I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Membujuk



"Lalu ? sebenarnya apa ?" Mobil Reno sudah berhenti di depan bangunan megah yang belum usai di bangun.


"Lalu kita harus segera turun karena sudah di tunggu sama pemilik ruko sebelumnya, " Sahut Audrey tegas. Kakinya terlebih dulu merayap keluar mobil. Menginjak pada tanah tanpa ragu-ragu. Gadis itu terlihat mengurai senyuman manis ketika berhadapan langsung dengan pemilik bangunan besar yang terbagi menjadi beberapa ruang yang berjajar panjang, tapi terbengkalai tak terselesaikan.


Reno hanya berdiam diri di dalam mobil pribadinya, memperhatikan ponsel yang sama sekali tidak ada pesan atau sebuah panggilan yang membuatnya lebih bersemangat melewati hari-hari yang melelahkan.


Audrey tidaklah lama bercengkrama dengan orang yang tampak penting itu, seorang bapak tua dengan badan besar nan tinggi itu menyerahkan sebuah berkas kepada Audrey. Setelah selesai di periksa, Audrey mengulurkan tangan yang di sambut hangat olehnya. Mengucapkan salam perpisahan lalu segera kembali ke dalam mobil.


"Sudah ?" Sambut Reno dengan wajah flat tanpa ekspresi. Ia bersiap melajukan mobil dengan pelan dan beraturan. Menginjak pedal gas tanpa tergesa-gesa. Melesat ringan di atas jalan raya dan untuk kembali mengantar Audrey pulang.


"Ya, " ucap Audrey dengan cepat. Audrey kembali membuka lembar demi lembar berkas-berkas yang tertata rapi di dalam sebuah map. Memeriksa dengan jeli barang kali ada yang terlewat dan tidak ia sadari sebelumnya.


Jika sedang fokus, Audrey memanglah terlihat lebih cantik dan anggun. Aura feminimnya terpancar nyata, tidak lagi tertutup dengan tingkahnya yang pecicilan tidak bisa diam, super cerewet dan bawel hingga memanaskan setiap pasang telinga yang mendengarnya.


"Cantik, " gumam Reno setelah kilas memperhatikan Audrey. Ia kembali fokus menghadap jalan, tapi ucapannya masih terdengar jelas oleh telinga Audrey.


"Siapa ?" tanya Audrey kepada Reno. Ia mengangkat kepala, balik memperhatikan Reno.


"itu tadi penjual jamu gendong, " Jawab Reno asal. Mengada-ada dengan kata yang melintas begitu saja.


"Oh," Audrey membulatkan bibirnya seraya mengangguk pelan. Percaya begitu saja tanpa mengulang tanya yang lebih mendesak.


*******


"Sayang, makan ya ? " Sandy membawa sepiring nasi dan segelas susu ke dalam kamar. Menyodorkan di hadapan Keysha, dengan tangan yang telah bersiap untuk menyuapi.


Keysha hanya menggeleng ringan, menolaknya dengan lemah. Jemari lentiknya sesekali ia angkat, menyeka air mata yang masih sering menetes. Matanya telah sembah, karena sejak kemarin ia sama sekali tidak tidur, apalagi ia terus-menerus menangis. Membayangkan kalimat terakhir Lita yang membujuknya dengan nada memelas. Mengharap uluran tangan darinya.  Meminta belas kasihan dengan hati yang sangat merendah. Namun, nyatanya Keysha menolak itu, dengan ragu dan berat hati, Keysha mengiyakan permintaan suaminya agar tidak dengan mudah terbujuk rayu wajah lemahnya.


"Sayang, aku minta maaf kalau kamu masih marah sama aku, tapi aku mohon makan ya ?" Sandy meletakkan piring di atas nakas kecil yang terletak di samping ranjang. Kini, Sandy memasang tubuh untuk berjongkok di tepi ranjang. Ia tidak memohon agar istrinya segera memberikan maaf untuknya, ia hanya menginginkan agar Keysha memakan nasi yang telah di bawakan olehnya.


"Kak...."


"Kakak tidak paksa Keysha buat maafin kakak, tapi makan ya ? Kasian sama perutnya..."


Siapa yang tidak luluh dengan bujukan yang diucapkan dengan suara selembut itu ? Kata demi kata sederhana yang dilontarkan dengan cara yang manis.


Keysha tercengang, ia semakin tidak sanggup menahan tangis haru yang mulai merembes, menggeser dentuman rasa sesal yang mencekik leher. Keysha meraih lengan Sandy agar kembali duduk di tepi ranjang. Berjajar dengan posisi seimbang.


"Jangan seperti itu kak, " tangis yang semakin bebas, membuat setiap kalimat yang ia ucapkan tertahan.


