I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Permintaan terakhir ?



Sudah beberapa hari ini Rania dan Ibnu bersama-sama menjemput Angeline. Mereka berdua mengesampingkan urusan pribadi hanya untuk buah hatinya. Banyak waktu yang telah hilang, terbuang secara sia-sia. Lenyap bahkan tenggelam tanpa setetes yang tersisa. Gadis kecil itu terlalu menderita di usia dini, jika bicara soal fakta, ia benar-benar haus akan kasih sayang yang nyata dari kedua orang tuanya.


"Itu Angeline," Ucap Rania seraya menunjuk pada sebrang jalan. Tampak gadis kecil dan seorang pengasuhnya sedang menanti di halaman sekolah yang mulai sepi dengan lalu lalang orang-orang. Rania dan Ibnu segera turun dari mobil.


"Angeline...." Teriak Rania keras seraya melambaikan tangan memberi kode. Ia menarik perhatian anak gadisnya agar segera merespon dan mengetahui keberadaannya.


"Mami....Papi..." Angeline sangat antusias. Wajah kusut karena jenuh menanti kini menjelma menjadi riang. Ia menjatuhkan tubuh dari pangkuan pengasuhnya lalu berlari tanpa memperhatikan sekitar. Ia tidak melihat jika ada sebuah mobil yang melaju kencang dari arah tak jauh dari jalanan yang akan ia lewati.


"Angeline...." Teriak Rania dan Ibnu bersamaan.


"Mami....." Gadis itu memilih berdiam diri, menutup rapat telinga berharap bisa melindungi diri.


"Angel...." Rania berlari dengan kemampuan yang ia miliki. Ia segera menggapai tubuh mungil gadis itu dan mendorongnya dengan cepat. Menepis dari laju mobil yang akan melukai raganya lebih parah. Angeline telah tersungkur di tepi jalan, suara tangisnya masih sempat menyapa telinga Rania sebelum....Sebelum mobil itu menghantam keras tubuh Rania. Perempuan itu terpental tak beraturan, melayang hingga tubuhnya jatuh dengan genangan darah yang mulai mengalir.


Sayup-sayup, ia masih bisa mendengar Ibnu yang histeris memanggil namanya, teriakan orang-orang di sekitar yang terkejut dengan peristiwa yang terjadi begitu saja. Tidak lama, tidak memerlukan proses atau aba-aba, semua hanya membutuhkan beberapa detik hingga tubuh cantik itu menjadi tidak berdaya dengan lumuran darah di sekujur tubuhnya.


"Rania....Kamu harus kuat sayang, aku yakin kamu kuat." Ibnu menangis sejadi-jadinya, air matanya sudah mengalir tak terbendung. Ia tidak peduli dengan setiap mata yang menatapnya dengan kasihan. "Tolong telepon ambulance !" Ia kembali berteriak, tidak peduli kepada siapa ia memerintah. Yang jelas, ia sangat memerlukan bantuan dengan segera.


Rania sudah tidak bisa merasakan dirinya sendiri, semua seakan mulai terlepas satu persatu, menghilang dan menjauh dari poros yang seharusnya.


Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, wanita itu meraih jemari suaminya yang sedari tadi tengah memegangi tubuhnya. Darahnya menempel di sana, meninggalkan bercak di beberapa bagian tubuh suaminya. " Ib...Ib...nu..."Rania mencoba mengatur nafas. Ah, itu sangat sulit untuknya, rongga dadanya terasa semakin menyempit, membuatnya semakin susah menghirup oksigen.


"To...lo...ng, do..nor...ka..n...ha..ti...k...ku...u..un....tu..k...Sa..Sandy..." Potongan kata demi kata yang terucap dari tenggorokan Rania, sudah terangkai menjadi kalimat sempurna di benak Ibnu.


Wanita itu, wanita yang sedang kesusahan mengeluarkan kata, sekedar meninggalkan pesan bahkan untuk sekedar bernafas pun perlahan mulai memejamkan mata. Ia mulai mengikuti rasa yang menjerat seluruh anggota tubuhnya, mengekang dengan belenggu sakit yang sudah tidak tertahan lagi rasanya.


"Rania ... Rania...." Ibnu tidak peduli dengan kata-kata Rania. Ia semakin tersedu, dan menjadi histeris ketika melihat tubuh istrinya yang kian melemah.


Ambulance datang di lokasi, dengan cepat para petugas mengangkat tubuh Rania dengan metode yang mereka pelajari, membawanya masuk ke dalam ambulance dan memasang beberapa alat penolong utama yang ada.


Ibnu setia mendampingi, begitu pula dengan pengasuh yang sibuk menenangkan Angeline yang sedang menangis histeris. Gadis kecil itu tampak terluka di bagian siku dan lututnya, tetapi bukan itu yang sedang ia tangisi, ia tidak sanggup melihat kondisi Rania yang benar-benar terbalut dengan darah kental di sekujur tubuh. Apalagi, Rania sama sekali tidak lagi mengeluarkan sepatah kata walau hanya untuk menyapa putri kecilnya.


Ambulance melaju dengan kecepatan tinggi, memaksa berjalan lebih dulu dan menyalip pengguna jalan lainnya guna menyelamatkan seseorang yang tengah mempertaruhkan nyawa di dalamnya.


