
Non Keysha, biar saya saja yang mengantar minumannya." Dengan tergopoh-gopoh dan pandangan yang menunduk, mbok Darmi menawarkan diri. Tangannya bergerak maju hendak meraih sebuah nampan yang sudah melekat di jemari Keysha. Dua gelas orange juice dengan tampilan menarik sangat menggoda tenggorokan. Memancing rasa haus dan dahaga yang memikat.
"Sudah tidak apa-apa mbok. Biar sama Keysha saja." Jawab Keysha lembut. Ia merakit senyuman tulus di kedua sudut bibirnya. Langkahnya kembali ia atur, berhati-hati dengan bergantian memperhatikan nampan dan jalan.
Canda tawa Rania dan Yeni masih menggema di gendang telinga. Membumbung tinggi di antara langit-langit rumah. Keysha sempat mematung di antara sekat pemisah ruang tamu dan ruang keluarga. Dia menarik nafas dalam-dalam, mengatur detak jantung yang kian mendorong keras dadanya. Degupnya jelas terlihat hingga jilbab yang ia kenakan seakan bergetar.
Hanya sebuah hati yang sulit di kendalikan kala berhadapan dengan orang yang jelas sedang mempermainkan dirinya...
"Key ? sini sayang ! Kenapa kamu diam di situ ?"
Keysha tersentak dengan kata-kata Yeni yang memanggilnya. Seolah-olah sudah lama melihat Keysha yang mematung di sana, mata yang gusar dan bibir yang terus berbisik ringan menguatkan jiwa.
Mata bulat itu terlihat lebar ketika membelalak kaget. Senyumnya terpaksa ia ukir di bibirnya. Dengan raga yang belum seutuhnya fokus, kakinya sudah beranjak menghampiri kedua wanita itu.
Sungguh, sandiwara seperti itu hanya akan menyiksa jiwa, hati ,logika dan semua yang berkesinambungan...
" Jadi, bagaimana Ran ? tujuan utama kamu ke sini untuk apa ?" Keysha to the point. Ia tidak terlalu senang basa-basi. Dengan langsung berbicara dengan tujuan dan niat awal akan jauh menyimpan banyak waktu.
"Ya itu, Angel yang meminta . Kenapa Key ? tidak boleh ya ?" Rania menyipitkan mata, sedikit menunduk untuk mendapatkan wajahku yang tenggelam di balik jilbab . Sengaja, Keysha tidak melihatnya. Ia sibuk dengan membuang muak untuk tidak bertemu mata dengan wanita itu.
"Keysha, kok tanyanya seperti itu sayang ?" Ada yang terlupakan dibalik rasa ingin tahu yang besar dari diri Keysha. Ia tidak ingat jika Yeni masih duduk di sana, menemani mereka .Bahkan, akan ada kecurigaan baru jika Keysha langsung bertingkah ketus kepada Rania.
"Oh i-iya, ma-maksud Keysha tu apa ada urusan yang lebih penting gitu." Jawab Keysha dengan suara terbata. Nadanya putus-putus seolah tertahan dalam di tenggorokan. Ia menatap Rania yang sedang menatapnya pula, membalas sekilas senyum yang wanita itu lontarkan entah dengan perasaan bagaimana.
" oh , hahaha....tidak ...tidak Key aku hanya ingin bertemu sama kamu saja " Rania tertawa lepas. Tidak ada beban yang menggantung di setiap suara yang terlontar. Semua jelas terlihat gamblang dan tanpa sekat. Ia sungguh semakin pandai bermain-main dalam peran pribadinya. Beralih cepat dengan sikap yang jelas bertolak belakang dengan dirinya yang asli.
Rania meraih gelas yang telah Keysha letakkan di depannya. meneguknya hingga beberapa tegukan lalu kembali meletakkan di atas meja.
"Ya sudah kalau Keysha nya sudah di sini, bunda ke belakang lagi ya. Mau lihat anak-anak dulu." Yeni bangkit dari atas duduknya. Ia sempat meninggalkan senyum tulus sebelum beranjak dan menghilang di balik sekat pembatas.
"Enak ya jadi kamu, ada yang bantu merawat anak-anak" Rania belum melepas mata dari punggung Yeni. Terus mengintai hingga menghilang tak terlihat mata.
