I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Keluarga Yang Hangat



tut tut


nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan, silahkan .....


"Hah, sial ! " Hardik Reno geram. Setir di genggaman tangannya menjadi sasaran empuk untuk melampiaskan rasa kesal yang menyeruak di dalam batinnya. Ia memaki pada seseorang yang tidak kunjung menjawab telepon darinya. Ah, bukan tidak mau menjawab. Tetapi, memang nomornya tidak bisa dihubungi. Entah sengaja atau memang sinyal di areanya sedang buruk.


Reno membanting setir ke kiri, berputar balik dengan kecepatan maksimal. Itu pun tidak membuatnya merasa puas, justru jika bisa di gandakan ia pasti sudah melakukan itu agar bisa menyeimbangi mobil pribadi milik nya.


Ia masih setiap dengan mobil butut yang di sewa ......


"San angkat teleponku atau aku datangi kamu ke rumah ! "


Reno mengirim voice setelah berkali-kali mencoba menelepon Sandy tetapi tidak kunjung ada jawaban. Satu pesan pun juga tidak ada yang masuk. "Ini manusia apa sih maunya ? Awas saja kalau sudah ketemu. Cuma sekali pukulan itu belum cukup !" Batinnya terus menggebu seakan mengajak diri untuk menjadi pria yang lebih arogan. Padahal saat bersama Sandy belum tentu dia berani.....


---------


Sandy sudah memutuskan untuk menunda pekerjaan. Ia memilih menghabiskan waktu dua puluh empat jam untuk kedua anaknya dan juga istrinya. Sehari penuh hanya berdiam di rumah. Dengan sengaja mematikan ponsel agar tidak ada pekerjaan yang mengganggu waktunya. Ia larut dalam gelak tawa dan canda ringan bersama Allan dan Lena. Duduk melingkar di ruang keluarga dengan aneka ragam mainan yang berserakan. Tidak ada pengasuh yang menemani mereka, semua akan mendapat jatah libur kecuali beberapa orang pelayan. Bukan tidak adil, Sandy hanya berjaga-jaga takutnya ada sesuatu yang mendesak dan dia tidak bisa menyelesaikan sendiri. Tetapi, semua akan tetap mendapat libur hanya waktunya saja yang harus berganti-gantian ...


"Papa ayo main boneka sama Lena."Alena mulai merengek, ia menarik-narik lengan Sandy dengan sekuat tenaga yang dia bisa. Wajahnya memerah, badan mungilnya pun ikut condong ke belakang karena dia benar-benar memasang tenaganya.


"Papa lagi bantuin aku merakit ini dulu Lena !" Kata Allan ketus, matanya melirik tajam seolah-olah mengatakan, jangan pa selesaikan dulu punya Allan.


"Gantian, kan papa dari tadi sudah main sama Allan. Sekarang harus sama Lena ...."


"Tidak ! papa akan menyelesaikan punyaku terlebih dulu. Baru akan main sama Lena..."


"Lena maunya sekarang Allandela !" Ucap Lena dengan cadel. Ia semakin kesal dengan aturan yang Allan terapkan. Wajahnya cemberut dengan bibir yang di dorong ke depan.


"Namaku Allandra ! bukan Allandela !" Sahut Allan ikut kesal.


"Aduh, kok malah pada berantem sih." Sandy menghela nafas berat. Ia menggeleng ringan dengan raut wajah yang terlihat pusing. Ya, dia tidak terbiasa berlama-lama berkumpul dengan buah hatinya. Apalagi semenjak hubungan kerja yang mengikat perusahaan miliknya dengan Cherry.


Keysha melirik mereka dari atas buku yang sedari tadi di baca olehnya. Ah, tidak ! ralat ralat ! Dia tidak sedang membaca di balik sana, tetapi terkekeh puas menyaksikan suaminya yang di buat pusing oleh si kembar. Perdebatan yang biasa mereka lakukan, hingga berebut mainan kecil layaknya anak-anak pada umumnya. Keysha tahu, tapi berpura-pura tidak peduli. Seolah fokus dengan bacaan di tangan dan menutup rapat telinga dengan peristiwa yang terjadi di sekitar.


