
" kak Sandy...."
"aku tidak ingin jawaban beri aku waktu atau apapun itu Key" laki-laki itu memohon, ia segera memotong kalimat yang hendak Keysha ucapkan. Kedua pasang mata itu saling beradu, bercurah akan rindu yang menyiksa jiwanya. Tidak terlepas dari itu, Sandy masih memegangi kedua jemari Keysha yang mulai berkeringat karena jantungnya terpompa begitu cepat.
"Iya kak, aku mau" kalimat itu akhirnya lolos juga dari mulut manis Keysha. Senyumnya terukhir indah. Sandy membulatkan matanya, sesekali ia memukuli kedua pipinya merasa tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar. Ia kembali mencubit tubuhnya sendiri, lalu meloncat girang setelah meyakini jika itu bukanlah mimpi baginya.
Sandy sudah membuka lengannya, berharap Keysha menghampiri lalu memeluknya erat. Tapi, mustahil! Key justru menghindar dan memukul ringan dada Sandy.
"Kita tidak langsung menjadi mukrim lagi kan kak?" ia menyeringai, memberi kode penolakan kepada Sandy. Untuk yang terjadi tadi, lupakan! Anggap saja itu sedang khilaf. Ya karena rindu yang sudah menumpuk menyesakkan dada membuatnya tak bisa lagi berfikir jernih. Iya, gitu aja! Sudahkan? Ah, ngeles mulu. Hissss
--
"jadi Kak Keysha bakal jadi kakak Audry lagi?" Audry menjerit girang. Ia mendekap mesra, menyalurkan kerinduan yang telah menyeruak kepada kakak iparnya itu. Keduanya memang saling menyayangi, Audry juga bisa bersikap lebih lembut kepada Keysha, itu lah yang membuat Sandy merasa iri dan sering ngomel kepada Audry.
Salah sendiri, ngga pernah ngertiin Audry.
Selalu seperti itu kalimat pembelaan dari adik tunggalnya. Dia memang sulit diajak akur dengan Sandy, ditambah selalu dapat pembelaan dari sang mama. walau demikian sebenarnya mereka tetaplah saling menyayangi.
"Traktirnya seumur hidup kan sob?" goda Reno. Ia menyenggol ringan tubuh sohibnya, tau lah maksudnya. Dia merasa menjadi superhero atas membaiknya hubungan Sandy dan Keysha. Merasa gagah dengan berhasil nya melunakkan hati Keysha dan menggiringnya datang menemui Sandy.
"Makan tuh angan-angan!" Sandy menyeringai. Disambut tawa dari Audry dan juga Keysha.
"Kalau bukan karena aku juga kamu mana bisa sesenang ini" protesnya.
"Baiklah, aku akan traktir kamu seumur hidup. Tapi, siapkan kafan dan peti untuk mengubur jasadmu besok" Sandy menjawabnya dengan tenang. Nada bicara juga datar, tapi kalimatnya membuat Reno bergidik dan melotot. Dia memilih menggerutu seorang diri dan tak melanjutkan debatnya dengan sang raja debat.
"Tapi, Bunda gimana?" ia membalikkan pertanyaan.
"O-oh jadi Bunda Yeni kamu culik. Kenapa waktu aku nyari-nyari kamu, dia bilangnya engga tau. Ah, ngga asyik!" Sikap manja nya mulai muncul.
"Hahaha, apa sih kak ? Aku tidak mungkin ninggalin bunda tanpa kabar. Jadi ya aku ajak ke sini" Keysha tertawa geli dengan ucapan Sandy.
"Ok, kita beresin barang-barang terus jemput Bunda buat ke Jakarta" Sandy memutuskan. Jiwa garangnya kembali, pesonanya sebagai seorang atasan yang berwibawa mulai terlihat.
"Tidak bisa gitu dong kak, aku punya tanggung jawab di sini. Pekerjaan ku gimana?" protes Keysha, ia memohon waktu untuk menyelesaikan segala urusannya. Namun, di tolak secara sepihak oleh Sandy.
--
Mobil melaju menelusuri jalanan, Keysha memperhatikan pepohonan yang melambai sedih. Mereka berlomba mengucapkan selamat tinggal pada wanita itu. Ah, rasanya aku sudah jatuh cinta dengan kota ini. Berat sekali rasanya harus kembali ke Jakarta gerutu Keysha yang hanya didengar oleh hatinya.
Laju mobil mulai melambat setelah Keysha menunjukkan rumah kecil yang dia tempati saat itu bersama Yeni. Baginya rumah itu sangat menyimpan berjuta ketenangan, dia bisa merasakan bahagia di dalamnya. Merasakan kasih dan cinta yang selalu dia rindukan dari sang Bunda.
Mengertilah, Yeni teramat kaget melihat kedatangan putrinya bersama Sandy dan yang lain. Dia tak habis fikir jika Keysha bisa secepat itu merubah pemikirannya. Ia mencoba mendengar apa yang Sandy ucapkan menelaahnya dan mengangguk senang saat Sandy menyampaikan keinginannya untuk kembali rujuk dengan Keysha. Senyumnya merekah di kedua sudut bibirnya. Wajahnya memancarkan kebahagiaan yang tidaj bisa lagi diukur. Air matanya memang sedang mengalir deras di sana. Namun, percayalah! Dia sangat bahagia atas kabar yang berarti untuknya.
Selesai berbenah, mereka kembali melajukan mobil dan meninggalkan kota Bandung.
Bersambung......