"haha. Ya seperti itulah" Pungkasnya masih berpura-pura biasa. Layaknya tidak terjadi sesuatu di belakang Keysha. ia masih terus menenggelamkan diri di garis kebodohan yang telah Rania tetapkan. Ya, berdiam dan terus berdiam mungkin adalah hal yang baik untuk saat sekarang.
"Key ? "
"iya Ran..."
"Aku sebenarnya takut main ke sini. Takut kalau tiba-tiba Sandy menolak aku dan mengusir dengan kasar. "
Jika diperhatikan, sekilas Rania ini seperti wanita baik hati yang memerlukan bantuan. Garis wajah yang sengaja ia atur dengan mode melow juga nada bicara yang ia lembut-lembutkan . Tidak menutup kemungkinan jika orang tidak percaya ketika ada yang berseru bahwa wanita itu picik. Ia terus saja mengkerutkan bibirnya, bermanja dengan pikiran Keysha belum mengetahui apapun tentang rencananya.
Tapi sayang, Keysha bukanlah wanita sebodoh dan selugu waktu itu...
" Hahaha ..."
Mendengar kata-kata Rania, Keysha justru tertawa lepas. Bibirnya menipis, menepis segala kekhawatiran yang di keluhkan oleh wanita di hadapannya.
"Suamiku tidak akan berulah jika tidak ada yang melukaiku. Tetapi, menurut yang pernah terjadi dia bisa saja menghabisi nyawa seseorang yang mencoba membuatku luka. ya meskipun itu hanya seujung kuku saja. " Keysha menyipitkan mata saat menjawab. Wajah damai itu, melirik dengan tatapan tajam. "Kau ke sini hanya untuk menemui ku bukan ? Mana mungkin Sandy mengusirmu dengan kasar." Ia melanjutkan kalimatnya yang dengan sangat sengaja ia hentikan untuk sekedar mengetahui reaksi Rania.
Bukan hanya perkiraan saja, wajah Rania pucat pasi seketika. Ia berusaha memaksa bibirnya untuk melukis seutas senyuman paksa. Mata bulat nan indah itu membelalak melihat dengan penuh kengerian mendengar apa yang Keysha ucapkan. Tangannya sudah mulai gusar, tidak bisa tenang dengan posisi yang membuatnya merasa nyaman.
"Kau baik-baik saja Rania ?" Keysha mengernyitkan kening. Masih terus larut dalam kepura-puraan. Menangkap setiap pergerakan tanpa makna yang menunjukkan keresahan hatinya .
"a ? mmm i-iya. A-aku baik-baik saja." Jawab Rania dengan ragu-ragu. Suaranya berat terucap, tertahan dan mencekik kuat otot lehernya. Ia terlihat berulang kali menelan ludah, lalu tangannya dengan cepat meraih gelas orange juice miliknya. Meneguk berkali-kali hingga tetes terakhir. Matanya mondar-mandir memperhatikan Keysha yang tampak polos terus melihat reaksinya.
"Sepertinya kau sangat haus ? Ini jika kau menginginkan lagi." Keysha menyodorkan gelas yang masih terisi penuh dengan juice. Mendorong perlahan mengarahkan ke Rania.
"Oh i-iya ini Key, gerah sekali jadi gampang haus." Rania masih bersikeras untuk berkilah. Melindungi diri dengan kata yang meringankan. Peluh meringat dingin telah basah mengguyur peningnya. Bukan karena cuaca yang panas, melainkan rasa panik yang menekan dari dalam hatinya. Senyum tipisnya masih terlukis indah penuh paksa.
Baiklah, akan aku ikuti sandiwara mu itu Ran ...
"Aku tidak melihat Sandy sedari tadi ?"
Rania menatap sekeliling ruang. Dari sudut hingga ketemu sudut. Ia memiringkan kepala menengok di balik sekat pembatas. Berharap bisa melumpuhkan pergerakan yang mengancam, yang menghardik jiwa seakan mengincarnya dengan ragam luka raga.
"Dia masih ada urusan di luar bersama Reno." Keysha tersenyum. Ia berbicara dengan jujur. Mengatakan tanpa semakin menyiram kepanikan Rania .
Ah, biarlah wanita ini sedikit menarik nafas lega ...
Terkadang, manusia memilih cara yang unik untuk menyadarkan dirinya. Yang semakin hanyut terseret arus kejamnya watak. Tidak sedikit yang harus merasakan apa yang ia lakukan atau ada yang hanya dengan nasihat baik lalu bisa menyadari. Semua memang membutuhkan proses, tidak mudah. Butuh hati yang lapang untuk menggapai titik yang di inginkan.