"Ayo pa." Wajahnya sendu, menyimpan harapan yang mendalam. Mungkin, rindu yang membuat gadis cilik ini sangat ingin di mengerti. Jiwanya yang memang sangat manja tampak lebih lebih dari hari biasanya.


"Tidak Lena ! " Allan semakin geram dan kesal. Dia berbicara dengan nada keras dan tangan yang ia angkat di sisi pinggang.


"Allan ...."


Sandy menatap lekat pada pria kecilnya. Memberi nasihat dengan kata yang tidak terucap. Menggeleng, sebagai penanda melarangnya meninggikan bicara.


Keysha meletakkan buku, turut menatap Allan tercengang. Ia tidak mengira jika pria kecil itu sungguh semakin sulit mengendalikan diri, dengan emosi dan sifat egois yang semakin menjadi.


"Allan, mainnya sama mama ya." Keysha beranjak dari sofa dan ikut duduk bersimpuh di samping Sandy. Menyetarakan wajah dengan Allan yang masih mematung dengan tangan yang di lipat di depan dada.


"Tapi mama kan ngga bisa cara pasangnya." Protesnya dengan ketus.


"Kan Allan bisa ajarin mama. "


"Tapi ma .."


Meneruskan perdebatan dengan seorang anak tidaklah hal yang baik. Justru, sikap keras kepala dan emosi yang semakin terlihat dari diri sang anak. Mungkin, ketika dia diam itu bukan karena menurut dengan aturan tegas yang di terapkan, melainkan lebih condong dengan rasa takut kepada orang yang menegurnya secara kasar.


"Gini deh." Keysha meraih tubuh Allan, menuntunnya penuh kasih agar duduk di pangkuannya. Ia menghela nafasnya panjang sebelum melanjutkan kalimatnya, menyiapkan kesabaran yang mungkin saja bisa di patahkan oleh bantahan Allan, " Allan sayang sama Lena ?"


Mendengar pernyataan Keysha yang tiba-tiba, Sandy melirik dengan mata yang menyipit. Seolah mengingatkan agar tidak berbicara yang hanya memojokkan Allan dan menekan pria itu. Itu akan membuat Lena berpikir jika kedua orangtuanya lebih sayang kepadanya. Begitu pula dengan Allan yang pasti akan menyimpan luka yang tidak ia suarakan....


Keysha mengedipkan mata paham...


"Sayang tidak ?" Keysha mengulang kalimat tanyanya. Meyakinkan Allan untuk tidak ragu dan setengah hati menjawab.


"Sayang ma , tapi Allan hanya mau papa menyelesaikan mainan ku baru main sama Lena." Allan menunduk, ia memainkan jemarinya di antara bulu-bulu karpet yang menjadi alas mereka duduk.


"Kalau Lena sayang tidak sama Allan ?" Keysha mengalihkan perhatian. Ia menatap lekat pada gadis kecil yang asyik memainkan boneka beruang di pelukannya.


"Lena sayang kok sama Allan. Kan kita saudara." Katanya dengan tegas. Tidak ada sorot yang memaksa, bahkan semua kata berasa dari hati yang mendalam.


Ya, Lena bukanlah gadis yang gengsi seperti Keysha . Justru, mengenai sifat itu Allan lah yang lebih meniru...


"Kalau sayang, tidak boleh sama-sama egois ya. Tidak boleh saling marah-marah. Tidak boleh berbicara keras dan membentak." Ucap Keysha membelai keduanya.


Wanita yang menikah di usia dini tidak berarti tidak bisa menjadi seorang ibu yang cerdas dalam mendidik. Boleh saja dia menikah dengan umur yang belum menginjak dewasa, sempat terpisah lalu kembali lagi bersatu dan di karunia sepasang anak kembar sekaligus. Bukan perkara yang mudah untuk mengurus semua dengan tangan sendiri, memaksa pola pikir dewasa di usia muda. Tetapi, semua tidak pernah di kelukan oleh wanita itu. Sepatah kata untuk mengeluh juga tidak pernah terucap dari balik bibir mungilnya. Keysha, ibu muda yang memiliki jiwa keibuan yang luar biasa. Sandy selalu terkesima tatkala melihat dia berinteraksi dengan anak-anak. Cara dia membelai, cara dia menasehati, cara dia membuat anak agar saling menyayangi sungguh bukan perkara mudah untuk melakukan semuanya. Bertahan dengan sabar yang terkadang memuncak, berteduh di balik ikhlas yang memang seharusnya terjalin indah.


