I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Maafin Keysha, Bunda!



"Bunda maafin Keysha. Key tidak bisa datang buat temui Bunda kali ini. Ayah sakit Bun Key harus jaga ayah sementara ini..


Love You Bun"


Pesan berhasil dikirim setelah melewati beberapa drama. Dih, Drama katanya! Tapi benar sih, wanita ini selalu saja membuat Sandy ikut memutar otak setiap akan mengirim pesan. Ingat dong dulu waktu masih dekat dengan Rania, seberapa stresnya dia memikirkan balasan yang tepat dari ribuan pertanyaan menggelikan dari yang katanya Best friend forever nya itu, ah ralat ralat! Itu kan dulu, toh si dia sudah hilang ditelan bumi. Bukan! Bukan! Bukan ditelan bumi, tapi sengaja aja dia terjun untuk ditelan bumi. Iya kan? Dia memilih berteman dan percaya dengan Cherry yang sudah jelas seberapa persen liciknya dibanding mencoba mendengar dan menelaah penjelasan dari sohibnya. Well, cinta memang membutakan segalanya.


Ok, baiklah! kita kembali ke topik!


Keysha meletakkan ponselnya di kursi yang sedang dia duduki. Dia menunggu jawaban dari Yeni dengan tenang, melempar pandangan sejauh yang bisa dia gapai. Lalu lalang orang di sekitarnya tidak dia hiraukan. Key memilih membisu dengan alunan musik pop favoritnya yang dia dengar dari earphone yang menyatu di telinganya.


Drrt drrtttt


Musik sejenak berhenti, layar ponsel berkedip dan bergetar. Key segera meraihnya dan membaca pesan yang masuk.


"iya sayang, Bunda tunggu Keysha selalu...


Key rawat ayah dengan baik ya nak, lupakan masa lalu yang buruk di antara kalian. Key sudah dewasa sekarang! Ambillah sisi positif nya ya sayang. Love you too"


Gadis itu menghela nafas lega dan kembali meletakkan ponselnya. Wajahnya sudah kembali segar dan sedap dipandang setelah disiram kata-kata yang menggerakkan hatinya oleh sang Ibunda, Yeni. Wanita yang berparas cantik itu, selalu mengajarkan Key untuk berbuat baik. Dia tidak peduli seberapa dalam luka yang telah diukir Danu dan Lita, tapi Yeni tidak pernah mengajari Key untuk membenci mereka.


"dengerin apa sih?" Sandy meraih earpohone yang masih asyik bercengkrama dengan telinga Key. Gadis itu terperanjak kaget karena Sandy nerocos tanpa permisi.


"Kau sangat cantik jika sedang marah. Kau tahu aku sangat suka ini " Sandy menggodanya. Dia membelai lembut kepala Keysha. Kali ini, gadis cantik itu berpikir jernih, dia menyeka tangan Sandy dan duduk menjauh dari lelaki yang sedang mengujinya ini. Sama saja, Keysha masih memilih membuang muka dan enggan melihat Sandy. Percayalah Key! Itu hanya akan membuat Sandymu itu tertawa geli. Sifat bocahmu itu lo, yang selalu memancing nya untuk menggodamu!


"Baiklah, kalau tidak mau diganggu. Aku pergi." Sandy menyembunyikan senyuman jailnya. Kakinya sudah bersiap melangkah, tubuhnya juga sudah dia angkat dari bangku. Namun, lengannya tertahan oleh cengkraman Keysha.


"Kak Sandy" suaranya sangat lembut memanggil. Ada harapan dari lima huruf yang dia sebutkan. Sandy menyeringai puas. Tentu saja! Acting nya berhasil membuat Key memohon. Ya sih tidak langsung bilang kak Sandy sayang, aku mohon! Tinggallah, aku mau kakam menemaniku. Tapi setidaknya dengan Key menarik tangan Sandy itu sudah membuktikan bukan? Cukuplah!


Dasar wanita gengsian. Tapi ketahuilah, aku sangat mencintaimu....


Sandy kembali menjatuhkan tubuhnya di atas bangku. Keduanya memilih membisu dan berdebat dengan pikiran masing-masing. Sandy tampak santai, dia merebahkan tangannya di sepanjang sandaran bangku itu. Percayalah, Dada bidangnya itu menyimpan magnet, posisi seperti itu selalu menarik Key untuk merebahkan tubuhnya di dada Sandy. Baginya, inilah tempat ternyaman untuk bercurah tanpa suara.


"Harusnya besok aku ke rumah bunda" suara Key terdengar parau. Kerinduannya terhadap Yeni yang belum sepenuhnya hilang, kini terpaksa harus terhalang. Key tidak mungkin meninggalkan ayahnya begitu saja, tapi di lain sisi dia benar-benar ingin menemui Yeni.


"Sudah, jangan dipikirkan. Sebentar lagi kan liburan semester. Kita akan ke sana selama kamu libur!" Sandy membelai lembut punggung sang istri. Berharap hatinya bisa sedikit tenang. Ya walaupun dia sendiri tidak yakin dengan ucapannya.


"Kamu juga?" Key bangkit dari sandarannya. Matanya jeli mengabsen setiap sudut wajah Sandy.


"Akan ku usahakan!" Sandy tersenyum damai.


Bersambung...............