Rania pernah menjadi gadis cantik yang baik hati, selalu bisa mengerti dengan semua problem yang memberatkan hidup Keysha. Tetapi, ia sempat salah arah, jalan dan cara mengasah pikiran. Setan berhasil menghasutnya hingga salah memilih pergaulan selanjutnya. Awalnya, dia masih tersentuh bahkan merasa sedih tatkala melukai Keysha. Namun, seiring waktu berjalan dan hal buruk yang ia lakukan mulai memuaskan nafsu, ia semakin terlena. Terbuai dalam genangan kekejaman. Berbuat picik dengan senang hati. Hingga semakin larut, larut dan larut lagi, hingga sahabat nya tidak lagi ada artinya bagi Rania.
Huff , Benar saja Rania menarik nafas dengan lega . Ia meraih gelas lalu bersandar pada sofa yang menyangganya sedari tadi. Raut wajahnya perlahan membaik, menghapus cemas yang sempat menyeruak menakutinya.
Jangan memasang wajah seperti tidak memiliki dosa di depanku. Aku sudah paham betul bagaimana sifat aslimu, batin Keysha yang kian bergerumuh di dada.
"Bagaimana hubungan mu dengan Cherry Ran ? Masih sama baiknya ? Secara dia kan kakak ipar mu."
Rania tersedak, lagi dan lagi ia dibuat tak nyaman dengan kalimat-kalimat yang Keysha ucapkan. Seakan memang sudah terencana, Keysha memberondong ragam tanya yang tidak Rania pikirkan sebelumnya. Sebuah kejutan kecil, sebelum semua gamblang terbongkar di depan mata. Air minum yang belum ia telah seutuhnya seolah terhenti. Berdiam sulit mengalir di dalam tenggorokan. Wajah santainya seketika berubah dengan raut penuh antisipasi.
"Hati-hati Rania." Keysha beranjak, meraih tisu lalu menyerahkan kepada Rania. Perempuan itu masih menutup mulut dengan tangan, menahan batuk yang menggelitik di tenggorokan.
"Tentu dia sangat baik bukan ? Seperti Audrey begitu baik kepada Allan dan Lena. Tetapi, sekarang dia berada di luar negeri untuk kuliah." Keysha menatap Rania dengan mata bersedih. Mengibaratkan Cherry dan Angel seperti Audrey dan anak-anaknya. Ah, ujung-ujungnya dia sendiri yang menyibak rasa rindu kepada adik kecil Sandy yang manja itu.
"Ya, dia baik denganku, ku rasa hanya karena Angeline. Meskipun aku tidak mau lagi berhubungan dengannya, namun dia selalu berusaha datang ke rumah dengan alasan Angel dan Ibnu." Terangnya kembali santai. Ia masih saja bertopeng, menutup rapat cerita nyata tentang dirinya dan Cherry. Padahal, keringat dingin mengucur deras di pelipisnya, seakan berkhianat mengungkapkan kebenaran.
"Itu lebih bagus." Jawab Keysha dengan senyum seolah terang-terangan meledek.
"Oh ya Key, bagaimana dengan tante Lita dan Shinta ? Apa kau benar-benar lepas kontak dengan mereka begitu di nikahi oleh Sandy ?" Mata Rania menyipit, melirik Keysha dengan tajam. Merangkai kata membalikkan setiap cemas yang ia rasakan karena ulah Keysha. Namun sayang Keysha lebih pandai, ia bisa tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata Rania. Memaklumi ketidaktahuan wanita itu.
Sebelum sempat menjawab, Keysha mengangguk ringan mengatur nafas. "Aku menikah dengan Sandy semenjak masih sekolah. Dan aku sempat menyembunyikan itu sebelum fitnah buruk menekan ku untuk mengatakan semua. Kau tentu tidak lupa dengan kisah itu bukan ? Mereka sibuk mengoreksiku dengan ragam cemooh dan bully. Bahkan tak jarang yang melempariku dengan kertas bertulis ****** di sana. Dan kau berdiri sebagai orang paling membelaku saat itu." Keysha menyulut senyum, memperhatikan reaksi Rania lalu kembali melanjutkan kalimatnya. "Bagaimana aku bisa lepas kontak dari mereka, Ayah masih hidup kala itu, Aku ada tanggung jawab yang tidak bisa di tinggalkan, bahkan mata-mata mereka terus mengintai langkahku. "
"Lalu, setelah kau pindah ke luar kota dan kembali lagi ? Apa kau pernah menemuinya ?" Rania belum puas dengan jawaban panjang yang baru selesai Keysha senandungkan. Mencoba menelisik lebih dalam pada kisah Keysha yang sebenarnya tidaklah terlalu penting.