Nasihat Keysha mengalir indah di telinga. Membuat adem setiap hati yang mencermati. Tidak ada kata yang menekan atau justru menjunjung sebelah pihak. Dia, selalu pandai mengambil jalan tengah untuk menyelaraskan dua hati yang terkadang sulit di kendalikan.


"Ya sudah, kalau gitu papa main sama Lena saja. Allan sama mama dulu."


Rupanya, pria kecil itu sungguh memahami apa yang Keysha ucapkan. Dia sangat peka, dan mudah menangkap kode-kode yang tertera di sekitarnya. Tidak membutuhkan kalimat tajam yang menyakiti hati, semua nasihat dengan gamblang meresap dalam lalu diterapkan.


"Allan saja dulu, Lena kalau Allan sudah selesai saja main sama papanya." Gadis kecil itu pun tidak kalah. Dia juga cekatan menerima nasehat yang melintas. Dengan wajah riang, mau mengalah dan mendahulukan Allan.


"Masya Allah, nah gini . Tidak perlu teriak-teriak, tidak harus berebut. Jadi kan Papa sama mama senang." Keysha melontarkan kalimat pujian seraya tangan yang membelai lembut kepala si kembar.


Sandy ikut tersenyum, bahkan semakin terkesima dengan sikap istrinya.


Mereka mengurai senyum tulus lalu saling berpelukan. Dengan posisi tangan paling luar, Sandy dengan leluasa meraba tubuh istri dan anaknya untuk melayangkan gelitik ringan.


Sebuah keharmonisan yang selalu di dambakan setiap anggota keluarga...


TingTong ....


Bel rumah berbunyi beberapa kali, memaksa untuk cepat di bukakan pintu bagi seseorang yang sedang berdiri di depan sana. Entah dia sadar atau tidak jika tingkahnya sungguh membuat orang terganggu. Tawa mereka semua terhenti dan mata mereka saling bertemu. Sandy mulai geram dan sudah tidak sabar ingin memaki orang yang dengan jelas dan sangat sengaja mengusik nya.


"Biar aku saja." Keysha berkata dengan cepat sebelum di dahului Sandy. Ia mengangkat tubuhnya dan setengah berlari menuju pintu.


cekrek


Keysha menarik kedua gagang pintu, membuka tanpa memberi aba-aba.


"Assalamualaikum..." Sapa Keysha lembut setelah di ketahui ada seorang pria yang berdiri menghadap membelakangi pintu. Gayanya angkuh seperti seorang penagih hutang yang sudah berhari-hari datang ke tempat yang sama tetapi tidak membuahkan hasil.


Pria itu membalikkan tubuh, dengan kedua tangan yang masih setia berkacak pinggang. Matanya lekat menatap Keysha, mengisyaratkan tanda tanya yang tiada bendung. Raut masam seperti menyimpan kesal yang tiada tara.


"Kak Reno ? " Keysha tertegun melihat pria di hadapannya. Masih dengan pakaian yang kemarin dia kenakan, wajah kusut benar-benar melebihi orang yang sedang di landa frustasi. Dari ujung kepala hingga ujung sepatu menjadi pusat perhatian yang tidak biasa Keysha lakukan terhadap pria di hadapan matanya ini. Bagaimana tidak, seorang Reno yang terbiasa berpenampilan menarik dan elegan. Rambut tertata rapi, bahkan wajah yang selalu terlihat segar. Kali ini sangat membuat mata jenuh memandangnya. "Apa yang terjadi denganmu kak ?" Keysha melanjutkan kalimatnya yang masih menggantung setelah puas berseluncur mata di sekujur tubuh Reno.


