I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Mimpi Buruk



Sandy membuka ponselnya yang telah berulang kali bergetar tanpa dia sadari. Ya, semenjak meeting di mulai, laki-laki itu sama sekali tidak memegang ponsel. Ia membiarkannya tergelatak begitu saja di atas meja kerjanya. Ada beberapa panggilan masuk yang tidak terjawab, juga pesan singkat yang di kirim oleh Reno.


Tanpa membuka satupun pesan-pesan yang tertulis, Sandy langsung menekan tombol panggil. Ia mengangkat ponselnya, menempel dengan pasti di tepi telinga.


"Assalamualaikum...." Jawab Reno dengan cepat dari seberang telepon.


"Wa'alaikum salam......"


"Aku sudah di lobby kantor, tunggu !"


"Ka....."


tut....tut....tut...


Belum usai melontarkan kalimat yang mengandung tanda tanya, sambungan telepon telah di matikan secara sepihak oleh Reno. Ya, dia juga tidak peduli dengan ucapan Sandy yang terdengar menggantung tanpa akhiran. Toh, mereka mau bertemu ini. Nanti juga pasti akan di katakan ulang oleh Sandy jika memang itu penting.


Sandy mengangkat alisnya sebelah. Merasa kesal dengan ulah sahabatnya yang di rasa kurang sopan. Tidak mengindahkan mulutnya yang sudah menganga lebar, berniat segera mungkin menyemburkan kata yang sudah tersirat.


Cekrek.....


Pintu terdorong dengan lantang seolah tanda musibah yang tengah mengancam. Ah bukan bukan ! Itu adalah perbuatan Reno yang benar-benar tidak mau berpikir sebelum bertindak.


Sandy terperanjat melihat arah pintu, sedikit terkejut atas hentakan rasa kaget yang menimpa nya tiba-tiba.


"Kamu sudah tidak waras ya ? Senang sekali mengagetkan dengan cara yang tidak sopan !" Sandy membuang pandangan. Ia enggan bergelut dengan wajah Reno yang menantang. Laki-laki itu tersenyum jail lalu membanting keras tubuhnya di atas sofa yang selalu menunggunya setiap saat. Ah, itu sofa seperti nya sangat menyatu dengan Reno. Tiada hari yang melarang mereka saling bersentuhan, seolah sudah menjadi candu yang menguasai, Reno selalu datang walau terkadang hanya numpang tidur.


"Sengaja..." Jawab Reno dengan singkat. Ia mengedipkan mata, berulah dengan suguhan senyum menggoda.


Sandy tidak menjawab sepatah katapun. Laki-laki itu kembali menyibukkan diri dengan lembaran kerja yang sudah menanti. Beberapa berkas laporan yang belum juga tersentuh oleh tangannya walau sudah lama singgah di atas mejanya. Sandy memang sibuk dengan urusan di luar kantor, bahkan meeting dengan client-client besar dari berbagai negara hingga lupa dengan hal yang di anggap sepele.


"Kamu tidak mau bertanya mengenai kedatangan ku ?" Reno menatap lekat pada wajah Sandy. Tangannya merogoh saku lalu mengeluarkan sebatang rokok dan korek. Tidak berlama-lama lagi, ia segera menyulutnya dan mulai menikmati setiap hisapan asapnya.


Sandy ikut melirik Reno, dia meninggalkan rasa heran di sana. Kedua jemarinya mulai berhenti dengan aktivitas nya .


"Bertanya ? Kamu setiap hari membuang waktumu di sini, lalu untuk apa aku harus bertanya Reno ?" Jawab Sandy dengan nada bercanda.


"Ahh...gak asyik ." Jawab Reno sembari menyesap rokok di tangannya.


Gelak tawa Sandy terdengar lantang. Merebah hingga memenuhi setiap sisi ruangan. Ia mengangkat tubuhnya dari kursi, mengayun langkahnya perlahan mendekati Reno.


"Reno, untuk apa kamu datang menemui ku di jam kerjamu ? Oh...aku tahu, kau pasti sudah menemukan seorang wanita yang akan mengisi waktumu bukan ? Kau akan mengatakan jika kau tidak akan lagi menjadikanku candu dalam setiap menit hidupmu ?" Ujar Sandy menerka-nerka. Dia duduk di ujung meja kerjanya, memperhatikan garis wajah Reno yang tampak memerah karena tekanan rasa kesal. Ya, Sandy sengaja meledek sahabatnya karena sejatinya ia ingin melihat laki-laki itu berbahagia dengan seorang wanita yang menjadi pilihannya, tambatan hati dan pelabuhan dari setiap kisah hidupnya hingga ajal menjemput.


"Candu ?" Reno mengerutkan dahi. Ia lebih fokus pada kalimat terakhir yang terlontar dari bibir Sandy. Mengacuhkan ledekan yang jika di dengarkan akan membuatnya semakin larut dalam rasa kesal.


"Bukankah itu benar ? Kau setiap hari ingin menemui ku dengan ragam alasan yang terkadang tidak masuk akal. " Jawab Sandy dengan senyuman lebar.