Lima belas menit, mereka telah tiba di halaman rumah sakit. Pergerakan mereka sangat cepat, tidak lagi di ragukan. Hanya hitungan detik tubuh Rania sudah berpindah di dalam ruang IGD.


"Maaf tuan....Mohon tunggu di luar agar tidak menggangu," Ucap seorang perawat itu ramah. Ia menutup rapat pintu dan menolak dengan tegas saat Ibnu memaksa masuk.


Ibnu membentur-benturkan kepada di dinding rumah sakit, berulang ia mengusap wajah dan mengacak-acak rambut dengan frustasi. Kehancuran sedang menyelimuti hatinya. Ia benar-benar tidak habis pikir jika hal kejam itu akan menimpa Rania, merusak masa depannya, bahkan kemungkinan terburuk, semua akan merampas sisa waktu yang Rania miliki.


"Tuhan, aku baru merasakan kehangatan rumah tanggaku beberapa hari ini..." Ibnu tersedu, ia membenamkan wajah di antara kaki jenjangnya. Menyembunyikan tangis yang masih terdengar jelas suara isakan nya.


"Dokter ? Bagaimana keadaan istri saya dok ?" Ibnu segera bangkit. Ia dengan tergesa-gesa memaksa Dokter Liem menjawab dengan cepat.


Dokter Liem menghela nafasnya panjang, lalu ia menggeleng pelan. "Kemungkinan untuk dia bertahan hidup, sangatlah kecil tuan."


"Dokter, aku mohon lakukan yang terbaik untuk Rania ! Aku mohon Dokter...." Ibnu sungguh merasakan rapuh dari dalam jiwanya, ia memegangi tangan Dokter Liem, tapi tubuhnya mulai kehilangan energi. Ia kembali menjatuhkan diri dan bersimpuh di depan kaki.


"Tuan...Jangan seperti itu. Sayang janji, saya akan berusaha keras untuk membuatnya tetap bertahan." Ujar Dokter Liem cepat seraya menangkap tubuh Ibnu agar segera bangkit dan tidak membuatnya semakin risih.


"Katakan dok, apa yang harus aku lakukan untuk menolongnya ?" Ibnu meraih bahu Dokter Liem, kesedihannya sungguh menghilangkan titik sadarnya. Ia menggoyangkan tubuh itu dengan kuat, memaksa bahkan terlihat seperti tengah mengintimidasinya.


"Tenanglah tuan.... Berdoa lah ! Semoga Allah masih memberinya kesempatan untuk tetap bertahan." Dokter Liem menangkap tangan Ibnu, menggenggamnya untuk mengendalikan dan membuat nya kembali tenang.


Mungkin untuk saat sekarang tidak ada yang bisa ia lakukan selain berdoa, berharap dan terus menangisi keadaan. Ia tidak akan bisa membuat Rania kembali sadar dan bangkit dari mimpi panjang yang menghantui. Entahlah, bagaimana kisah akan menuntun langkahnya setelah itu, hanya waktu dan masa yang akan menentukan.


Dokter Liem melangkah meninggalkan Ibnu, tapi tiba-tiba ada kata yang sempat Rania ucapkan. Perempuan itu terus meracau di alam bawah sadarnya, mengigau dengan kata yang mungkin sempat terlontar sesaat sebelum kejadian ngeri itu menerjang tubuhnya.


"Tuan....."


Ibnu menoleh, menatap Dokter Liem yang juga sedang menatapnya dalam.


"Apa Nyonya Rania menginginkan sesuatu sebelum kejadian itu ? Maksud saya, hal yang benar-benar sedang dia inginkan dalam waktu dekat ?"


Ibnu terperanjak, ia merasa heran dengan pertanyaan Dokter Liem yang tiba-tiba. Seakan semua terencana dengan baik, pria itu mengerti apa yang membuat Rania terus meracau.


"Kenapa Dokter bertanya demikian ?" Ibnu mengelak, ia mencoba menutupi sebuah pesan yang memang semenjak tadi menyiksa ingatan.


"Oh tidak....Aku tidak bermaksud apapun, taoi Nyonya Rania terus saja mengatakan, tolong dan lakukan. Ku rasa itu bisa membantu proses penyembuhan jika tuan bisa mewujudkan." Dokter Liem menjelaskan dengan pelan agar tidak berdampak kesalahpahaman atau memancing amarah.


Pria itu merunduk lesu, ia menjatuhkan tubuh di atas bangku panjang. Kembali mengeluarkan suara tangis yang menghantui.


"Tidak....Aku tidak akan melakukan itu !" Bisik nya dengan pelan.


Dokter Liem menautkan kedua alisnya, lalu kembali berjalan mendekati Ibnu. Ia turut duduk di sana, berjajar seolah tengah lama mengenal.


"Apa dengan mendonorkan organ tubuhnya akan membantu proses penyembuhan ?" Ibnu mengangkat kepala. Ia menerkam Dokter Liem dengan pertanyaan yang mencekik tenggorokan, menyesakkan dada bahkan membuat sepasang telinga yang mendengar bergidik ngeri.


"Maksud tuan .....?" Dokter Liem menggantung kalimatnya, sungguh hatinya tidak kuasa untuk melanjutkan pertanyaan.


"Ku rasa dokter jauh lebih paham perihal ini..."