"Kamu keterlaluan sekali, bukannya di suruh masuk malah sibuk meledekku dalam hati." Reno menggerutu kesal seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri.


"oh- hahaha. Maaf maaf ...silahkan masuk kak Reno." Keysha beringsut mundur untuk memberi Reno jalan lalu kembali menutup pintu dan mengikuti pria itu dari belakang.


"Siapa sayang ?" Tanpa menoleh Sandy sudah bermanis dengan suaranya.


"Sayang sayang pala mu peyang !" Ucap Reno ketus. Dia memang tiba di ruang tamu lebih dahulu di banding Keysha. Pria itu berjalan gontai dan menghempaskan tubuh di sofa . Menutup mata dengan kepala yang mendongak ke atas. Ia melepas penat yang sungguh tidak ia bayangkan sebelum ini.


"Kamu kenapa Ren ?"


Reno menyipitkan mata mendengar pertanyaan Sandy yang menyebalkan baginya. Tatapan tajam itu seakan mengiris lembut setiap helai daging Sandy.


"Masih bisa ya tanya kenapa ! Sahabat macam apa ini." Reno berbicara dengan datar namun bernada kesal.


Keysha meletakkan tiga gelas orange juice yang menjadi minuman favorit Reno setiap datang ke sana. Meletakkan gelas rapi berjajar di atas meja. Ia mengurai senyum sebelum mempersilahkan dan ikut duduk di sofa.


"Om Reno dari mana sih ?" Lena sudah bermanja. Menggelayut dan senyum-senyum semenjak Reno datang. Dia memang gadis centil....


"Dari taman bermain sayang, kapan-kapan kita main ke sana ya. Pasti Allan dan Lena senang." Kata Reno dengan lembut. Saat menghadapi kedua bocah itu Reno tidak seketus ketika Sandy yang menyapa.


Aneh memang, tapi sepertinya semua ini ada hubungannya dengan acara yang Sandy adakan semalam.....


lima belas menit Keysha membiarkan Allan dan Lena bercengkrama dengan Reno. Mereka asyik bercerita, bermain dan bercanda ria. Reno memang akrab dengan anak-anak Sandy, karena satu-satunya teman pria yang paling sering datang ke rumah hanya lah Reno seorang.


Di rasa cukup, Keysha menghampiri kedua anaknya, dengan halus menasehati agar mereka berpamit untuk tidur siang.


"Sebentar ya kak." Kata Keysha sebelum beranjak untuk mengantar mereka ke kamar.


"Aku jijik melihatmu sekotor itu, mandi lah dulu. Nanti setelah Keysha turun katakan apa yang membuatmu frustasi dan menjijikkan seperti ini." Selepas kepergian Keysha, Sandy mengibaskan tangan. Dengan raut wajah jijik saat melihat Reno.


"Ini juga karena mu .."


"Bersihkan dirimu atau aku tidak mau mendengarkan keluhan mu !" Sandy berkata dengan datar namun penuh intimidasi.


""Ya ya ya baiklah." Jawab Reno pasrah.


---------------


Beberapa waktu telah terlewat, Keysha telah kembali ke ruang keluarga. Reno juga sudah rapi dengan pakaian yang Sandy siapkan. Terlihat segar dengan rambutnya yang masih tampak basah.


"Jadi, apa yang membuatmu hampir gila seperti itu ?" Kata Sandy dengan nada meledek.


"Kamu masih tidak merasa salah juga ?"


"Apa kamu tidak di bangunkan oleh kak Sandy semalam ?" Keysha bertanya dengan pelan-pelan. Ia tidak ingin memancing keributan dua pria ini karena perbedaan pendapat.


"ya itu salah satunya." Kata Reno dengan nada lega. Setidaknya ada yang mulai menyadari apa yang membuatnya kesal.


"Aku membangunkan mu, tapi kamu justru memakiku dan kembali tidur. Apa kau tidak menyadari itu ?" Sudah tertebak sebelumnya, Sandy pasti tidak terima dengan tuduhan Reno jika seolah-olah dia sengaja meninggalkan pria itu di sana.