"Aku bingung sayang, kalau kamu seperti ini, kakak memang salah sama kamu. " ucap Sandy dengan nada parau.


Sandy mendekap erat tubuh Keysha, bibirnya mengecup kening wanita yang memejamkan mata di dada bidangnya seraya mengusap punggung nya.


"Makan ya ?" ucap Sandy lembut setelah melepaskan tautan tubuh mereka.


Keysha mengangguk mengiyakan, lalu segera membuka mulut ketika Sandy sudah menyodorkan satu sendok nasi di depan bibir mungilnya. Keysha mengunyah makanan dengan pelan-pelan.


"Bagaimana ?" Sandy menautkan alis, meminta komentar setelah Keysha menelan suapan pertama.


"Bagaimana ? Apanya ?" Keysha balik bertanya, tidak paham maksud suaminya yang tiba-tiba bertanya dengan kalimat yang menggantung.


"Nasi gorengnya, " Jelas Sandy lugas.


"Hmm...enak, " seru Keysha. Ia menyendokkan sedikit lalu menyuapkan kepada Sandy.


"Kakak yang masak ?" Tanya Keysha sesaat setelah Sandy mengecap makanan di mulutnya.


"Yah, keasinan yah ..." wajah ceria Sandy berangsur memudar, menghilang lalu lenyap di balik komentarnya sendiri. Ia tidak begitu memperhatikan pertanyaan istrinya, justru sibuk memikirkan beberapa rasa gang di rasanya kurang tepat.


"Enak sayang, apa lagi kakak yang suapin, " Sahut Keysha dengan nada menggoda. Wanita itu memang selalu pandai menghibur, memberikan kejutan dengan penggalan katanya yang meninggikan hati. Membuat Sandy merasa berbangga diri, dan selalu yakin jika cinta yang Keysha miliki bukanlah sembarangan cinta. Tidak pudar, meskipun di terjang berbagai permasalahan yang mempermainkan rasa, keadaan, bahkan cinta itu sendiri.


"Yee, mulai dah gombalnya, " Sandy terkekeh geli mendengar ucapan Keysha.


"Memangnya kapan aku gombal ?" ucap Keysha spontan, menghentikan suara tawa Sandy yang masih tertinggal dan memantul kembali ke telinganya.


"Baru tadi, "


Kali ini, giliran Keysha yang melepas suara tawanya. Bersahutan riang di udara dan menggema ke seluruh penjuru ruangan.


Sandy turut tersenyum setelah melihat Keysha kembali ceria. Tertawa lepas, bahkan saat dengannya. Ia menghela nafasnya lega, lalu meletakkan piring yang telah kosongz kembali di atas nampan berwarna coklat.


"Uh anak papa pinter sekali makannya ..." ucap Sandy dengan ada bercanda.


"kak Sandy...." Keysha berteriak kesal seraya mencubit pinggang suaminya. Membuat pria itu meringis menahan sakit .


"Aku balas ya, " Sandy menyeringai, melancarkan jemarinya untuk menggelitik pinggang ramping Keysha. Membuatnya menggelinjang dengan rasa geli yang menyapa raga, meninggalkan kesal tapi mengumbar suara tawa yang tak di harapkan.


Seperti masa mudanya, masa dimana Keysha belum menjadi seorang ibu yang dewasa, belum menempatkan diri pada posisi yang seharusnya. Keysha selalu seperti itu sejak dulu, tertawa hingga lupa tempat, bahkan caranya bertingkah selalu menjadi bahan gunjingan sebagian orang yang tidak mengenal dirinya. Keysha memang berjilbab sejak SMA, sebelum di nikahi oleh Sandy, sahabat kecilnya. Namun, ia bisa lembut baru setelah fakta menunjukkan bahwa anak-anaknya membutuhkan seorang yang lemah lembut dan dewasa untuk mendidik keduanya.


Kalian tentu tidak pernah lupa bukan ? Keysha adalah gadis berjilbab yang selalu bertingkah konyol. Ia bahkan tidak menaruh hormat yang seharusnya kepada Sandy di awal-awal pernikahan mereka. Perkelahian ringan yang terjadi, selalu Keysha lah yang memulai. Siapa yang bisa menduga ? Jika cinta itu bisa tumbuh di sela-sela hati mereka. Mengurung diri di setiap ruang yang masih kosong di dalam hati kecil, yang berani mempertaruhkan segalanya. Namun, benar memang. Cinta memang tumbuh tanpa permisi, tanpa mengetuk pintu untuk memberitahu terlebih dahulu. Cinta hadir tiba-tiba, tidak jelas kapan di mulainya dengan nyata. Yang kita tahu, semua sudah mengalir begitu saja, semakin lama, semakin tumbuh, menjalar hingga memenuhi dada.