
"Enak kan ?" Keysha tersenyum menggoda. Ia meletakkan sendok dan garpu dari genggaman tangannya. Mendorong wajah untuk lebih leluasa menatap wajah suaminya.
Sandy hanya tersipu, tidak ada sepatah katapun yang mewakilkan. Ekspresi wajah yang memerah sudah jelas menunjukkan jika dia malu. Penolakan keras yang membawanya ke sini berubah menjadi sebuah candu yang ingin selalu diulang di lain hari.
"Makanya, jangan terbiasa menilai sesuatu dari yang terlihat. Boleh saja disini semua serba sederhana, tetapi soal rasa ini tidak kalah dengan restoran-restoran mewah yang setiap hari kakak datangi." Kata Keysha dengan santai. Ia melanjutkan makannya setelah satu kalimat nasihat dia lontarkan dengan yakin.
"Bijak sekali istri aku ini..." Sandy mencubit pipi Keysha. Membuat wanita itu terperanjak dan meringis menahan sakit. Ia meraih pipinya yang sudah memerah karena ulah Sandy.
"Kak Sandy, sakit." Ucapnya dengan manja. Wajahnya cemberut sangat lekat dan persis dengan Keysha beberapa tahun yang lalu. Seorang gadis judes yang selalu protes dengan segala aturan Sandy. Gaya lincahnya tidak pernah mau mengiyakan apa yang Sandy ungkapkan.
"Hahaha ...." Gelak tawa Sandy terlepas dari balik bibir. Tidak ada lagi yang bisa ditahan olehnya. Semua mengalir pasti, menggambarkan urat-urat yang menegang akan rasa bahagia.
Keysha tidak mengerti hal apa yang membuat lelaki itu tertawa begitu lepas. Ia menyipitkan mata, menatap Sandy dengan tajam. Mengamati wajah yang menggambarkan raut yang meledek dengan sengaja.
"Apa sih kak Sandy ?" Keysha semakin asyik bermain dengan mimik wajah yang kesal. Bibirnya tampak menebal tatkala nalarnyaw tidak sampai untuk berpikir perihal itu.
"Tidak ada apa-apa..." Jawab Sandy singkat. Ia menarik nafas dalam untuk menahan tawa yang masih bergerumuh di mulutnya. Perutnya terasa menegang, bahkan matanya sempat di warnai dengan kristal-kristal bening yang hendak meluncur. Sandy di buat larut dalam tawa oleh bayangan manis wanita yang masih menatapnya dengan bingung itu hingga hendak menangis. Rupanya, air mata tidak hanya melambangkan sebuah duka yang tersirat. Ia bisa mewarnai sebuah suka menjadi suasana yang haru.
"Sudahlah jangan menertawakan aku seperti itu. Malu, banyak yang lihat." Bisik Keysha sembari menatap sekeliling. Tidak sedikit pengunjung yang menatapnya. Ada yang terbuai bahkan ikut tersenyum-senyum, tetapi tidak sedikit pula yang menatap mereka bingung.
"Baiklah..." Jawab Sandy singkat. Ia kembali meraih sendoknya untuk kembali melanjutkan makan. Menyuapkan seafood yang selalu menjadi menu favorit setiap kali makan di luar rumah.
"Kamu tidak makan lagi ?" Sandy melirik Keysha yang tampaknya sudah menutup sendoknya. Ia meneguk segelas teh hangat yang sudah di pesannya. Beberapa kali tegukan lalu kembali meletakkan di atas meja.
"Aku sudah sangat kenyang kak. " Keysha mengulur senyum. Meraih sebuah kotak tisu untuk mengambil beberapa lembar lalu menyeka bibir tipisnya.
Sandy memanggil seorang pelayan untuk meminta bill. Tetapi, justru malah disambut tawa ringan oleh istrinya. Keysha terkekeh geli mendengar kata-kata yang terlontar santai dari balik lidah Sandy.
"Sini deh." Wanita itu menarik lembut tangan suaminya setelah selesai membereskan beberapa barang pribadinya. Memasukkan kembali ke dalam tas satu persatu dan segera beranjak mendekat pada seorang bapak berkumis pemilik lapak.
"Berapa pak semuanya ?" Sapa Keysha lembut. Senyumannya menawan ketika matanya saling bertemu dengan mata si bapak.
"Totalnya seratus lima puluh ribu rupiah bu." Jawabnya lirih dengan nada yang sopan.
Mata Sandy membelalak tidak percaya. Beberapa menu yang dia santap hanya di hargai dengan nominal kecil, yang jika dia bawa ke restoran mewah yang biasa dia kunjungi tidak akan mendapatkan satu porsi makanan.
