
Bodohnya, Reno tidak memikirkan seberapa jauh jarak yang mampu di tangkap oleh spion mobil dokter Alexa. Ia tidak menghitung seberapa jauh pandangan yang bisa tertangkap oleh indera penglihatan dokter Alexa. Ia acuh, ia tidak peduli dengan itu . Ia hanya sibuk mengawasi dengan arogan, memastikan jika wanitanya selamat sampai tujuan, lalu ia akan pulang dengan nafas lega.
Dokter Alexa mengerti itu, ia memperhatikan dari spion mobilnya, ia juga sangat mengenali mobil Reno. Dengan sengaja, perempuan itu memutar kemudi ke jalan yang bukanlah arah menuju rumahnya. Ia sadar hari memang sudah larut, bahkan telah melewati puncaknya petang. Namun, hatinya menolak untuk segera pulang, rasa lelah bahkan kantuk yang menyiksa mata ia enyahkan begitu saja. Ia hanya ingin membuat Reno jengah, lalu membiarkannya pergi seorang diri.
"Mau kemana gadis itu ? Apa dia tidak mengerti jika ini sudah sangat malam ?" Gumam Reno seorang diri. Ia terus bertanya pada hati, tidak menyadari jika perempuan itu sedang mengusirnya secara terang-terangan.
"Apa dia mau menemui kekasih barunya ?" Reno terus saja berdecak kesal.
"Ah, apa dia semurah itu ?" Reno mengernyit heran. Kakinya tetap menancal pedal gas dengan santai.
Sayangnya, kesabaran dokter Alexa tetap menghilang. Ia menginjak rem dengan tiba-tiba. Reno membulatkan mata, dengan tergesa-gesa kakinya meraba pijakan rem, menginjaknya tapi tetap saja membuat goresan pada mobil dokter Alexa karena jarak yang sudah tidak bisa di perkirakan.
Reno menghela nafas pelan, ia menjatuhkan tubuhnya di atas kemudi.
Brakk
Dokter Alexa sudah berdiri di samping mobil Reno, menggebrak bagian depan mobil dengan kencang. Ia terlihat lebih arogan dari biasanya. Matanya yang tajam seolah-olah mengatakan tentang amarahnya yang tengah membara. Ia menginginkan Reno segera turun, menghampirinya, menjelaskan segala niatnya. Ya, dokter Alexa terlihat begitu murka.
"Kamu bisa nyetir mobil dengan benar kan ?" Reno meninggikan suaranya ketika ia membuka pintu mobil. Melayangkan kalimat protes karena perlakuan dokter Alexa yang seenak hatinya. Ia tidak peduli dengan mata yang sudah memerah dan hendak memakinya.
plakkkkk
Sebuah tamparan keras Alexa arahkan tepat di pipi kiri Reno. Sebuah kode dari luapkan kekesalan yang sudah memuncak. Sorot matanya sangat tajam mengintai, mengeluarkan segala kecamuk jiwa yang mendorong raganya untuk berlaku kasar.
"Apa kamu sudah gila, hah ?" Reno mengangkat kedua bahunya ketika ia menatap mata bulat dokter Alexa.
"Gila ? " dokter Alexa mengulang kalimat Reno yang menggelitik hatinya. Ia tersenyum sinis, lalu menggeleng ringan dan membuang muka.
"Kenapa kau mengikuti ku ? " Imbuh Dokter Alexa tegas.
"Me ngi ku ti mu ?" Reno memenggal kata tersebut, memiringkan kepala lalu tertawa lepas dengan nada menghina.
"Apa jalanan ini milikmu ?" ucap Reno lirih, ia memajukan wajahnya, menyisakan jarak lima centimeter dari wajah dokter Alexa. Mereka saling leluasa merasakan hembusan nafasnya masing-masing. .Saling menyalurkan tatapan rindu lewat pandangan mata. dokter Alexa tertegun, tapi hanya bertahan beberapa detik. Ia segera mundur dan mengatur nafasnya agar lebih tenang.
"Apa ini arah rumahmu ?" dokter Alexa menimpalinya dengan tanda tanya yang menyudutkan.
"Aku tidak akan pulang, apa salah jika aku melewati jalanan ini ?"
"Kenapa kau begitu munafik Reno ? " sahut dokter Alexa kasar dengan mengkerutkan kening.
Di sudutkan seperti itu wajah Reno menggelap, diliputi rasa ingin marah yang mendalam, " kau berani mengatakan aku munafik ? " ucap Reno dengan suara marah tertahan.
"Bukankah itu yang tepat untuk menggambarkan dirimu ? kau benar-benar munafik Reno, kau tidak tegas menjadi seorang pria, kau juga bukan lelaki yang baik untuk perempuan yang baik pula, " seru dokter Alexa dengan penuh berani. Ia mendongak, mengawasi mata Reno yang semakin memerah. Tiada garis yang menggambarkan rasa takut di matanya.
"Apa kau merasa kau adalah perempuan sempurna dan tepat di cintai oleh lelaki yang baik ? Betapa beruntungnya aku tidak sampai memacari mu ! Kau adalah perempuan yang lebih hina dari para p e l a c u r yang pernah aku tiduri tubuhnya. Mereka tidak pernah mengelak dari apa yang mereka kerjakan, semua karena uang. Dan itu jelas ! " Reno menyeringai, tatapannya seolah meremehkan ke arah dokter Alexa.