"Aku pernah menemui, ah tidak tepatnya bertemu dengan mereka. Beberapa hari yang lalu aku juga mengadakan makan siang bersama keduanya. Mereka juga sempat mampir ke butik dan menjajal pakaian yang ada." Nada bicaranya terdengar lancar, bahkan Keysha sempat menyelipkan tawa ringan di sela kalimat nya.
"Jadi, mereka masih tinggal di rumah lama om Danu ?" Terus saja pertanyaan itu menggelitik kuat kepada Keysha.
"Dia ...."
Tidak ! Jangan katakan jika mereka tinggal di salah satu rumah milik Chandra..itu akan menjadi Boomerang ketika Sandy mendengar dari mulut lain dan tentu karena mereka memiliki rasa benci yang sama terhadap Keysha, mereka bisa saja bekerja sama saling menguatkan untuk semakin menghancurkan hidup Keysha....
"Dia ? Dia kenapa Key ?" Rania mengangkat bahu, menyadarkan Keysha tentang jawaban yang belum sempurna.
"Mami ..."
Seperti namanya "Angel" atau malaikat. Ia benar-benar menjadi malaikat di dalam semrawut nya pola pikir Keysha yang sulit mengalihkan topik. Ia kehabisan alasan untuk menggiring wanita di depannya ini jauh dari curiga.
"Angel mainnya udahan nak ?" Keysha beralih pandangan. Menatap Angeline penuh dengan kasih. Sorot mata indah nan lentik begitu lekat melihat tubuh mungil itu.
"Kata mami tadi, kita hanya akan sebentar main ke sini karena mami ada urusan yang lebih penting." Jelas Angel dengan pelan-pelan. Mengingat ucapan Rania yang masih rapi terekam di memori otaknya. Tidak ada rasa kesal layaknya anak lain, ia begitu damai dan tenang dengan pesan yang Rania sampaikan sebelum tiba di rumah Keysha.
"Anak pintar." Gumam Rania memuji anaknya. hah, hanya kalimat pujian di hadapan umum, saat sendiri ia hanya akan sering memarahi dengan kata-kata kasar yang belum seharusnya Angel terima. Ia masih kecil dan belum memahami banyak kosa kata. Tetapi, nada tinggi yang bertengger dan mata yang melebar sempurna. Menyemburkan api kemarahan yang terbaca, membuat Angel paham dengan maksud Rania. Bukan ! Bukan ! bukan kata demi kata, tapi nada dan mata yang membuat gadis kecil itu bergidik ngeri dan meringkuk dengan rasa takut.
"Kenapa tidak Angel di sini saja ? Nanti biar tante antar, atau papi Ibnu yang jemput ? bagaimana ?" Keysha beranjak dan beralih berjongkok di hadapan Angel, tangannya rapi membelai rambut Angel yang tergerai panjang nan lurus. Senyuman tulusnya tidak juga berakhir setiap kali menatap gadis kecil itu.
"Ah tidak ...jangan ...aku terbiasa membawanya pergi kemana-mana. Aku akan kurang bergairah saat tidak ada di sampingnya. Lebih baik Angel ikut denganku." Rania dengan cepat menyambar. Menolak keras tawaran Keysha dengan ragam alasan. Ya, hanya alasan. Sejatinya, dia akan lebih bergairah jika Angel tidak ikut kemanapun ia pergi.
"Kau bukan ibu egois yang meninggikan kemauan mu, diatas rasa nyaman putri mu bukan ?" Keysha mengangkat alis sebelah, menatap Rania tajam tanpa seutas senyum.
"Bukan.. bukan seperti itu." Rania masih berusaha melindungi diri. Mengelak tuduhan yang Keysha lontarkan.
"Lalu ?...."
"Ku rasa dia juga akan senang ketika bepergian, karena di luar juga banyak permainan yang khusus di sediakan untuk anak-anak seusianya. Di sana juga banyak anak, jadi dia lebih mudah akrab dan merangkul banyak teman." Jawab Rania tegas dan tampak begitu cepat.
