I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Kembali Tertawa Bersama



"jalani dulu bro. Tapi lebih baik lo bilang sama Keysha. Gue ngerti kok, dia akan bisa memahami semua. Dia bukan Cherry bro !" Reno mencoba menghibur. Mendekap mesra hati yang hampir terjatuh dan menghilang dari posisinya .


Sandy mengangkat sebelah alisnya. Memikirkan kata-kata Reno yang di rasa ada benarnya. Mungkin, dengan mengatakan semua dengan jujur akan membuatnya lebih tenang, bahkan nyaman . Sandy menggerutu seorang diri, menyaksikan hatinya yang semrawut tak tahu diri.


"Akan gue pikirkan . Yuk cabut ." Sandy merangkul bahu Reno.


"buat apa lagi di pikirkan ! Lo ngga takut iblis itu memutus tali di antara kalian secara perlahan ?" Reno menyahut dengan cepat. Serangkaian kata yang mungkin sudah ia siapkan, hingga semudah itu lolos dari bibir nya. Singkat namun jelas nan padat. Sandy mengerutkan dahi, tangannya masih setia dengan bahu Reno.


"Ok ok Baiklah. Tapi cepat lah rubah status KTP lo ! Biar gue lebih percaya kalau lo kasih nasehat !" Bukan Sandy kalau namanya kalau tidak menyempatkan diri untuk meledek Reno. Menggoda dengan status yang masih sama-sama saja. Percintaan yang hanya berhenti di satu malam. Entahlah !! Mungkin karma sedang mengujinya, dengan di tiadakan rasa yang bersungguh-sungguh pada dirinya. Yaa, Reno sempat menjadi playboy kelas kakap. berganti-ganti wanita untuk menghibur diri .


Sepanjang perjalanan Sandy terngiang ucapan Reno.. Tentang pernikahan nya, kehidupan nya, keluarga, dan wanita iblis yang kembali hadir menghantui hari-harinya. 'Mungkin, Reno kali ini benar. Gue harus jujur dengan Keysha.' batinnya.


Sandy merogoh saku, mengeluarkan ponsel dan mencari-cari kontak yang ia tuliskan dengan romantis. Bolak-balik membuka tutup ponselnya. Bukan lagi tentang gengsi yang meninggi, melainkan sikap istrinya yang ia rasa mulai tak seperti. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan ia pandangi . Pukul 18.38 belum terlalu malam untuk kembali mendekatkan diri pada anak-anak nya.


Merangkai dongeng untuk kembali mereka tertawa kan bersama. Lebih baik seperti itu. Yang sudah di dekap, tak boleh lepas ataupun sampai menghilang. Dunia tidak hanya tentang uang dan bisnis. karena mereka lah aku tetap berdiri . Dengan badai yanh semakin kencang menerpa. Permasalah yang baru di tahap awal. Dan dengan mereka pula harusnya aku bercurah..


tiin ...tiiin


Suara klakson mobil begitu bersemangat di halaman rumah. Keysha melepas earphone yang baru saja ia kenakan. Bahkan dengan lagu pertama yang belum usai berputar. Rasa penasaran nya membawa langkahnya mendekat di balik jendela, mengintip dari sela-sela yang masih sangat jelas untuk memperhatikan.


"Sandy ?" Dahinya berkerut . Hatinya meloncat kegirangan, namun raganya sedang tak bergairah mengekspresikan. Ia mematikan musik yang berputar, menutup kembali laptop yang belum lama ia buka. Segera bergegas keluar kamar dan berjalan menelusuri anak tangga.


"Assalamualaikum ." Sapa Sandy dengan lembut. Senyum yang sudah lama menghilang kini kembali ia bawa pulang.


"Wa'alaikum salam. " Key menghampiri Sandy meraih tangan dan mencium nya . Tas di tangannya ia ambil dari genggaman tangan Sandy, dan di letakkan di sofa ruang keluarga.


"kamu lapar ya ? aku belum sempat masak. ku pikir, bakal lembur lagi " Keysha meraih pergelangan tangan Sandy. Mata bulatnya seakan berlutut memohon maaf .


Sandy mencubit hidung Key manja. Huuft, Sungguh! hal aneh yang ia rasakan. Ia merindukan orang yang ia temui di setiap harinya.


"*Aku masak dulu. kamu mandi yaa ?"


"Biar mbok Darmi yang masak*. " Sahut Sandy . Ia merebahkan tubuhnya di sofa panjang dan mengangkat kedua tangan ia sembunyikan di balik kepala.


"Baiklah."


Key duduk dengan cemas. memainkan kedua jari-jemarinya .


"San ?"


"Key?"


Mereka saling bersamaan memanggil nama masing-masing. Suara lembut dengan nada yang masih ingin di lanjutkan. Membuat bibir mereka saling melempar senyum. Dan saling menatap dengan malu-malu.


"Ya sudah kamu dulu "


Dan terjadi lagi. Kalimat yang sama mereka lontarkan di waktu yang bersamaan. Ah, jodoh ! suka gitu emang. Ada saja yang membuat kompak dan sedap di pandang. So, mereka saling tertawa, tak mereka dengan tingkahnya sendiri.


"jadi siapa dulu ni ? " Sandy melirik Keysha, mengedipkan mata genitnya. Mengulang masa puber, yang sudah terlewat lama . Menarik ! Key tertawa geli melihat suaminya yang di rasa semakin menghilang dari genggaman hatinya.