"Dengarkan dulu kak." Dengan sangat lembut Keysha menarik lengan suaminya agar kembali duduk dan bersabar untuk menanti cerita Reno.


"Tapi sayang...."


"shutt !"


Tidak ada yang tidak bisa di taklukkan oleh Keysha. Apapun masalahnya, dengan siapapun bicaranya, Sandy akan lebih melunak ketika istrinya hadir di sana. Menemani serta menjadi tameng ketika emosinya melunjak dan tidak lagi terkontrol.


"Ok, baiklah mungkin memang aku yang tidak sadar ketika kau membangunkan ku. Aku terima alasan itu, tetapi kenapa kamu sulit untuk aku hubungi sedari pagi. Kamu tahu, mobil butut itu sungguh menyiksaku . Mesinnya tiba-tiba mati di tengah-tengah perjalanan. Ponselku juga mati karena lowbat . Dan aku harus berjalan jauh untuk mendapatkan kendaraan yang lewat di daerah sana. " Reno berbicara dengan panjang. Mengisahkan masa yang tidak is kehendaki, satu kesialan yang mungkin saja membuat dirinya merasa malu dengan alam. Ah iya malu, bagaimana seorang Reno Alamsyah pemilik apartemen-apartemen besar di beberapa kota, pemilik utama hotel yang sangat terkenal di mana-mana harus terlihat semenderita itu di jalanan.


"Apa tidak ada yang mau menolong mu ?"


"Mereka tidak ada yang mempercayaiku."


Bukan lagi wajah kasian dan iba seperti yang Reno harapkan yang terlihat dari garis wajah Sandy dan Keysha. Mereka justru dengan sengaja tertawa lepas hingga perut mereka terasa kaku. Berulang menghela nafas, namun lagi dan lagi wajah kesal Reno mengundang tawa mereka.


"Aku pikir, kamu benar-benar frustasi karena suatu hal." Keysha menggeleng ringan kepalanya. Sungguh sebuah cerita yang dia anggap sebagai lelucon. "Mungkin itu sebuah teguran karena ulah mu terhadap ku kemarin." Keysha kembali mengingatkan. Ada nada sindiran yang timbul dari kalimatnya.


Kali ini Reno nyengir palsu, mengingat kejahilan yang sudah membuat Keysha hampir gila, menangis di tengah malam dengan cengkraman rasa takut yang menyiksa batinnya. Dengan iming-iming cerita yang menyulut rasa cemburu Keysha. Ah, Reno perbuatan mu hanya bisa di terima oleh orang-orang yang begitu menyayangimu .Mungkin, jika itu di lakukan kepada orang lain, bisa saja Reno sudah tidak bernyawa ketika meninggalkan taman itu .


"Ini rumah sudah kaya kuburan sepi banget pada kemana ?" Reno menatap sekeliling. Ia memutar topik, agar Keysha tidak semakin mengingatkan tentang hari kemarin.


Ya, akhirnya dia menyadari perbuatannya ....


"Semua pergi , cuma ada dua pelayan yang di rumah. Kalau bunda, dia ke rumah mama Meera." Jawab Keysha tanpa ragu.


Mereka kembali larut dalam obrolan yang hangat. Sebuah kekeluargaan yang kental, Reno dapatkan di tengah-tengah mereka. Tidak ada perbedaan yang memisahkan, semua di anggap sama . Begitu pula ketika Yeni di rumah, dia tidak pernah menganggap Reno adalah tamu, baginya Reno adalah bagian dari keluarga mereka. Anak yang sedang belajar hidup mandiri, dan kembali ke rumah untuk melepas rindu. Satu kalimat yang selau Yeni senandung kan, hingga membuat Reno selalu mengenang dan merindukan keteduhan di sana.


Di sini adalah tempat yang tepat untuk melepas semua penat. Boleh saja, aku sebatang kara karena di tinggalkan kedua orang tua sedari kecil, tetapi karena kasih orang-orang terdekat sanggup menopang ku hingga aku tumbuh menjadi pria yang sukses ...


.


.


.


.


.


.


.