-----
"Bagaimana respon pertama kali mencicipi makanan di pinggir jalan tuan ?" Keysha tersenyum menggoda. Dia meraih sebuah botol kecil lalu menyodorkan tepat di hadapan Sandy yang fokus dengan kemudi mobilnya. Lagaknya sudah seperti seorang wartawan yang mengintai kabar terbaru dari artis papan atas. Canda Keysha di sambut senyum keki oleh Sandy. Laki-laki itu menepis halus botol di hadapannya, tanpa suara seolah menolak untuk menjawab.
Gelak tawa Keysha pecah seketika. Nada yang indah terdengar, menjamah kian dalam di gendang telinganya. Menyapa rasa, mengalirkan sebuah rasa bangga atas kebahagiaan yang berhasil di raihnya. Ya, tawa riang Keysha selalu menjadi hal yang membuat Sandy membusungkan dada, seolah menyombongkan diri telah berhasil membuat wanita itu hidup dalam ketenangan, bahagia, dan menjauh dari sebuah ancaman seperti yang mengintainya di masa remaja.
"Bagaiman kerja samamu dengan Cherry kak ? Apa semua berjalan lancar ?" Keysha bertanya penuh selidik. Tawanya terhenti sesaat ketika angannya merajalela dan membawa sebuah bingkisan kecil bertanda nama Cherry.
"Batal..." Sandy menghentikan kalimatnya sejenak, lalu menatap wajah sendu wanita yang menoleh ke arahnya dengan ras penasaran.
"Reno memaksaku membatalkan semua karena aku juga tidak sepenuh hati menjalani kerja sama itu. Tetapi, semua client yang di rugikan akan aku ganti hingga 100 persen. Ya, kecuali perusahaan Cherry." Sandy memberi penjelasan dengan jeli. Merangkai kata-kata nya hingga menjadi sebuah kalimat yang mudah di pahami.
"Memang kenapa dengan perusahaan Cherry kak ? Harusnya semua tetap mendapatkan itu bukan ? Bagaiman kalau kakak di tuntut oleh Cherry ?" Keysha memberondong Sandy dengan ragam pertanyaan. Kekhawatiran justru menyibak kalbunya kala Sandy mengatakan jika dia membatalkan kerja sama secara sepihak.
"Dia punya niat terselubung di balik kerja sama ini sayang. Kita ada bukti rekaman yang Reno dapatkan waktu itu jika memang dia berani menuntut." Sejenak Sandy melirik wanitanya sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. " Tetapi menurutku wanita itu tidak akan berani melakukannya. Ya, karena sejatinya dia menyadari apa yang dia perbuat tapi dia gengsi untuk mengakui."
"Apa kak Reno benar-benar jatuh hati dengan wanita itu ?" Keysha memutar bola matanya. Titik fokusnya beralih cepat, keluar dari jalur pembahasan yang sebelumnya.
"Kurasa tidak...."
"Lalu ? Kenapa dia bertingkah seperti mencintai wanita itu ?" Tanya Keysha masih menyelidiki.
"Aku tidak paham." Sandy mengangkat kedua bahunya. "Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan itu ?"
"mmm ? Tidak ....tidak ada apa-apa. Aku cuma menyayangkan saja jika laki-laki sebaik kak Reno harus takluk pada cintanya dengan wanita seperti Cherry." Jawab Keysha polos. Dia tidak bermaksud memandang buruk pada diri wanita yang memang selalu memiliki otak kotor tatkala berhadapan dengannya. Tetapi, sikap dan tindakannya lah yang membuatnya tidak rela jika sahabat suaminya harus takluk pada Cherry.
"Kamu seperti baru kenal Reno kemarin saja. Dia itu terkenal dengan penjajah wanita sejak muda. " Celetuk Sandy ringan. Senyuman bernada meledek ia suguhkan di sudut bibir.
"hahaha....iya aku ingat itu. Tetapi sudah lama kak Reno berhenti bermain-main dengan wanita. Aku hanya takut saja jika dia memang tengah terjerat dengan cintanya wanita itu. Toh, mereka sudah sama-sama berumur dan tidak kunjung memutuskan untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi lagi." Keysha memberi penjelasan. Tangannya ikut bermain seakan memberi jawaban dengan gerakan yang berisyarat.
"Kita doakan saja dia segera mendapat jodoh yang sama baiknya." Sandy melirik istrinya. Mengedipkan mata agar tidak lagi membahas perihal itu.
Kemudi di tangannya masih saja di putar olehnya. Pedal gas tak kunjung berkurang kecepatannya. Waktu sudah sangat larut, keadaan sekitar pun sudah semakin sepi dan sunyi dari hiruk-pikuk aktivitas manusia. Perlahan, Keysha mulai memejamkan mata karena tidak ada pembicaraan yang menguatkannya untuk menahan kantuk. Hening, sunyi semua semakin kuat memberinya celah untuk terlelap. Deru mesin mobil dan hembusan AC seakan menjadi lagu pengantar tidur yang cukup menenangkan.