"Kau tidak sedang mencoba menyembunyikan sesuatu dariku bukan?" Tanya Keysha penuh selidik.
"tidak ...tidak...aku tidak sedang menyembunyikan apapun darimu. Aku memang ada urusan yang mendesak dan lebih baik aku mengajak putriku " Jawabnya kembali cepat. Seolah tidak memberi celah pada Keysha untuk melanjutkan ucapannya.
Suaranya menggema di udara, di sambut keheningan setelahnya. Rania menyesal telah terlalu cepat mengungkapkan. Sekarang, hanya bahasa mata yang saling berbicara.
Biasanya orang yang menyimpan perasaan bersalah di dalam jiwa nya akan berusaha keras membela diri . Mati-matian menutup setiap celah agar tidak ada satu sedikitpun celah. Dan orang yang tidak bersalah akan bersikap lebih tenang.
"Apa kau akan izinkan ketika putrimu memilih diam di sini dan menolak ikut denganmu ?" Penawaran Keysha sungguh menekan Rania. Rasanya sudah tidak bisa lagi ia menolak itu dengan lidah Angel. Bahasa mata yang ia kirim akan mudah terbaca oleh Keysha yang terus lekat menatapnya.
"Tentu saja." Jawabnya dengan singkat. Pasrah dengan kalimat yang memaksa raganya menuruti segala kemauan Keysha.
"Sial, aku bisa mati berdiri jika terus bersamanya hari ini. Lebih baik aku mengalah dengan Angel di sini daripada harus beradu argumentasi dan ujungnya lidahku sendiri yang terbelenggu dalam kata yang salah" gumam Rania dalam hati.
"Angel, kamu mau ikut mami pergi atau main di sini sama tante, oma, Allan dan Lena ?" Tanya Keysha dengan lembut. Tangannya menelusuri wajah gadis cilik itu, menahannya agar matanya tidak melirik Rania. Biarkan berpikir dan memutuskan sesuai kata hati tanpa tekanan dari Rania yang menyedihkan untuknya. "Mami sudah mengizinkan, kau dengar sendiri bukan ?" timpalnya meyakinkan. Ia berusaha membilas ragu dan menyelinap di balik mata Angel, menguatkan agar gadis itu bisa menjadi dirinya sendiri tanpa tekanan dari siapapun termasuk Rania.
"Angel mau di sini jika mami sungguh mengizinkan." Lirihnya dengan sangat pelan, nadanya terdengar ragu dan bimbang. Ada rasa cemas yang menggertak otaknya. Antara takut dan mau yang tidak bisa di kesampingkan.
"Kau mendengarnya Rania ? Apa kau masih memaksanya untuk pergi bersamamu ? Dia masih kecil, punya dunia yang membuatnya nyaman." Keysha beranjak lalu kembali duduk di sofa. Mengerutkan dahi, dengan tanya yang menekan pemikiran Rania.
"Baiklah , Angel akan tetap di sini. Aku hanya takut merepotkan mu. "
"Kurasa aku tidak akan merasa repot Ran. Ada bunda dan banyak pelayan di sini. Jadi, jangan khawatirkan itu. " Ucap Keysha sedikit angkuh. Sudah cukup ia bersandiwara dengan karakter lemahnya, kini dia perlu bangkit dan menunjukkan jiwa tegar dan api perlawanan yang membara.
"Baiklah. terima kasih Keysha. Kau memang tidak pernah sedikitpun berubah."
Rania memasang senyum paksa di balik kesal yang sudah berkobar kuat di dadanya.
"Sayang, jangan nakal ya ! Jangan merepotkan tante Keysha, nanti mami yang akan jemput kamu" Ucapnya manis melihat Angel. Putrinya itu mengangguk ringan lalu turut tersenyum. Berbalik badan dan berlari lagi ke dalam setelah mencium tangan Rania untuk berpamit.
"Aku titip Angel ya Key. maaf, tapi aku memang harus pergi karena suatu urusan."
"Baiklah, aku akan menjaganya dengan baik. Hati-hati lah kamu di jalan."
Keysha mengantar Rania hingga sampai ke teras. Menatapnya yang mulai masuk ke dalam mobil lalu menyalakan mesin mobil.
Tangan mereka saling melambai ketika kaca mobil perlahan turun memberi celah yang menampakkan satu sama lain. Keysha terus berdiam di sana hingga mobil yang Rania kendarai berputar dan menghilang di balik pagar rumah.