I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Kejutan dari Keysha



Malam bergulir, menghapus gelap, hingga terbitlah terang. Pagi-pagi sekali, Keysha sengaja bangun lebih awal. Ada banyak tugas yang harus ia selesaikan sebelum akhirnya menemani dokter Alexa untuk datang ke butiknya. Sudah menjadi bagian dari janji yang Keysha sematkan pada harapan hubungan dokter Alexa dan Reno. Sebuah ikatan yang teramat ia pintakan. Rasa senang yang menarik jiwanya, membuatnya mudah meluapkan sebuah keinginan yang akhirnya di tagih oleh sang pemilik nama. Ya, Keysha pernah berjanji akan membuatkan gaun untuk hari pernikahan dokter Alexa dan Reno. Pernikahan yang termasuk dadakan, hanya menyisakan beberapa minggu untuk mengharuskan Keysha menyelesaikan semuanya. Untunglah, dokter Alexa pernah menunjukkan sebuah gambar kepada Keysha, dan bermimpi akan mengenakan gaun seperti yang ia impikan. Dari situ, Keysha mulai menyiapkan segalanya, tanpa sepengetahuan Sandy, tanpa sepengetahuan dokter Alexa sekalipun. Keysha diam-diam telah merancang gaun pengantin yang dokter Alexa tunjukkan, dan hanya tinggal tahan penyelesaian untuk sekarang.


"Memangnya akan selesai Key jika harus membuat gaun dari awal ? Waktunya sudah sangat mepet, aku tidak masalah kok pakai yang ada saja, " ucap dokter Alexa begitu langkah kakinya menginjak pada tangga pertama di teras boutique.


"Sudah, tenang saja. Aku pastikan kau akan sangat puas dengan hasilnya, " sahut Keysha dengan girang. Ia belum mengatakan perihal gaun yang telah ia siapkan, dan akan menjadikannya kejutan dan hadiah sebelum dokter Alexa dan Reno mengikat janji.


Banyak sekali karyawan yang menyambut Keysha dengan senang. Mereka sudah lama tidak berjumpa dengan perempuan pemilik boutique yang menjadi tumpuan dari kehidupan mereka. Dengan wajah sumringah, mereka berbondong-bondong menghampiri Keysha dan dokter Alexa. Berebut berucap salam dan sambutan hangat sebagai tanda yang mewakilkan isi hati mereka.


Selama boutique di pegang Rania, semua berjalan baik-baik saja. Rania juga merupakan orang yang supel dan ramah. Ia juga dermawan, tapi sosok Keysha sudah sangat melekat di hati para karyawan. Bagi mereka, posisi Keysha tidak akan pernah tergantikan. Namanya akan mewangi, dan menjadi simbol dari segala tujuan yang tercapai.


Keysha meminta Nur agar memanggilkan Rania. Membawa perempuan itu ke ruang gaun, bersama dokter Alexa. Ada hal yang ingin Keysha sampaikan, dan sepertinya Rania harus ada di tengah-tengah mereka. Kebahagiaan yang ada, harus di bagi sama rata. Dan Rania, adalah sosok terpenting selama ia tidak hadir di sana, jadi Keysha tidak ingin membuat Rania merasa di anak tirikan setelah kedekatan yang terjalin antara Keysha dan dokter Alexa.


Mulanya Rania penasaran, dan merasa takut. Jantungnya berdetak kencang, bahkan tubuhnya gemetar. Tidak biasanya Keysha memanggilnya, bahkan mengumpulkan bersama dokter Alexa di ruang gaun. Namun, rasa takutnya semakin menghilang ketika menatap senyuman tulus menyambut hadirnya. Ia melangkah dengan yakin, menepis pikiran-pikiran buruk yang menghantui. Duduk di atas sofa bersama dua perempuan cantik yang begitu menghargai dirinya.


Keysha beranjak, melangkah ke satu ruang kecil yang berada di dalam ruangan itu. Dokter Alexa hanya menatap Rania heran. Masih tidak mengerti apa yang sedang Keysha kerjakan di sana.


"Aduh...." Suara teriakkan Keysha menggema. Perempuan itu terdengar merintih seperti sedang merasa kesakitan. Spontan, dokter Alexa dan Rania berlarian menghampiri. Ia menyikap tirai yang menutupnya dengan lebar.


"Key, kamu kenapa ?" dengan wajah panik, dokter Alexa berusaha melihat keadaan Keysha. Ia menyingkirkan kain pembatas yang menghalangi penglihatannya.


"Surpriseeee ....."


Keysha sudah tersenyum lebar di sana. Menunjukkan sebuah patung yang mengenakan gaun berwarna putih yang sangat cantik. Tampilan sederhana, tapi terkesan elegan. Sebuah rancangan, yang sempat dokter Alexa sanjung.