"hahahaha....." Reno sengaja melepas tawanya dengan bebas. Bersaut mesra dan saling menyapa dengan ramah di udara. Laki-laki itu menyeka bibirnya sebelum kembali menolak pernyataan yang menyebalkan dari Sandy. " Ya...ya...ya...terserahlah sekotor apa otakmu mengajari caramu berpikir. "


"Aku sempat melihat Rania di cafe xxx tadi siang. " Kata Reno memecah kesunyian. Ia kembali membuka obrolan dengan nada serius yang menarik.


"Lalu ?...." Jawab Sandy acuh. Ia sudah bosan membahas perihal wanita yang memiliki dua sisi kepribadian. Sandy sudah cukup jera dengan sandiwara yang Rania atur bersama Cherry hanya untuk melukai istrinya. Bahkan jika di biarkan dua anak manusia itu pasti sudah dengan tega menghabisi Keysha tanpa belas kasihan.


"Cherry juga keluar dari cafe itu....." Kata Reno berhati-hati. Ia mengucap nama perempuan itu dengan pelan dan sangat lirih.


Jemari Sandy berhenti bermain di atas kertas dengan cepat. Wajahnya menyeringai, menatap Reno dengan arogan.


"Apa yang mereka lakukan ?" Tanya Sandy mengintai. Kembali menanggalkan pekerjaan demi wanitanya.


"Aku tidak tahu pasti. Aku hanya sebatas melihat Cherry keluar dari cafe dengan wajah sumringah lalu saat aku masuk ternyata ada Rania di sana . Tapi anehnya perempuan itu terlihat sangat kusut dan seperti seseorang yang sedang di landa frustasi. " Reno mencoba menjelaskan. Ia berbicara dengan tempo yang lambat. Menyampaikan informasi dengan tegas seraya mata yang berputar mengulang kisah yang hanya bisa terucap dengan bibir.


"Apa itu bagian dari rencana mereka ?" Sandy semakin curiga. Kekhawatiran hatinya terusik dengan pertemuan mereka. Padahal jelas pagi tadi mereka tampak berdebat dengan kata-kata yang saling menyalahkan.


Reno mengangkat kedua bahunya. "Bisa jadi..."


"Awasi pergerakan mereka. Tentu rencana yang mereka miliki lebih gila dari sebelumnya. " Ucap Sandy memberi peringatan. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Memainkan jemarinya di atas layar dengan cekatan. Lalu menekan tombol panggil pada ID seseorang.


Entah, dengan siapa pria itu berbicara. Tampak dari garis wajahnya jika pembicaraan mereka sangatlah penting, nada serius menyelimuti setiap instruksi yang Sandy layangkan.


"Jangan sepelekan Lita dan Shinta . Ku rasa mereka juga butuh pengawasan yang ketat. Rania sempat menyinggung nama mereka sebelum dia pergi dari cafe." Kata Reno setelah Sandy menyudahi sambungan telepon nya.


Pria itu kembali di buat tersentak kaget. Dia belum mengerti dengan tak-tik yang dimainkan oleh Cherry. Semua lebih terencana dengan rapi. Terpikir secara terpisah setiap detik yang mempengaruhi. Perempuan itu sudah menyiapkan sebuah jalan jika ada kegagalan yang menyelimuti.


-----


"Lena ...kamu kenapa ?" sus Rina menghampiri Lena yang berteriak dengan sangat buru-buru. Rasa khawatir yang menyelinap bebas memberikan beban di setiap hembusan nafas.


"Lena mimpi buruk sus..." Jawab bocah di sela isak tangisnya.


"Lena lupa berdoa ya ?" Allan membuka suara. Ia ikut khawatir dan cemas dengan hal yang menimpa saudara kandungnya.


"Tidak....Lena tidak lupa berdoa tadi..."


"Memangnya mimpi apa yang membuatmu takut seperti ini ?" Tanya Rina mencari tahu.


"Aku...aku mimpi kita semua main di pantai . Tetapi saat mau pulang, aku lihat papa berjalan ke arah laut yang dalam...Ketika Lena mencoba memanggil papa hanya menoleh lalu tersenyum dan melambaikan tangan." Lena bercerita panjang dengan caranya. Gadis cilik itu masih sangat terkejut dan pucat karena rasa takut yang mencengkram batinnya.


"Itu hanya mimpi sayang. Mimpi buruk itu datangnya dari setan. Lena tidak perlu takut, kita berdoa yang baik-baik untuk papa dan mama ya. " Jawab Rina menghibur anak asuhnya. Ia menggapai tubuh mungil yang masih kesulitan mengatur nafasnya. Mendekap erat dengan penuh kasih sayang. Tangannya sibuk membelai rambut panjang Lena dari belakang. Memberikan sebuah ketenangan dari rasa hangat yang di hasilkan.


"Ini minum...." Allan menyerahkan segelas air putih yang baru saja di ambil setelah selesai mendengar Lena bercerita.


Gadis kecil itu segera meraihnya dan meneguk habis minuman tanpa meninggalkan sedikitpun air di dalamnya.