sama sekali tak masuk kantor, jadi sudah pasti pekerjaan untuk hari itu begitu banyak.
Tak berselang lama, dokter Alexa juga berpamitan. Ia mengatakan terima kasih dan permohonan maaf atas kedatangannya yang tidak tepat waktu. Namun, Yeni memahami itu. Dengan hati gembira ia menyambutnya, dan selalu mengatakan bahwa teman-teman Keysha selalu ia anggap sebagai anak-anaknya. Jadi, mereka di berikan kebebasan untuk keluar masuk sesukanya. Tak peduli itu pagi, siang, sore atau malam sekalipun. Bagi Yeni, mereka yang tulus menyayangi Keysha, adalah orang-orang yang Allah kirim untuk menjadi keluarga barunya.
Tepat pukul 09.00, Keysha dan kedua anaknya baru saja membuka matanya. Silaunya sinar mentari pagi yang menerobos masuk melalui celah jendela yang terbuka sedikit, cukup mengganggu matanya. Keysha menggeliat kuat, melepaskan penat dan meregangkan otot-otot yang dirasa kaku olehnya.
"Mama ?" Allan terbuai begitu menyadari jika Keysha tidur di sampingnya. Dengan suara setengah berteriak, ia merangkul tubuh Keysha yang masih terbaring di atas ranjang. "Mama tidur di sini ?" tanya Allan dengan wajah polosnya.
"Iya sayang, mama sangat merindukan mu. " seru Keysha.
"Allan juga ma. " Sambungnya , tanpa melepaskan diri dari dekapan sang mama.
Rasa harus yang bercampur iba, Keysha ingin sekali menangis di pelukan sang putra. Namun, ia tetap berusaha menahan diri. Ia tak ingin jika Allan mengerti tentang hatinya, rasa lelahnya, bahkan menderitanya ia karena harus terus-menerus menahan rindu kepada buah hatinya.
"Kita bangunkan Lena yuk, " ajak Keysha.
Allan mengangguk kegirangan, dan langsung meloncat dari atas ranjangnya. Di hampiri nya tubuh Allena yang masih terbaring di atas ranjang, dengan nuansa pink dan begitu feminim.
"Allena..." Allan menggoyang-goyang tubuh Lena.
"Lena, bangun ...." tambah Allan.
"Allena, bangun Lena !" Allan semakin tak sabar, ia berteriak keras di balik telinga saudara kembarnya.
"Allan jangan galak-galak, " tutur Keysha, dengan nada bicara yang sangat lembut.
"Lena, ayo bangun sayang. " Keysha duduk di tepi ranjang Lena. Mengusap rambutnya, yang menutup sebagian wajah cantiknya. Anak gadis Keysha dan Sandy,sudah tumbuh besar dan begitu mirip dengan sang mama. Usianya sudah menginjak hampir tujuh tahun, tepat lima belas menit setelah Allandra. Betapa beruntungnya mereka, di karuniai sepasang putra dan putri yang selalu menerima kesibukan orang tuanya. Mereka dengan lapang dada tak menuntut waktu Keysha dan Sandy. Tak banyak protes yang hanya akan menjadikan pikiran untuk kedua orang tuanya. Kalau bicara tentang tahu diri, Keysha sangat menyadari kesalahan diri. Sejatinya, memang ia sudah saatnya untuk kembali diam di rumah, dan melepas semua kesibukan yang menyita waktunya.
Lena mulai menggeliat, jemarinya sudah sibuk mengucek kedua matanya, yang mungkin masih sangat berat untuk bangun.
"Allan, jangan kasar, " Protes Allena tanpa membuka mata, ketika Allandra menarik selimutnya.
"Sayang, ini mama. " Ungkap Keysha.
Allena mulai membuka kedua matanya. Senyuman hangat, langsung terpancar ketika ia menyadari jika Keysha benar-benar berada di sampingnya. Seolah lupa dengan kantuk yang masih mendera mata, Allena langsung beranjak dan merangkul tubuh sang mama.
"Sehari gak ketemu mama, rasanya kangen sekali. " Keluh Allena di dalam dekapan hangat sang mama.
***
*Tiada kasih indah, yang melebihi tulusnya kasih kedua orang tua.
Sekalipun dia adalah seseorang yang begitu mencintai diri kita, orang tua tetaplah sepasang insan, yang di setiap langkahnya tak melepas doa-doa tulus yang terpanjat untuk masa depan putra-putrinya.
Sesibuk apapun langkahnya mengais, sepenuh apapun waktu yang ia jajakan untuk urusan di luar.
Syair indah tanpa irama, tertata tapi dengan ketulusan rasa . Semua tak akan berkhianat ataupun menghilang dari jajaran cinta. Anak, adalah harta terindah untuk setiap orang tua.
@Titin tiand*