Rania mengerti sekarang, mengapa Keysha memanggilnya di sana. Ia paham, kenapa Keysha tiba-tiba berteriak seperti kesakitan. Ya, yang jelas, Keysha ingin menjadikan moment saat dokter Alexa menerima hadiah darinya menjadi sebuah moment yang spesial. Ia juga tak ingin, Rania tidak hadir di sana. Keysha, Keysha Larasati, paras cantikmu sungguh tak menyombongkan rasamu. Gelimang harta yang kau miliki, tak mematahkan tekad mu untuk menabur kebaikan.


Tak terasa, kristal-kristal bening mulai mengalir di kedua pipi dokter Alexa. Wajahnya memerah, sungguh tak percaya dengan kejutan besar yang Keysha siapkan. Ia yang merasa bukan siapa-siapa, seperti menjadi sosok sempurna jika di hadapan sahabat barunya.


"Key, ini...ini yang pernah ku bilang padamu kan ?" ucap dokter Alexa dengan suara parau. Bibirnya bergetar, masih tercengang dengan kejutan yang berada di depan matanya.


"Ini Lex, maaf ya kalau kurang sempurna. " sahut Keysha masih menawan dengan senyuman khasnya.


"Ya Allah Key, ini lebih sempurna dari gambar yang waktu itu. Keysha, aku gak tahu lagi harus gimana cara bilang makasih sama kamu. Kamu baik sekali padaku, " dokter Alexa menjatuhkan tubuhnya pada tubuh Keysha. Mereka saling memeluk dengan erat, mengalirkan rasa saling menyayangi yang telah mengikat batin keduanya. Rania yang terharu melihatnya, kini ikut merebahkan tubuh di antara mereka. Berpelukan dengan hangat, seirama dengan isakan tangis yang mewarnai.


******


"Kamu kenapa sayang ?"


Vino mengikuti Shinta yang berlari ke kamar mandi, karena berulang kali merasa mual. Sudah beberapa minggu ini, Shinta terus merasakan tidak enak badan. Bahkan, tubuhnya terlihat lebih mengembang dan berisi.


"Entahlah Vin, aku juga tidak tahu kenapa rasanya seperti ini, " Shinta mulai menyerah. Ia bersandar pada tembok dengan kedua tangan yang memegangi perut dari samping.


"Jangan-jangan kenapa ?" gertak Shinta tak senang.


"Kami telat datang bulan ?" Vino setengah berbisik di balik telinga Shinta.


Ia hanya membulatkan mata lebar-lebar. Mulai mengerti sebuah dugaan yang terpaut di dalam pikiran Vino.


Jika di hitung, ia memang telah telah hampir tiga minggu. Dan selama itu pula, ia merasakan banyak perubahan pada dirinya, termasuk pola makan dan berat badan yang semakin sulit di kendalikan.


Shinta berlari ke luar kamar mandi. Ia menuruni anak tangga dan mencari seorang asisten rumah tangga yang bekerja di apartemen mewah Vino. Tampaknya, ia memberikan instruksi kepada wanita paruh baya itu. Terlihat, kepalanya yang mengangguk-angguk begitu Shinta selesai bicara. Tidak lama, ia berbalik badan dan keluar apartemen dengan langkah tergesa-gesa.


Shinta mulai cemas, ia sudah puluhan kali berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Sesekali matanya melirik pada arah pintu, seperti sedang menunggu kedatangan seseorang.


cekrek ( Suara pintu terbuka )


"Gimana bi ? Ada ?" Shinta segera menghampiri asisten rumah tangga yang sempat ia ajak berbicara tadi.


"Ini non, " perempuan itu menyerahkan plastik berwarna putih kecil. Yang segera di raih oleh Shinta, dan di bawanya berlari menaiki tangga. Shinta terburu-buru kembali ke dalam kamar mandi. Tingkahnya, sungguh semakin membuat Vino bingung.


"Oh My God !"


Baru juga menghela satu nafas lega, Vino kembali di buat cemas oleh Shinta. Ia berlari menuju kamar mandi. Mengetuknya berulang kali dari luar karena Shinta sengaja menutup nya rapat-rapat. Vino hanya mampu mendengar isak tangis Shinta. Suaranya sendu, seperti sebuah tanda penyesalan yang mendalam.


"Shin, kamu kenapa ?" Vino berusaha membuat Shinta membuka pintu dengan cepat. Gedoran yang ia lakukan di daun pintu, semakin kencang ia suarakan.


"Hei Shin ? Apa kamu baik-baik saja ? Kenapa kamu menangis ? Ayolah buka pintunya ! "


"Kalau tidak kamu buka, aku akan mendobraknya sekarang juga !"


"Shinta....."


Vino sudah mengambil ancang-ancang untuk membuka paksa pintu kamar mandi. Ia mundur dua langkah, menyiapkan seluruh energi yang tersimpan di seluruh rongga tubuhnya.


Bodohnya, ia tak menanti jawaban dari Shinta. Ia melepaskan diri, dan berlari dengan kencang ke arah pintu.


Brugg....byurrrr....


Tepat sekali ! Shinta membuka pintu lebar-lebar. Dan mirisnya, Vino sudah tak mampu menahan diri. Hingga akhirnya, ia melewati pintu dan terhenti di dalam bathup yang kebetulan berisi air penuh.