"Ok, kamu dulu lah..Tolong ! Berhentilah bertingkah layaknya ABG ! Kau sudah tidak pantas Sandy " Protes Keysha dengan manja. Ia menyenggol lengan suaminya yang makin menjadi dengan tingkah konyolnya.


"Jadi, kamu mengatakan aku sudah tua ?" Sandy memulai aksinya, ia menggelitik pinggang istrinya. Membuat Key berteriak karena tak tahan di gelitik.


Mendengar candaan yang hampir sirna , Allandra dan Alena keluar dari kamar. Menelusuri anak tangga dengan terburu-buru. Membuat kedua pengasuh yang menemani was-was tak karuan dengan tingkah si kembar.


"Papa udah pulang ?" Lena berlari , memeluk erat tubuh papanya. Seorang lelaki yang sangat ia rindukan kasih sayangnya.


"Papa, tumben pulang cepet ? "


Lena mendongak, manatap wajah Sandy yang kembali berseri-seri. Warna pelangi yang kembali lengkap tersorot dari bola matanya.


Rindu anak-anak papa ." Sandy mengangkat tubuh Lena , mendekapnya lebih erat dari sebelumnya. Berputar membuang rindu yang menyesakkan dada.


Di anak tangga yang paling bawah, berdiri Allan yang ikut tertawa melihat kembarannya riang di gendongan papanya. Masih keki untuk ikut mendekat dan memeluk tubuh yang ia rindukan aromanya. Hem, begitulah ! Gengsi pun bagian dari sifat yang bisa turun temurun .


"Sayang ? sini . Kenapa diem aja disitu ?" Panggil Key memperhatikan Anak lakinya yang mematung di antara ke dua pengasuh itu.


"Oh- maunya papa yang nyamperin yaa ? Ok . baiklah tuan kecil " Sandy masih erat menggendong tubuh mungil Lena . Membawanya berjalan menghampiri Allan yang tak berpindah dari tempatnya. Di mulai dengan mengacak-acak rambut anaknya dengan usil lalu bersalaman sesuai yang biasa mereka lakukan.


Sandy berjongkok, mengimbangi tubuh kecil Allan, ia juga merangkul kedua bahu putranya dengan lembut.


"Allan ? maafin papa ya ?" Sandy mengusap punggung Allan. Mengharap hati yang telah sakit karenanya luluh. Menghilang dan tak kembali ia goreskan.


"Papa ? Allan yang minta maaf karena ganggu papa. " Jawabnya dengan polos. Bola mata yang berbinar, memberi cahaya ketenangan . Sungguh ! hatinya tulus berbalik memohon maaf. Bocah kecil, yang membuat Sandy dan Key merasa beruntung memiliki nya.


"Tidak sayang. Harusnya papa tidak mengatakan seperti itu"


Sandy merangkul tubuh Allan, pria kecil itupun membalas nya dengan lebih erat.


"Sekali lagi papa membuat mamaku menangis. Jangan harap papa bisa pulang ke rumah ini . " Duuh, gemeskan ? Pria kecil ini mengancam Sandy dengan lantang. Wajahnya sangat serius tanpa sedikitpun senyuman. Membuat Keysha dan seisi rumah tertawa di buatnya.


Ketika besar nanti , Wanita mu akan gemuk karena sangat bahagia dengan caramu menjaga Allan.


Seperti bangkit lagi dari keterpurukan. Ia telah bangun dari mimpi buruknya. Sandy mengembalikan waktu yang memang seharusnya untuk keluarnya. Tawa yang sudah lama tak bergema, kini bersenandung di setiap sudut ruang. Kicauan mesra bersuara merdu di setiap ruang. Tinggal, satu kisah yang masih mengganjal . Rasa curiga di benak yang hampir memenuhi dada.


Waktu yang berputar kembali cepat berlalu. Anak-anak telah kembali terlelap di bawah mimpi-mimpi indahnya. Tersenyum riang di balik mata yang sudah terpejam.


*Cekrek


Pintu kamar sudah rapat terkunci. Kedua sejoli itu melanjutkan kembali obrolan mereka yang sempat tertunda.


"San ? "


"Kenapa sayang ?"


Keysha membersihkan wajahnya di depan cermin. Melirik suaminya dari pantulan kaca di depannya.


"Boleh aku bertanya?"


Ucapnya serius. Ia membuang kapas bekas ke tempat sampah di bawah meja. Beranjak dan memutar tubuh untuk menghadap Sandy.


" kenapa ?" Sandy meletakkan ponselnya. Ia mendekat Key agar lebih dekat.


"Aku ngga tahu , aku terlalu berlebihan atau terlalu lebay tentang ini. . .


Tapi, mungkin lebih baik aku mempertanyakan dari pada makin kesal kepadamu secara diam ." .Cetus Key . Sandy masih memfokuskan pandangannya pada Key. Wanita yang mulia menundukkan pandangan dan memainkan jari.


"*Sandy ? Apa benar kau dan Cherry ...."


"Sudah ku duga ! Kita bekerja sama ?"


"hem. Sandy, kenapa kau tidak memberi tahu ku ?"


"Sayang. Aku takut jika kau sakit hati karena ini....."


"Apa dengan menyembunyikan semua akan baik-baik saja Sandy ? Kau tahu, aku sangat benci di bohongi ."


"Sayang. Apa aku pernah membohongi mu* ?"


Keysha diam, kepalanya menggeleng pelan. Sandy memang tidak berbohong sedikitpun. Ia hanya belum menemukan waktu yang tepat untuk membicarakan semua kepada istrinya. Memilih bungkam, hingga semua sampai di telinga Keysha karena ulah Cherry.