I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
sifat turun temurun



"Allan, Lena kenalin ini namanya Angeline , Angel ini anak tante namanya Allandra dan Alena " Ucap Key memperkenalkan. Mengajari anak-anak nya berjabat tangan dan mengenal satu sama lain. Angeline tampak tersenyum, menyembunyikan rasa malunya. Kulit putih itu tampak memerah padam.


"Hai Angel . Kita main yuk " Lena menggenggam tangan Angel . Gadis itu terlihat, menatap wajah maminya memohon izin. Wajah polos yang mengharap kan kata 'boleh' dari Rania.


Rania mengangguk ringan, ia melepas jemari yang ia genggam sedari tadi. Membiarkan gadis itu berlari, bercanda dan bebas tertawa dengan Allena . Yang mungkin jarak usianya yang tidak terpaut jauh.


"Allan ? ngga ikutan ?"


"Allan kan laki-laki ma . Masak main kejar-kejaran sama anak perempuan." Ucap Allan sedikit gengsi. Ia melipat tangan di depan dadanya dan membuang pandangan ke sebelah kanan .


Sandy melirik putranya dan tersenyum lebar. Batinnya bahkan tertawa , menertawakan sifatnya sendiri yang begitu dalam di contoh anaknya.


"Ya sudah Allan main sama papa ya ?"


"Papa dikit-dikit minta istirahat ma. katanya capek . Kan ngga asyik "


"Hei kata siapa ? kamu ngeledek papa ya ? Hee ?"


Sandy merasa harga dirinya di jatuhkan di depan Keysha dan Rania. Ia mengangkat tubuh Allan dengan kuat, menerbangkan tinggi dan kembali menurunkan. Sesekali ia menggelitik pinggang putranya, membuat ia tertawa keras. Bahkan menjerit sekuat-kuatnya.


"Masih bilang papa ngga asyik ?" Goda Sandy, jemarinya kembali menari di pinggang Allan.


"Hahaha . ampun pa ! stop it ! ampun !"


Di gelitik itu tidak enak pa. Geli, mau marah malah ketawa. Ngerti kan gimana rasanya di dada ?? kesel dah.


"*Sudah ah San. Kasian tu, wajahnya sampe memerah."


"Abisnya . berani-beraninya ni jagoan kecil ngledekin papanya."


"Maaf papa yang super ngeselin ....hahahaha*"


Allan berlari, ia menjulurkan lidah dan memainkan tangan di samping kepala. Sungguh, ia benar-benar memancing Sandy agar mengikuti nya berlari dan menjauh dari Key dan Rania.


Keysha menggeleng ringan, ia juga melukis senyum tulus di sudut bibirnya.


"*Ran ? gimana kabar kalian ?"


"Baik . Bahkan kita sangat bahagia "


"Syukurlah. lo masih aktif di kantor Cherry?"


Hah ? sibuk ngurus anak ? Hello Rania, mantan sahabat ku yang sangat baik hati. tapi dulu ! Gue gini-gini juga buka usaha sendiri. Ngga hanya ngandelin suami dan diam di rumah bak ratu . Tidak gue pungkiri, tidak bisa mengasuh mereka 24 jam adalah masalah bagi hati gue. Tapi mereka merupakan anak-anak yang baik hati dan sangat mengerti.


"Tidak apa Ran. Lo hanya akan sering bertemu dengan Sandy bahkan gue . Karena perusahaan Sandy dan Cherry terikat bekerja sama." Ucap Key masih dengan lembut. Jujur saja, ia sangat malas sekali berdebat . Sekalipun dengan ratu drama seperti Cherry. Tetapi diam adalah hal yang sangat buruk saat di depan mereka.


"*Kerja sama ?"


"Yaa . kenapa Ran ? lo ngga tau itu ? Suami lo orang berpengaruh di perusahaan Cherry. Harusnya lo tahu itu* ."


Kali ini Keysha sedikit keras . Ia tidak marah, hanya sedikit menambah volume bicaranya. Alis tebal itu terlihat sangat indah saat ia naikkan sebelah nya saja.


"*Gu- gue tahu itu. gue lupa. "


"Baguslah* "


Rania berdecak kesal. Ia mengerang lalu melangkah dengan membawa amarahnya. Mata indahnya lebih tampak garang saat melirik Keysha. Entahlah , tidak pasti hal apa yang benar-benar bisa merubah hati Rania.


Ia menghampiri Angeline, terlintas ia berjongkok dan membujuknya agar mau di ajak pulang. Tidak jelas, tapi Keysha dapat menebak nya . Dari gerakan yang terlihat , Angeline menolak ajakan Rania, ia meronta bahkan suara Isak tangisnya sempat terdengar . Tetapi tidak berselang lama gadis cilik itu diam dan mengikuti Rania. Tanpa pamit, tanpa permisi ia membawa Angeline berlalu begitu saja.


"*Angkuh sekali dia. Apa perlu aku turun tangan untuk mengurusnya"


"Tidak Sandy. Tidak perlu , dia itu gengsian. Mungkin, hati dia sudah luluh sebenarnya. Hanya nafsunya yang masih belum bisa di kalahkan* "


"Sayang . jika lo dan Ibnu saling jatuh cinta dan salah jalan, aku pun akan marah. tapi nyatanya ?"


Keysha mengangkat kedua bahunya. Ia tidak berpikir sejauh itu. Ia juga tidak ingin terlibat lagi akan kisah di antara Ibnu dan Rania. Biarkan dendam Rania menjadi pacuan semangat untuk kehidupannya.


"*Ma, Lena ngantuk. "


"ih manja banget sih Lena."


"hussh ! Allan ngga boleh gitu . Ya udah kita beresin dulu , udah gitu kita pulang ya*. "


Gue sempet gedek juga dah sama sikap anak laki gue. Angkuhnya, jail nya, ketusnya. Kenapa harus buruknya pula yang Sandy wariskan ? duuh, greget !


"*kamu kenapa Key ?"


"Kamu perhatiin dah anak laki kamu. Makin hari makin nyaingin kamu aja sifatnya. Aku cuma mikir kek apa nanti besarnya* ."


Keysha mengangkat kakinya malas. Perlahan ia menyeret mengikuti Allan dan Lena yang sudah ngacir di depan. Mereka memang selalu pandai saat Key meminta untuk membereskan mainan. Semua rapi, bahkan saling balapan. Dan yang paling banyak membereskan adalah pemenangnya. yang kalah selalu akan protes, sedangkan yang menang akan ngeyel. Seperti itu, dan selalu seperti itu.