Kristal-kristal bening di pelupuk matanya sudah tidak bisa di tahan. Semua mengalir, menjelaskan sayatan-sayatan kecil yang sudah penuh di dalam hatinya.
"Reno kenapa kau berbicara seperti itu ?" ucap Dokter Alexa pelan, nafasnya memburu merasakan sakit yang semakin runyam. Dadanya tersentak dengan kuat, membuat nafasnya berat dan terdorong kuat.
"Kenapa kalian berdua ada di sini ? Bukankah kalian tadi berpamit untuk pulang dari rumah kak Keysha ?"
Suara Audrey yang tiba-tiba muncul membuat dokter Alexa menoleh ke arahnya. Ekspresi wajahnya yang masam, bertambah semakin masam ketika matanya bertemu langsung dengan gadis cantik itu. Ia bergegas mengusap air matanya, menghapus tangis yang tidak sengaja tersirat dalam drama tanpa sebab antara Reno dan dokter Alexa.
"Berkacalah, lihatlah wajahmu yang menjijikkan itu. Gadis itu juga pasti akan membencimu jika sudah mengenalmu lebih lama, " bisik dokter Alexa tepat di samping telinga Reno.
Perempuan itu tersenyum sinis, sebelum berlalu meninggalkan Reno bersama Audrey. Dengan kasar pintu mobil itu di tarik olehnya, bahkan tanpa aba-aba mobilnya ia lajukan dengan kecepatan tinggi.
"Dokter Alexa kenapa sih kak ?" Audrey berjalan melambat, menghampiri pria yang sangat dekat dengannya. Melewati garis hubungan yang menumbuhkan cinta. Ah, sayang dia adalah anak kecil yang selalu dianggapnya seperti adiknya sendiri.
"Entahlah Cil, aku tidak paham dengan sikapnya. Dia sangat pemarah akhir-akhir ini, bahkan berusaha keras menjauh dariku. " Reno mengusap rambutnya frustasi. Di pukul-pukul kan tangannya pada pintu mobil.
"Shit !" Dengus Reno kesal.
"Mau kakak bunuh diri juga, tidak akan mengembalikan waktu yang sudah berlalu, " ledek Audrey lirih, gadis itu memilih beranjak dari posisi yang justru membuatnya ikut berpikir. Memainkan otak dan logika di atas permasalahan yang dia sendiripun tidak paham kemana arahnya.
"Heh mau kemana kamu ?" Seru Reno geram. Teriakan keras hanya menggema di alam. Gadis itu tidak peduli, dan kembali masuk ke dalam mobil. Melaju dengan kecepatan sedang, menikmati malam yang beranjak menemui fajar. Ya, Audrey sudah lama tidak berkelana di bawah kemerlip lintang. Perbedaan cara hidup orang Indonesia dan tempatnya singgah sebelum kembali membawa pengalaman menarik dalam hidupnya.
"Sial ! Kenapa perempuan selalu seenaknya ? Apa mereka pikir aku benar-benar tidak bisa hidup tanpa dia ? Lihat saja Alexa, aku pastikan kamu akan menyesal setelah ini, " Reno beranjak setelah matanya tidak lagi melihat lampu mobil Audrey. Bergegas menjemput Surya dan mengembalikan rembulan pada posisinya.
Otaknya telah lelah berpikir, hatinya sedang merana karena rasa cinta. Pikiran nakal kembali menghasut, membawa perputaran roda menembus malam menuju sebuah club malam.
Sandy bergulat dengan minuman keras di sana, menyatu dengan irama yang menarik tubuhnya untuk menari. Berputar, menghilangkan penat yang mencekik leher, mendorong dada dengan kuat hingga membuatnya sakit. Dendangan irama itu terasa menenangkan, bergerumuh memberi hiburan yang bermakna.
Satu jam penuh Reno mengerakkan tubuhnya, bergoyang menggoda perempuan seksi yang larut dalam melodi. Reno telah sempoyongan karena banyaknya minuman yang telah di teguk, peluhnya telah basah membanjiri dahi.
bruggg ( Suara benda bertabrakan )
"Maaf kak, aku tidak sengaja, " ujar seorang perempuan seksi dengan nada mendesah ketika tubuhnya dengan sengaja menyenggol Sandy. Ada bagian sensitifnya yang sengaja ia sodorkan hingga mengenai lengan Reno.
"Kau sungguh menggoda, " puji Reno asal, jemarinya nakal bergerilya pada tubuh yang masih rapat berbalut mini dress.
Perempuan itu tersipu, mengkerutkan lengan hingga membuat tonjolan dadanya lebih terlihat.
Dengan angan yang tidak lagi bisa di redam, Reno dengan sadar menggiring gadis itu mengikuti langkahnya. Saling merayu dengan gaya lihai yang selalu ia unggulkan di masa lalu. Bergulat dengan keringat yang membasahi pelipis tanpa rasa malu. Lenguhan panjang terdengar menggelitik dari kamar kecil yang secara sengaja di sediakan oleh pihak club malam tersebut.
"Kakak, datanglah kemari lagi jika kau merindukan ini, " Gadis itu tersenyum binal, menggoda dengan tubuh berlenggak-lenggok di atas ranjang. Reno hanya menyeringai puas, seraya jemarinya yang ia tuntun merapikan pakaiannya kembali.